Kriet!
Suara daun pintu kamar mandi terdengar. Priscilla menampakkan diri dari dalamnya. Berjalan keluar menghampiri Leonardo yang sedang berdiri di depan cermin.
Leonardo memutar tubuh. Merasakan hawa panas merasuk ke dalam diri. Hawa panas yang berasal dari sosok Priscilla yang keluar dengan keadaan basah. Membuat naluri laki-laki Leonardo tergugah. Anehnya, saat itu merupakan kali pertama Leonardo merasa gusar karena seorang wanita.
“A-apa kau baru saja selesai mandi?” Leonardo bertanya. Terbata. Lalu, segera berusaha melenyapkan perasaan aneh yang tiba-tiba menghujam jantung di dalam d**a. Menetralkan perasaan gairah yang tergugah. Menghentikan pergerakan miliknya yang menegang saat melihat Priscilla tampil begitu menawan.
Namun, Priscilla justru dengan lihai menggerakkan handuk berwarna putih secara berulang. Mengeringkan rambut panjang yang tergerai basah di dalam genggaman. Salah satu bagian leher jenjang menjadi pusat perhatian. Leonardo spontan menelan ludah. Jakunnya sontak bergerak ke arah bawah.
“Bisakah kau bercerita padaku, mengenai apa yang dilakukan para penduduk di desamu itu?” Leonardo bertanya. Mengalihkan perhatian yang semula tertuju pada keelokan tubuh milik Priscilla.
Priscilla menyudahi aktivitas mengeringkan rambut. Lalu, meraih tangan Leonardo. Mengajak pemuda yang baru ia kenal, untuk beralih keluar dari dalam gubuk tua.
“Kita hendak pergi ke mana?” Leonardo bertanya.
Priscilla menoleh ke arah Leonardo. Menyunggingkan senyum manis. Lalu menjawab penuh keramahan, “Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu.”
******
Tak lama kemudian.
Mereka berdua telah sampai pada sebuah pemandian. Di dalam pemandian air panas itu terdapat sebuah sela terbuka. Layaknya sebuah pintu yang dapat dibuka oleh beberapa orang saja.
“Lihatlah, itu adalah pintu penghubung diantara dunia para magis dan non-magis,” Priscilla berucap.
Leonardo mengerutkan dahi, “Apa maksudmu?”
Priscilla mendecap bibir. Bersindekap. Lalu, berjalan mondar-mandir.
“Anggap saja desaku adalah desa dengan penduduk non-magis. Lalu, di dalam sana adalah sebuah desa yang dihuni oleh para kaum magis,” Priscilla menjelaskan. Menjentikan jemari sebagai gerakan penyerta dalam bercerita.
Leonardo menelengkan kepala, “Magis? Apa yang kau maksud itu adalah dunia para penyihir?” Leonardo menyahut. Mengkonfirmasi.
Priscilla mengangguk mengiyakan.
Sementara itu, Leonardo melebarkan bola mata. Benarkah? Apakah aku tak sedang bermimpi? Apa aku sedang menjelajah waktu ke dunia khayalan?
Tiba-tiba,
“Kau tak sedang berkhayal, Leonardo,” Priscilla mengeluarkan suara. Membuyarkan lamunan Leonardo. Seolah ia tahu perihal apa yang dipikirkan oleh pemuda di hadapannya.
“Kau mungkin berasal dari masa depan, sehingga kau tak tahu perihal sisi lain dari dunia pada masa lalu. Dan, ketika kau tahu, kau akan takjub melihatnya. Seperti saat aku pertama kali melihatnya. Hanya saja, tak semua penyihir itu baik. Salah satunya penyihir yang memanfaatkan diriku ini.”
Leonardo tak henti mengerutkan dahi. Benak di dalam pikiran masih dipenuhi oleh pertanyaan.
“Jadi, kau tahu jika aku berasal dari masa depan? Lalu, apa maksud perkataanmu tadi itu?” Leonardo menimpali dengan rasa heran yang tak kunjung berhenti.
Priscilla mengangguk. Mengiyakan untuk kali kedua.
“Pasti kau pernah mendengar kisah penyihir yang menjelma menjadi apa pun sesuka hatinya, bukan? Dan, itulah yang Kyteler lakukan. Penyihir wanita itu sering kali menjelma menjadi diriku. Ia melakukan hal-hal buruk untuk mengganggu penduduk desa. Salah satunya menggoda pria beristri. Lalu, setelah ia mendapat apa yang ia mau, Kyteler membiarkan diriku menjadi bualan para penduduk di desa. Yah, seperti yang kau lihat tadi. Aku diberi hukuman rajam oleh mereka.”
Mendengar cerita Priscilla, Leonardo tak sepenuhnya percaya. Bahkan, ia tergugah untuk membuktikan apa yang ia dengar.
Tanpa pamit, Leonardo berlari kencang. Menerobos sela terbuka. Beruntung, ia merupakan salah satu dari sekian banyak manusia yang memiliki kemampuan berbeda. Ia bisa menembus sela terbuka itu, bahkan tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
“Pemuda itu benar-benar berbeda. Sepertinya ia diberkati oleh kemampuan berlebih,” Priscilla menyimpulkan.
Sementara itu, Leonardo telah sampai di dunia para penyihir. Kedatangan pemuda tersebut spontan disambut oleh seorang penyihir. Bukan penyihir baik, melainkan penyihir jahat yang menjelma menjadi sosok peri berhati baik.
“Hai pemuda, siapa namamu?” Seorang penyihir wanita menyapa.
Leonardo mencari sumber suara. Seorang wanita muda terlihat melayang tanpa menapakkan kaki di atas bumi. Wanita itu berwajah cantik. Bertubuh seksi. Berkulit putih jernih. Diiringi manik mata berwarna cokelat muda. Sumbulan dadanya terlihat kenyal nan menggoda.
“Namaku Leonardo. Apa benar ini adalah dunia para penyihir?” Leonardo bertanya tanpa basa-basi. Bertindak, seakan ia lupa akan asal usulnya di dunia nyata.
“Ck, kau benar sekali Leonardo. Kau sedang berada di dunia para penyihir. Perkenalkan namaku Kyteler.”
Apa Kyteler? Bukankah itu adalah nama penyihir jahat yang baru saja disebutkan oleh Priscilla? Leonardo memutar ingatan. Bersimpul tak sesuai dengan apa yang Priscilla ceritakan. Mana mungkin wanita itu merupakan penyihir jahat? Parasnya saja jauh dari kata seram. Ia bahkan bersuara teduh nan menenangkan.
“Ke marilah,” Kyteler mengarahkan.
Leonardo spontan mengikuti gerak Kyteler.
Mereka menuju pada salah satu sudut. Di sana, terlihat sebuah cermin berukuran besar. Kyteler mulai membaca mantra. Lalu, mengarahkan cermin itu pada sosok Leonardo. Tak lama kemudian, sosok tampan muncul dari balik cermin. Leonardo terperangah.
Apakah pemuda tampan ini adalah diriku?
“Apakah, kini kau senang melihat wajahmu yang buruk rupa berubah menjadi tampan?” Kyteler bertanya. Menyunggingkan senyum ramah.
Leonardo mengangguk cepat. Di masa depan, ia bahkan tak sekali pun melihat wajahnya sesempurna itu. Tak ada t**i lalat berukuran besar di bawah mata. Lalu, kulit dekil di wajah berubah menjadi putih bersih baik lantai berporselin.
“Apa kau ingin menjadi kaya raya juga?” Kyteler menambahkan.
Leonardo berpikir sejenak. Lalu, mengangguk mengiyakan.
Kyteler tertawa setelahnya. Tawa terbahak itu terlihat ambigu bagi Leonardo.
“Tapi, kau bukan penduduk di sini. Jadi, aku tak bisa memberi sihir itu kepadamu. Saat kau kembali ke masa depan, wajahmu akan kembali buruk rupa seperti sedia kala,” Kyteler kembali bersuara. Menginfokan kabar buruk tersebut.
Leonardo memasang gurat sedih. Lalu, mulai memikirkan sosok dirinya di masa depan. Jika tak ada mesin waktu milik keluarga Cropper, ia takkan bisa menjelajah waktu ke masa lalu. Maka dari itu, Leonardo takkan menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Apa ada yang bisa aku lakukan, agar aku tetap mendapat wajah tampan ini?” Leonardo bertanya. Sesaat usai berpikiran singkat.
Setidaknya, jika Leonardo tak bisa menjadi kaya raya, minimal ia dapat mengubah wajah buruk rupa tersebut; berubah menjadi seorang pemuda tampan yang ia pandang di depan cermin saat itu. Sehingga, takkan ada lagi orang lain yang mencela rupanya.
“Tentu saja, kau tinggal menuruti perintahku. Maka, semua kemauanmu akan terwujud dengan sihirku,” Kyteler berucap. Lalu, meminta Leonardo kembali ke dunia sihir pada akhir pekan.
Pemuda itu berpamitan. Menembus sela pembatas antara dunia magis dan non magis di pedesaan.
******
Sesampainya di pedesaan, Leonardo menghampiri Priscilla. Perempuan muda itu tak pergi meninggalkan sosoknya. Priscilla justru menaruh perasaan cemas. Ia takut jika hal buruk menimpa pemuda yang baru saja menolong dirinya.
“Apa kau baik-baik saja?” Priscilla bertanya. Menatap lekat sosok Leonardo di hadapannya.
Leonardo mengiyakan.
“Seperti yang kau lihat, Prisc. Aku baik-baik saja.”
Tiba-tiba, awan bergemuruh. Menandakan akan turun hujan saat itu.
“Sebaiknya kita segera kembali, Leonardo,” Priscilla mengajak. Meraih tangan kanan Leonardo untuk kali kedua.
Kini, keduanya berjalan menyusuri pedesaan. Meninggalkan pemandian air panas di sana.
******
Tak lama kemudian.
Leonardo menghampiri mesin waktu yang membawa ia ke masa lalu. Berpamitan pada Priscilla, untuk pergi dalam kurun waktu seminggu.
“Maafkan aku, Priscilla. Aku harus bergegas,” Leonardo berkata. Sesaat usai melihat mesin waktu berkedip samar. Pertanda, jika mesin itu akan menghilang.
“Tunggu dulu, Leonardo!” Priscilla berseru. Menghentikan pergerakan Leonardo yang hendak masuk ke dalam mesin waktu.
“Apa kau berjanji akan menjumpaiku lagi?” Priscilla bertanya. Memastikan. Menaruh harap.
Leonardo mengangguk cepat, “Tentu, tentu saja aku akan kembali ke mari lagi. Dan, aku akan menjumpaimu.”