FRANK

1444 Words
“Tentu, tentu saja aku akan kembali ke mari lagi. Dan, aku akan menjumpaimu.” *** Leonardo baru saja memasuki mesin waktu. Pemuda itu segera menekan beberapa tombol. Beruntung, Tuhan memberkati Leonardo dengan otak yang genius. Dengan berkah tersebut, Leonardo dapat memecahkan rumus penting yang dapat membawa ia kembali ke masa depan. ****** Beberapa saat usai melakukan perjalanan waktu. Titt! Titt! Titt! Mesin waktu berhenti. Lampu pada benda berukuran persegi itu menyala benderang. Pertanda, perjalanan waktu baru saja Leonardo sudahi. Kali itu, pemuda tersebut tak mengalami mabuk perjalanan seperti sedia kala. Setidaknya, efek yang ditimbulkan dari ruang besi berbahan dasar kecanggihan elektronik itu, tak sebesar sebelumnya. Yakni, hingga menyebabkan Leonardo tak tersadar. Pintu besi otomatis terbuka. Leonardo melangkah keluar. Ia segera menyorot jam dinding berbentuk bundar. Pukul empat sore lewat lima menit. Itu tandanya, aku hanya menjelajah waktu selama lima menit saja. Leonardo bersimpul. Benar! Leonardo itu sungguh teliti dalam segala hal. Mendapati benda bertuliskan mesin waktu, tandanya ia harus jeli perihal angka di dalam petunjuk jam. Seusai memastikan waktu kepergian, Leonardo melangkah menuju ruang tengah. Sebuah ruang, letak ia meninggalkan sosok Grace yang beralih ke ruang makan. Dan, benar saja. Kedatangan Leonardo bertepatan dengan Grace yang membawa nampan. “Kau baru saja tiba dari mana, Leonardo?” Grace bertanya. Meletakkan nampan pada meja berbentuk persegi panjang. “Aku baru saja dari sana,” Leonardo tak berkilah. Ia berkata jujur perihal kelancangan yang ia lakukan di belakang Grace. Grace spontan mengikuti gerak pandang Leonardo. Spontan, manik mata berwarna biru itu melebar. “Apa kau baru saja dari ruangan kakakku?” Grace memekikkan suara. Terkejut tiada tara. “Jadi, ruang kerja itu adalah ruangan kakakmu?” Leonardo kembali bertanya. Grace menjejalkan p****t di sofa. Lalu berkata, “Benar. Itu adalah ruang kerja kakakku.” Pada saat bersamaan, seorang pemuda tampan baru saja tiba. Menampakkan diri pada ruang tengah. Paras pemuda itu tak jauh berbeda dengan Grace. Sosok pemuda tersebut juga memiliki garis wajah rupawan seperti Grace. Sudah pasti, itu adalah seorang kakak yang Grace maksud tadi. Leonardo bersimpul. Lalu, “Kak? Ke marilah. Aku ingin memperkenalkanmu pada seorang teman baruku,” Grace berucap. Beranjak dari duduk. Menggapai lengan sang kakak. “Namanya, Leonardo Mandela Lombogia. Dia adalah teman sebangkuku di sekolah baru,” Grace memperkenalkan. “Hai, perkenalkan namaku Gerson Franky Cropper,” Gerson memberi salam dengan menyodorkan tangan kanan. Sungguh, kakak beradik itu adalah dua orang yang baik hati. Mereka berasal dari keluarga terkaya nomor dua di dunia. Namun, mereka tak memandang orang lain dengan rendah. Padahal, sudah jelas penampilan Leonardo terlihat dekil dan lusuh saat berjumpa dengan Gerson sore itu. “Senang dapat berkenalan dengan Kakak,” Leonardo menyahut. Membalas salam yang Gerson lakukan. Usai berkenalan, Gerson memberi waktu luang pada sang adik dan Leonardo untuk berbincang. Sementara ia segera melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Namun, hal janggal didapati oleh Gerson. Tombol-tombol yang semula menyala, berpindah menjadi redup pada beberapa bagian. Pertanda, seseorang baru saja mengutak-atik tombol di dalam ruang. “Bik? Bik?” Gerson berseru lantang. Memanggil nama seorang pelayan. “Iya, Den? Ada apa?” Pelayan itu menyahut. Segera menghampiri sang majikan muda. “Apa Bibik tadi masuk ke dalam ruang kerja saya? Apa Bibik tak sengaja memencet tombol yang ada?” Gerson bertanya cemas. Meski, ruang kerja itu dibiarkan terbuka. Tak ada kunci yang mengamankan daun pintu di sana. Namun, Gerson tak merasa takut akan hal tersebut. Mengingat, semua teknologi canggih di dalam ruang itu, hanya ia yang bisa mengendalikannya. Bagaimana tidak, semua teknologi yang ada disertai dengan rumus rumit. Gerson sengaja melakukan hal itu, agar tak banyak orang bisa menembus penelitian di bidang IT yang sedang ia kerjakan. “Tidak, Den. Bibik belum membersihkan ruangan Aden, sore ini,” Sang pelayan menyahut jujur. Mendengar sang kakak mengobrol dengan seseorang, Grace bertindak peka. Lalu, menghampiri sumber suara yang terdengar sedang bertukar informasi. “Ada apa, Kak?” Grace bertanya. Menatap Gerson di depan ruang kerja yang terbuka. Spontan, Grace menepuk jidat. Kemudian berseru, “Leonardo?” Perempuan muda itu memanggil nama seorang teman; yang mengaku memasuki ruang kerja sang kakak. “Ada apa, Prisc?” Leonardo bertanya lirih. “Jangan bilang, kau tadi berhasil menyelesaikan rumus rumit yang kakakku buat?” Grace bertanya menyelidik. Gerson melongo. Benarkah? Murid SMA seperti dia bisa menyelesaikan rumus yang kubuat? Pemuda tampan itu bertanya-tanya. Dan, Leonardo mengangguk cepat. Mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan oleh Grace. “APA?” Gerson spontan memekikkan suara. “Kau tidak sedang bercanda, bukan?” Pemuda itu mengimbuhkan pertanyaan. “Tidak, Kak. Aku benar-benar menuntaskan rumus rumit di sana. Bahkan, aku berhasil menjelajah waktu, selagi menggunakan mesin waktu itu,” Lagi-lagi Leonardo menyahut jujur. Telunjuk kanannya tak lupa mengarah pada sebuah mesin berbentuk persegi. Gerson menyugar rambut yang tertata rapi. Ia tak marah jika siapa pun masuk ke dalam ruang kerja miliknya. Hanya saja, mendapati orang lain mampu memecahkan rumus yang ia buat, itu adalah pertanda, jika mesin waktu yang ia ciptakan benar-benar berhasil. Dan, Gerson tak menyangka, bahwa kali itu ia telah sukses menciptakan benda yang tak mampu diciptakan oleh pengembang IT lain. Baiklah, yang terpenting, sekarang aku harus membuktikan kebenaran akan hal itu. Gerson mengakhiri pemikiran singkat di dalam kepala. Lalu, mengajak Leonardo untuk masuk ke dalam ruang kerja. Titt! Titt! Titt! Suara monitor terus saja berbunyi. Saling bersahut-sahutan. Gerson mengajak Leonardo untuk duduk bersama di depan sebuah layar berukuran lebar. Layar yang menampakkan berbagai garis-garis rumit berisi fluktuasi waktu ke waktu. “Sekarang, coba kau tunjukkan padaku, garis waktu mana yang berhasil kau jelajah? Dan, berapa lama waktu yang kau gunakan untuk pergi ke sana?” Gerson bertanya. Leonardo segera memperbesar tangkapan gambar pada layar. Kemudian, menunjuk pada sebuah garis waktu yang ia yakini adalah masa lalu. “Apa kau yakin, berkunjung ke sana?” Gerson bertanya. Memelototkan mata. “Tentu, memang ada apa?” Leonardo bertanya polos. Benar-benar memperlihatkan keluguan di wajah. “Ini adalah garis waktu sebelum masehi. Kau menjelajah pada beratus tahun yang lalu. Apa kau tak salah? Apa kau bersungguh-sungguh?” Gerson memastikan keraguan di dalam benak. “Aku benar-benar menjelajah ke sana, Kak. Aku berhenti pada sebuah pedesaan. Para rakyat di sana, bahkan masih familiar dengan hukuman rajam,” Leonardo bercerita. “Dan, perihal waktu. Aku sudah memastikan, jika aku hanya melewatkan lima menit di masa depan, untuk berada selama seharian di masa lalu.” Gerson menggeleng tak percaya. Itu adalah kali pertama seorang insan di masa depan, memberi kesaksian perihal betapa hebat teknologi yang ia ciptakan. “Kau benar-benar genius sekali, Leonardo. Kau benar-benar berhasil memecahkan kode yang kubuat sedemikian rupa,” Gerson memuji. Sesaat usai berpikir logis pada cerita yang Leonardo lontarkan. Bagaimana tidak, Gerson telah menciptakan mesin waktu tersebut dengan perhitungan yang matang. Sebuah hitung-hitungan yang ia sinkronkan dengan rumus rumit yang ia tuang ke dalam kode-kode di sana. Mulai dari kode pembuka pintu pada mesin waktu. Kode memulai perjalanan pada waktu yang dituju. Lalu, kode untuk kembali ke tempat asal. Dan, Leonardo? Ah, murid berseragam abu-abu itu, berhasil melakukan perjalanan waktu sesuai yang Gerson perhitungkan. “Oh iya, Kak? Ngomong-ngomong, bolehkah aku memohon sebuah permintaan?” Tiba-tiba Leonardo berceletuk. Memandang penuh harap pada sosok pemuda yang menjadi lawan bicara. “Memang, apa permintaanmu itu?” “Apa boleh, jika minggu depan aku melakukan perjalanan waktu lagi?” Gerson menyipitkan mata, “Bukankah, perjalanan waktu itu membahayakan dirimu?” “Membahayakan? Maksud, Kakak?” “Mesin waktu itu kubuat dengan berbagai jenis gelombang yang memiliki banyak radiasi. Aku mengkombinasikan medan listrik dan medan magnet. Keduanya saling berosilasi dan merambat. Itulah yang menyebabkan benda atau pun manusia seperti kita, dapat melewati ruang dan membawa energi dari satu tempat ke tempat yang lain. Bukankah, sewaktu berada di dalam perjalanan, kau merasakan hal aneh pada dirimu?” “Hal aneh?” Leonardo menarik pupil ke arah atas. Seraya berpikir keras. “Yah! Sewaktu kau berada di dalam perjalanan, suara berisik terdengar. Lampu-lampu menjadi berkedip berulang. Seketika, tulang di dalam tubuhmu menjadi seraya rontok dengan sendirinya. Kau mengalami lemas seperti tak lagi berdaya. Kau hingga terjatuh pingsan, bukan?” “Jadi, itu bukan efek dari mabuk perjalanan?” “Tentu saja, bukan,” Gerson menyahut cepat. “Saat itu, kau sedang mengalami efek dari radiasi,” Pengembang IT itu menjelaskan. Pantas saja, sewaktu mesin waktu itu bergerak, aku juga merasa tubuhku turut bergerak hebat. Ternyata, itu tak hanya berasal dari guncangan saat menjelajah waktu. Melainkan, karena tubuhku mengalami kejang usai mendapati gejala-gejala radiasi itu. Leonardo bersimpul. “Lantas, usai kau tahu jika perjalanan waktu itu membahayakan, apa kau masih akan tetap menggunakan mesin waktu itu lagi pada minggu depan?” Gerson bertanya. Memastikan. Leonardo berpikir sejenak. Lalu, menyahut penuh keyakinan. “A-aku—” “Aku akan tetap melakukan perjalanan waktu itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD