BAD FATE

1206 Words
“Aku akan tetap melakukan perjalanan waktu itu.” *** Mendengar kesungguhan Leonardo, Gerson tak dapat menyanggah. Lagi pula, ia juga membutuhkan seorang sukarelawan yang berani menjelajah waktu. Mengingat, perjalanan waktu itu sudah pasti dipenuhi dengan kejadian tak terduga.  Dan, menemukan seseorang yang amat genius sekaligus amat menyukai petualangan seperti Leonardo itu, tidaklah mudah. “Baiklah, kalau begitu kau bisa kembali lagi ke mari pada minggu depan,” Gerson mengiyakan. Leonardo bernapas lega. Tampak sumbulan sumringah di dalam wajah Leonardo sore itu. Ia benar-benar akan memulai dunia baru di masa lalu. Berpetualang pada sebuah masa yang tak dapat dijangkau oleh sembarang orang. “Terima kasih banyak, Kak Gerson,” Leonardo berucap suka cita. Lalu, kedua pria berbeda usia itu saling berpamitan. Leonardo keluar dari dalam ruang kerja. Sementara, Gerson kembali melanjutkan aktivitas meneliti berbagai benda-benda canggih di dalam ruang berukuran besar. “Hai, Leonardo. Apa saja yang kau bicarakan dengan Kak Gerson? Apa Kak Gerson memarahimu?” Grace bertanya ragu. Merasa khawatir karena Leonardo berani masuk sembarangan ke dalam ruang kerja sang kakak. “Tidak, Grace. Kakakmu benar-benar seorang pemuda yang baik. Selain tampan dan genius, dia amat pengertian. Yah! Sama sepertimu. Kalian berdua tak malu berteman denganku.” “Apa yang kau katakan, Leonardo? Lagi pula, berteman itu bisa dengan siapa saja. Asal, tak memberi dampak negatif pada pertemanan itu,” Grace menyahut dewasa. Entahlah, bagi Leonardo, kepindahan Grace ke sekolahnya, merupakan sebuah anugerah. “Baiklah, Grace. Kalau begitu, aku pamit dahulu. Sampaikan salamku pada kakakmu. Dan, terima kasih banyak atas jamuanmu di rumah,” Leonardo berpamitan. Saat itu, hari mulai menggelap. Sudah waktunya, Leonardo harus kembali pulang ke rumah. Menghampiri dua orang paruh baya yang membutuhkan perhatian darinya. “Kau berhati-hatilah di jalan, Leonardo,” Grace berpesan. Leonardo mengangguk. Melambaikan tangan. Berjalan keluar rumah. Menyusur halaman depan yang luas. Meninggalkan bayangan bersama pintu pagar berwarna hitam yang tertutup rapat setelahnya. Namun, di sela Leonardo berjalan, para gerombolan pemuda tengil menghampiri sosoknya. Siapa lagi, kalau bukan Alexander dan juga teman-teman lelaki lain di sekolah? “Hei! Buruk rupa? Apa yang kau lakukan selama berjam-jam di rumah Grace, hah? Apa kau sekarang bekerja sebagai seorang tukang kebun di sana?” Alexander memekikkan suara. Bergumul bersama teman-teman lelaki lain. Menyerobot posisi Leonardo saat berdiri. Yah! Apa lagi yang hendak mereka lakukan; selain untuk merundung seorang murid yang ringkih? “A-aku, hanya—” “Hanya apa, bodoh? Cepat katakan!” Alexander memukul kasar puncak kepala Leonardo. Sedangkan, para murid lain berlaga tengil dengan melepas tas ransel yang Leonardo gunakan. Mengeluarkan buku-buku dari dalam sana. Menghambur-hamburkan buku catatan yang Leonardo buat selagi berada di sekolah. “Jangan!” Leonardo berseru lantang. Sesaat usai mendapati Nicholas hendak melempar salah satu buku ke dalam lubang saluran air. Mendengar pekikan itu, Alexander tak terima. Itu adalah kali pertama Leonardo berani melantangkan suara. “Apa yang sedang kau lakukan, hah? Mengapa kau melawan? Apa sekarang, kau menjadi lebih berani usai berteman dengan seorang anak dari keluarga kaya raya?” Alexander mengeluarkan suara. Menghempas kasar tubuh Leonardo hingga kembali menghadap ke arahnya. Sedangkan, Nicholas? Ah, pemuda itu melanjutkan aktivitas yang semula hendak membuang buku catatan Leonardo ke dalam selokan. Bruk! Buku catatan itu terjatuh. Menyusut bersama kubangan air di sana. Di sela, rundungan itu terjadi, seorang pria paruh baya menghampiri mereka. Sesaat usai pria itu meletakkan gerobak sampah yang ia bawa. “Hentikan, nak,” Pria paruh baya itu berseru. “Bapak?” Leonardo berucap. Terkejut. Tak ia sangka akan bertemu sang ayah di sana. Cih! “Bapak? Ah! Jadi benar, jika kau adalah anak seorang pengelola sampah? Pantas saja, baumu selalu menyengat,” Alexander menambahkan kalimat berisi cibiran. Sesekali, menutup lubang hidung sebagai isyarat enggan dekat-dekat. “Apa yang kalian lakukan pada putra, Bapak?” Akmal berucap. Menatap lekat manik mata seorang remaja seumuran sang putra. Issh! “Sudahlah, Pak. Bapak tak perlu tahu dengan urusan kami. Lagi pula, seharusnya Bapak tidak bertanya. Bau nafas Bapak itu tak sedap. Seperti bau air comberan di sana,” Alexander menyahut. Mengarahkan pandang pada sosok Nicholas yang masih bersibuk di dekat saluran air. Akmal menggeleng kepala berulang. Paham betul dengan perangai pemuda jaman sekarang. “Sudahlah, kita pergi saja dari sini. Aku tak tahan dengan bau busuk mereka,” Alexander memutuskan. Mengajak beberapa teman lelaki di sana untuk bubar. Nicholas berjalan berdampingan dengan Alexander. Lalu, beralih menaiki kendaraan beroda dua. Yakni, sebuah motor berjenis sport dengan keluaran terbaru. Sudah pasti, berharga mahal. Hingga tak dapat dijangkau oleh seorang Leonardo, yang berasal dari keluarga kurang berada. Kemudian, “Pak? Bapak sedang apa di sini? Bukankah, seharusnya Bapak sudah pulang bekerja? Mengapa masih menarik gerobak sampah?” Leonardo bertanya. Mencerca Akmal dengan gurat tak percaya. Yah! Biasanya, pada pukul lima sore, Akmal sudah kembali ke rumah mereka yang sederhana. Yakni, sebuah rumah yang didirikan dengan sisa-sisa kardus dari hasil memulung. Namun, melihat Akmal masih berkeliling pada pukul tujuh malam, hal tersebut menandakan jika Akmal sedang mencari rejeki tambahan; dari hasil menggumpulkan barang-barang rongsokan. Uhuk! Uhuk! Alih-alih memberi jawaban, Akmal justru terbatuk. Batuk berdahak itu bahkan membuat Akmal mengeluarkan darah dari salah satu indera. Yakni, indera pengecap. Akmal meludahkan sisa dahak itu pada sebuah kain. Lalu, menutup kain itu. Seperti biasa, sesampainya di rumah, Akmal akan mencuci bersih kain itu lagi. Tanpa banyak bicara, Leonardo membereskan buku-buku yang berserakan di jalan. Meski, ada beberapa buku catatan yang terpaksa harus Leonardo tinggalkan; buku-buku yang dilempar Nicholas ke dalam selokan. Setelah itu, barulah Leonardo menghampiri gerobak sampah yang sang ayah bawa. Menarik gerobak itu dari sisi depan. Menggantikan posisi Akmal. Seraya mengijinkan agar Akmal beristirahat sejenak dari rutinitas yang melelahkan. ****** Di dalam perjalanan, Leonardo tak henti untuk singgah pada bangunan bersemen. Bangunan yang sengaja dibuat untuk meletakkan barang-barang sisa, seperti sampah dan barang lain yang tak lagi digunakan oleh si pemilik. Tak jarang, baik Akmal atau pun Leonardo, menemukan plastik, kayu atau pun besi yang masih bagus. Tentu, barang-barang tersebut akan didaur ulang oleh sang ibu. Lalu, dijual keliling pada para tetangga. Meski, tak banyak dari mereka yang mau membeli barang-barang itu. Mengingat, Akmal mendapatkan bahan daur ulang tersebut dari tempat pembuangan sampah. Hhh! Leonardo menghembus napas panjang. Sesekali, menghapus bulir keringat yang terjatuh. Sudah satu jam, ia berkeliling dengan sang ayah. Namun, hari itu dewi fortuna tak berpihak pada mereka. Barang-barang bekas yang mereka cari, telah habis tak bersisa. Sepertinya, sudah diambil lebih dulu oleh para pemulung lain. “Pak, sebaiknya kita pulang saja,” Leonardo mengajak. Mendengar ajakan Leonardo, Akmal tak bergerak. Dan, yah! Leonardo hafal betul dengan gelagat yang sang ayah tunjukkan. Sudah pasti, saat itu Akmal sedang bingung karena tak dapat membawa pulang makanan, untuk ia beri pada Dewi. “Pak, hari ini Bapak tak perlu khawatir. Lihatlah,” Leonardo menunjukkan sebuah bungkusan yang ia susun rapi di dalam tisu. Bungkusan itu berisi kue. Benar! Kue yang diambil oleh Leonardo, saat Grace menyuguhkan cemilan tersebut selagi ia berkunjung. “Syukurlah,” Akmal berseru ceria. Mengusap bahu sisi kanan sang putra. Lalu, kembali melanjutkan langkah. Berjalan bersama menuju rumah reyot mereka yang sederhana. Meski, menampakkan gurat ceria. Namun, Akmal tak dapat memungkiri perihal yang sedang ia rasa. Maafkan Bapak, nak. Bapak tak bisa membuatmu hidup dengan layak. Akmal membatin. Berseru sedih di dalam hati. Tak henti melirik pada sosok putra yang sedang berjalan di sisi kiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD