REBIRTH?

2278 Words
Setibanya di rumah. Leonardo dan Akmal segera menjumpai Dewi. Memberi kue yang Leonardo bawa dari rumah Grace. “Terima kasih, nak,” Dewi berucap. Mengusap puncak kepala Leonardo. Menepuk singkat. Lalu, beralih memakan kue yang disodorkan oleh sang putra. Kue berlapis cokelat itu tak serta merta dimakan seorang diri oleh Dewi. Wanita itu tak lupa membagi kue tersebut menjadi tiga bagian. Setidaknya, mereka bertiga dapat bersama-sama mengisi perut. Meski, hanya dalam satu gigitan. Melihat hari-hari mereka yang serba kekurangan, hati Leonardo mencelos. Remaja laki-laki itu ingin sekali terlahir kembali. Tentu, jika boleh memilih, Leonardo tak ingin terlahir dari keluarga seperti itu. Ia ingin merasakan apa yang selama ini tak pernah ia rasa. Yakni, hidup dengan berkecukupan. Hhh! Leonardo menghela napas panjang. Lalu, beralih berganti pakaian dengan busana rumahan. Sementara, Akmal dan Dewi sedang beristirahat. Leonardo memilih berada di halaman depan rumah. Mendudukkan diri pada sebuah kursi reyot, yang didapatkan Akmal sewaktu memulung di jalanan. Kemudian, mengedarkan pandangan pada langit. Menatap bintang-bintang yang bertaburan. Tiba-tiba, Tring! Sebuah bintang jatuh melesat ke dalam netra. Leonardo segera memejamkan mata. Mengucap permohonan. Seakan percaya, jika bintang jatuh itu dapat mengabulkan permintaan. Di sela Leonardo berseru di dalam hati, benak di dalam pikiran teringat pada suatu hal. Bukankah, Kyteler berkata jika aku harus kembali dalam waktu sepekan? Itu artinya— Tanpa banyak bicara, Leonardo menutup daun pintu rumah. Lalu, meninggalkan dua orang paruh baya yang sedang tidur di dalam sana. Kemudian, ia melangkahkan kaki menuju hunian mewah keluarga Cropper. Bahkan, Leonardo tak berjalan. Remaja laki-laki itu berlari cepat agar segera sampai pada tujuan. ****** Setibanya di depan pintu pagar yang menjulang. Leonardo bercelingukan. Pintu pagar itu telah tertutup rapat. Seraya tak lagi berniat menerima tamu. Meski, hanya seorang saja. Niat hati ingin menghubungi Grace yang sedang berada di dalam rumah, segera tertampik begitu saja. Benar, Leonardo tak memiliki telepon genggam seperti yang dimiliki oleh para teman sebaya. Ting-tung! Menyalakan bel pada pintu pagar, adalah jalan terakhir yang bisa Leonardo lakukan. Meski sesungguhnya, ia enggan mengganggu anggota lain di dalam rumah; dengan suara bel yang terdengar ke seluruh penjuru ruang. Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul dari balik pintu berukuran besar. Pelayan itu mengarahkan tukang kebun yang sedang tertidur. Meminta agar sosok pria yang bekerja di sana, untuk mengecek sosok tamu yang bertamu malam-malam. “Ada yang bisa saya bantu?” Tukang kebun itu bertanya. Sesaat usai mengerjap mata. Memandang samar pada sosok lelaki muda di hadapannya. Seorang remaja yang lusuh, dekil nan buruk rupa. “Ada apa?” Pria tersebut menambahkan kalimat tanya. “Sa-saya teman Grace. Bolehkah, saya bertemu dengan Grace sebentar saja?” Leonardo bertanya. Sedikit memandang dengan ragu. Sesaat usai mendapati tanggapan tak baik yang ditujukan oleh tukang kebun itu. Benar saja, sang tukang kebun mengerutkan dahi. Tak percaya begitu saja, jika remaja itu adalah teman dari seorang majikan muda di dalam rumah. Namun, seketika ia teringat. Jika, sore tadi sang majikan muda membawa seorang teman lelaki. Sepertinya, anak ini adalah anak tadi. “Baiklah, tunggu sebentar. Bapak akan mengkonfirmasi dulu pada Nona Grace,” Tukang kebun itu berucap. Beralih membalikkan badan. Menuju ambang pintu yang terbuka. Menyampaikan keinginan remaja tersebut pada pelayan di rumah. Tiba-tiba, Di sela dua orang tersebut berbincang, Gerson mengeluarkan suara. “Ada apa, Bik? Pak?” Pemuda tampan itu bertanya. Menatap ambang pintu yang terbuka pada pukul sembilan malam. “Ini, Den. Ada teman Nona Grace, dia berkata hendak menemui Nona Grace,” Pelayan tersebut menginformasikan. Gerson spontan berjalan menghampiri posisi kedua pekerja di rumah. Mengedar pandangan ke arah luar pintu gerbang. Sepertinya, itu Leonardo. “Sudah, Pak. Ijinkan saja dia untuk masuk. Saya juga mengenali remaja itu,” Gerson meminta. Sang tukang kebun mengangguk mengiyakan. Bergegas menjumpai remaja laki-laki yang semula ia kira orang iseng saja. Sesampainya di dalam rumah. Leonardo bertatap muka dengan Gerson yang sedang duduk di sofa. Pemuda tampan itu sedang menikmati secangkir cokelat hangat. Bau khas dari minuman tersebut merasuk ke dalam indera. Sungguh, Leonardo tak pernah merasakan minuman lain, selain air mineral. Hal tersebut, membuat Leonardo meneguk ludah sebagai pelampiasan. “Ada apa kau ke mari malam-malam, Leonardo?” Gerson bertanya. Meletakkan cangkir ke atas meja. “Kak, maafkan aku. Aku berubah pikiran. Bolehkah, aku menggunakan mesin waktu Kakak, sekarang saja?” Leonardo mengutarakan niat. Tanpa basi-basi. Gerson mengerutkan dahi. Menghembus napas pelan. Lalu, mengarahkan Leonardo menuju ruang kerja. “Apa ada yang sedang terjadi? Sehingga, kau ingin melakukan perjalanan waktu malam ini?” Gerson bertanya penasaran. Sesaat usai keduanya berada di dalam ruang. Leonardo sedang bersiap masuk ke dalam mesin waktu. Sedangkan, Gerson berada di depan layar berukuran lebar. “Aku berjanji pada seseorang di sana. Jika, aku akan kembali dalam waktu sepekan. Itu tandanya—” “Tandanya, kau hanya perlu melakukan perjalanan waktu setelah tiga puluh lima menit berada di sini sore tadi?” Gerson mengambil kesimpulan. Leonardo mengangguk sepakat. Yah! Kedua pria berbeda usia itu memang memiliki satu pikiran sepaham. Mungkin, karena keduanya dibekali dengan tingkat kegeniusan yang hampir sama. “Baiklah, kalau begitu bergegaslah.” “Kalau begitu, aku akan segera masuk,” Leonardo menyahut. Sesaat usai memasukkan kode pembuka pintu besi; yang sudah ia ingat di luar kepala. Namun, tiba-tiba Gerson berseru. “Leonardo? Tunggu dulu!” “Ada apa, Kak?” “Kau bawalah ini bersamamu,” Gerson menyodorkan sebuah benda berbentuk kotak. Benda itu memiliki satu buah lampu kecil yang menyala; berwarna merah. “Apakah ini semacam sistem navigasi?” Leonardo mengkonfirmasi kegunaan benda tersebut. “Benar. Kita tak pernah tahu perihal yang akan terjadi saat kau menjelajah untuk kali kedua nanti. Untuk berjaga-jaga, bawalah benda itu bersamamu,” Gerson mengingatkan. Lalu, mengetikkan sesuatu pada keyboard berbentuk layar kaca di sana. Leonardo menurut. Membawa serta benda itu. Bayangan Leonardo yang menghilang, disertai dengan pintu mesin waktu yang tertutup otomatis. Sudah pasti, saat itu Leonardo baru saja memasukkan kode perjalanan waktu ke masa lalu. Sementara itu, di ruang kerja Gerson. Lampu pada monitor berkedip hebat. Beberapa warna tersebut meredup satu persatu. Dan, bunyi-bunyian berisik di sana, perlahan memelan. Pertanda, Leonardo baru saja menyelesaikan perjalanan. ****** Sesampainya di masa lalu. Suasana malam menjadi durasi waktu yang ia kunjungi. Entah, tepatnya pada pukul berapa. Yang pasti, Leonardo tiba di sana pada enam puluh hari setelah hari pertama ia berkunjung. Yah! Leonardo, terlambat datang. Tak sesuai dengan perjanjian yang ia lakukan bersama Kyteler. Yakni, kembali dalam kurun waktu sepekan. Namun, bukan itu yang menjadi fokus utama. Leonardo sudah jelas memperhitungkan hal tersebut, bahkan sebelum ia memutuskan pergi menggunakan mesin waktu untuk kedua kali. Sedangkan, hal lain yang ia fokuskan saat itu, adalah perihal perubahan bentuk fisik yang Leonardo alami. Perjalanan waktu tersebut, benar-benar mengubah sosok Leonardo yang bertubuh ringkih, menjadi lebih berotot dan kuat di masa lalu. Garis pada roti sobek di tubuh kembali ada. Kulit menggelap yang terlihat maskulin kembali seperti sedia kala. Perihal wajah? Ah, dalam hal itu ia masih terlihat buruk rupa. Usai memastikan perubahan fisik seperti kali pertama, Leonardo memutuskan menghampiri Priscilla lebih dulu. Untuk apa lagi? Tentu, untuk menepati janji yang ia buat. Setibanya, Leonardo di depan gubuk tua yang dihuni Priscilla, Leonardo mengetuk pintu reyot di sana. Dan, tak lama setelah itu, Priscilla menampakkan diri dari balik daun pintu. “Leonardo?” Priscilla bersuara. Perempuan muda tersebut spontan memeluk tubuh Leonardo. Seraya, ingin melepas kerinduan yang terpendam. “Kau ke mana saja? Bukankah, kau sudah berjanji padaku untuk kembali dalam waktu sepekan?” Priscilla bertanya. Masih dengan gerak mendekap tubuh Leonardo yang hangat. Leonardo terdiam. Membeku. Bukan karena tak bisa memberi penjelasan. Namun, karena tindakan yang Priscilla lakukan. Benar saja, di masa depan, seorang perempuan pun tak berniat mendekat pada Leonardo. Mereka merasa risih dengan bau menyengat di tubuh remaja itu. Namun, di masa lalu, Leonardo bak seorang pangeran yang baru saja dirindukan oleh putri kerajaan. Putri tersebut berparas cantik nan jelita. Berbau wangi. Dan, berperagai baik hati. Hingga, tak peduli dengan rupa Leonardo yang buruk rupa, lusuh dan dekil. “Leonardo, mengapa kau tak berbicara sepatah kata?” Priscilla kembali mengeluarkan suara. Berusaha memecah lamunan sang lawan bicara. “Hhm—” “Hhm, bagaimana aku dapat berbicara? Jika, kau tak henti mendekapku dengan erat seperti itu? Aku hingga tak bisa bernapas,” Leonardo menyahut. Berkilah. Sejujurnya, Leonardo hanya merasa canggung. Kikuk dengan pelukan yang dilayangkan secara tiba-tiba. “Ma-maaf,” Priscilla berucap. Menjauhkan posisi semula. Namun, Leonardo menarik pergerakan Priscilla. Saat itu, remaja tersebut bergantian memeluk tubuh seorang wanita di hadapannya. “Ehm, biarkan begini saja sebentar,” Leonardo berucap ragu. Nada bicara remaja itu bergetar. Tak mampu menahan kegugupan. Priscilla tersenyum. Hingga tak terasa, beberapa pemuda lain tiba. Merasa kesal dengan seorang pria yang berani memeluk wanita penghuni gubuk tua. “HEI! Siapa kau?” Pemuda-pemuda itu berseru lantang. Berteriak. Menujukan panggilan pada sosok Leonardo. Spontan, Leonardo menoleh. Mengakhiri aktivitas semula. Beralih menatap para pemuda yang sempat memukulnya beramai-ramai waktu itu. “Apa kau lupa padaku, hah?” Leonardo menyahut. Menampakkan seringai tak takut. Mengingat, kali terakhir, ia berhasil mengalahkan para pemuda itu dalam sekejap. Para gerombolan pemuda tersebut saling bertanya. Seraya, lupa pada sosok pria di sana. Benar saja, di masa lalu, waktu sudah berjalan selama kurang lebih dari dua bulan. Sehingga, wajar jika mereka lupa pada sosok Leonardo. Issh! “Sudahlah, kau jangan banyak bicara. Lebih baik kita berkelahi saja,” Salah seorang pemuda memutuskan. Menghantam Leonardo dengan pukulan. BUG! BUG! Bruk! Yah, berbagai baku hantam terjadi. Priscilla hanya bisa menahan decakkan pada bibir. Ia merasa khawatir, jika hal buruk menimpa Leonardo. Mengingat, saat itu Leonardo sedang dikeroyok oleh beberapa pemuda bertubuh kekar. Satu menit Dua menit Sepuluh menit kemudian. Aktivitas baku hantam telah usai. Lagi-lagi, para pemuda itu tersungkur lemah. Mereka baru teringat pada sosok pemuda, yang pernah mengalahkan mereka pada kali pertama. Sialan! Ternyata, pemuda itu adalah dia. Salah seorang bergumam geram. Mengepalkan tangan. Namun, tak berniat mengulang baku hantam. Lalu, “Leonardo, apa kau baik-baik saja?” Priscilla bertanya. Menatap lekat sosok pemuda di hadapannya. Yah! Di masa lalu, Leonardo bak seorang pemuda. Tak lagi disebut remaja, yang berkisar usia para murid di sekolah menengah atas; Leonardo terlihat lebih matang dari pada usia aslinya di masa depan. “Aku baik-baik saja. Lagi pula, siapa mereka? Mengapa mereka selalu mendatangimu?” “Me-mereka adalah pemuda dari penduduk desa di seberang. Mereka memang selalu menggangguku.” Leonardo mengangguk peka. Sudah pasti, mereka datang dengan niat merayu Priscilla. Menjadikan perempuan cantik itu sebagai kekasih salah satu dari mereka. “Kau tenang saja. Kemungkinan besar, setelah ini mereka akan jera. Hingga, tak lagi berniat menghampirimu. Aku akan menjagamu,” Leonardo berucap. Menatap manik mata Priscilla yang indah. Kalimat yang dilontarkan oleh Leonardo malam itu, bak sebuah janji yang menjadi candu bagi Priscilla. Lagi-lagi, Priscilla menyimpan lekat janji itu; seperti janji saat Leonardo berkata akan kembali dalam waktu sepekan. ****** Malam semakin larut. Usai memastikan Priscilla tertidur, Leonardo berjalan perlahan menuju daun pintu. Membuka pelan pintu reyot, yang menimbulkan bunyi sedikit berisik di sana. Aku harus segera menjumpai Kyteler. Leonardo bergumam. Bersimpul penuh keyakinan. Yah! Jika, Leonardo berniat menjaga Priscilla, sudah pasti ia harus melakukan banyak hal. Salah satunya, menjadi kaya raya. Dengan begitu, ia dapat membeli rumah yang bagus. Sebuah rumah yang layak dihuni oleh Priscilla. Sehingga, Leonardo tak perlu khawatir saat kembali ke masa depan. Setidaknya, rumah baru dengan pintu yang dapat dikunci dengan rapat, mampu memberi keamanan saat Priscilla berada seorang diri di rumah. Bukan dengan hunian gubuk tua, yang dapat dimasuki oleh orang lain dengan mudah. ****** Sesaat usai menembus sela pembatas antar dunia non magis dan magis. Leonardo disambut oleh Kyteler. Seraya penyihir tersebut mengetahui kedatangan seorang anak manusia, ke dalam dunia magis malam itu. “Apa kau Kyteler?” Leonardo menyapa seorang wanita. Wanita itu membelakangi posisi ia berdiri. Spontan, Kyteler menoleh. Menampakkan senyum di wajah. Lalu berkata, “Bukankah, aku sudah bilang padamu, untuk kembali dalam waktu sepekan?” Leonardo mengangguk sebagai tanda iya. Ia meminta ketersediaan Kyteler untuk mengerti perjalanan waktu yang masih ia pelajari. Dan, lupa adalah sebuah hal wajar di dunia nyata. “Jika, kau memang dapat mengerti penjelasanku, lantas apa perjanjian kita masih berlangsung?” Leonardo bertanya. Memastikan. Kyteler tersenyum simpul. Sejatinya, penyihir itu tak masalah perihal kapan pun Leonardo kembali. Yang terpenting baginya, seorang anak manusia dapat ia kelabuhi. “Tentu saja. Melihatmu bersih keras seperti itu, tak ada alasan bagiku untuk tak membantumu,” Kyteler menyahut. Lalu, membacakan sebuah mantra. Tak lama setelah itu. Sebuah cermin yang sama, diarahkan menuju wajah Leonardo. Dan, yah! Seperti sedia kala, paras pemuda itu berubah dalam sekejap. Menjadi tampan nan rupawan. Leonardo menyunggingkan senyum bahagia. “Lalu, perihal kekayaan?” Cih! Kyteler berdecik. Mengarahkan pandang pada sebuah sudut. Memperlihatkan sebuah karung berukuran besar. Di dalamnya tersumbul beberapa batang emas yang mengkilap. “Gunakan emas-emas itu untuk mendukung kehidupanmu di dunia non magis. Kau bisa memperbanyak hartamu dengan berjudi atau apa saja,” Kyteler menjelaskan. Penjelasan singkat itu segera tersemat di dalam benak Leonardo. “Tandanya, semua hal yang kumiliki sekarang, hanya bisa kugunakan di masa lalu? Jadi, ketika aku kembali ke masa depan, semua ini takkan kubawa serta? Termasuk, paras tampanku?” Leonardo mengkonfirmasi kesimpulan yang ia tarik. Kyteler tersenyum. Yah! Penyihir itu terlihat baik. Bagaimana tidak, di sela ia berbicara, Kyteler tak henti menyunggingkan senyum manis di bibir. “Tentu saja. Lagi pula, setelah ini kau pasti menjadi lebih suka tinggal di masa ini.” Leonardo mengerutkan dahi. Banyak pikiran bergentayangan di dalam kepala. Namun, semua itu sirna. Seakan lenyap bersama keserakahan yang tiba-tiba merasuk ke dalam batin. “Baiklah, aku tak masalah,” Leonardo berkata. Sesaat usai berpikir sejenak. Toh, bukankah ia memang ingin dilahirkan kembali? Dan, tinggal di masa lalu adalah bagian dari durasi, saat ia mendapati garis hidup yang berbeda drastis? Yah! Setidaknya, Leonardo dapat merasakan hal-hal yang telah lama ia inginkan tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD