Leonardo berjalan menuju sela pembatas antar dunia magis dan non magis. Pemuda itu melangkah percaya diri. Ia bahkan lupa, jika Kyteler tak mungkin serta merta membantu ia begitu saja.
Kemudian,
“Tunggu dulu, Leonardo!” Kyteler memekikkan suara.
Leonardo menghentikan langkah. Menoleh kembali ke sumber suara.
“Ada apa?”
“Apa yang kuberi padamu, tak gratis begitu saja saja, Leonardo. Bukankah, di tempat asalmu, semua hal juga tak ada yang diberikan secara cuma-cuma? Bahkan, ke toilet saja kau harus membayar dengan beberapa lembar recehan.”
Leonardo tercekat. Bodohnya diriku. Mengapa tak terpikir akan perihal itu?
“Lantas, apa yang kau inginkan dariku yang tak memiliki apa-apa ini, Kyteler?” Leonardo bertanya. Penasaran akan hal yang diinginkan seorang penyihir, pada anak manusia seperti Leonardo Mandela Lombogia.
“Kau hanya perlu mendekati muda-mudi yang ada di pedesaan. Lalu, kau harus membujuk mereka agar mau berkunjung ke mari,” Kyteler menjelaskan.
Leonardo mengerutkan dahi, “Benarkah? Apa sekedar itu yang kau minta?”
“Tentu saja.”
Tanpa pikir panjang Leonardo mengiyakan permintaan Kyteler. Toh, tak ada ruginya mengajak pemuda-pemudi lain ke sana. Kyteler merupakan seorang penyihir baik; yang mau membantu pemuda seperti dirinya. Kemungkinan besar, Kyteler juga akan memberi kebaikan hati pada mereka. Yah! Setidaknya, itulah yang disimpulkan oleh Leonardo secara sederhana.
Setelah mengucap kata iya pada Kyteler, barulah Leonardo benar-benar melangkah pergi dari dunia magis. Ia tak lupa membawa serta sekarung emas pemberian sang penyihir.
Sela pembatas kembali ditembus dengan mudah. Leonardo bak seorang anak yang sekedar berangkat dan pulang ke rumah. Semudah itu, ia masuk dan keluar dari dunia magis dan non magis.
******
Di dalam perjalanan menuju gubuk milik Priscilla.
Leonardo berjumpa dengan beberapa pria tua, yang semula memberi hukuman rajam pada Priscilla. Para pria itu sedang duduk bersama. Menyeduh minuman hangat di dalam cangkir. Sesekali, mereka memperbincangkan sosok Priscilla.
“Ternyata, Priscilla itu memang seorang gadis yang mahir.”
“Yah! Aku hingga merasa ketagihan bermain dengannya.”
“Setiap malam, aku berpura-pura tidur. Setelah istriku tertidur, aku diam-diam keluar dari dalam rumah, menunggu Priscilla tiba.”
“Ah, kau itu terlalu lamban. Coba kau ikuti caraku. Aku selalu mencampur obat tidur ke dalam minuman istriku. Dan, dia segera pulas. Setelahnya, aku bebas melakukan apa saja ketika Priscilla datang menghampiriku.”
Mendengar obrolan beberapa pria tua di sana, Leonardo menjadi geram. Ia teringat pada suatu hal yang sempat Priscilla ceritakan. Yakni, perihal seorang penyihir jahat yang menjelma menjadi sosok Priscilla; untuk menggoda para suami dari ibu-ibu warga pedesaan.
Lantas, apa benar Kyteler yang menjelma menjadi Priscilla? Tidak mungkin! Kyteler saja membantuku. Ia mengubah wajahku yang buruk rupa itu. Dan, dia benar-benar memberiku harta kekayaan. Leonardo bergumam. Melirik sekilas ke arah sekarung emas yang ia bawa.
Lalu,
“HEI! Para pria berhidung belang,” Leonardo berseru lantang.
Membuyarkan fokus obrolan para pria tersebut. Mereka spontan menoleh pada sumber suara.
Saat itu, Leonardo sudah bersiap untuk menyerang. Ia mengepalkan tangan. Mengeram kesal. Dan,
BUG!
Leonardo menujukan sebuah pukulan. Hantaman keras yang menghujam salah satu pipi seorang pria. Yah! Pria terakhir yang bersuara.
“Siapa kau, wahai anak muda?” Pria lain bertanya. Memelotot tajam ke arah Leonardo.
“Berani-beraninya kau mengganggu aktivitas kami, hah?”
“Seharusnya, aku yang berkata demikian. Berani-beraninya kalian berbicara buruk perihal Priscilla,” Leonardo memekikkan suara. Tak terima.
“Bicara buruk? Bukankah, seluruh penjuru desa sudah tahu perihal sosok Priscilla. Kau jangan berlaga naif, wahai pemuda.”
“Lagi pula, kau siapa? Mengapa kau membela perempuan tak benar itu?” Pria lain menimpali.
Cih!
Kau berkata jika Priscilla adalah perempuan tak benar. Memang, kau adalah pria benar? Kau sendiri membohongi istrimu. Leonardo menggerutu.
“Sudahlah, mari kita bawa pemuda tak tahu sopan santun ini pada Pak Kepala saja,” Salah satu dari mereka mengusulkan.
Dan, yah! Para gerombolan pria tua itu menghampiri Leonardo. Hendak memegang erat pemuda di hadapan mereka. Mengikat pemuda itu. Lalu, membawa ke rumah Kepala Desa.
Namun,
“Jangan harap kalian bisa membawaku,” Leonardo berseru.
Lalu,
BUG!
BUG!
Berbagai jurus bela diri Leonardo layangkan. Para pria itu berusaha melawan. Namun, Leonardo terlalu lincah. Ilmu bela diri yang pemuda tersebut miliki, benar-benar tiada tara. Dalam sekejap, Leonardo berhasil menjatuhkan pria-pria itu. Membuat mereka bersalaman dengan lantai berbahan dasar tanah.
“Sialan!” Salah satu dari mereka mengumpat kesal. Mengepalkan tangan. Merasa terkalahkan.
Sedangkan, Leonardo? Ah, pemuda itu menang telak. Ia tak mendapati satu goresan pun di tubuh. Dengan percaya diri Leonardo melangkah. Tentu, sembari membawa kembali sekarung berisi batang emas.
Perihal yang mereka bicarakan mengenai Priscilla, aku harus mencari tahu kebenaran hal itu. Priscilla tak terlihat seperti seorang perempuan yang mudah berucap bohong. Ia tak mungkin mengarang cerita padaku. Terbukti, perihal pemandian air panas itu. Pemandian tersebut benar-benar memiliki sela terbuka menuju dunia magis. Maka dari itu, dapat kupastikan cerita lain yang ia lontarkan padaku, memang benar adanya. Namun, perihal penyihir jahat yang menjelma itu, apa benar jika ia adalah Kyteler? Argh! Leonardo membatin. Bertanya-tanya.
Pemuda itu tak henti menyugar puncak kepala dengan kasar. Beragam pikiran di dalam benak terlalu membuat isi kepala Leonardo menjadi kusut.
Dibanding pemikiran perihal perasaan, pikiran logis terasa lebih baik untuk Leonardo. Yah! Di masa depan, remaja genius itu lebih mengutamakan hal-hal berbau logika. Sementara, kehidupan di masa lalu, nyatanya tak melulu bisa ia pecahkan dengan logika. Mau tak mau, pada masa tersebut, Leonardo harus mulai menggunakan perasaan.
******
Tak lama kemudian.
Leonardo telah sampai pada gubuk tua milik Priscilla. Pemuda itu masuk ke dalam rumah. Di saat daun pintu terbuka, kedatangan Leonardo disambut oleh seorang perempuan yang sedang menangis.
“Priscilla, kau mengapa?” Leonardo bertanya cemas.
“Leonardo?” Priscilla memekikkan suara. Menyentuh wajah pemuda itu. Memastikan jika ia tak salah melihat.
“Aku kira, kau pergi meninggalkanku lagi,” Priscilla melanjutkan ucapan.
Leonardo menggeleng cepat. Lalu berkata, “Aku takkan pergi meninggalkanmu tanpa pamit.”
Priscilla menghela napas lega. Kemudian, mengedar pandangan pada sekarung berukuran besar yang Leonardo bawa.
Sang pemuda spontan mengikuti gerak pandang Priscilla.
“Oh itu, aku mendapatkannya sewaktu berjalan-jalan,” Leonardo berucap tak jujur.
Priscilla tak serta merta percaya.
“Berjalan-jalan? Apa kau bercanda? Jika, mendapat emas bisa dilakukan semudah itu, mungkin para penduduk desa ini sudah dipenuhi oleh rakyat yang kaya raya, termasuk aku,” Priscilla menyanggah.
Alih-alih memberi penjelasan, Leonardo justru mengalihkan pembicaraan.
“Apa di desamu, ada sebuah rumah megah yang dijual? Jika iya, mari kita membeli rumah itu esok pagi,” Leonardo mengajak.
Priscilla mengerutkan dahi, “Apa kau bercanda?”
“Aku tak bercanda. Aku ingin membelikan rumah yang layak untukmu, Prisc,” Leonardo berucap penuh yakin.
Perempuan tersebut menghembus napas panjang.
“Aku tak mau. Ini adalah hal yang tabu untukku. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang tak memiliki apa-apa sepertiku, berpindah ke sebuah rumah megah? Itu benar-benar mimpi. Dan, para penduduk desa takkan mempercayai hal itu.”
Leonardo mengepalkan tangan. Perempuan di hadapannya benar-benar keras kepala. Jika, logika tak bisa kugunakan di masa ini. Maka, tak ada salahnya aku mencoba menggunakan perasaan yang kupunya.
Tiba-tiba,
Leonardo mendaratkan ciuman. Yah! Pemuda itu mendaratkan salam bibir pada Priscilla. Sang perempuan muda terperangah. Namun, perempuan itu tak menyangkal. Ia justru larut dalam ciuman yang Leonardo daratkan.
“Apa kau mencintaiku?” Leonardo bertanya. Sesaat usai menyudahi aktivitas.
“Yah, tentu saja,” Priscilla menyahut lirih. Tersenyum kecil. Menyembunyikan semburat malu di wajah.
“Jika begitu, maka kau tinggallah bersamaku. Kau harus pindah ke rumah yang nantinya kubeli dengan batangan emas itu,” Leonardo menekankan keputusan. Melirik pada banyak batang emas di dalam karung berwarna putih.
Priscilla terdiam. Seraya, berpikir sejenak.
Kemudian,
“Baiklah, aku akan turut serta denganmu.”