“Baiklah, aku akan turut serta denganmu.”
***
Usai bersepakat, Leonardo memutuskan untuk bermalam di gubuk bersama Priscilla. Toh, di masa depan, dua hari ia berada di masa lalu; sama halnya sepuluh menit saja. Sehingga, Leonardo tak gusar akan hal itu.
Sembari menemani Priscilla yang sedang tertidur, Leonardo menepuk-nepuk lengan atas Priscilla; yang sedang berada di dalam dekapan. Leonardo tak henti bersyukur dengan keuntungan yang ia dapati di masa depan. Yakni, untuk melakukan perjalanan menggunakan mesin waktu.
Jika, tak bertemu Grace dan Gerson, sudah pasti pemuda itu takkan pernah bertemu seorang perempuan yang menyukai paras buruk rupa di wajah. Meski, hal tersebut hanya terjadi di masa lalu.
Tapi,
Tunggu dulu! Bukankah, Kyteler sudah mengubah wajahku menjadi lebih tampan? Lantas, mengapa Priscilla tak terkejut dengan perubahan pada parasku? Leonardo bertanya-tanya. Lagi-lagi, logika tak dapat ia jadikan acuan di masa tersebut.
Argh!
Leonardo mengeram. Menyugar puncak kepala sebagai tanda frustasi. Sebelum pada akhirnya, ia terlelap dalam tidur panjang.
******
Tak terasa hari berganti menjadi pagi.
Mentari yang bersinar mulai menyelinap masuk melalui sela jendela yang terbuka. Priscilla mengerjap mata. Namun, tak ada sosok pria yang semalam menemani tidur di atas ranjang tua.
Ke mana lagi dia?
Sembari bertanya-tanya di dalam hati, Priscilla beranjak dari posisi semula. Mencoba mencari Leonardo di depan halaman rumah. Benar saja, pemuda itu sedang memberi makan beberapa hewan ternak di sana. Yah! Hewan ternak yang dipelihara oleh tetangga sebelah rumah.
Lalu,
“Prisc? Priscilla?” Seorang ibu-ibu meneriakkan nama perempuan cantik nan jelita.
Priscilla segera menoleh pada sumber suara.
“Ada apa, Bu?”
“Siapa pemuda ini? Mengapa aku baru pertama kali melihat pria berwajah setampan dia?”
Priscilla mengerutkan dahi. Bukan karena bahan pujian yang tetangganya beri. Melainkan, ia bingung menjawab perihal siapa sosok Leonardo tersebut.
Dan,
“Perkenalkan, saya Leonardo. Saya pemuda dari desa seberang,” Leonardo berucap. Menyalamkan tangan yang sedikit kekar. Lalu, memasang senyum di wajah. Sesaat usai sudut di bibir menyahut dengan berkilah.
Ibu tersebut mengangguk. Membalas salam perkenalan yang Leonardo tujukan.
Usai mendengar sahutan Leonardo tersebut, dua orang ibu-ibu itu berjalan menjauh. Dapat dipastikan, mereka sedang membicarakan Priscilla.
Setelahnya,
“Priscilla, apa kau sudah bersiap? Kita harus bergegas pergi untuk mencari dan membeli rumah baru,” Leonardo berkata. Menyudahi aktivitas semula.
“Tentu saja, belum. Kau tunggulah sebentar. Aku akan membersihkan diriku lebih dulu.”
Leonardo mengangguk. Mengiyakan. Memilih menunggu Priscilla di luar rumah. Mengijinkan wanita itu menuntaskan agenda bersiap.
Sembari menunggu, Leonardo tak henti memperhatikan kegiatan sehari-hari para penduduk di sana. Tak jarang, beberapa pemuda terlihat berjudi. Yah! Sebuah aktivitas yang mereka percaya dapat menggandakan uang.
Aku tak mungkin melakukan aktivitas barter dengan batangan emas yang tebal. Sudah pasti, aku juga membutuhkan beberapa lembar uang tunai. Jadi, tak ada salahnya aku bermain dalam satu putaran. Hitung-hitung untuk mencairkan batangan emas itu menjadi uang.
Usai bergumam, Leonardo masuk ke dalam rumah. Menghampiri sekarung emas yang kemarin malam ia bawa. Mengambil satu batang emas yang terlihat paling kecil di sana. Meski, begitu jika diuangkan, batangan emas itu akan bernilai mahal.
“HEI!” Leonardo berseru dari kejauhan.
Para pemuda tersebut mengernyit heran. Tak merasa mengenal seorang pemuda berparas rupawan.
“Siapa kau?” Salah seorang dari mereka bertanya. Sesaat usai menjumpai Leonardo berjalan mendekat.
“Kalian tak perlu tahu perihal siapa aku. Yang terpenting, aku akan turut serta bermain bersama kalian. Dan, sudah pasti kalian akan suka pada benda yang kubawa.”
“Memang, apa yang kau bawa?”
Leonardo mengeluarkan satu batang emas. Emas itu mengkilat. Membuat manik mata siapa saja menjadi terpikat.
“Baiklah, kalau begitu mari kita mulai,” Salah seorang pemuda menyahut. Setuju pada ajakan Leonardo untuk mengulang satu putaran.
Kartu dibagikan. Yah! Kartu-kartu yang sama seperti di masa depan. Ternyata, berjudi adalah hal yang sudah beratus tahun lamanya, ada.
Sungguh, itu adalah kali pertama Leonardo bermain judi. Meski begitu, usai memperhatikan cara bermain yang ada, Leonardo segera memahami peraturan.
Dan,
Yes! Leonardo berseru.
Kemudian, ia mengambil beberapa lembar uang yang dipertaruhkan. Pada pemuda lain merasa geram. Mereka baru saja terkalahkan dengan seorang pendatang baru.
Kemudian,
“HEI! Siapa namamu, tadi?” Seseorang berseru. Sesaat usai melihat Leonardo beranjak dari duduk.
“Leonardo.”
“Yah! Kau Leonardo, lain kali kembalilah bermain di sini. Aku pastikan, kali itu aku akan memenangkan batang emas yang kau miliki.”
Leonardo mendecap bibir. Lalu, melanjutkan gerak langkah. Memutar tubuh. Berjalan meninggalkan posisi beberapa pemuda di sana.
Tiba-tiba,
Wussh!
Satu pukulan melayang dari arah belakang. Seakan, musuh yang sedang mencari masalah; memilih bermain curang. Yakni, dengan melawan dari arah belakang.
Namun, kejelian dan kelincahan Leonardo tak sia-sia begitu saja. Pemuda itu berhasil menangkis pergerakan tinju dari belakang punggung. Menarik lengan salah seorang yang baru saja menyerang. Memelintir tajam lengan bagian kanan sang lawan. Kemudian, menyeringai. Dan berkata, “Lain kali, kita harus bertarung secara jantan.”
Cih!
Pemuda yang sedang menahan rasa nyeri pada lengan itu berdecik. Membuang ludah. Sialan! Beralih mengumpat sosok Leonardo yang baru ia kenal.
******
Sesampainya di gubuk milik Priscilla.
Leonardo mendapati seorang perempuan cantik sedang berdiri. Memainkan tungkai dengan menghentak ujung kaki ke atas tanah.
“Maafkan aku. Kau pasti sudah lama menungguku,” Leonardo berkata.
Priscilla mengalihkan pandang yang semula menatap dasar tanah berwarna kecokelatan.
“Kau itu dari mana saja? Selalu membuatku khawatir,” Priscilla memprotes.
Leonardo tersenyum simpul. Lalu, masuk ke dalam rumah. Mengambil beberapa batang emas di dalam karung. Dan, menyimpan sisa batang emas itu ke dalam sebuah almari berwarna cokelat tua.
Apa dia tak memiliki tas atau sesuatu yang dapat aku gunakan? Leonardo bergumam. Mengedar pandangan pada seluruh penjuru ruang. Sebuah kantong plastik berwarna hitam menjadi bidik sasaran.
Leonardo meraih kantong plastik itu. Memasukkan beberapa emas batangan ke dalamnya. Lalu, berjalan kembali menghampiri Priscilla.
“Mari kita berangkat,” Leonardo mengajak.
Kedua muda-mudi itu berjalan menyusur area pedesaan. Beberapa rumah bertuliskan dijual terbaca di dalam netra. Namun, tak ada satu pun dari rumah tersebut, berhasil memikat hati Leonardo.
Sebelum pada akhirnya, Leonardo mendapati sebuah rumah megah dengan bangunan tua. Pilar-pilar tampak menjulang. Berbagai bebatuan menjadi isian kokoh dari pilar tersebut. Sudah pasti, rumah itu adalah rumah salah seorang penduduk yang kaya raya.
“Prisc? Bagaimana dengan rumah itu? Apa penghuninya tak berniat menjual rumah?” Leonardo bertanya. Mengarahkan jemari telunjuk ke sebuah arah.
“Apa kau menginginkan rumah itu, Leonardo? Apa kau tidak salah?”
“Tentu saja. Memang, mengapa?”
Benar saja, rumah yang ditunjuk oleh Leonardo adalah rumah terbesar yang ada di pedesaan. Mungkin, harga rumah itu senilai dengan sekarung emas yang Leonardo punya.
“A-aku hanya merasa canggung, jika harus tinggal di sana. Rumah itu terlalu besar,” Priscilla menyahut. Menurunkan pandangan. Merasa ragu akan ide yang Leonardo berikan.
Namun, pemuda tersebut bersih keras. Berjalan menghampiri pintu gerbang yang menjulang. Melirik pada sebuah tulisan ‘rumah dijual’. Lalu, berkata pada seorang pengawal yang sedang berjaga di depan gerbang.
“Bolehkah, aku bertemu Tuanmu?” Leonardo bertanya.
Pengawal tersebut enggan membukakan pintu gerbang. Merasa jika dua orang pria dan wanita di hadapannya terlalu lusuh. Meski, mereka diberkahi paras yang cantik nan tampan.
“HEI! Aku berkata padamu. Bolehkah, aku bertemu dengan Tuanmu?” Leonardo memekikkan suara.
Pengawal itu menyanggah. Tak mengijinkan Leonardo untuk melewati pintu gerbang. Karena merasa geram, akhirnya Leonardo membuka kantong plastik berwarna hitam. Dan, kilauan dari batang emas tersebut merasuk ke dalam indera sang pengawal.
Barulah,
“Apa yang hendak kau lakukan saat masuk ke dalam rumah ini, wahai pemuda?”
“Aku akan membeli rumah Tuanmu. Termasuk, membelimu. Ah, tidak. Maksudku, menjadikanmu pengawalku nanti,” Leonardo menyahut percaya diri.
Kemudian, pintu gerbang terbuka. Kebetulan rumah megah yang Leonardo tunjuk, sudah lama dijual. Hanya, para penduduk desa tak ada yang membeli rumah tersebut. Mengingat, harga rumah berukuran besar itu sudah pasti mahal. Membutuhkan beberapa tumpuk lembaran uang atau batang emas; seperti yang Leonardo bawa.
Sesampainya di depan pintu rumah.
Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan mereka. Beserta seorang Tuan yang berkisar umur pertengahan lima puluhan.
Pria itu mengarahkan Leonardo untuk masuk ke dalam. Dan, tanpa basa-basi, Leonardo mengeluarkan batangan emas berukuran tebal.
“Tuan, aku akan membeli rumahmu ini,” Leonardo berucap penuh keyakinan.
“Dengan semua batang emas yang kau punya?”
“Tentu saja. Kau bisa mengambil seluruh batang emas milikku. Tapi, dengan satu syarat. Aku akan menempati rumahmu pada detik ini juga,” Leonardo menyahut. Semena-mena. Seakan, tak ingin memberi waktu agar pemilik rumah tersebut menuntaskan agenda berpindah.
Tuan tersebut memijat pelipis. Sungguh, tak menyangka jika rumah megah yang ia miliki, berhasil terjual. Maka dari itu, banyak barang belum sempat ia pindahkan.
“Tapi—”
“Jika, perihal barang-barangmu, bagaimana jika aku membeli seluruh perabotan di dalamnya juga?” Leonardo berkata. Menawarkan ganti pada Tuan yang sedang bingung.
“Apa kau yakin? Mungkin, nilai perabotan di dalam rumah ini berkisar setengah dari batang emas yang hari ini kau bawa.”
“Sudahlah, Tuan. Kau tak perlu khawatir. Aku akan membayar berapa pun jumlah yang kau inginkan.”
Tuan tersebut mengernyitkan dahi. Namun, ia menyetujui penawaran yang Leonardo beri.
Tak menunggu lama, Leonardo meminjam sebuah kuda yang Tuan tersebut miliki. Menunggang kuda tersebut bersama Priscilla. Berniat mengambil sisa emas yang ada di dalam karung miliknya.
******
Di dalam perjalanan.
“Leonardo, sebenarnya kau mendapat batangan emas itu dari mana? Kini, kau benar-benar seperti saudagar yang kaya raya,” Priscilla bertanya penasaran.
Leonardo mendecap bibir. Lalu berkata, “Aku mendapatkan emas itu dari dunia non magis.”
“APA?” Priscilla memekikkan suara.
Pekikan lantang itu membuat Leonardo spontan memberhentikan laju tapakan kaki kuda. Kuda berwarna cokelat itu berhenti seketika.
“Mengapa kau terkejut, Leonardo? Jangan bilang, kau melakukan sebuah perjanjian dengan salah satu penyihir di sana?” Priscilla menerka.
“Yah! Aku memang melakukannya,” Leonardo menyahut jujur. Tak lagi berniat berkilah.
“Sudahlah, Prisc. Anggap saja ini adalah anugerah dari Tuhan. Kita yang dahulu tak memiliki apa-apa, sekarang menjadi seorang penduduk terkaya. Lagi pula, apa kau tak bosan hidup melarat dan diganggu oleh banyak orang, yang bertindak merendahkan?”
Priscilla terdiam. Sejatinya, ia juga lelah dengan hidup yang nestapa.
“Dan, apa kau lupa? Jika, kau sudah berjanji untuk turut serta bersamaku, huh?”
Kali itu, ucapan Leonardo tak mampu membuat Priscilla berkata-kata. Perempuan tersebut memang telah jatuh hati pada sosok pemuda yang sedang menunggang kuda bersamanya. Sehingga, hidup bersama adalah pilihan terbaik saat itu.
Melihat Priscilla terdiam, Leonardo menyeringai bahagia. Diamnya seorang perempuan ketika ditanya, memiliki makna iya.
Leonardo melanjutkan pergerakan menunggang kuda. Hingga, tak lama setelah itu mereka sampai pada gubuk yang mereka tuju.
Leonardo bergerak cepat. Mengambil sisa emas di dalam karung. Melanjutkan perjalanan.
******
Usai menuntaskan aktivitas transaksi, Tuan di rumah tersebut berpamitan undur diri. Bersalaman dengan puluhan pelayan dan pengawal yang sudah lama bekerja untuknya.
“Saat ini, Tuan dan Nyonya kalian telah berganti. Aku harap kalian bisa melayani Tuan dan Nyonya baru kalian dengan baik.”
Ucapan penutup dilontarkan, Tuan tersebut meninggalkan halaman rumah bersama satu orang istri dan dua orang anak laki-laki.
Pintu gerbang tertutup. Pengawal yang semula merendahkan sosok Leonardo dan Priscilla, kini berganti menunduk patuh. Bagaimana pun, dua orang muda-mudi itu akan menggantikan diri dalam hal pemberian upah kerja.
******
Saat berada di ruang tengah.
Leonardo dan Priscilla sedang duduk bersama. Masing-masing sibuk menyesap secangkir teh beraroma melati.
“Setelah ini, semua hal yang ada di rumah ini, juga menjadi milikmu, Prisc. Kau tak perlu sungkan untuk meminta bantuan pada para pelayan dan pengawal. Kau tak perlu hidup dengan rasa khawatir; sama halnya ketika kau tinggal seorang diri di dalam gubuk tua milikmu,” Leonardo berucap. Sesaat usai meletakkan cangkir tersebut ke atas meja.
Setelahnya, Leonardo merebahkan punggung pada sandaran tempat duduk yang nyaman. Memejamkan mata. Merekahkan senyum bahagia.
Ternyata, begini rasanya hidup sebagai seorang pria yang kaya raya.