Ternyata, begini rasanya hidup sebagai seorang pria yang kaya raya.
***
“Leonardo? Leonardo?” Priscilla menyerukan nama seorang pria di hadapannya. Yakni, pemuda yang sedari tadi merebahkan punggung, pada dudukan empuk di ruang tengah.
Leonardo mengerjap mata. Menatap samar seorang wanita cantik nan jelita.
“Hari sudah beranjak senja. Apa kau tak berniat bangun, huh?” Priscilla berucap. Menampakkan senyum manis di wajah.
Leonardo menatap daun jendela yang terbuka. Benar saja, hari itu telah berganti sore. Burung-burung yang semula berterbangan, terlihat hinggap pada ranting pohon di halaman depan.
“Prisc, sepertinya aku harus kembali ke tempat asalku. Aku sudah terlalu lama berada di sini. Aku tak ingin membuat temanku di masa depan, menunggu. Jadi—”
“Baiklah, Leonardo. Aku dapat memahami hal itu,” Priscilla menyergah. Memotong ucapan Leonardo.
Pemuda tersebut mengangguk. Lalu, beranjak dari duduk. Pergerakan Leonardo diikuti cepat oleh Priscilla. Kini, kedua muda-mudi itu sedang berdiri berhadapan. Sebelum Leonardo benar-benar pergi meninggalkan Priscilla, pemuda tersebut tak lupa mendaratkan sebuah kecup di kening.
Priscilla menurunkan bahu yang semula mengembang. Ia merasa lega. Leonardo benar-benar pria yang mencintai ia dengan penuh kelembutan.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku berjanji akan menjumpaimu lagi. Dan, jika kau membutuhkan apa pun, kau tinggal mengatakan permintaanmu pada para pelayan. Lalu—”
“Sudahlah, Leonardo. Kau itu terlalu cerewet. Kau membuatku terlihat seperti seorang nenek-nenek yang perlu diperhatikan lebih,” Priscilla menyergah untuk kali kedua. Menyemburkan gurat bercanda pada wajah.
Sang pemuda tak memberi sahutan. Ia hanya menyunggingkan senyum. Kemudian, melangkah menuju halaman depan rumah yang megah. Melambaikan tangan.
Sesampainya di depan pintu gerbang.
“Tuan, hendak pergi ke mana? Apa ingin saya antar saja?” Pengawal itu berkata. Menawarkan untuk mengantar sang majikan baru di sana.
“Tidak. Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Kalian hanya perlu menjaga Priscilla. Jangan biarkan para penduduk di desa mengganggu dia lagi,” Leonardo berpesan.
Sang pengawal mengangguk mengiyakan.
******
Usai berjalan sekitar satu kilometer, akhirnya Leonardo menemukan mesin waktu yang kemarin malam mengantar ia ke masa lalu.
Pemuda tersebut melangkah mendekat ke arah ruang berbentuk persegi. Kemudian, bergegas menekan beberapa kode pada sebuah layar.
Ceklek!
Pintu besi terbuka lebar. Leonardo melangkah masuk ke dalam mesin waktu. Di sela ia hendak menekan kode perjalanan menuju masa depan, Leonardo tak sengaja menyentuh saku celana yang ia gunakan. Lalu, beralih merogoh saku celana tersebut.
Mengapa aku tak memberikan beberapa lembar uang ini pada Priscilla? Leonardo bergumam lupa. Kemudian, melanjutkan aktivitas menekan beberapa tombol di dalam ruang besi tersebut.
Lampu-lampu mulai berkedip. Suara berisik tak lupa menyertai perpindahan masa yang Leonardo lalui. Mesin waktu bergerak hebat. Mengguncang isi di dalam ruang, termasuk sosok seorang pemuda yang tampan.
Tunggu! Wajahku? Leonardo berseru. Mencoba berkaca pada sisi ruang besi di sana. Namun, penampakan diri terlihat samar. Bagaimana tidak, saat itu lampu di dalam ruang masih berkedip berulang.
Tak lama kemudian.
Titt! Ceklek!
Pintu besi terbuka otomatis. Lampu pada mesin waktu menyala terang benderang. Netra Leonardo segera bertatap dengan seorang pemuda yang menunggu ia tiba.
“Apa ada hal yang terjadi sewaktu kau menjelajah kali ini?” Gerson bertanya. Sesaat usai menjumpai Leonardo keluar dari dalam ruang berteknologi canggih.
“Tidak. Tidak ada yang terjadi padaku, Kak. Semua berjalan sama halnya dengan perjalanan yang kulakukan pada kali pertama. Memang, mengapa?”
Issh!
Gerson berdesis. Menelengkan kepala. Lalu, beralih menuju layar berukuran lebar, yang sedari tadi tak henti ia perhatikan.
Garis-garis rumit berisi fluktuasi waktu ke waktu, berpindah mode menjadi indikator petunjuk lokasi. Dan, yah! Saat itu, Gerson memberhentikan pergerakan layar pada beberapa titik yang menghilang dari jangkauan. Yakni, pada saat alat sistem petunjuk navigasi yang ia beri, tak berfungsi; dalam kurun waktu beberapa saat.
“Lihatlah, mengapa gelombang mikro yang seharusnya menunjukkan lokasimu berada, tiba-tiba berhenti bergerak. Aku hingga kehilangan letak posisimu berada pada beberapa menit. Kau tak sedang menonaktifkan alat yang kubawakan untukmu itu, bukan?” Gerson bertanya menyelidik. Menatap sebuah alat berbentuk kotak, yang Leonardo sematkan pada sisi depan bagian dalam pakaian.
Seketika, Leonardo membeku. Sejatinya, ia tak melakukan apa pun pada sistem navigasi yang ia bawa.
Kemudian, rasa penasaran menyelimuti diri Leonardo. Remaja itu beralih mengarahkan kursor pada layar, yang menunjuk fluktuasi waktu. Leonardo berusaha mengingat waktu keberadaan dirinya saat itu.
Jadi—
Leonardo membatin ragu. Sesaat usai ia menjumpai garis waktu; ketika ia menghampiri Kyteler di dunia non magis.
Jadi, sistem navigasi ini tak berfungsi; saat aku berada di dunia non magis. Leonardo menyimpulkan dengan logika yang ia punya.
Tapi, bagaimana caraku menjelaskan hal ini pada Kak Gerson? Apa dia akan percaya pada ceritaku yang hampir tak masuk akal?
Setelah itu,
“Leonardo? Leonardo? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau baru saja teringat pada suatu hal?” Gerson mengeluarkan suara. Memecah lamunan sang lawan bicara.
Leonardo menelengkan kepala. Lalu menyahut, “Entahlah, Kak. Aku tak yakin pada apa yang kusimpulkan.”
Mendengar jawaban Leonardo, Gerson tak heran. Sudah pasti, Leonardo juga tak tahu betul perihal kejanggalan yang terjadi. Yang Gerson tahu, ia benar-benar membuat sistem navigasi itu sebaik mungkin. Sehingga, ia hanya perlu mengkaji ulang perihal benda berbentuk kotak tersebut.
“Baiklah, Leonardo. Aku akan mencoba mencari tahu. Saat ini, kau boleh pulang. Hari sudah mulai larut,” Gerson berucap.
Kemudian,
“Tapi, tunggu dulu, Leonardo. Aku hanya ingin memastikan. Apa kau benar, berada selama dua hari pada saat perjalanan keduamu tadi? Karena aku melihat, kau pergi selama sepuluh menit di sini.”
Leonardo mengangguk mengiyakan. Gerson bernapas lega. Setidaknya, perihal hitungan waktu, tak ada kendala pada mesin yang ia ciptakan itu.
“Kalau begitu, Leonardo pamit dulu ya, Kak,” Leonardo berucap. Berpamitan.
“Baiklah. Kau bisa pergi sendiri, bukan? Karena aku hendak melanjutkan pekerjaanku.”
“Tentu saja.”
Bayangan Leonardo menghilang. Bersamaan dengan daun pintu ruang kerja Gerson yang tertutup.
Di sela Leonardo melangkah keluar rumah, cacing di perut tak henti berdemo. Remaja laki-laki itu baru tersadar, jika sudah dua hari ia tak mengisi perut.
Tapi, aku hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja di masa ini. Argh! Perutku lapar, karena memang seharian tak menjamah sesuap nasi.
Benar saja, semenjak ia berangkat ke sekolah, hingga menuju rumah Grace dan melakukan perjalanan waktu selama dua kali, Leonardo belum sekali pun mengisi perut dengan nasi. Maka, sudah jelas cacing di perut bersorak tiada henti.
Seketika, Leonardo teringat pada lembaran uang yang ia bawa dari masa lalu. Remaja itu merogoh saku celana untuk kali kedua.
Namun, nihil. Bukan lembar uang yang ia dapati. Melainkan, beberapa lembar daun yang sudah mengering; hingga berubah warna menjadi kuning.
Ternyata, aku tak bisa menggunakan harta kekayaanku di masa lalu, pada masa ini. Remaja laki-laki itu bergumam sedih.