MARTIAL ARTS

1046 Words
Ternyata, aku tak bisa menggunakan harta kekayaanku di masa lalu, pada masa ini. *** Leonardo berjalan menyusuri komplek perumahan mewah. Malam itu cukup larut. Sehingga, komplek hunian para orang kaya tersebut cenderung lebih sepi, jika dibanding ketika siang hari. Di sela Leonardo berjalan, beberapa gerombolan perampok terlihat mengendap-endap pada sebuah rumah megah. Mereka seraya bergerak menuju sisi bagian dalam hunian tersebut. Yah, apa lagi tujuan mereka, jika bukan untuk mencuri barang-barang berharga milik Tuan di sana. Melihat rencana pencurian itu, Leonardo tak tinggal diam. Sungguh, di dalam relung hati seorang remaja buruk rupa tersebut, terselip hati yang baik. Sebuah sifat yang sering membantu sesama. Sehingga, tak menunggu lama, Leonardo mengikuti gerak-gerik mereka dengan berani. Tepat sebelum para perampok itu menembus pintu utama dengan sedikit susah payah, Leonardo berseru memanggil sosok begundal yang meresahkan warga. “HEI! Kalian,” Leonardo berteriak. Berani. Penuh percaya diri. Salah satu dari mereka menoleh. Menyeringai. Merendahkan sosok remaja laki-laki yang terlihat ringkih. “Kau siapa? Apa kau anak dari tukang kebun di rumah ini, hah?” Leonardo mengeryitkan dahi. Setiap kali berada di tempat asalnya, ia selalu diremehkan oleh orang sekitar, termasuk orang-orang yang baru melihat sosok dirinya untuk kali pertama. “Aku hanya seorang remaja laki-laki yang lemah. Tapi, aku dapat pastikan kalian akan menjadi jera,” Leonardo mengancam. Lalu, mulai menghantam mereka dengan pukulan. BUG! Pukulan pertama melayang. Dan, anehnya hantaman itu berhasil menghujam sasaran dengan tepat. Tentu, dengan gerakan yang kuat. Ada apa ini? Mengapa aku serasa sedang berada di masa lalu? Aku benar-benar mampu meninju mereka. Leonardo bergumam. Menatap kepalan tangan kanan, yang baru saja mendarat pada bagian wajah sang lawan. Dan, Wussh! Pukulan mengudara dari sisi belakang. Seakan, para begundal itu ingin bermain curang. Selain, bertindak secara keroyokan, mereka juga menyerang dari sisi belakang. Namun, jangan salah. Leonardo mampu mengerahkan seluruh kemampuan bela diri yang ia punya. Tentu, ilmu bela diri yang ia dapati selagi menjelajah waktu. Sebuah gerakan berputar hebat, segera Leonardo lakukan. Kemudian, BUG! BUG! Bruk! Tiga orang perampok itu berhasil terjatuh. Tersungkur pada dataran teras yang keras. Wajah mereka memar. Mengeluarkan darah pada setiap bagian sudut yang berhasil dihujam oleh bogem mentah. “Sialan! Remaja ini mengaku lemah. Tapi, dia kuat juga rupanya,” Salah seorang berujar kesal. Tak lama setelah itu, Suara sirine patroli mobil terdengar. Sepertinya, ada salah satu warga yang melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian. Begundal-begundal itu lari terbirit-b***t. Sedangkan, Leonardo? Ah, ia justru berjalan santai. Menyelinap keluar dari halaman depan. Meninggalkan pintu gerbang yang berhasil dibuka oleh para perampok di sana. Mobil patroli berhenti tepat di depan rumah megah; rumah yang hendak menjadi sasaran pencurian. Aparat berseragam segera turun. Berjalan cepat. Memeriksa keadaan rumah. Sementara itu, salah satu dari mereka sedang menjumpai sang pelapor. Berbincang perihal kronologi kejadian perkara yang pelapor tersebut saksikan. “Tunggu dulu, Pak. Remaja laki-laki tadi, sudah tak ada. Tadi, aku sungguh melihatnya di sini. Dia sedang beradu hantam dengan para perampok itu,” Pelapor tersebut berucap. Bercelingukan. Mencari sosok remaja laki-laki, yang sedari tadi sibuk menghalau kegiatan mencuri pada sebuah rumah di sana. Beberapa anggota dari kepolisian tak mendapati pintu utama yang berhasil dibobol. Setidaknya, perampok-perampok itu hanya sempat membobol kunci keamanan pada pintu gerbang yang menjulang. “Baiklah, kami akan menindak lanjuti perkara ini,” Sang polisi berkata. Berusaha menghubungi pemilik rumah yang diduga sedang tak berada di dalam hunian megah. Jika, pihak kepolisian sibuk mengurus hal tersebut. Maka, Leonardo sedang bersibuk menatap dirinya pada sebuah kubangan air. Ia berusaha bercermin. Tanda lahir yang ia dapati pada sebelah sisi wajah. Tepatnya, di bawah area sekitar mata, terlihat jelas di dalam bayangan kubangan air. Yah! Inti dari hasil cerminan itu adalah Leonardo kembali menjadi buruk rupa seperti sedia kala. Tak halnya seperti saat Kyteler mengubah wajah Leonardo, menjadi tampan nan rupawan saat berada di masa lalu. Lantas, jika aku kembali lusuh, dekil, buruk rupa dan ringkih lagi, mengapa aku masih memiliki kemampuan bela diri itu? Leonardo bertanya-tanya. Sesaat usai memastikan tak ada gambaran roti sobek pada bagian tubuh yang tertutup pakaian. Issh! Meski, saat meninju mereka tanganku merasa kesakitan. Namun, setidaknya aku menghafal setiap gerakan bela diri yang sempat kupunyai. Dan, yah! Apa itu pertanda dari Tuhan, jika ia menyisahkan salah satu kemampuan unikku di masa lalu, untuk kugunakan di masa ini? Leonardo bersimpul senang. Kemudian, remaja laki-laki itu kembali melanjutkan langkah dengan hati yang riang. Ia hingga melupakan cacing yang semula berdemo keroncongan. ****** Sesampainya di rumah. Leonardo memastikan kedua orang tuanya sedang beristirahat. Sementara ia, tak kunjung memberingsut bersama mereka berdua. Yah! Alih-alih tidur dan merebahkan badan, Leonardo justru memilih berlatih ilmu bela diri. Remaja laki-laki itu terus bergerak lincah di luar rumah. Berusaha mengingat gerakan demi gerakan, yang ia lakukan saat menghalau para pria-pria bertubuh lebih kekar. Baik pria yang ia jumpai di masa lalu, atau pun pria-pria yang baru saja ia kalahkan. Gerakan kaki kuda-kuda terus berpindah. Mulai dari gerak kuda-kuda menyamping, ke depan, menyilang, mau pun ke belakang. Leonardo terus memijakkan kaki dengan gerak lincah yang tak henti. Tak lupa dengan gerakan tangan yang siap memukul dan mempertahankan diri dari serangan. Usai bersiap dengan posisi kaki kuda-kuda, Leonardo mulai melakukan gerakan menendang. Yakni, gerakan tendangan melingkar. Salah satu gerak dalam ilmu bela diri yang kerap Leonardo gunakan. Entahlah, remaja laki-laki itu amat menyukai pergerakan kaki memutar dan menghentak menggunakan tumit. Menyasarkan tendangan tepat pada bagian depan tubuh mau pun punggung pada lawan yang sedang ia serang. BUG! BUG! Leonardo tak henti tersenyum girang. Langkah yang ia miliki benar-benar lincah dan cepat. Bahkan, Leonardo dapat menghalau tangkisan dengan jeli. Jadi, remaja laki-laki itu takkan berhenti berlatih. Meski, lekuk roti sobek tak ia miliki ketika berada di masa kini. Namun, Leonardo tahu. Jika, ia rajin membiasakan diri dengan gerak ia yang hafal tersebut, maka sudah pasti ia akan mendapatkan tubuh kekar pula di masa depan. ****** Tak terasa mentari pagi mulai muncul. Menampakkan diri dari sebelah timur. Melihat putaran dari gerak semu matahari tersebut, Leonardo juga meyakini, jika tak hanya bumi yang berotasi. Melainkan, kehidupan setiap makhluk yang ada di belahan bumi juga turut berputar. Yakni, setiap yang kaya bisa jadi berpindah menjadi miskin. Begitu pula sebaliknya. Yah! Setiap roda pun juga berputar, bukan? Jadi, seorang Leonardo Mandela Lombogia amat yakin. Jika, kehidupan nestapa yang sedang ia jalani, kelak akan berubah menjadi hidup yang layak ia dapati di kemudian hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD