Di dalam perjalanan menuju sekolah.
Leonardo berjalan kaki, seperti biasa. Remaja laki-laki itu tak mungkin berkendara menggunakan roda dua. Bahkan, sepeda saja ia tak punya. Lantas, dari mana ia memiliki sebuah sepeda motor; seperti halnya yang digunakan oleh para teman sebaya?
Di sela Leonardo melangkah, sebuah mobil berjalan pelan. Berusaha menepi. Mendekat pada sosok seorang remaja laki-laki.
“Leonardo?”
Ternyata, mobil mewah berwarna putih tersebut adalah milik keluarga Cropper. Seorang murid perempuan berparas cantik itulah, yang baru saja berseru dari dalam dudukan mobil. Yakni, Grace Harriet Cropper.
“Apa kau tak ingin berangkat bersamaku?” Grace bertanya.
Leonardo menghentikan langkah. Spontan, diikuti dengan laju kendaraan beroda empat yang juga terhenti seketika.
“Mari kita berangkat ke sekolah bersama,” Grace mengajak. Sesaat usai membuka daun pintu mobil mewah. Mempersilahkan agar seorang teman laki-laki tersebut masuk ke dalam mobil yang sama.
Setelah itu, sang sopir kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Membahu jalanan yang semakin dekat dengan titik tujuan.
“Oh ya, tadi pagi sebelum aku berangkat, kakakku berpesan. Ia memintaku bertanya, perihal kapan kau akan melakukan perjalanan waktu lagi?” Grace memulai obrolan.
Leonardo tampak berpikir sejenak. Kemudian memberi jawaban, “Sepertinya, sepulang sekolah. Apakah boleh?”
Grace mengedikkan bahu, “Entahlah. Nanti biar kukirim pesan lebih dahulu kepada Kak Gerson. Seingatku, hari ini ia sedang ada acara makan malam bersama para pemegang saham di perusahaan.”
Mendengar informasi yang diberi oleh Grace, Leonardo mengangguk paham. Bagaimana pun, kali itu ia tak boleh kembali lancang. Tak boleh sembarangan masuk ke dalam ruang kerja orang lain. Meski, kini Leonardo dan Gerson sudah saling mengenal.
******
Tak lama kemudian.
Sang sopir memberhentikan mobil pada salah satu sekolah menengah atas. Bertugas mengedrop seorang majikan muda perempuan.
“Silahkan, Nona,” Sopir tersebut berucap. Membuka daun pintu mobil. Mempersilahkan putri dari garis keturunan keluarga Cropper untuk keluar.
Sedangkan, Leonardo? Ia harus membuka pintu mobil itu sendiri. Yah! Lagi pula, remaja laki-laki itu hanya menumpang.
Usai kedua murid tersebut menampakkan diri dari balik kendaraan berharga mahal, beberapa pasang mata tak henti memperhatikan Leonardo dan Grace. Mereka merasa heran, bagaimana bisa Leonardo sedekat itu, dengan anak dari keluarga besar terkaya nomor dua di dunia?
Jika, Leonardo berjalan sembari menunduk. Beda halnya, dengan Grace. Ia tak perlu merasa rendah diri. Sudah pasti, seluruh penjuru sekolah mengenal siapa dirinya. Bahkan, untuk kali pertama pindah sekolah.
Tiba-tiba,
“Leonardo?” Suara seorang wanita berusia pertengahan empat puluhan, berseru lantang. Memanggil nama seorang murid yang ia hafal.
Leonardo dan Grace spontan menoleh ke sumber suara. Suara khas itu berasal dari seorang guru matematika.
“Iya, Bu?” Leonardo menyahut panggilan.
“Usai jam mata pelajaran pertama, kau temuilah Ibu di ruang guru,” Guru matematika tersebut memberi perintah. Kemudian, berlalu pergi dari hadapan Leonardo dan Grace.
“Ada apa?” Grace bertanya.
Leonardo menggeleng pelan. Sebuah isyarat, jika ia tak tahu menahu perihal maksud dan tujuan sang guru matematika memberi ajakan bertemu.
Tring!
Bel sekolah berdering. Pertanda, para murid harus segera masuk ke dalam kelas. Ruang berukuran besar, yang kerap dibangun berbentuk persegi itu, segera senyap. Para murid sudah hafal, jika sekolah mereka merupakan sekolah yang menerapkan standar ketertiban dengan baik. Sehingga, takkan ada suara gaduh seusai bel sekolah berdering; tanda pelajaran segera dimulai.
Namun,
Tetap saja, masih ada beberapa murid yang tak mau menurut pada aturan. Mengingat, ia adalah anak dari keluarga berpengaruh; yang kerap memberi sumbangan pada sekolah. Siapa lagi, jika bukan Alexander Raynnor Douglas? Yah! Murid laki-laki itu sudah membuat onar. Bahkan, ketika hari baru saja menampakkan sinar, yang tak lagi terlihat samar.
“HEI! Leonardo?” Alexander berseru lantang. Mencekal pergerakan Leonardo saat hendak menjejalkan p****t pada kursi.
Leonardo terdiam. Berdiri mematung pada tempat semula.
“Kau pindah tempat duduk saja. Duduklah di tempat lain. Aku akan menduduki tempatmu. Aku ingin berada satu bangku dengan Grace,” Alexander memerintah seenaknya. Lalu, menghempas kasar tubuh Leonardo yang ringkih. Spontan, tubuh Leonardo terpelanting menjauh ke arah belakang.
Bruk!
Menubruk sebuah meja; tempat teman sisi sebelah ia berada.
Tanpa banyak bicara, Leonardo menghampiri satu bangku tersisa. Yakni, di samping tempat duduk Nicholas Arbie Leerant.
Sret!
Di sela Leonardo menarik bangku tersebut, Nicholas menghentikan pergerakan Leonardo. Berucap, “Seharusnya, kau duduk di luar saja. Aku malas sekali satu bangku dengan murid yang bau sepertimu.”
Helaan napas terdengar singkat dari indera Leonardo. Namun, murid laki-laki tersebut takkan menurut pada perintah sang teman sebaya. Bukankah, ia berangkat ke sekolah untuk mengemban ilmu pendidikan? Lantas, jika ia keluar kelas, maka itu pertanda jika Leonardo harus kehilangan bekal pelajaran di sekolah.
Beruntung, seorang guru baru saja tiba. Meminta para murid untuk segera duduk di bangku masing-masing.
Jam pelajaran pun di mulai.
“Ibu minta keluarkan buku catatan kalian. Ibu akan membahas perihal kinematika dengan analisis vektor pada hari ini,” Seorang guru fisika berucap.
Leonardo segera mengeluarkan sebuah buku tulis baru. Bagaimana tidak, buku catatan yang ia punya; catatan fisika, telah dilempar oleh Nicholas ke dalam saluran air. Sehingga, buku baru adalah alternatif terbaik saat itu. Meski, Leonardo harus mulai mencatat semua bahan pelajaran sedari awal.
Lima menit
Sepuluh menit
Hingga, empat puluh lima menit berlalu.
Guru fisika di dalam kelas, baru saja menuntaskan penjelasan yang ia punya. Tak lupa dengan beberapa soal yang ia beri melalui secarik kertas, yang dibagikan merata pada seluruh murid.
Di saat sang guru berjalan ke sisi bangku yang Leonardo tempati, Nicholas bergerak cepat. Murid laki-laki itu meraih buku catatan, yang sudah terisi rapi dengan tulisan tangan.
“Apa yang sedang kau lakukan, Nich?” Leonardo bertanya. Menatap heran pada sosok teman sebangku laki-laki, yang mengambil paksa buku catatan tersebut untuk kedua kali.
Tak menunggu lama,
Wussh!
Buku catatan terlempar. Mendarat tepat pada sisi atas bangku seorang Alexander. Yah, benar saja. Nicholas memberi buku catatan Leonardo pada sang sahabat.
Sehingga,
“Leonardo? Di mana buku catatanmu? Apa sedari tadi, kau tak memperhatikan Ibu saat memberi penjelasan di depan kelas?” Sang guru fisika menegur. Sesaat usai tak mendapati sebuah buku pun, di sisi atas meja milik Leonardo.
Melihat Leonardo terdiam. Tak dapat memberi tanggapan. Sang guru mendecap bibir. Lalu, memberi perintah agar Leonardo mengerjakan soal nomor satu; sebuah pertanyaan tertulis pada lembar soal yang baru saja dibagikan.
Tanpa ragu, Leonardo berdiri dari tempat duduk. Ia membawa secarik kertas yang baru didapatkan secara estafet tersebut. Berjalan menuju sisi depan kelas. Meraih sebuah spidol tak permanen di sana. Kemudian, segera menuliskan rumus beserta jawaban di dalam papan berwarna putih.
Dan,
Suara tepuk tangan membahana seketika. Sesaat usai sang guru mengagumi jawaban Leonardo. Sebuah jawaban yang dikerjakan dengan benar; dalam kurun waktu yang singkat.
Tring!
Tak terasa bel kembali berdering. Tanda, jika mata pelajaran pada hari pertama telah usai. Sang guru memerintah agar secarik kertas itu, dibawa pulang oleh para murid. Menjadi sebuah pekerjaan rumah, yang harus dikumpulkan pada mata ajar selanjutnya.
Kini, seorang guru fisika berjalan berdampingan. Yakni, bersama murid yang terkenal paling pintar di kelas. Bahkan, Leonardo adalah seorang murid yang mendapat peringkat satu dalam satu angkatan.
“Leonardo, apa kau juga hendak pergi ke ruang guru?”
“Benar Bu, Bu Siska meminta saya menjumpai beliau usai jam pertama selesai,” Leonardo menyahut. Menundukkan kepala karena tak cukup percaya diri.
Sang guru fisika memanggut-manggutkan kepala. Sejatinya, ia tahu betul perihal maksud dan tujuan teman sejawatnya; meminta murid laki-laki tersebut menemui ia ke ruang guru.
******
Setibanya di ruang guru.
Leonardo segera menghampiri meja kerja Siska -sang guru matematika.
“Selamat siang, Bu,” Leonardo mengucap salam. Menunduk singkat sebagai tanda hormat.
“Silahkan duduk, Leonardo,” Siska mempersilahkan.
“Apa pelajaran Bu Rubi sudah selesai?” Sang guru tersebut berkata. Berbasa-basi, karena suara bel; pertanda pergantian jam pelajaran, jelas merasuki seluruh gendang telinga para insan di sekolah, termasuk Siska.
Leonardo mengangguk. Menyahut singkat, “Benar, Bu.”
“Baiklah, Ibu akan segera menjelaskan maksud dan tujuan Ibu memintamu ke mari,” Siska memulai perbincangan. Menyodorkan secarik kertas berisi pemberitahuan.
Leonardo meraih kertas tersebut. Membaca dengan seksama, satu kata demi kata yang tertulis di sana.
Sebuah pengumuman; perihal perekrutan siswa untuk dikirim pada olimpiade matematika, menjadi titik fokus dari berita di dalam secarik kertas tersebut.
“Dan, Ibu akan merekomendasikanmu untuk mengikuti olimpiade itu. Apa kau berminat? Apa kau setuju dengan perekrutan yang Ibu tujukan padamu?” Siska bertanya. Menatap lekat manik mata seorang murid laki-laki di hadapannya.
Leonardo mengangguk. Melempar senyum sebagai tanda setuju.
Usai membubuhkan tanda tangan; sebagai persetujuan untuk turut serta, Leonardo berpamitan keluar dari ruang guru. Berjalan menyusuri koridor sekolah.
Namun,
Bruk!
Seketika, Leonardo terjatuh. Sesaat usai Alexander menjegal langkah kaki Leonardo.
Menyaksikan teman sebaya tersebut terjerembab, Alexander dan Nicholas sontak merekahkan tawa. Lalu, menarik kasar sisi belakang kemeja sekolah yang Leonardo gunakan.
“Jangan bilang, kau baru saja terpilih untuk mewakili olimpiade matematika lagi, hah?” Leonardo berucap dengan nada marah. Gurat di wajah yang semula tertawa, berpindah menyeramkan pada detik itu juga.
Leonardo berusaha melepas cekalan tangan yang Alexander tujukan.
Dan,
Wussh!
Alexander terhempas. Tak seperti biasa, saat Leonardo tak berani memberi perlawanan.
Kemudian,
“Jika, aku memang terpilih, lantas apa urusannya denganmu?” Murid laki-laki tersebut memberanikan diri untuk menjawab.
Spontan, bola mata Alexander melebar. Tangan kanan remaja itu bahkan hendak melayang. Memberi pukulan.
Beruntung, seorang guru BK hendak melintas di hadapan para siswa perundung tersebut. Alexander dan Nicholas bergegas pergi dari posisi semula mereka berada.
Seharusnya, aku menghantam dia dengan pukulan tanganku. Tapi, sudahlah. Tak ada gunanya menggunakan ilmu bela diri yang kudapat, untuk melawan murid badung sepertinya.
******
Tak terasa hari berganti sore.
Waktu pulang sekolah menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh para murid di sana.
Di sela pelajar-pelajar tersebut berhamburan keluar gerbang; mendapati mobil jemputan yang datang. Leonardo justru dijemput oleh sebuah mobil dengan nomor plat khusus. Suara sirine juga tak lupa menyertai kendaraan tersebut.
Benar saja, sore itu sebuah mobil polisi mendatangi salah satu sekolah menengah atas. Berniat untuk membawa serta seorang murid, yang sedang mereka cari.
Usai memastikan jika murid tersebut adalah seorang remaja; yang ada di dalam gambaran rekaman CCTV, para petugas kepolisian itu meminta Leonardo untuk masuk ke dalam mobil patroli mereka.
“Tapi, Pak? Mengapa Bapak menangkap saya? Memang, apa kesalahan yang sudah saya perbuat?”