bc

DUDA GANTENG DAN BABY SITTER CANTIK

book_age18+
328
FOLLOW
1.8K
READ
arrogant
boss
drama
comedy
sweet
realistic earth
like
intro-logo
Blurb

Keadaan memaksa Mayang bekerja sebagai seorang baby sitter. Dia bekerja pada sebuah keluarga pengusaha muda dan menjadi pengasuh untuk puti kesayangan mereka satu satunya.

Namanya Kini. Gadis kecil Putri dari Alan, seorang pengusaha muda yang ternyata seorang duda. Istrinya meninggal karena kecelakaan dan kini dia hidup berdua saja dengan putrinya di sebuah rumah besar yang terletak di pinggiran kota yang asri.

Terisolasi dari dunia luar dan juga seringnya mereka bersama, akhirnya membuat Mayang diam diam mencintai Alan.

Begitu pun dengan Alan. Diam diam, dia menyimpan rasa pada Mayang. Jiwa kelelakiannya berontak saat melihat Mayang yang berpakaian menampilkan lekuk tubuhnya.

Berbagai cara dilakukan Alan untuk Mendapatkan Mayang. Sampai akhirnya, dia hampir berhasil mendapatkan Mayang saat secara tidak sengaja, Mayang ketiduran dikamarnya.

Wajah Alan perlahan mendekat kearah wajah Mayang yang kini tertidur pulas. Tangan Alan menyentuh dagu Mayang dan dia mulai bergerak mendekatkan bibirnya ke arah bibir Mayang.

Apa menggigit kecil bibir Mayang dan melumatnya dengan rakus. Sontak hal itu membuat Mayang terbangun dan terkejut mendapati wajah Alan berada dekat dengan wajahnya.

"Apa yang Tuan lakukan?" pekik Mayang spontan sambil.mendorong tubuh Alan yang kini sudah mendekapnya erat dalam pelukannya.

"Maafkan aku, Mayang! Aku mencintai kamu! Aku butuh kamu! Bukankah kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku?"

"Tidak! Lepaskan, Tuan! Itu bukan cinta, Itu hanya nafsu saja karena Tuan merindukan istri Tuan!"

Alan termenung mendengar perkataan Mayang. Apakah benar yang dia rasakan pada Mayang itu hanyalah nafsu saja? Benarkah itu hanya karena dia sudah terlalu lama tidak dekat dengan perempuan dan dia merindukan istrinya?

"Tidak, Mayang! Ini adalah cinta! Dan aku pasti akan mendapatkan mu bagaimana pun caranya!"

chap-preview
Free preview
Pekerjaan Baru
Langkah Mayang terseok menyusuri jalan beraspal yang terhitung sangat sepi itu. Tubuh letihnya tertatih membawa tas besar di tangan kanannya. Tangan kirinya masih menenteng sebuah tas tangan yang tidak ringan juga. Matahari terasa begitu terik membakar bumi. Entahlah, mengapa matahari hari ini begitu panas. Padahal biasanya dalam seminggu ini selalu turun hujan. Ya Tuhan, berat sekali ujian mu. Gumam Mayang dalam hati. peluhnya mulai bercucuran. Dia mengusap peluhnya yang mulai membasahi wajahnya dengan punggung tangannya. Menghentikan langkahnya sejenak dan menghela nafas panjang untuk meredakan kepenatannya. 'Seandainya bukan karena aku sudah berhutang budi, aku pilih pulang kembali ke kampung halaman ku. Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi. Sudah setengah jam lebih aku berjalan,tapi tak nampak pula olehku sebuah rumah pun. Hanya pohon pinus di sepanjang mata memandang.' "Apa aku tersesat ? Tapi ini benar jalan yang ada di alamat ini" Mayang berhenti dan melihat kembali secarik kertas yang dia bawa. Dia membaca sekali lagi alamat yang tertera di secarik kertas tersebut yang dibwrikan oleh pamannya. "Jalan ini sudah benar, tapi mengapa sepi sekali. Dari tadi aku tidak melihat satu orang pun. Mobil atau motor pun tidak ada yang lewat satupun". Mayang mulai menyeka kembali keringatnya yang mulai membasahi wajah dan bajunya. Diambilnya air mineral di dalam tasnya dan meminum air yang masih tersisa sedikit di botol. Dia terduduk lemas diatas tas besar miliknya. Wajahnya sepertinya mulai menampakkan kelelahan yang sangat. Wajahnya yang ayu terlihat sangat pucat. Matanya berkunang kunang, pandangan matanya mulai kabur dan gelap. Tiba tiba semua gelap dan Mayang terjatuh tak sadarkan diri. ????? "Kamu sudah sadar?", "Maaf ,saya dimana?" tanya Mayang kaget ketika mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar besar dan dirinya tidur di atas ranjang besar di kamar itu. Kepalanya terasa sangat pusing. "Nama saya John, saya bekerja disini. Tadi kamu pingsan di jalan depan menuju rumah ini", terangnya pada Mayang yang masih nampak kebingungan. "Tadi Tuan kebetulan lewat dan dia yang menolongmu. Makanya sekarang kamu bisa berada di rumah ini". "Oh !, Terima kasih pak sudah menolong saya", ucap Mayang seraya bangkit dari tidurnya. "Tapi saya harus pergi pak, saya harus ke rumah Tuan Alan Kusuma. Apakah bapak tau alamat ini?", tanya Mayang kemudian menyerahkan secarik kertas yang berisikan alamat yang akan dia tuju. Ini sudah terlalu sore, bisa bisa dia kemalaman di jalan,begitu pikir Mayang. Dia ingat,dia harus ke alamat itu, tapi dia tidak tahu dengan jelas letak alamat rumah yang dia tuju. "Hmmm...!, Apa kamu belum tau alamat yang mau kamu tuju Nona?",tanya John setelah membaca alamat di secarik kertas yang diberikan oleh Mayang. "Belum pak, saya mendapatkan alamat itu dari seseorang yang bernama Alan Kusuma, saya akan bekerja padanya sebagai pengasuh anaknya". "Hahaa..!, syukurlah nona kamu tadi di tolong tuan muda sewaktu pingsan. Alan Kusuma yang kamu maksud itu adalah majikan saya, orang yang sudah menolongmu itu". "Benarkah? apa itu berarti saya sudah berada di rumah Tuan Alan pak?". "Benar nona, kamu sudah berada di alamat yang akan kamu tuju"., kata John. "Ngomong ngomong, panggil saja saya John. Jangan panggil Pak, saya pikir mungkin kita hanya beda beberaoa tahun saja!" Mayang tersenyum mendengar perkataan John. Dia kemudian mengangguk mengiyakan permintaan John. "Baiklah, John...!" jawab Mayang ramah. "Hei...! Bukankah ini sebuah kebetulan yang aneh?",kata John kemudian tertawa terkekeh. "Kamu di tolong orang dan dia membawamu ke alamat yang kamu tuju dengan benar, Dan kebetulannya lagi dia adalah orang yang kamu cari!" "Benar...!"sahut Mayang. "Kalau saja Tuan tidak menolongku, entah apa jadinya aku sendirian di luar sana, di jalan yang sangat sepi itu!" "Sudahlah, tidak perlu di ingat lagi. Yang penting kamu sekarang sudah selamat dan sampai di rumah ino dengan aman." ujar John beetutur lancar. "Tadi tuan berpesan,kalau kamu sudah siuman tuan ingin bertemu dengan mu. Sebaiknya kamu mandi dan membersihkan badanmu,setelah itu nanti saya akan mengantarmu ke ruangan tuan". "Baik John! Kalau begitu saya mandi dulu". "Baiklah, saya tunggu di luar. Nanti setelah kamu selesai temui saya di ruang tamu ya,nanti saya yang akan mengantarmu". Mayang segera beranjak dari ranjang tempat dia tidur tadi. Dibukanya tas besarnya,kemudian mengambil handuk dan baju ganti. Dia berjalan menuju kamar mandi. Ya Tuhan...! Aku berhutang budi sekali lagi pada orang itu, dia menyelamatkan aku lagi hari ini di jalan ketika aku pingsan. Dan kemarin dia menyelamatkan aku dari laki laki kurang ajar yang akan berbuat tidak senonoh padaku. Hampir saja aku kehilangan kesucian ku jika saja orang itu tidak datang menolongku kemarin malam saat aku pulang kerja. Ya Tuhan, skenario apa lagi yang akan kamu berikan padaku ,kenapa aku harus berhutang budi lagi padanya,apa lagi yang akan dia minta dariku untuk membayar hutang budi ini. Mayang mulai mengguyur tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah. Dibiarkannya rambutnya yang hitam sebahu basah terkena air. Hatinya sedang dilema antara harus bersyukur atau merasa sedih. Dia mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang lumayan, tapi dia harus rela berpisah dari Nino, adik satu satunya. Dia harus rela Nino di asuh paman dan bibinya di kampung karena tidak mungkin membawanya di tempat bekerjanya yang baru. Selama ini Nino tidak pernah hidup terpisah darinya semenjak orang tua mereka meninggal. Mayang bekerja membanting tulang untuk membiayai kehidupan mereka dan untuk membayar biaya sekolah Nino yang sudah kelas dua SMA. Mayang bertekad untuk membiayai sekolah Nino sampai selesai. Bahkan jika mungkin Nino harus kuliah. Supaya kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik darinya dan bisa mengangkat derajat keluarga. Dan hari ini, dia berada di rumah ini untuk menjadi baby siter anak dari orang yang sudah menolongnya. Bukan hanya karena dia butuh uangnya, tapi juga sebagai balas budi karena kebaikan hatinya telah menolongnya dari lelaki kurang ajar di malam itu. ????? Diruangan lain di rumah yang sama. Nampak seorang lelaki sedang berdiri memandang keluar jendela. Tangannya menggenggam segelas wine yang sedari dari di sesapnya hingga tak tersisa. Wajahnya nampak angkuh dan dingin. Terlintas kembali kejadian tiga tahun silam yang menimpa istri dan anaknya. Sebuah kecelakaan mobil merenggut nyawa istri tercintanya. Sebuah truk melaju dengan kencang karena rem nya blong dan menabrak mobil yang dikendarai Melia dan Kimi anaknya. Tubuh Kimi terpental keluar dari mobil, dengan cidera serius. Sedangkan Mella tidak sempat menghindar. Truk itu menghantam tepat mengenai sisi kanan mobil tepat di sisi Melia duduk. Melia meninggal di tempat,sedang Kimi bisa di selamatkan setelah sempat dua hari koma di rumah sakit. Dia yang saat itu sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan tidak bisa berbuat apa apa. Dunianya gelap,bumi yang dia pijak goyah setelah kepergian istrinya. Hidupnya jadi begitu dingin dan tanpa senyuman pada orang lain. Hanya pada anaknya saja dia bisa tersenyum dan tertawa seolah tanpa beban. Dia akan melakukan apa saja demi anaknya, apapun yang di minta Kimi akan dia berikan. Pendidikan terbaik, baju terbaik, makanan terbaik, mainan terbaik dan tentu saja teman terbaik. Setidaknya begitulah dia menyebut semua pengasuh anaknya. Dia adalah Alan Kusuma,seorang pengusaha besar di kota Z. Dia selalu selektif memilih pengasuh untuk anaknya. Karena pengasuh yang dia pilih harus mampu menjadi teman terbaik anaknya,karena dirumah ini tidak ada orang yang bisa menjadi teman main anaknya ketika dia bekerja. Jadi pengasuhnya adalah sekaligus teman bermainnya dan guru bagi anaknya. Rumah Alan berada jauh dari kota. Rumah terdekat dari rumahnya berjarak hampir tiga kilo jauhnya. Dia memang sengaja membeli sebuah perkebunan sekaligus peternakan dan membangun rumah disana supaya Kimi selalu mendapatkan udara segar dan sehat. Dari kecil memang Kimi menderita asma yang diturunkan dari Mella istrinya. Apalagi akibat cidera kecelakaan tiga tahun yang lalu, membuat Kimi sedikit taruma dengan keramaian dan suara bising. Tinggal di daerah pedesaan yangbjauh dari hingar bingar kota, dia harapkan akan mamou membuat jiwa Kimi, anaknya kembali nyaman. Alan harus sangat berhati hati merawat Kimi,dia akan melakukan apa saja yang dia bisa demi membuat Kimi tertawa saat harus tumbuh besar tanpa ibu disampingnya. Tok,tok,tok,... Terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya. John masuk bersama Mayang yang sudah selesai mandi dan rapi. "Maaf tuan, saya datang mengantarkan nona Mayang ". Alan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Terdengar suara beratnya berdehem. "Apa ada yang bisa saya bantu untuk nona Mayang Tuan?", tanya John sekali lagi demi melihat tuannya yang tak bereaksi. "Tidak John!, terima kasih", kali ini terdengar Alan berbicara. Badannya berbalik menghadap kearah Mayang dan John berdiri. Matanya sempat bertemu pandang dengan mata Mayang. Mayang yang masih gugup hanya menunduk membuang pandangannya,menghindari tatapan mata Alan yang tajam. "Kamu sudah baikan?", tanya Alan dingin. "Sudah Tuan, terimakasih sudah menolong saya", jawab Mayang sopan. "Hmmm.." Hanya itu suara yang terdengar kemudian. Alan melangkahkan kakinya mendekati meja kerjanya kemudian duduk di atasnya. "Kamu bisa mulai kerja sekarang, tugas kamu mengurus keperluan Kimi anak ku dan mengurus aku. Nanti akan ada Mbok Nah yang membantumu bersih bersih rumah,tugasmu hanya memasak dan menyiapkan makanan untuk aku dan anakku", jelas Alan panjang lebar. "Kamu tidak perlu mengantar Kimi ke sekolah, ada John yang akan mengantar jemput Kimi". 'Oh!, nama anaknya Kimi.' Tanpa sadar Mayang bergumam sendiri. "Kamu sudah paham belum apa yang menjadi tugas kamu Mayang?", teriak Alan mengagetkan. "I-iya tuan !, maafkan saya". "Baiklah,kamu boleh kembali ke kamarmu,besuk John yang akan memperkenalkan mu dengan Kimi. Dia sudah tidur sekarang,jangan di ganggu". "Baiklah tuan, kalau begitu saya mohon pamit", kata John sambil sedikit membungkukkan badannya. Mayang hanya mengikuti John. Dia bergegas keluar dari ruangan itu menuju kamarnya setelah sebelumnya berpamitan dengan John. "Jangan diambil hati! Tuan memang orangnya keras dan cenderung cuek. Tapi sebenarnya dia sangat baik!" pesan John sebelum dia berlalu dari hadapan Mayang. Hari ini sudah dimulai,hari pertama dia bekerja dengan majikan dan suasana yang baru. Semoga semua akan baik baik saja. Dan dia sangat berharap, bahwa dia akan kerasan dan betah dengan pekerjaannya. Bagaimana pun, dia sangat menggantungkan diri dari pekerjaan ini untuk hidupnya juga adiknya. Demi masa depan mereka. Bismillah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
819.4K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
612.9K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
10.5K
bc

The Lone Alpha

read
125.5K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
35.7K
bc

Bad Boy Biker

read
8.7K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook