Benih yang Bersemi

1162 Words

Tuan muda mencium keningku, aku merasa tangannya membelai pipiku juga. Setelah aku terjatuh tadi, kurir bunga membawaku ke atas sofa. Bibi Ana sedang pergi, sehingga tukang kebun yang menelepon suamiku. Dia datang sambil tersenyum. Aku heran tuan muda tersenyum saat melihatku begitu lemah, padahal biasanya dia sangat panik. Dia menggendongku ke kamar dan membuatkanku s**u hangat. "Aku nggak enak badan, bunganya..." Aku mengeluh. "Aku pikir ini sakit pertanda baik." Wajah tuan muda sangat cerah. Aku mengerutkan kening. Melihat wajah tampannya lagi-lagi tersenyum dan menggenggam tanganku lembut. Oh, aku tersentak. Mungkinkah? "Aku sudah membeli testpacknya." Kalimat tuan muda membuatku kaget. "Kapan?" "Hemm ... beberapa hari yang lalu." "Zola, apa kamu mengingat tanggal aku data

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD