Perlindungan Sang Suami

1173 Words

Aku menatap lurus ke depan, udara terasa hangat membelai kulit tapi aku bagai terbakar dalam ruang yang tak berventilasi. Sejak pagi hari hingga siang menjelang, beberapa kali tuan muda menanyakan kesungguhanku? Aku tau dia khawatir, dengan sifatnya yang melindungi. Mungkin tak inginkan aku menjadi sasaran pembicaraan publik. Aku tau, suamiku bukan khawatir pada nama besar keluarganya. Tetapi, dia memang mengkhawatirkan aku. "Nena." Aku melihat di salah satu meja, temanku saat di sekolah menengah atas dulu. Kami cukup akrab, dia sekarang menjadi seorang reporter di salah satu stasiun televisi. Aku juga melihat seorang kameramen bersamanya. "Selma." Dia berdiri. Kami berpelukan dan saling mencium pipi. "Makasih, sudah bersedia datang." Aku berkata. Kami duduk kembali, aku menoleh ke se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD