bc

A Beauty of Numb (Bahasa Indonesia)

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
family
second chance
friends to lovers
single mother
drama
tragedy
sweet
office/work place
affair
like
intro-logo
Blurb

Ghyta Thalia adalah perempuan yang tampak tenang, tangguh, dan keras. Ia hanya selalu berusaha tidak terlibat dalam masalah apapun, tidak merugikan siapapun, membuatnya menjadi sosok perempuan yang tidak dapat ditebak. Kepribadian itu melekat pada dirinya sejak pernikahan yang berawal manis dan menawarkan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan oleh Thalia sebelumnya, berubah menjadi perjalanan hidup paling pahit yang ia rasakan. Bagaikan joker dalam kehidupan nyata, ia melakukan segala hal yang ia mau seakan tidak peduli akan adanya resiko yang dihadapi. Thalia merasa tidak ada yang perlu ia jaga termasuk dirinya sendiri karena ia sudah lama hilang dan hancur. Ia bertemu dengan Abian seseorang yang menemani Thalia di salah satu malamnya, sosok laki-laki yang sedang ragu dengan perasaannya sendiri yang akan menghadapi pernikahan. Pertemuan tersebut, memberikan kesan kepada Abian yang merasakan ketenangan tersendiri saat bersama Thalia. Ia dapat merasakan keindahan dibalik kerasnya tampilan Thalia, tersirat kerapuhan yang membuatnya ingin terus melindungi Thalia bagaikan benda berharganya. Thalia bagaikan candu untuk Abian. Satu yang Abian yakini saat bersama Thalia "Karena terkadang, hancur bersamanya jauh lebih baik daripada utuh tanpanya."Apakah pertemuan antara Thalia dan Abian akan membuat Thalia pulih, atau justru membuatnya semakin jauh terpuruk ke dalam kesakitan dan mati rasa?

chap-preview
Free preview
180 degree
Thalia's POV "Selamat malam, Ibu Thalia," sapa seorang hostess saat aku melangkah masuk ke club yang belakangan menjadi perbincangan di Jakarta. "Hari ini masih ada table kosong?" tanyaku. Ia menggeleng. Aku tersenyum kecil dan mengangguk. Selalu menyenangkan melihat sesuatu yang dibangun dengan jerih payah akhirnya hidup. Aku bergerak menuju area bar, mengamati denyut tempat ini—dentuman musik, cahaya redup, tawa yang bercampur alkohol. Club ini lahir bukan dari mimpi, melainkan dari patah hati dan kehancuran beberapa tahun lalu. Meski gedungnya adalah bentuk permintaan maaf dari mantan mertuaku—ganti rugi atas hidup yang dirusak anaknya—aku yang membangun semuanya dari nol. Dari ruang kosong menjadi tempat orang-orang melupakan luka mereka, meski hanya sementara. Aku menyesap beer perlahan. Di tengah keramaian itu, sudut mataku menangkap seorang laki-laki duduk sendiri di bar. Wajahnya lelah, bukan wajah seseorang yang mencari kesenangan. Ia tampak seperti sedang mencari ketenangan—dan berharap menemukannya di dasar gelas. Aku meletakkan botolku dan berdiri di depannya, bersamaan dengan bartender yang menghidangkan pesanannya. Ia menatapku sebentar, bingung. Aku membalasnya dengan senyum. "Boleh saya join?" tanyaku. "Silakan," jawabnya singkat. Ia langsung menyesap whiskynya tanpa benar-benar menatapku. "Saya Thalia." Ia melirik sekilas. "Abian." Aku mengangguk. Kami minum dalam diam. "Kerjaan?" tanyaku akhirnya. Ia menggeleng. "Ada hal yang tidak bisa saya ceritakan." Aku tidak mendesaknya. Aku menunjuk ke arah dance floor. Ia menatapku ragu. "Kalau anda tidak bisa mengeluarkan isi pikiran anda dengan bercerita dengan saya, setidaknya biarkan diri anda bersenang-senang sejenak. Ayo.." bujukku lalu mengulurkan tangan sebagai ajakan. Mungkin aku terdengar sedikit memaksa, tetapi aku tidak menyukai kesedihan ada di tempatku. Saat ia akan membalas uluran tanganku, aku menarik uluran tersebut dan berjalan lebih dulu ke dance floor. Aku berbalik menatapnya lalu mengisyaratkan jari telunjukku agar ia mendekat. Ku lihat dengan samar ia tersenyum. Ia menegak satu gelas whiskynya kembali sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arahku. Kami bergerak mengikuti alunan musik yang berdentum kencang. Kami tidak saling mengenal, tetapi bahasa tubuh kami seakan seirama. Entah ini karena pengaruh dari alkohol yang mulai terasa atau bukan, tetapi kami semakin bersemangat seakan-akan semua beban pikiran kami lepas saat itu juga. "Boleh saya rangkul?" bisiknya dan ku jawab dengan anggukan kepala. Ia merangkul pinggangku dengan tangan kirinya dan merapatkan jarak antara kami. Ia mengelus rambutku lalu menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga. Aku menatapnya seakan menyiratkan bahwa aku tidak berekspektasi ia akan melakukan hal ini. Aku reflek meremas kemejanya saat ia juga merangkulkan tangan kanannya pada pinggangku. Ia memelukku dengan erat seakan tidak ingin ada jarak sedikitpun antara kami. Ini sudah di luar batas ekspektasiku. Aku hanya berniat mengajaknya bersenang-senang, bukan bermesraan. "Anda yang mengajak, tapi anda yang tegang. Hahahaha..." ejeknya disertai dengan tawa. Ia melepaskan rangkulan tersebut lalu mengusap kepalaku. Aku mengusap tenggukku lalu tersenyum malu. Ia berjalan kembali ke meja Bar dan aku mengikutinya. Kami duduk bersebelan dan kembali menyesap minuman masing-masing. "Tindakan anda tadi sangat berbahaya. Kalau saya sudah sangat mabuk, mungkin, kita tidak akan melanjutkan minumnya di sini.." ucapnya memulai percakapan. Aku menghembuskan nafas melalui mulutku dan tertawa kecil. "Saya sudah sempat berpikir yang macam-macam tadi." lanjutnya memutar kursinya menghadapku. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya penuh tanya. "Ya.. Saya pikir anda wanita.." ia tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya memberikan isyarat tanda kutip yang aku pahami arah maksudnya apa. Aku tertawa. Aku tidak dapat menahan tawaku lalu memutar kursiku menghadapnya juga. Penilaiannya bagiku lucu—mungkin jika aku masih seperti dulu, mungkin aku sudah tersinggung. Untungnya ia bertemu dengan diriku yang sekarang, tidak mudah tersinggung. Lagi pula, ki akui tindakanku tadi memang cukup berani, tetapi aku tidak menyangka akan dikira seperti itu. "Okay.. Maafkan saya terlalu lancang tadi, tapi itu lucu hahaha.." jawabku yang dibalas senyuman olehnya. Aku menopang kepalaku dengan tangan kiri yang bertumpu pada meja Bar dan membalas senyumnya. Ku akui senyumannya begitu manis. Mungkin jika aku masih polos seperti dulu, aku sudah luluh dan terbawa perasaan. Sayangnya, perasaanku telah lama mati. Yang tersisa hanya sisa-sisa ingatan tentang hangatnya jatuh cinta. "By the way, Anda kerja di sini?" tanyanya membuyarkan pikiranku yang entah kemana. Aku mengangguk agar ia tidak langsung mengetahui bahwa aku adalah pemilik club ini. Lagi pula kami hanya akan kenal sesaat, informasi seperti itu bukanlah hal yang harus aku umbar-umbar. "Bartender?" tanyanya kembali dan aku mengangguk. Ia mengernyitkan dahi lalu melihat ke arah bartenderku yang sedang meracik minuman. "Kenapa? Meragukan saya?" tanyaku lalu meninggalkan kursiku kembali ke belakang meja bar. Aku merapihkan rambutku lalu mengikatnya asal memamerkan leher jenjang yang tadi sempat tertutup rambut panjang bergelombangku. Aku mengambil Jigger untuk memulai atraksi meracik minuman di depannya. Aku menakar campuran alkohol dengan jigger dan menuangkannya ke dalam shaker. Aku mengambil lemon dan memasukkan ke squeezer untuk memeras sari lemon tersebut ke dalam shaker. Aku juga menambahkan beberapa lembar daun mint sebelum aku menutup gayaku dengan melempar es ke udara dan menangkapnya dengan shaker-ku tanpa meleset. Ia berdecak kagum dan menikmati pertunjukkanku. Aku tersenyum sambil mengocok shaker tersebut lalu menuangkan racikanku pada old fashioned glass dan menambahkan irisan lemon serta daun mint sebagai garnish. "Silahkan.." ucapku meletakkan minuman yang aku buat di depannya. Ia tanpa berkata apapun langsung menyicipi minumanku. Ia kembali menatapku setelah minuman tersebut masuk ke tenggorokkannya. "Menyegarkan.." aku tersenyum mendengar komentarnya. Walaupun aku bukan bartender sesungguhnya, tetapi aku juga belajar untuk meracik minuman ketika aku membuka tempat ini. Aku yang tidak mengerti mengenai hal-hal ini, tentu perlu belajar banyak tidak hanya dari segi bahan baku ataupun market, tetapi juga perlu ilmu lainnya agar dapat menjadi bahan diskusi saat Research and Development Product bersama karyawanku. "Cukup meyakinkan, tetapi satu pertanyaan lagi, kenapa tidak menggunakan uniform seperti yang lainnya?" tanyanya kembali. "Off-day.." jawabku dan dibalas dengan anggukan. "Terima kasih ya. Saya cukup terhibur. Sesuai dengan tagline tempat ini A Happy Place." ucapnya yang ku jawab dengan mengacungkan kedua jempolku. "Kalau seperti itu, saya izin pamit. Untuk minuman yang tadi saya buat, itu free dari saya. Senang dapat membuat anda merasa senang kembali." pamitku lalu berjalan keluar dari area Bar melalui pintu karyawan. Dapat ku dengar dengan samar ia memanggilku, namun, aku tetap berjalan keluar. Ya, tugasku sudah selesai dan tidak akan ku biarkan atensi tersebut semakin jauh. Aku meninggalkan gedung tersebut dan berjalan menikmati udara malam menuju apartemenku yang terletak tidak begitu jauh dari clubku. Aku menutup kepalaku dengan hoodie dan mengeratkannya saat udara malam menerpa lebih dingin dari biasanya. Aku membeli air mineral dari pedagang dipinggir jalan sebagai penemanku. Aku meminumnya sembari terus berjalan, menikmati kesendirianku di tengah ramainya malam Jakarta, kota yang tidak pernah tidur. Keheningan diriku di tengah keramaian membuatku merasa lebih nyaman. Rasanya sepi tetapi aman. Aku menghela nafas saat mengingat kembali pernikahanku yang menjadi titik balik paling menyakitiku. Entahlah, tiga tahun telah berlalu, tetapi aku masih terus memikirkannya. Bahkan sangat sakit mengetahui fakta aku masih merindukan perlakuan lembutnya, kehangatan dekapannya, dan aku masih mencintainya dalam kebencianku. Aku memasuki gedung apartmen dan berjalan menuju lift tanpa memperhatikan sekitar. Aku berjalan langsung ke depan lift menunggunya terbuka setelah menekan tombol untuk ke atas. Aku membuka card holderku dan mengambil kartu pintu apartmen untuk akses lift agar langsung menuju lantai unitku. Saat aku menyentuhkan kartuku pada sensor kartu di dalam lift, entah kenapa tidak bisa. Aku mengerutkan dahiku bingung. Apakah error? Batinku. BIP! Aku menoleh ke arah tangan yang menyentuhkan kartunya pada sensor tersebut dan berhasil, membuat pintu lift otomatis tertutup. Aku mengedipkan mataku berkali-kali tidak percaya bahwa laki-laki yang tadi aku temui di Club, berada satu lift denganku. Dia tersenyum. Ia mengusap pipiku pelan dengan punggung telunjuknya. Sementara aku masih mematung. Tidak tau harus bereaksi bagaimana. Terlebih kami bertemu di saat sisi rapuhku terlihat. Aku tidak senang dengan itu dan ia tidak boleh tau lebih jauh mengenai sisi itu. Aku menggelengkan kepalaku lalu mundur satu langkah menjauhinya. Aku memasang wajah datar lalu menegapkan badanku menghadap ke depan. Bersikap seolah tidak pernah melihatnya. "Ekhem! Jangan sembarangan menyentuh orang asing. Kita tidak begitu kenal." ucapku menatapnya melalui pantulan bayangan pada pintu lift. Ia terkekeh dan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. "Anda sangat menyenangkan di tempat kerja, tetapi menjadi orang yang berbeda diluar." jawabnya membalas tatapanku melalui pantulan bayangan. "Profesional." balasku singkat dan ia mengangguk. Pintu liftnya terbuka, lalu ia berjalan keluar dari lift dan menahan tombol lift agar pintu tetap terbuka. "Saya rasa sepertinya anda salah tower, terlihat dari kartu apartemen anda." ucapnya menunjukkan kunci apartemennya yang berbeda warna dengan milikku. Punyanya berwarna biru perak, sedangkan punyaku berwarna hitam emas. "Anda bisa ke tower seberang lewat lantai 20, di sana ada lantai penghubung yang hanya dapat di akses oleh pemilik unit di tower seberang. Jadi, saya rasa anda bisa ke unit anda lebih dekat lewat lantai tersebut." jelasnya kembali. "Oh, terima kasih atas informasinya." ucapku lalu menatapnya bingung karena ia tidak kunjung berpindah dari depan lift dan tetap menahan pintu lift agar terus terbuka. "Anda bisa kemari jika anda membutuhkan teman." jawabnya menunjukkan letak kamar apartemennya seakan mengisyaratkan bahwa ia bersedia untuk ada disaat aku membutuhkan seseorang. "Saya tidak butuh teman. Tidak perlu berkata demikian. Terima kasih telah memberikan informasi mengenai kesalahan saya." balasku. Ia mengangguk dan membiarkan pintu tersebut tertutup. Aku menghela nafas dan memijat pelipisku sejenak. Aku membuka dompetku lalu menyimpan kartu berwarna hitam emas tadi lalu mengambil kartu lainnya yang berwarna biru perak. Sebenarnya aku tidak salah tower, hanya salah mengeluarkan kunci apartmen. Dulu, aku pernah tinggal di tower mewah tersebut hingga setahun yang lalu aku mampu membeli apartemen lain. Bayangan tentang pernikahan "bahagia" itu selalu menyesakkanku, sehingga aku memutuskan untuk pindah. Aku memikirkannya terlalu larut tadi sehingga tanpa sadar aku mengeluarkan kunci yang salah. Aku menyentuhkan kunciku pada sensor dan lift otomatis bergerak menuju unitku yang hanya berbeda 4 lantai di atas unit laki-laki bernama Abian tadi. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah lama mati rasa, aku merasa—sedikit terusik. - To be Continue -

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.7K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
4.2K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.6K
bc

After We Met

read
187.4K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook