Hey, we meet again!

1275 Words
Thalia's POV Pagi yang cerah seakan menyemangatiku untuk memulai aktifitas dengan baik hari ini, setelah tadi malam sempat terlewat rasa yang sangat ingin aku buang jauh-jauh. Menjadi pemilik Club di malam hari, tidak berarti aku menjadi pengangguran di pagi hari. Aku menyelesaikan kegiatan menyanggul rambutku dan bergegas merapikan riasan wajahku serta menyemprotkan parfume ke seluruh tubuhku. Aku menggunakan jam tangan, nametag, lalu mengambil handbag kerjaku sebelum meninggalkan apartment. Bekerja di bidang perhotelan membuatku harus selalu tampil prima dan rapih. Hentakan heelsku menggema tidak berirama di lorong apartment karena langkahku yang terburu-buru. Aku tidak ingin terlambat bekerja, hanya karena melakukan ritual kecantikkanku lebih lama hari ini. Aku masuk ke dalam lift lalu menekan tombol lantai "B1" untuk menuju ke basement parkir dan mengeluarkan handphone-ku sembari menunggu lift turun. Aku mendengar lift kembali terbuka saat lift ini baru turun beberapa lantai, aku otomatis menggeser tubuhku ke sudut lift untuk memberikan ruang kepada tamu lain yang menggunakan lift ini juga, tanpa mengalihkan pandanganku dari laporan revenue clubku tadi malam. "Thalia?" ucap suara yang sangat tidak asing membuatku kaget dan tidak sengaja menjatuhkan handphoneku. Aku reflek menoleh ke sumber suara dan menemukan Abian berdiri menghadapku sembari menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Sekejap aku tertegun dengan penampilannya yang tampak rapih dengan setelan jas itu, membuat ketampanannya tidak terelakkan. Ia membungkuk membuatku reflek menutupi pahaku dengan tasku dan mundur satu langkah, mengingat aku menggunakan seragam dengan rok pensil pendek. Ia menatapku dengan senyumannya yang manis itu, sebelum kembali berdiri tegak. Sial, senyumnya terlihat lebih jelas dengan pancahayaan pagi ini, terlebih aku baru melihat ternyata ia memiliki lesung pipi yang menambah pesonanya. "Saya tidak akan mengintip rok anda. Ini, maaf jika saya mengagetkan anda." ucapnya. Aku menatapnya dan handphone-ku bergantian. "eh? Oh, Terima kasih.." Jawabku agak terbata-bata karena sedikit malu, lagi-lagi aku berpikir macam-macam. Aku mengambil handphone itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Sedangkan dia, berbalik menghadap pintu lift dengan tetap melipat kedua tangannya di d**a. "Jadi, apakah anda berubah pikiran dan berniat mengunjungi saya? Karena seingat saya tadi malam, anda memiliki unit di tower yang berbeda." tanyanya. "Oh, itu, lift di tower saya sedang ada perbaikan tadi, jadi saya menyebrang ke tower ini lewat lantai 20 lagi. Saya tidak ingin terlambat kerja.." jawabku berbohong. Semakin sedikit ia tau tentangku, semakin baik. Ia menatapku dari atas kepala sampai ujung kaki seakan menyelidiki sesuatu. "Double Job?" tanyanya kembali sembari mengeryitkan dahinya. Astaga, bagaimana aku bisa lupa memperkenalkan diriku sebagai bartender di club malam, tetapi sekarang bertemu dengan orang yang sama dengan seragam kerja yang berbeda. "I-Iya.. begitulah. Perlu kerja keras untuk menikmati hidup enak, bukan?" elakku dan dijawab dengan anggukan darinya. Syukurlah, sepertinya jawabanku tidak dapat diulik lebih jauh. "Hmm.. sekarang masuk akal mengapa anda bisa tinggal di tower mewah itu. Saya memikirkannya semalaman bagaimana bisa bartender tinggal di tower yang harga unitnya 2x lipat dari harga unit saya. Hampir berpikir yang tidak-tidak tentang anda, lega mengetahui bahwa anda tidak seperti yang saya pikirkan.." jelasnya yang kubalas dengan tawa. Aku tidak tersinggung sama sekali dengan perkataannya, sangat wajar ia mengira demikian karena ia hanya mengetahui bahwa aku seorang bartender yang menggodanya tadi malam. Lagi pula, aku sudah terbiasa dikira demikian oleh pria di club malam. Ting! Pintu lift terbuka dan aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghindar darinya. Bisa berbahaya jika kami saling mengetahui satu sama lain lebih dalam. Tidak seperti kebanyakan pria yang kutemui beberapa tahun ini, mereka melihatku hanya sebagai perempuan yang dapat mengisi kekosongan, memuaskan, teman bersenang-senang, dan objek. Tidak ada yang tertarik dengan di mana aku tinggal, pekerjaan apa yang aku jalani, atau tentang diriku yang sebenarnya. Namun, pria bernama Abian ini berbeda, bahkan dia tidak tampak ingin menyentuhku atau melihatku sebagai penghibur walau sikapku sudah begitu nekat menggodanya tadi malam. Ia justru lebih tertarik tentangku lebih jauh. "Saya duluan.." ucapku berterima kasih sebelum meninggalkan lift yang dijawab dengan anggukan olehnya. Ia membiarkanku berjalan keluar dan tidak mengikutiku sama sekali. Aku bernafas dengan lega. Aku bergegas masuk ke dalam mobilku dan mengendarainya menuju tempat kerjaku. Jarak antara hotel dan tempat tinggalku tidak begitu jauh, namun, padatnya lalu lintas ibukota di pagi hari membuat perjalanan terasa panjang. Aku bersenandung mengikuti musik yang terputar di radio mobilku tetap menikmati hariku dengan semangat. Bagiku, pekerjaan ini adalah salah satu semangat hidupku. Jika club malam adalah pelarian dari kesedihan dan pelampiasan dari amarahku, maka karirku ini lah yang sebenarnya membuat aku tetap hidup menjadi diriku sendiri. Walaupun, sempat aku tinggalkan demi pernikahan yang akhirnya membuatku kehilangan diriku. Hotel tempatku bekerja berdiri megah di pusat kota, selalu sibuk, selalu bernapas dengan ritme yang sama setiap harinya. Aku memarkir mobil, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Di sini, aku bukan Thalia pemilik club. Bukan perempuan yang menghabiskan malam dengan alkohol dan dentuman musik. Aku adalah Thalia yang rapi, profesional, dan tersenyum pada siapa pun yang datang. Aku berdiri di balik meja receptionist tepat pukul delapan. Senyum terlatih terpasang di wajahku, gerakanku terukur, suaraku ramah. Semua berjalan normal—hingga aku melihatnya. Abian. Ia melangkah masuk bersama dua pria lain, mengenakan setelan jas gelap yang sama rapi seperti pagi tadi. Pembawaannya tenang, percaya diri, seperti seseorang yang terbiasa berada di ruang-ruang penting. Dadaku mengencang sesaat. Aku menunduk, pura-pura fokus pada layar komputer, berharap ia tidak langsung menyadari keberadaanku. Terlambat. Tatapan kami bertemu. Aku bisa melihat keterkejutan singkat di wajahnya—hanya sepersekian detik—sebelum berubah menjadi senyum kecil yang sulit kuterjemahkan. Senyum yang sama seperti tadi pagi, tapi kini terasa berbeda. Lebih dekat. Lebih nyata. Ia berjalan menghampiri meja resepsionis. Dua rekannya berdiri sedikit di belakang, sibuk dengan ponsel masing-masing. "Selamat pagi," ucapku profesional. "Ada yang bisa saya bantu?" Abian menatapku sejenak, seolah memastikan sesuatu. "Check-in," katanya singkat. Lalu, dengan nada lebih rendah, hampir hanya untukku, "Sepertinya hari ini kita memang sering bertemu." Aku menjaga ekspresi wajahku tetap netral. "Nama, Pak?" "Abian Putra Ramma." Jariku mengetik cepat. Nama itu muncul di layar sebagai VIP Guest. Executive Room. Meeting Package. Full day. Aku menelan ludah. "Bapak Abian, reservasi sudah kami siapkan. Kamar Anda di lantai dua puluh satu. Untuk ruang rapat, tim Bapak bisa langsung menuju Ruang Mahogany setelah ini," jelasku tetap mempertahankan senyum serta nada bicara lembut. Ia sedikit condong ke depan. "Anda bekerja di sini?" Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa terlalu pribadi. "Ya," jawabku singkat. "Ini pekerjaan saya yang lainnya." Ia tersenyum tipis, seolah jawaban itu memuaskannya. "Menarik. Bartender malam hari, receptionist pagi hari." "Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" potongku halus. Menginsyaratkan padanya bahwa ini adalah batas. Tidak ada informasi tentang diriku yang perlu ia ketahui lebih jauh. Ia tertawa pelan. Tidak mengejek—lebih seperti mengalah. "Tidak. Terima kasih." Aku menyerahkan kartu akses lounge dan menjelaskan fasilitas hotel dengan nada profesional. Saat jemariku hampir menyentuh tangannya, aku refleks menariknya sedikit. Gerakan kecil yang nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat tatapannya bertahan di wajahku lebih lama dari seharusnya. "Sepertinya Anda selalu menjaga jarak," katanya tenang. "Dan sepertinya Anda terlalu memperhatikan," balasku, masih dengan senyum kerja. Ia mengangguk pelan, menerima kartu itu. "Sampai bertemu lagi, Thalia." Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk sopan. Saat ia berbalik dan berjalan menuju lift bersama rekan-rekannya, barulah kusadari tanganku dingin. Jantungku berdetak terlalu cepat untuk pertemuan yang seharusnya biasa saja. Ini bukan yang kuinginkan. Abian hadir di dua duniaku yang seharusnya terpisah—malamku dan pagiku, pelarianku dan kehidupanku yang sesungguhnya. Dan itu berbahaya. Aku menarik napas panjang, kembali menatap layar komputer. Aku tidak boleh membiarkannya masuk lebih jauh. Setiap kali aku bertemu dengannya, batas yang kubangun runtuh pelan—seperti halaman buku yang terbuka tanpa sengaja. Ada bagian diriku yang telah lama kupendam, kini berani bersuara, meminta ruang untuk didengarkan. Dan aku tidak tahu apakah aku siap membiarkan seseorang menjadi temanku. — To be continue —
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD