Thalia's POV
Shift berakhir lebih lambat dari yang kuharapkan. Kakiku terasa pegal, senyum profesional terasa berat di wajah. Aku merapikan meja resepsionis, memastikan tidak ada pekerjaan yang tertinggal sebelum benar-benar melepas peran Thalia yang ramah dan profesional itu.
Saat aku melangkah keluar lobby, langit sudah menggelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, memantul di kaca gedung hotel. Aku menarik napas panjang—lega karena hari ini selesai.
"Pulang?"
Suara itu membuat langkahku terhenti.
Aku menoleh, dan tentu saja—Abian berdiri beberapa meter dariku. Jasnya sudah dilepas, hanya kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka. Tidak formal. Tidak setegang pagi tadi.
"Apa Anda tidak lelah muncul terus di hadapan saya?" tanyaku datar, meski suaraku tak setegas yang kuinginkan.
Ia tersenyum kecil. "Saya juga bisa bertanya hal yang sama pada Anda."
"Apa lagi sekarang?" Aku meraih ponsel dari tas, isyarat ingin segera pergi.
"Tenang. Saya tidak berniat mengganggu." Ia berdiri tegak, menjaga jarak. "Hanya berpikir... setelah hari yang panjang, seseorang pantas makan malam yang layak."
"Aku tidak biasa makan dengan tamu hotel," jawabku cepat.
"Beruntungnya, sekarang Anda sudah bukan receptionist." Nada suaranya ringan, hampir menggoda. "Shift Anda sudah selesai."
Aku menghela napas pelan. "Saya lelah, Pak Abian."
Ia mengangguk. "Saya juga."
Ada jeda. Sunyi yang tidak canggung, hanya... jujur.
"Makan sebentar saja," lanjutnya. "Tidak perlu cerita hidup. Tidak perlu janji apa pun. Hanya makan. Wine. Obrolan ringan."
Aku menatapnya. Mencari niat tersembunyi. Tapi yang kutemukan hanya wajah seseorang yang tampak sama letihnya denganku.
"Satu jam," kataku akhirnya. "Setelah itu, saya pulang."
"Kesepakatan yang adil," jawabnya.
Kami makan di restoran hotel—tidak mewah berlebihan, cukup tenang. Lampu temaram. Musik lembut. Segelas wine merah di tanganku terasa seperti hadiah kecil setelah hari yang panjang. Aku menyandarkan punggung, menghembuskan napas perlahan—lelah yang tadinya mengendap di tubuhku kini terasa jinak.
"Aneh," ucapku sambil memutar tangkai gelas di jemari.
"Apa?" tanyanya.
"Biasanya aku tidak betah duduk lama setelah bekerja."
Aku mendengus pelan. "Apa mungkin karena lawan bicaraku tidak banyak bertanya."
Ia tersenyum. "Bukankah itu menyenangkan?"
Aku mengangguk, tanpa sadar.
Kami berbicara tentang hal-hal kecil—tentang kopi yang terlalu pahit, rapat yang membosankan, kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Tidak ada cerita masa lalu. Tidak ada luka. Tidak ada perkenalan yang terlalu dalam.
Dan aku menyukainya.
Wine kedua datang tanpa kami minta. Aku membiarkannya. Malam ini aku tidak ingin terlalu sadar.
Saat kami berdiri, jarak di antara kami terasa lebih dekat dari sebelumnya. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak canggung. Seolah ada kesepakatan diam-diam yang terbentuk sejak lama.
Lift menutup di belakang kami. Sunyi mengisi ruang sempit itu, hanya suara mesin yang bergerak naik. Aku berdiri di sampingnya, menyilangkan tangan di depan tubuh.
"Kau tidak harus ikut," ucapnya tiba-tiba.
Aku menoleh.
"Aku tahu," jawabku jujur.
Tatapan kami bertaut beberapa detik terlalu lama. Tidak ada ajakan terang-terangan. Tidak ada paksaan. Hanya pilihan yang berdiri di antara kami.
Dan aku memilih. Koridor lantai dua puluh satu lengang. Karpet tebal meredam langkah kami. Di depan pintu kamarnya, Abian berhenti—memberiku waktu. Memberiku ruang untuk mundur.
Aku justru melangkah mendekat.
Ia membuka pintu. Aku masuk tanpa banyak kata.
Kamar itu hangat, pencahayaan lembut, jendela besar memperlihatkan lampu-lampu kota yang berkelip seperti rahasia. Aku berdiri di tengah ruangan, melepas heels dengan gerakan lambat. Kakiku terasa bebas.
"Aku tidak berniat membuat ini rumit," kataku akhirnya, memecah sunyi.
Ia mendekat, tapi tetap menjaga jarak.
"Aku juga tidak."
Itu cukup.
Aku yang mendekat lebih dulu. Sentuhan pertamanya lembut—terlalu lembut untuk seseorang yang hanya menginginkan satu malam. Tangannya tidak menuntut, hanya bertanya. Seolah ingin memastikan aku benar-benar ingin berada di sini.
Dan mungkin, itu yang membuat dadaku menghangat.
Malam berjalan tanpa suara yang perlu diberi nama. Kota di balik jendela menjadi cahaya yang jauh, sementara keheningan di kamar itu terasa lebih dekat dari apa pun. Sentuhan Abian tetap lembut—terlalu lembut—dan justru di sanalah pikiranku berkhianat.
Ada kilatan yang datang tiba-tiba.
Tangan yang dulu menggenggam terlalu keras.
Nada suara yang berubah dingin setelah janji manis. Tatapan yang dulu kupuja, lalu perlahan menjadi sesuatu yang kutakuti. Aku teringat bagaimana cinta pernah menamparku berkali-kali—bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan dorongan, bentakan, dan diam yang menyakitkan. Bagaimana kepercayaan yang kuberikan sepenuhnya dibalas dengan pengkhianatan. Kebohongan yang berlapis. Malam-malam di mana aku belajar menahan napas agar tidak menangis terlalu keras.
Dan aku teringat diriku yang hancur—bukan karena ditinggalkan, tapi karena terlalu lama bertahan.
Aku menarik napas pelan, menenangkan tubuhku sendiri.
Jangan terlena, Thalia.
Kehangatan ini bisa menipu. Kelembutan ini bisa sementara. Aku sudah pernah percaya pada sentuhan yang terasa aman—dan berakhir harus membangun diriku dari kepingan yang nyaris tak berbentuk.
Abian tidak tahu.
Ia tidak tahu bagaimana aku pernah mengecilkan diri agar tidak memicu amarah. Tidak tahu bagaimana aku pernah memaafkan hal-hal yang seharusnya membuatku pergi lebih awal. Dan aku tidak ingin ia tahu. Aku tidak ingin malam ini berubah menjadi harapan.
Saat ia mendekat, aku membiarkan—karena malam ini aku memilih untuk hadir, bukan untuk bermimpi. Aku membiarkan diriku menikmati tanpa menggenggam. Memberi tanpa meminta kembali.
Karena dalam kepalaku, ini harus berakhir di sini.
Aku ingin Abian menyimpan rasa penasaran yang cukup untuk berhenti. Aku ingin satu malam ini menjadi penutup, bukan pembuka. Aku memberinya kedekatan dengan harapan esok hari kami bisa kembali menjadi dua orang dewasa yang berjalan di jalur masing-masing.
Aku memejamkan mata, melawan keinginan untuk tinggal lebih lama di ruang aman yang belum tentu nyata. Aku tidak boleh lupa: rasa nyaman tidak selalu berarti aman. Kelembutan tidak selalu bertahan.
Aku telah belajar itu dengan cara paling menyakitkan. Ini hanya satu malam, kataku pada diri sendiri. Satu malam tidak berhak mengubah batas yang telah kubangun. Aku memilih untuk percaya pada jarak, bukan harapan.
Pada kepergian, bukan janji.
Karena jika aku membiarkan diriku jatuh—bahkan sedikit saja—aku tidak yakin aku sanggup bangkit untuk kedua kalinya. Dan malam itu, di kamar hotel yang sunyi, aku tetap terjaga lebih lama dari yang seharusnya. Menjaga diriku sendiri, seperti yang tidak pernah berhasil kulakukan dulu.
Aku membiarkan malam berjalan tanpa hitungan waktu. Tidak ada janji. Tidak ada nama yang perlu diulang. Hanya dua tubuh yang sama-sama lelah, saling memberi jeda dari dunia.
Aku berharap ini cukup.
Tapi ketika aku terbangun sesaat di tengah malam, mendapati lengannya melingkar longgar di pinggangku—bukan menahan, hanya ada—hatiku berkhianat.
Kehangatan itu terasa terlalu aman. Terlalu nyata.
Dan untuk sesaat, aku ingin tinggal lebih lama.
Ingin membiarkan pagi datang tanpa rencana melarikan diri. Namun aku tahu diriku. Aku tidak pandai mempertahankan sesuatu yang terasa baik.
Aku hanya pandai pergi sebelum terlalu dalam.
Aku memejamkan mata, menenangkan diri.
Ini hanya satu malam, Thalia.
Hanya satu malam.
Setidaknya... itulah yang ingin kupercayai.
— To Be Continue —