Silence Morning

1237 Words
Thalia's POV Cahaya matahari menyelinap dari celah tirai, jatuh di sudut ranjang dengan lembut—kontras dengan kekacauan yang berputar di kepalaku. Aku terbangun tanpa alarm, tanpa sentuhan yang membangunkanku, hanya kesadaran yang datang perlahan dan berat. Aku merasakan hembusan napas yang halus menggerakan anak rambut di sisi pipiku. Aku menoleh. Laki-laki itu masih tertidur di sisiku. Napasnya teratur, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang semalam menjadi bagian dari keputusanku yang paling impulsif. Rambutnya sedikit berantakan, satu lengannya terulur tetap menjadi bantal tidurku dengan satu lengan lainnya masih merangkul diriku. Mendekapku tanpa tuntutan yang mengikat. Untuk sesaat—hanya sesaat—aku membiarkan diriku berpikir, Bagaimana jika aku tidak pergi pagi ini? Bagaimana jika aku tetap di sini, memesan sarapan, duduk di tepi ranjang, berpura-pura bahwa ini bukan bentuk lain dari kehancuran yang menunggu giliran. Menyakini ini adalah pelangi yang indah setelah badai yang kulalui selama ini. Dan semua ini menjadi keheningan pagi, tubuh yang terlalu dekat, rasa hangat yang membuatku ingin menutup mata lebih lama. Aku mengulurkan jemariku memberanikan diri untuk menyentuh wajahnya lembut. Tidak untuk membangunkannya, hanya ingin menyentuhnya saja. Ada bagian dalam diriku yang ingin berlama-lama menatapnya, menyimpan wajah itu sebagai kenangan yang lembut. Wajahnya terlihat lebih lucu saat tidur, lebih jujur, seperti seseorang yang tidak sedang menyembunyikan apa pun. Kilat ingatan mengenai sentuhannya semalam, benar-benar membawaku seperti berada di dalam mimpi terindah yang tidak pernah aku rasakan sejak lama. Begitu lembut, berani, dan tidak tergesa-gesa. Seakan memang kenikmatannya tidak egois, tidak seperti laki-laki lain. Ia menguasai diriku dengan cara yang paling aku setujui. Aku tersenyum, ketika dengkuran halus itu keluar darinya ketika aku mengusap bibirnya pelan. Untuk sesaat aku kembali terlena dengan Abian. Dadaku mengencang. Ada perasaan asing yang berusaha tumbuh—hangat, lembut, hampir menyerupai keinginan untuk tinggal. Aku membencinya seketika. Perasaan seperti itu selalu datang sebelum segalanya runtuh. Aku bangkit perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkannya. Menyentuh lantai dingin dengan telapak kaki telanjang membuatku kembali sepenuhnya sadar. Ini nyata. Semalam nyata. Dan justru karena itu aku harus pergi. Sebelum diriku yang dulu kembali terbuai akan kelembutan yang palsu—yang bermaksud, bersandiwara. Walau sebagian diriku sudah mulai berisik, berharap bahwa Abian tidak sama dengan lainnya. Aku mengumpulkan pakaianku satu per satu. Kemeja. Rok. Heels. Semua kulakukan tanpa suara. Tanpa menoleh lagi. Karena jika aku menoleh, aku tahu—aku mungkin akan tinggal. Di kamar mandi, aku menatap bayanganku di cermin. Mata sedikit sembab, wajah pucat, tetapi ekspresiku kembali datar. Perempuan yang menatap balik adalah versi diriku yang paling sering kupakai: tampak bebas, berani, tanpa tuntutan, seolah tidak ada apa pun yang mampu menyentuhnya terlalu dalam. Padahal aku tahu kebenarannya. Aku bebas dalam tubuh, tapi jiwaku masih terikat pada masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi. Di dalam diriku masih ada jeruji yang tak kasatmata. Trauma yang membentuk caraku mencintai—atau lebih tepatnya, caraku menghindari cinta. Aku ingat bagaimana dulu aku percaya bahwa cinta adalah tentang bertahan. Tentang memaafkan. Tentang menutup mata agar tidak kehilangan seseorang. Aku masih ingat dengan jelas, tangan yang dulu menggenggamku terlalu lembut justru yang melepaskan sangat keras. Suara pintu terbuka dengan pelan, namun, tertutup dengan berisik. Nada marah yang memanggil namaku seperti tuduhan. Tangan yang dulu kucari kehangatannya, berubah menjadi sumber rasa takut. Aku ingat bagaimana aku belajar membaca suasana dari langkah kaki. Bagaimana aku mengecilkan suara tawaku, menahan tangisku, menelan harga diriku sendiri agar tidak memicu amarah. Aku ingat bagaimana cinta yang lembut, tenang, perlahan berubah menjadi palsu, penuh kontrol, lalu menjadi hutang yang harus kubayar karena aku pikir—itulah harga dari dicintai. Aku menghela napas panjang, dan membasuh wajahku. Memulihkan kesadaran, membuang pikiran yang mengusik. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Bisikku dalam hati berulang agar diriku kembali ingat bahwa tidak ada yang benar-benar indah di dunia ini. Aku kembali ke kamar, setelah selesai merapihkan diri. Mengambil tasku dan ponselku. Aku sempat menoleh sekali—Abian bergeser dalam tidurnya, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Saat itulah mataku tak sengaja tertuju pada ponsel Abian yang bergetar di atas nakas, layarnya menyala pelan. Satu notifikasi masuk. Aku tidak berniat melihatnya—sungguh. Tapi nama pengirim itu muncul terlalu jelas untuk diabaikan. Fiancé. Begitulah yang tertulis di layar. Dadaku seperti dihantam sesuatu yang berat. Pesan singkat itu muncul jelas, terlalu jelas, terlalu pagi. "Mas, kamu sudah bangun? Jangan lupa hari ini kita makan siang dengan Mama." Aku tidak berniat membacanya. Tidak seharusnya. Tapi mataku sudah terlanjur menangkap semuanya. Aku tersenyum kecil—senyum pahit yang hanya muncul ketika dugaanku terbukti benar. Rasa hangat itu runtuh. Keraguan itu padam. Keinginanku untuk tinggal berubah menjadi keyakinan untuk pergi. Lihat? batinku berbisik. Kau hampir lupa siapa dirimu. Aku tertawa kecil. Pahit. Pendek. Hampir tidak terdengar. Tentu saja, ia sama dengan laki-laki lainnya. Ia hanya lebih rapi. Lebih tenang. Lebih pandai membuat hal terasa istimewa tanpa benar-benar bermaksud demikian. Aku sudah menduganya sejak awal. Perasaan penyangkalan yang tidak pudar di hati kecilku terbukti benar. Pesan itu jawabannya, membuktikan hal yang kini membuat aku yakin. Abian tidak berbeda. Aku tidak marah. Aku tidak sedih. Aku hanya... lelah. Lelah menjadi perempuan yang selalu datang di sela-sela hidup orang lain. Lelah menjadi jeda, bukan tujuan. Semua laki-laki selalu punya wajah yang sama. Lembut di awal, tenang di permukaan, tapi menyimpan kebohongan yang rapi. Satu malam bersamaku hanyalah sesuatu yang ingin para mereka nikmati dalam sembunyi. Bagi mereka, aku adalah pelarian kecil dari hidup yang sudah mulai membosankan. Termasuk Abian, yang sempat ku nilai berbeda. Aku mengambil tasku, memastikan tidak ada satu pun barang tertinggal. Tidak ada catatan. Tidak ada pesan. Tidak ada jejak. Mempertahankan diri terkadang berarti meninggalkan sesuatu yang nyaris membuatmu ingin tinggal. Dan aku berhasil menyelamatkan diriku lagi kali ini. Di dalam mobil, aku duduk diam beberapa menit sebelum menyalakan mesin. Tanganku gemetar sedikit, tapi wajahku tetap datar. Aku tidak menangis. Aku sudah kehabisan air mata untuk hal-hal seperti ini. Aku hanya kesal. Mengutuk diriku yang hampir saja memasuki lubang yang sama. Kota masih setengah terjaga, lampu-lampu jalan menyala malas, seperti enggan menyaksikan seseorang yang kembali dengan kepala penuh dan hati berisik. Perjalanan pulang terasa lebih panjang. Lampu merah berganti hijau tanpa benar-benar kusadari. Kepalaku penuh dengan satu kesimpulan yang terasa aman karena menyakitkan: Abian hanya menginginkan satu malam. Dan aku memberikannya sebagai penutup pertemuan kami yang indah. Tetapi tidak cukup indah untuk dikenang. Aku memarkir mobil, masuk ke apartemen, lalu menutup pintu tanpa suara. Sepatu kulepas sembarangan. Tas kutaruh begitu saja di sofa. Aku berdiri di tengah ruang tamu yang gelap. Hanya aku, dan pikiranku sendiri—kosong. Perlahan, entah dari mana pemicunya, Abian muncul tanpa izin. Cara ia mendengarkan. Cara ia tidak memaksaku menjadi apa pun. Cara keheningan bersamanya tidak terasa kosong. Aku menggeram pelan, kesal pada diriku sendiri. "Berhenti," bisikku. Aku tidak suka mengingat detail. Aku tidak suka menyimpan potongan-potongan kecil yang bisa tumbuh menjadi sesuatu. Aku sudah lama melatih diriku untuk tidak peduli, untuk tidak membawa pulang siapa pun selain tubuh yang lelah. Tapi pagi ini, aku membawa pulang perasaan. Dan itu membuatku marah. Aku mengatur napas dengan gusar dan menyelipkan tawa kecil, getir. Aku tidak boleh membiarkan ini berlanjut. Tidak boleh memberi ruang. Tidak boleh memberi makna. Karena setiap kali aku mulai goyah, aku ingat bagaimana rasanya hancur saat percaya. Besok, aku akan kembali menjadi Thalia yang biasa. Tenang. Dingin. Tidak terpengaruh. Namun jauh di dalam d**a, ada sesuatu yang bergerak pelan—belum bernama, tapi cukup kuat untuk membuatku sadar satu hal: Aku tidak lagi sepenuhnya kebal. Dan itu menakutkan. — To be continue —
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD