Avoid

1207 Words
Author's POV Abian terbangun oleh cahaya pagi yang menyusup dari sela tirai hotel. Bukan itu yang membuatnya sadar sepenuhnya, melainkan kekosongan di sisi ranjang. Tangannya bergerak refleks, menyentuh seprai yang sudah dingin. Tidak ada tubuh lain. Tidak ada napas pelan. Tidak ada aroma samar yang semalam memenuhi ruang ini. Thalia sudah pergi. Ia duduk, menyandarkan punggung ke sandaran kepala ranjang. Perasaan itu datang lagi—perasaan gusar yang sudah terlalu akrab baginya. Bukan kehilangan, bukan penyesalan. Hanya ketidaktenangan. Rasa tidak stabil. Nyaris hampa yang tidak bisa ia jelaskan pada siapa pun. Namun, perasaan itu melunak saat Thalia ada disekitarnya. Sejak saat pertama. Entah bagaimana, ada ketenangan yang selalu singgah saat Thalia di dekatnya—hangat, hening, tanpa tuntutan—lalu menghilang begitu saja saat Thalia tidak di sana. Ia mengusap d**a dan mengatur nafasnya. Agak sesak, tetapi masih tertahan. Abian menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berdiri, membuka tirai sepenuhnya. Kota terlihat sibuk di bawah sana. Dunia berjalan normal, seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Abian meraih ponselnya dari atas nakas. Layarnya menyala. Sebuah notifikasi masuk dengan nama kontak yang mengingatkan dirinya bahwa ia sudah terikat. Senyum kecil muncul, refleks. Kebiasaan. Tapi dadanya tidak menghangat. Ia menyayangi perempuan itu. Ia peduli. Ia menghargai semua yang telah mereka bangun bersama. Namun rasa itu yang seharusnya membuatnya yakin tidak pernah benar-benar hadir. Bukan karena kini ia ada perempuan lain. Bukan karena Thalia. Melainkan memang sejak awal, Abian tidak pernah sepenuhnya yakin akan perasaannya. Ia hanya terus melangkah karena semua orang menganggap itu wajar. Karena sudah terlalu jauh untuk berhenti. Karena membatalkan terasa lebih menyakitkan daripada melanjutkan sesuatu yang setengah hati. ~~~ Restoran itu tenang, terlalu tenang untuk sebuah pertemuan perencanaan menjelang pernikahan. Interiornya elegan, pencahayaan lembut, pelayan bergerak dengan senyum profesional. Semuanya tampak sempurna. Abian duduk berhadapan dengan Clara, tunangannya. Perempuan itu mengenakan gaun krem sederhana, riasannya rapi, rambutnya disanggul anggun. Ia cantik. Selalu begitu. Cantik dengan cara yang aman. Di samping Clara, ibunya duduk tegak, sikapnya formal, sorot matanya tajam namun terkendali. "Abian," sang ibu membuka percakapan sambil melipat napkin di pangkuannya, "bagaimana rapat kemarin?" "Baik, Tante," jawab Abian sopan. "Semuanya berjalan lancar." Clara tersenyum tipis, menyesap air putihnya. "Mas memang selalu bisa diandalkan." Nada suaranya halus, tapi Abian menangkap jeda kecil sebelum kalimat itu keluar. Seperti sedang mengingatkan diri sendiri akan sesuatu yang seharusnya ia yakini. Pelayan datang membawa makanan. Clara tersenyum saat makanan datang dan mengajak pelayan berbincang seakan ia sangat menantikan makanan yang disajikan. Senyum yang Abian kenal luar kepala. Senyum yang selalu muncul saat ia ingin terlihat baik-baik saja. Keheningan kembali menyelimuti meja. Mereka makan dengan tata krama sempurna—tidak ada yang salah, namun juga tidak ada yang benar-benar terasa hidup. "Kamu kelihatan capek," ucap Abian, suaranya lembut, tidak menuntut, tetapi cukup untuk memecah keheningan. Clara menoleh, sedikit terkejut. Ia mengangguk. "Lumayan. Apalagi Jakarta Fashion Week sudah dekat, deadline banyak yang maju." jelas Clara yang merupakan pemilik salah satu brand fashion terbesar di Indonesia. Abian tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya meraih tangan Clara di atas meja, menggenggamnya sebentar. Hangat. Akrab. Gerakan yang sudah mereka lakukan berkali-kali, sampai terasa otomatis. Clara membalas genggaman itu. Tidak kuat. Tidak lemah. Seperti dua orang yang sama-sama butuh pegangan agar tetap berdiri. "Mas juga selalu sibuk," ujar Clara sambil tersenyum kecil. "Sampai aku kadang lupa Mas pernah pulang tepat waktu." Nada bicaranya bercanda, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak terucap. Bukan kecewa—lebih seperti pasrah. Abian tersenyum balik. "Maaf." Satu kata, sederhana. Tidak menyelesaikan apa pun, tapi cukup untuk membuat Clara mengangguk. Ibunya Clara menyeka bibir dengan serbet. "Undangan sudah hampir selesai dicetak," kata sang ibu setelah beberapa saat. "Tanggalnya tidak berubah, kan?" Clara menoleh ke Abian. "Tidak berubah," katanya cepat, sedikit terlalu cepat. Abian mengangguk. "Tidak." Satu kata. Singkat. Aman. Namun di dadanya, ada sesuatu yang mengeras. "Aku hanya berharap kalian berdua benar-benar siap," lanjut sang ibu. "Pernikahan bukan hal kecil. Ini menyatukan dua keluarga." "Tentu," jawab Abian lagi. "Kami siap, ma." Clara menghela napas pelan, hampir tak terdengar. "Kami sudah sejauh ini." Kalimat itu bukan keyakinan. Lebih seperti pengingat. Abian menoleh padanya. Mata mereka bertemu. Dalam sorot itu, ada banyak hal: kenangan, tawa masa lalu, kenyamanan yang dibangun perlahan—dan keraguan yang tak pernah benar-benar pergi. "Aku tahu," kata Abian lirih. Clara tersenyum tipis. "Aku juga." Mereka kembali makan. Diam, tapi bukan dingin. Hening yang dipenuhi rasa saling memahami tanpa mampu memperbaiki apa pun. Tidak ada nada protes. Tidak ada tuntutan. Justru itulah yang membuat Abian merasa semakin tertekan. Semua terasa... datar. Seperti peran yang dimainkan dengan sempurna, tapi tanpa jiwa. Clara memotong dagingnya perlahan, lalu melirik Abian sambil tersenyum kecil. Ia berdeham, "Mas ingat nggak," katanya ringan, "dulu kita paling sering makan siang cuma berdua, asal ada waktu." Abian mengangguk. "Iya. Bahkan kadang cuma ketemu 10 menit untuk minum kopi." Clara tertawa kecil. "Dan Mas selalu bilang, yang penting ada aku." Abian tersenyum tipis. "Aku masih berpikir begitu." Jawaban itu jujur—dan justru itulah yang membuat Clara terdiam sesaat. "Aku cuma berharap," katanya pelan, nada suaranya tetap hangat, "kita nanti nggak cuma sibuk bareng. Tapi... tetap merasa dekat." Kalimat itu sederhana. Tidak menyebut kata bahagia. Tidak juga mempertanyakan cinta. Namun di baliknya, ada keraguan yang berusaha disembunyikan dengan senyum. Abian membalas dengan senyum. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Clara yang kembali ia genggam, gerakan yang penuh kebiasaan. "Kita selalu dekat," ujarnya, seolah meyakinkan—entah Clara, entah dirinya sendiri. Clara mengangguk, meski sorot matanya mengatakan ia tidak sepenuhnya yakin. "Iya. Kita selalu berusaha." Ibunya Clara tersenyum puas. "Bagus kalau begitu. Kalian pasangan yang cocok. Stabil." Stabil. Kata itu menggantung di udara, berat. Abian menunduk, melanjutkan makanannya tanpa benar-benar lapar. Dalam benaknya, bayangan lain muncul—bukan Clara dengan senyum terlatihnya, melainkan Thalia dengan tatapan waspada, sikap defensif, dan keheningan yang justru terasa jujur. Ia menghela napas pelan. Ia sayang Clara. Ia peduli. Namun cinta—dalam pengertian yang dulu ia pahami—sudah lama menghilang. Yang tersisa hanyalah tanggung jawab, kebiasaan, dan jalan yang terlanjur ditempuh terlalu jauh untuk berbalik tanpa mengguncang banyak hal. Dan itu menakutkan. Abian memperhatikan cincin yang melingkar pada jari manis Clara lebih lama dari yang seharusnya. Pantulan cahayanya terasa terlalu terang di antara jari Clara, seolah mengingatkannya pada sesuatu yang belum pernah ia ucapkan dengan jujur. Ia mengusap punggung tangan Clara sekali lagi, lalu—tanpa sadar—ibu jarinya berhenti tepat di tepi cincin itu. Dingin. Bukan karena logamnya, tapi karena perasaan yang menyertainya. Ada jeda kecil dalam dirinya. Sebuah rasa yang tak bisa ia namai—antara tanggung jawab dan keterasingan. Cincin itu seharusnya menjadi simbol kepastian, namun di dadanya justru muncul tekanan samar, seperti sesuatu yang mengikat terlalu cepat sebelum ia sempat memastikan langkahnya. Abian menarik tangannya perlahan, menyembunyikan kegelisahan itu di balik senyum yang tetap terjaga. Clara tersenyum ke arah ibunya, lalu kembali menatap Abian. "Mas tahu kan," katanya pelan, "aku nggak butuh hal yang berlebihan." Abian menoleh padanya. "Aku tahu." "Aku cuma ingin," lanjut Clara, hampir berbisik, "kita tetap jadi... kita." Abian tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk. "Selalu," katanya akhirnya. Dan untuk sesaat, mereka saling tersenyum— dua orang yang saling sayang, saling menggenggam, namun diam-diam bertanya dalam hati masing-masing apakah pegangan ini cukup kuat untuk masa depan yang mereka jalani bersama. — To be Continue —
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD