Stuck in Between

1320 Words
Thalia's POV Aku mengambil cuti dari hotel. Keputusan itu datang tanpa rapat batin yang panjang. Seolah tubuhku sudah lebih dulu tahu apa yang harus kulakukan, sementara pikiranku tertinggal mencoba mencari pembenaran. Aku tahu Abian masih akan tinggal di hotel itu beberapa hari ke depan, menghadiri rapat yang berlapis-lapis dan makan malam formal yang terlalu rapi untuk perasaan yang tidak karuan. Aku tidak ingin menguji diriku sendiri. Aku tidak ingin berpura-pura profesional sambil berharap tidak ada yang mengingat mengenai malam itu. Club kembali menjadi tempatku berlindung. Tempat di mana aku tidak ditanya terlalu banyak, tidak dituntut menjelaskan apa pun. Musik, cahaya, dan orang-orang yang datang untuk lupa, bukan untuk memahami. Malam itu, aku datang lebih awal. Duduk di ujung bar, memandangi bartender yang sibuk, mengamati ritme yang sudah sangat kukenal. Tidak untuk bekerja, tidak untuk mengawasi. Hanya ingin duduk, minum, dan membiarkan musik melakukan apa yang tidak bisa kulakukan: menenggelamkan pikiran. "Sendirian aja?" Suara yang sangat aku kenal datang dari arah kanan. Aku menoleh, dan seperti biasa, senyum kecil otomatis terbit di bibirku. "Gheo," gumamku. Ia berjalan ke arahku santai, menyimpan jaket kulit hitam yang dipakainya ke kursi sebelahku, menampilkan kaos putih membingkai tubuhnya yang maskulin. Tato di lengannya terlihat jelas, garis-garisnya tegas seperti caranya menjalani hidup—tidak banyak ragu, tapi tahu kapan harus berhenti. Aku berdiri dari dudukku dan menyapanya dengan pelukan. "Ghyta," nada suaranya ringan. "Kangen ya?" tanyanya lalu membalas pelukanku. "Lo kali, tapi gue juga sih, dikit." jawabku lalu melepaskan pelukan itu. Ia tersenyum dan mencubit pipiku pelan. Kali ini aku membiarkannya dan hanya mengusap pipiku pelan setelah ia melepaskan cubitannya. "Hmm.. lagi kenapa sih? Katanya kangen dikit aja, tapi kok kayak yang galau banget?" ucapnya lalu duduk di sebelahku. "Sok tau ah" jawabku singkat. Ia terkekeh, "Biasanya kalo lo lagi gini, sendirian, terus diapain aja diem, berarti lagi ada yang berisik di sini." Jawabnya menunjuk kepalaku. Aku berdecak kecil seolah menyangkal tebakannya yang benar. "Sok peka." "Jangan sebut gue pengagum rahasia lo kalau gini aja ga peka," balasnya santai. Gheo bukan orang yang asing bagiku. Kami pernah berbagi satu malam yang cukup jujur untuk membuatnya berharap lebih, dan cukup singkat untuk membuatku mundur. Ia pernah mengatakan perasaannya tanpa drama, tanpa tekanan. Dan aku menolaknya tanpa berbohong. Sejak saat itu, kami tidak pernah sepenuhnya menjauh. Tapi juga tidak pernah kembali ke titik semula. "Masih suka minuman itu, kan?" tanyanya setelah memberikan isyarat ke bartender. Ia memesan tanpa perlu bertanya dan memberikan penjelasan panjang. Tempat ini sudah terlalu akrab untuk tau apa yang biasa ia pesan dan apa yang selalu ia pesankan untukku. Minuman custom yang ia RnD sendiri di Bar ini, khusus untukku. "One of my favorite." jawabku, ia tersenyum pahit. "Yah, setidaknya ada bagian dari gue yang jadi favorit lo." ucapnya lalu bersandar pada kursinya. Aku tidak menjawab dan memilih untuk bersandar pada sandaran kursiku juga. Kami duduk berdampingan. Bahunya dekat dengan lenganku, cukup dekat untuk terasa hangat, tapi tidak pernah menyentuh. Seperti selalu. Seperti kesepakatan tak tertulis yang kami jaga bersama. "Lo nggak ke hotel?" tanyanya sambil mendorong gelas ke arahku. Aku menggeleng. "Cuti." "Serius?" Ia melirikku, alisnya naik sedikit. "Lo jarang cuti." "Makanya sekarang." jawabku lalu menyesap minuman. "Kenapa?" Aku mengangkat bahu. "Capek." Ia menatapku beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu mengangguk pelan. Seakan sudah tau, aku tidak berkenan untuk diulik lebih jauh. Aku kembali menyesap minuman. "Gimana Bali? Asik ga?" "Selalu asik, bebas, tapi hampa, ga ada lo soalnya," balasnya sambil tersenyum kecil. "Ciaelah, itu gombalan kelas empang banget.."celetuk Head Barterderku, Dito, yang muncul entah dari mana. "Wah," katanya, matanya bolak-balik ke kami. "Ini gue dateng di momen yang salah atau tepat?" "Selalu salah," jawab Gheo singkat lalu menyesap minumannya. Aku tertawa pelan. "Lo nggak ada kerjaan?" "Ada," Dito menunjuk kami. "Mengawas." "Mengawas apa?" tanyaku. "Kalian berdua," katanya serius. "Soalnya kalo gue tinggal bentar, auranya kayak adegan sebelum confesion di drama Korea. Makanya gue selalu datang, biar adegan tolak menolak ga kejadian lagi." Aku melempar tatapan tajam. "Dito." "Aman, aman," ia mengangkat tangan. "Gue cuma bercanda. Dikiiit." Gheo menggeleng pelan. "Mulut lo nggak ada remnya." "Justru itu pesona gue." Dito pergi sambil tertawa sendiri. Aku menghela napas, lalu tertawa kecil. Tawa canggung, tidak enak hati dengan Gheo. "Dia selalu begitu," kataku. "Bikin hidup rame," sahut Gheo. Kami kembali diam, menikmati musik. Aku menyadari betapa nyamannya keheningan bersama Gheo. Tidak ada tuntutan untuk membuka luka, tidak ada paksaan untuk bercerita. "Lo inget nggak," katanya tiba-tiba, "malam kita ketemu?" Aku menoleh. "Yang mana?" Dia tertawa kecil. "Berarti lo inget lebih dari satu." "Ya, kan, emang lebih sering ketemu malam daripada siang. Ini juga malam.." jawabku lalu memutar kursi menghadapnya. "Jadi, yang mana?" "Hmm.. yang lo tipsy, terus ketiduran dipelukan gue." jawabnya mengadah ke atas seakan memutar kembali ingatan itu dipikirannya. Aku tahu malam yang ia maksud. Satu malam yang tidak pernah kami ulangi. Satu malam yang membuatnya berharap lebih, dan membuatku sadar aku tidak bisa memberi apa yang ia inginkan, yaitu balasan perasaan. "Terus gue bisikin," katanya pelan, "kalo gue jatuh cinta sama lo." Aku menghela napas. "Gheo—" "Tenang," potongnya cepat. "Gue nggak nyesel." Aku menatapnya. "Bohong." "Enggak," katanya pelan. Ia menatap gelasnya. "Gue pernah bilang gue jatuh cinta sama lo. Dan gue beneran jatuh. gue tau lo nggak bisa balas. Tapi itu bukan berarti gue harus pergi. Yang penting gue tau batas.." Kalimat itu jatuh ringan, tanpa drama. Justru itu yang membuat dadaku sesak. "Lo nggak takut nyakitin diri sendiri?" tanyaku. Ia tersenyum kecil. "Takut. Tapi gue lebih takut nyesel kehilangan momen kayak gini sama lo." Aku tidak tahu harus menjawab apa. Di balik tampilannya yang nakal, Gheo adalah orang yang sangat tau bagaimana menjaga sikap bahkan perasaan. Aku pun tidak tau, kenapa aku tidak bisa jatuh hati saja pada laki-laki sebaik Gheo. Justru, terlibat perasaan dengan orang yang akan menikah. Jam semakin malam. Aku berdiri, mengambil jaketku pada sandaran kursi sebelum pikiranku kembali memikirkan Abian. "Pulang?" tanyanya dan ku jawab dengan anggukan. Ia berdiri dan meninggalkan beberapa lembar uang di meja bar lalu mengenalan jaketnya. "Gue anter." Kami berjalan keluar. Udara malam menyambut kami. Kami berjalan berdampingan menyusuri suasana malam Jakarta sembari Gheo menceritakan pengalaman liburannya ke Bali. Bagaimana kacamata kesayangannya di ambil monyet saat berkunjung ke pura dan kejadian lucu lainnya. Di depan lift apartemenku, kami berhenti. Gheo berdiri di depanku. Dekat. Sangat dekat. Aku bisa melihat harapannya masih ada di sana—bukan nafsu, bukan tuntutan. Hanya keinginan sederhana untuk tinggal sedikit lebih lama. Ia mengeluarkan tangannya dari saku jaket dan memperlihatkan gelang mutiara dengan gantungan kerang kecil di dekat pengaitnya. "Oleh-oleh spesial," katanya lalu mengenakan gelang tersebut pada pergelangan tangan kananku. Aku tersenyum. "Cantik." Ia tersenyum bangga lalu kembali memasukkan tangannya pada saku jaket, "Itu gue yang buat, custom." "Terima kasih ya.." ucapku lalu mencubit kedua pipinya gemas. Pintu lift terbuka. Dan di sanalah Abian berdiri. Tatapan kami bertemu. Lalu tatapannya bergeser ke Gheo. Udara di antara kami berubah, mengeras tanpa suara. "Thalia," ucapnya. Aku menelan ludah, lalu menarik tanganku dari pipi Gheo. "Abian." Gheo menoleh ke aku, lalu ke Abian. Sikapnya santai, tapi tubuhnya sedikit maju—refleks yang tidak ia sadari. "Siapa?" tanya Gheo, suaranya tenang. Namun aku tidak mampu untuk menjawab pertanyaan itu. Terlalu sulit untuk mendeskripsikan siapa Abian di hidupku. Abian melangkah keluar dari lift, matanya tetap menatapku seolah ada banyak pertanyaan yang tertahan. Aku menggenggam tangan Gheo reflek dan berlindung di balik tubuh tingginya, seperti pacar yang ketahuan selingkuh. "Abian, tamu Thalia di hotel dan club, kebetulan gue tinggal di sini." ucap Abian mengulurkan tangan kepada Gheo memperkenalkan diri. Gheo menjabat tangan itu, "Gheo, mungkin nanti kita akan sering ketemu, karena gue cukup sering berkunjung ke sini." Tidak ada senyum berlebihan. Tidak ada basa-basi. Tapi aku tahu, ini bukan sekadar perkenalan. Aku berdiri di antara dua laki-laki yang menginginkanku dengan cara berbeda. Yang satu menyentuh tanpa banyak janji. Yang satu menahan diri dengan terlalu banyak rasa. Dan aku—masih belum tahu mana yang lebih aman untuk hatiku. -To Be Continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD