Author POV
Lampu apartemen Thalia menyala redup, hanya menyisakan cahaya kuning hangat yang jatuh ke sudut-sudut ruangan. Malam sudah lewat tengahnya ketika pintu tertutup perlahan di belakang mereka. Suara kunci berputar singkat, lalu sunyi mengambil alih.
Gheo berdiri tak jauh dari pintu, menyandarkan punggungnya sebentar sebelum melepas jaket. Tatapan matanya menyapu ruangan kecil itu dengan cepat—bersih, rapi, terlalu tenang untuk perempuan yang hidupnya tak pernah benar-benar tenang.
"Lo yakin nggak mau makan dulu sebelum gue pulang?" tanyanya santai, berusaha terdengar biasa.
Thalia menggeleng sambil melepaskan sepatu, meletakkannya rapi di dekat rak. "Nanti aja. Gue capek."
Nada suaranya datar, tapi Gheo mengenal perempuan itu cukup lama untuk tahu: Thalia sedang menahan sesuatu. Dan itu bukan sekadar lelah.
Ia duduk di sofa tanpa diminta, menyilangkan kaki. "Capek karena kerja, atau karena pikiran?"
Thalia melirik sekilas, lalu berjalan ke dapur. "Lo kebanyakan mikir."
"Karena lo jarang mau cerita, tiba-tiba berubah aja." balas Gheo ringan.
Thalia tersenyum tipis, menuangkan air ke gelas. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
Gheo memperhatikannya dalam diam. Cara Thalia bergerak malam ini berbeda—lebih hati-hati, seperti seseorang yang baru saja menyentuh api dan masih merasakan panasnya. Ada nama yang tidak ia ucapkan, tapi terasa menggantung di udara.
"Cowok di lift tadi," ucap Gheo akhirnya. "Yang jas rapi itu."
Tangan Thalia berhenti sepersekian detik sebelum kembali bergerak. "Kenapa?"
"Lo jarang kelihatan kaget ketemu sama orang," katanya pelan. "Tapi tadi, lo kayak orang yang lagi ketahuan selingkuh."
Thalia membawa gelasnya ke sofa, duduk dengan jarak aman. "Ya kaget, lagi mesra tiba-tiba keciduk tamu di tempat kerja."
Gheo tertawa kecil. "Oh, jadi tadi kita lagi mesra-mesraan, ya?"
"Gausah nagih ya, cukup tadi aja." Ia mengatakannya santai tapi tegas. Seakan memperjelas kembali garis pembatas yang sempat samar.
Gheo mengangguk, seolah menerima. Tapi matanya tetap mengamati. Ia tidak mendorong. Tidak pernah. Sejak dulu, batas Thalia adalah sesuatu yang ia hormati, bahkan ketika hatinya sendiri sering lupa cara menjaga jarak.
"Oke," katanya akhirnya. "Gue cuma mau pastiin aja."
Thalia menyesap airnya. Untuk sesaat, bahunya sedikit mengendur.
Mereka terdiam. Hanya suara pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terdengar. Gheo bersandar, lengannya terlipat, tatapannya tak lepas dari Thalia yang kini memejamkan mata, kepalanya bersandar ke sandaran sofa.
"Tidur aja," ucapnya pelan.
"Mager ah ke kamar," gumam Thalia setengah sadar. Lalu merebahkan tubuhnya pada sofa, meringkuk seperti anak kecil. Gheo tersenyum.
"Gue ambilin selimut," jawab Gheo cepat.
Ia bangkit, mengambil selimut tipis dan guling dari kamar thalia, menyelubungkannya ke tubuh Thalia dengan hati-hati, lalu menyelipkan guling untuk Thalia peluk. Tidak menyentuh kulitnya lebih dari yang perlu. Tidak mencoba apa pun.
Ia duduk di bawah beralaskan karpet bulu yang halus, merebahkan kepalanya pada sofa dan menatap Thalia, memastikan napasnya sudah teratur, wajahnya tenang dalam tidur. Ada rasa hangat yang menyelusup ke dadanya—perasaan ingin tinggal lebih lama, tapi tahu harus pergi.
Gheo mengatur suhu pendingin ruangan menjaga agar Thalia tidak kedinginan lalu berdiri mengambil jaketnya kembali.
"Tidur yang nyenyak," bisiknya, nyaris tak terdengar. Ia mengecup telapak tangannya lalu mengusapkannya pelan pada puncak kepala Thalia pelan. Berharap kecupan tidak langsung itu akan menjaga perempuan yang mengisi hatinya beberapa tahun terakhir itu dari mimpi buruk.
Gheo pulang dengan senyuman.
~~
Di sisi lain, Abian tidak langsung kembali ke hotel malam itu. Ia berkendara tanpa tujuan jelas, membiarkan mobilnya mengikuti jalan-jalan kota yang sepi menjelang dini hari. Lampu merah, lampu hijau, semua terasa sama saja. Yang berbeda hanya isi kepalanya—penuh, bising, dan tidak mau diam.
Wajah Thalia terus muncul.
Bukan Thalia di club, bukan Thalia di balik meja receptionist dengan senyum profesionalnya. Yang menghantuinya adalah Thalia yang berdiri di depan lift apartemen tadi. Tersenyum lepas dan tidak sendirian.
Abian menepikan mobil, mematikan mesin, lalu bersandar di kursi pengemudi. Tangannya naik menutupi wajah, menekan pelipisnya yang berdenyut. Ia menghela napas panjang, napas seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu yang seharusnya sudah diucapkan.
Satu malam.
Itu yang Thalia lihat darinya.
Satu malam yang, di mata Thalia, mungkin tidak ada bedanya dengan laki-laki lain. Padahal tidak pernah seperti itu di kepalanya. Ia tidak berniat menjadikan Thalia pelarian. Tidak pernah berniat menjadikannya cerita singkat yang selesai di pagi hari. Justru sejak pertemuan pertama itu—Abian tahu, ia telah melakukan kesalahan besar. Hatinya berdenyut kembali, hangat, dan tenang, yang secara tidak langsung berarti ia berkhianat dari tunangannya, Clara.
Nama itu datang dengan rasa yang jauh lebih berat.
Ia bersandar ke kursi, menatap langit-langit mobil. Bayangan Clara muncul bukan sebagai perempuan yang buruk—justru sebaliknya. Clara baik. Terlalu baik. Selalu ada di sisinya sejak awal, sejak masa-masa Abian belum menjadi apa-apa. Ia tahu kebiasaan Abian, tahu caranya diam, tahu kapan harus menggenggam tangan Abian di depan keluarganya.
Namun di situlah masalahnya.
Clara mengenal Abian. Tapi ia tidak lagi membuat Abian merasa hidup.
Abian mengingat makan siang bersama Clara dan ibunya. Cara Clara tersenyum sambil menggenggam cincin itu. Cara ia berbicara tentang masa depan dengan nada hati-hati, seolah keduanya sama-sama takut pada kata "selamanya", namun terlalu lelah untuk mundur.
Abian menghela napas panjang, disitulah ia terjebak.
Abian menatap ke luar kaca mobil. Kota masih terjaga, tapi ia merasa sendirian. Keraguannya pada Clara bukan datang tiba-tiba, bukan pula semata karena rasa cinta yang memudar. Ada sesuatu yang lebih dalam—lebih sunyi—yang selama ini ia simpan sendiri.
Clara tidak pernah membutuhkan Abian.
Bukan dalam arti yang menyedihkan, melainkan dengan cara yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Sejak awal, Clara selalu bisa berdiri sendiri. Mengambil keputusan sendiri. Menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia tidak pernah menjadikan Abian sandaran, tidak pernah benar-benar membuka ruang bagi Abian untuk hadir sebagai laki-laki yang melindungi, menjaga, atau bahkan sekadar merasa dibutuhkan. Bahkan, ia tidak pernah melibatkan Abian dalam apapun yang ia hadapi.
Setiap kali Abian ingin turun tangan, Clara selalu lebih dulu melangkah.
"Aku bisa," itu kalimat yang paling sering ia dengar darinya.
Kalimat sederhana, tapi perlahan mengikis nalurinya. Naluri untuk menjadi tempat pulang. Naluri untuk merasa berguna. Naluri untuk menjadi laki-laki, bukan sekadar pasangan yang berjalan berdampingan tanpa saling menopang.
Abian tidak pernah membenci Clara karena itu.
Ia justru mengaguminya. Namun kekaguman itu berubah menjadi jarak yang tidak pernah mereka bicarakan. Di sisi Clara, Abian belajar untuk mengecilkan dirinya sendiri. Menjadi tenang. Aman. Tidak banyak bertanya. Tidak banyak menginginkan. Ia hadir, tapi tidak pernah benar-benar dibutuhkan.
Dan lama-kelamaan, ia berhenti mencoba.
Perasaan itu kontras menyakitkan ketika ia mengingat Thalia.
Bersama Thalia, Abian tidak pernah diminta menjadi apa-apa—namun justru ingin menjadi segalanya. Ada kerapuhan yang tidak memohon, tapi mengundang. Ada keindahan yang tidak minta diselamatkan, tapi membuatnya ingin tinggal.
Ia ingin menggenggam tangan Thalia bukan karena harus, melainkan karena nalurinya bergerak tanpa diminta.
Kesadaran itu membuat dadanya berdenyut.
Ia merasa bersalah karena membandingkan. Namun perbandingan itu tidak bisa dihentikan. Bersama Clara, ia berdiri sejajar. Bersama Thalia, ia merasa hidup, berfungsi, hadir.
Abian mengusap wajahnya kasar.
Mungkin inilah yang paling menakutkan—bukan kehilangan cinta, melainkan kehilangan peran.
Ia tidak ingin menjadi pahlawan.
Ia hanya ingin dibutuhkan, walau sedikit.
Dan Clara, dengan segala yang ia miliki, tidak pernah memberi ruang itu.
Abian menarik napas panjang, seolah mencoba menenangkan gelombang di dadanya. Dan di tengah kebimbangan itu, Abian akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini ia bantah—
Keraguannya pada Clara bukan karena Thalia datang. Thalia hanya membuatnya berani menatap keraguan itu lebih dekat.
Ia belum tahu apa yang akan ia lakukan.
Belum tahu kepada siapa ia harus jujur lebih dulu.
Namun satu hal tidak bisa ia pungkiri:
ia tidak ingin mundur dari keduanya.
Terdengar sangat egois, namun ia masih terlalu takut untuk mengambil resiko.
-To be Continue-