Be a Friend

1363 Words
Thalia's POV Aku tidak menyangka ia akan benar-benar berani untuk datang menemuiku dengan sengaja. Sore itu, aku baru saja keluar dari ruang kantor club dengan gelas di tangan. RND hari ini menguras energiku lebih dari biasanya. Kepalaku penuh angka, rasa, dan keputusan-keputusan kecil yang menuntut fokus. Aku hanya ingin pulang, mandi, lalu mengurung diri dalam sunyi yang aman. Namun langkahku terhenti. Abian berdiri di dekat bar yang masih sepi, dengan setelan jas rapi seperti saat ia berdiri di lobby hotel. Jas itu membingkai tubuhnya dengan terlalu sempurna, seolah ia memang tidak pernah cocok berada di tempat seperti ini—dan justru karena itu, kehadirannya terasa begitu nyata. Aku menelan ludah. Ia tidak terlihat seperti laki-laki yang datang untuk bersenang-senang. Tidak duduk. Tidak memesan minum. Ia hanya berdiri, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, sorot matanya tenang tapi penuh sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan. Seakan memang menungguku. "Thalia." Namaku keluar dari bibirnya dengan nada rendah dan hati-hati. Tidak mendesak. Tidak ragu. Tapi cukup untuk membuatku berhenti sepenuhnya. "Abian," balasku singkat. Kami berdiri berhadapan, dengan jarak aman yang sengaja kujaga. Ada jeda di antara kami—ruang kosong yang dipenuhi kenangan satu malam yang tidak kami sebutkan, tapi sama-sama kami simpan. "Aku nggak akan lama," katanya akhirnya. "Aku cuma mau ngobrol sebentar, kalau kamu berkenan." Aku mengangguk pelan. "Silakan." Ia menarik napas, lalu melangkah sedikit mendekat. Tidak melewati batas. Gerakan kecil itu tak luput dari perhatianku, dan entah kenapa, justru membuatku sedikit lebih tenang. "Aku Abian Putra Ramma," katanya, seolah kami baru bertemu hari ini. "Kerja sebagai konsultan keuangan dan manajemen. Lagi pegang beberapa proyek. Salah satunya... di hotel tempat kamu kerja." Aku menahan senyum tipis. "Aku tahu kamu masih akan di sana beberapa hari." Ia mengangguk. "Itu sebabnya aku menyempatkan ke sini hari ini. Sebelum kembali kesana." "Ada urusan apa?" tanyaku. "Untuk urusanku," jawabnya. Aku mengerutkan kening, tidak mengerti maksudnya. Abian menatapku tanpa tekanan. Tatapannya seperti seseorang yang akhirnya berani menghadapi sesuatu yang dihindari lama. "Aku nggak datang buat mengulang apa pun," katanya pelan. "Dan aku juga nggak datang buat menuntut penjelasan dari kamu yang pergi tanpa pamit hati itu." Jantungku berdetak lebih cepat. "Aku cuma merasa... satu malam itu terlalu singkat untuk ditinggalkan tanpa konteks," lanjutnya. "Dan terlalu berarti buat aku untuk dianggap kebetulan." Aku menunduk sesaat, mengatur napas. "Abian," ucapku akhirnya, "apa pun yang terjadi malam itu—" "Aku tidak mau menganggap itu bukan apa-apa," potongnya cepat, lalu berhenti sejenak. "Dan itu yang mau aku perbaiki." Ia mengusap tengkuknya, gestur kecil yang menunjukkan kegugupan yang jarang terlihat darinya. "Hidupku lagi nggak rapi," katanya jujur. "Ada keputusan yang belum selesai. Dan aku sadar, datang ke kamu dengan kondisi seperti itu... nggak adil." Aku mengangguk pelan. Sebagian dari itu sudah kuduga. "Tapi aku juga nggak mau bohong," lanjutnya. "Aku ingin kenal kamu. Bukan Thalia di club. Bukan Thalia di hotel. Tapi kamu—seadanya." Aku terkekeh kecil, hambar. "Itu permintaan yang berat dan rumit." "Justru itu," katanya. "Aku mau jadi teman." Kata itu menggantung di udara. Teman. Kata yang terdengar aman, tapi sering kali paling berbahaya. Aku menatapnya lama, mencoba membaca niat apalagi yang ia sembunyikan di balik ketenangannya. Ingatanku melayang pada hangat tubuhnya, caranya memeluk tanpa tergesa, caranya tidak menuntut apa pun. Tapi luka-lukaku ikut bicara—luka yang membuatku memilih pergi sebelum berharap. "Aku nggak mau mengulang kesalahan," kataku jujur. "Dan aku nggak mau jadi pelarian siapa pun." "Kamu bukan pelarian," jawabnya cepat. "aku tidak akan lari kepadamu hanya ketika ada masalah." Aku menarik napas panjang. "Aku juga nggak mau masuk ke hidup seseorang yang terikat," lanjutku. "Dan aku tahu hidup kamu belum sepenuhnya bebas." Ia mengangguk. Tidak menyangkal. "Itu sebabnya aku cuma ingin jadi teman," katanya pelan. "Kalau kamu mau. Kalau kamu siap." Aku menutup mata sejenak. "Kenapa aku?" Aku lelah. Tapi aku juga tidak bisa sepenuhnya membohongi diri sendiri—ada sesuatu di hadapanku yang terasa berbeda. Aku membuka mata, menatapnya. Ia maju melangkah lebih dekat, "Kamu membuatku merasa ingin hadir. Aku ingin ada di sekitarmu, suka atau tidak. Aku ingin ada.." ucapannya lalu mengusap pipiku pelan dengan kedua tangannya. Sorot matanya seakan tidak menjanjikan apa pun, tapi juga tidak kosong. "Ok, kita teman," kataku akhirnya lalu melepaskan tangannya dari pipiku dan menjabat tangannya. "Tapi, tanpa ekspektasi. tanpa mengulik masa lalu. tanpa niat ke mana-mana." entah apa yang membuatku merobohkan tembok yang aku bangun di antara kami, lagi-lagi aku mengambil keputusan mendahului pikiran dan hatiku yang masih berdiskusi. Senyum kecil muncul di wajahnya. Bukan senyum puas, melainkan lega. "Deal," katanya. Kami berdiri di sana, dua orang dewasa dengan luka masing-masing, sepakat berjalan di garis tipis yang rapuh. Aku tahu ini bisa salah. Aku tahu ini bisa menyakitkan. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak menutup pintu sepenuhnya. Karena mungkin—hanya mungkin— menjadi teman cerita bukan tentang saling memiliki, melainkan tentang berani duduk bersama dalam sunyi, tanpa harus saling menyelamatkan. ~~ Author POV Gheo tidak berniat menguping. Ia hanya kebetulan datang, berniat menyerahkan sepatu yang Dito pinjam darinya, sebelum club benar-benar ramai. Namun langkahnya terhenti begitu ia melihat dua sosok berdiri di dekat bar—cukup jauh untuk tak menarik perhatian, cukup dekat untuk membuat dadanya mengeras tanpa alasan yang jelas. Thalia. Dan laki-laki itu. Gheo bersandar di pilar, setengah tersembunyi oleh bayangan lampu yang belum sepenuhnya menyala. Dari sudut itu, ia bisa melihat Thalia, caranya berdiri tegak namun tidak defensif. Bukan sikap waspada yang biasa ia kenal. Ada kelonggaran di bahunya. Ada ketenangan yang jarang ia lihat. Dan ada Abian. Laki-laki yang ia temui di depan lift apartemen, tetap dengan jas rapi yang terlalu kontras dengan dunia Thalia, namun entah bagaimana tampak seolah memang seharusnya berada di sana. Gheo tidak mendengar setiap kata, tapi ia menangkap cukup banyak—nada bicara yang rendah, jeda-jeda panjang, dan sesuatu yang tak bisa disangkal: kejujuran. Tatapan Thalia membuat dadanya berdenyut tidak nyaman. Tatapan itu lembut. Bukan senyum lebar. Bukan tawa. Justru itu yang membuatnya terasa menyakitkan. Tatapan yang seperti seseorang yang berhenti bertahan sejenak, yang membiarkan dirinya dilihat tanpa harus selalu siap melarikan diri. Tatapan yang tidak pernah Thalia berikan padanya. Gheo mengepalkan rahang. Ada rasa asing yang menyusup—campuran antara cemburu dan takut. Takut karena ia mengenal Thalia lebih dari kebanyakan orang. Ia tahu bagaimana perempuan itu membangun tembok tinggi dari luka-luka lama yang masih ia cari tau apa. Ia tahu betapa mahalnya harga yang harus dibayar seseorang untuk bisa melewati batas itu. Ia pernah mencoba. Pernah menyatakan perasaannya, dengan caranya sendiri yang tidak berlebihan. Tidak memaksa. Tidak menuntut. Namun Thalia menolaknya dengan senyum tipis dan kalimat yang terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya belum sembuh. Dari situ ia juga tahu, betapa hancurnya Thalia jika tembok itu runtuh oleh orang yang salah. Sejak saat itu, Gheo memilih berada di jarak aman—teman tapi mesra, hadir tanpa menyentuh bagian terdalam yang jelas-jelas bukan miliknya. Namun kini, ia melihat sesuatu yang berbeda. Abian bisa menyentuh Thalia. Bisa mendekat berlebihan. Bisa mengklaim. Justru sikap itulah yang membuat Gheo gelisah. Laki-laki itu seperti tidak tahu di mana harus berhenti. Tidak tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam. Seolah-olah... ia berhasil masuk ke balik tembok tinggi Thalia. Gheo menarik napas panjang. Ia ingin percaya bahwa Thalia cukup kuat. Ia ingin percaya bahwa perempuan itu bisa menjaga dirinya sendiri. Namun naluri melindungi yang selama ini ia pendam mulai berontak. Ia takut Thalia akan jatuh. Ia takut kali ini, luka itu akan lebih dalam. Ketika Abian tersenyum kecil—senyum lega, bukan menang—dan Thalia mengangguk pelan, Gheo tahu ada kesepakatan yang terjalin di antara mereka. Sesuatu yang tidak ia dengar, tapi bisa ia rasakan. Sesuatu yang tidak bisa ia cegah. Gheo melangkah mundur perlahan, memilih pergi sebelum kehadirannya terasa. Ada batas yang ia pahami betul—batas yang tidak bisa ia lewati tanpa kehilangan dirinya sendiri. Namun satu hal menjadi jelas sore itu. Ia mungkin mengenal Thalia lebih lama. Ia mungkin berada di sisinya lebih sering. Tapi laki-laki bernama Abian itu... entah bagaimana, bisa masuk ke ruang yang bahkan Gheo sendiri belum pernah diizinkan untuk benar-benar singgah. Gheo menyadari bahwa perasaannya bukan lagi sekadar harapan—melainkan ketakutan, bahwa suatu hari nanti, ia hanya akan menjadi penonton dari cerita yang ingin sekali ia lindungi. - To be Continue -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD