Thalia's POV
Aku menutup komputer resepsionis tepat ketika angka di layar menunjukkan akhir shift. Gerakan kecil itu selalu terasa seperti melepaskan napas yang kutahan seharian. Senyum profesional perlahan runtuh, berganti dengan ekspresi lelah yang jujur. Aku meraih tas, menyampirkannya di bahu, lalu berjalan ke ruang staf untuk mengambil ponsel.
Getarnya muncul hampir bersamaan dengan langkahku.
Abian :
Kalau tidak keberatan, aku mau traktir teman baruku minum teh. Aku lihat dia hampir tertidur di balik meja receptionist itu.
Aku mengulum senyum. "Kamu memperhatikanku?" Balasku pada pesan yang ia kirim.
Abian :
Aku teman yang baik, 'kan?
Aku tertawa kecil sambil mengetik. "Oke. Tapi kalau tehnya tidak enak, aku komplain."
---
Aku berjalan keluar dari hotel dan menemukan Abian sudah menungguku di depan. Tanpa jas, dia terlihat lebih santai. Rambutnya berantakan, dasi sudah dilepas, kancing atas kemeja terbuka, dan lesung pipi itu kembali muncul saat ia tersenyum.
"Kamu terlihat seperti orang yang baru lolos dari penjara," katanya begitu aku mendekat.
"Aku kerja delapan jam berdiri," balasku. "Secara teknis seperti hukuman."
Dia memasang wajah khawatir yang dibuat-buat. "Ya ampun pasti kakimu pegal, perlu aku gendong?" godanya lalu berjongkok di depanku menepuk punggungnya.
Aku berdecak lalu menariknya bangun, "Gausah lebay, diketawain security, tu"
Ia bangun lalu tertawa, "Kita rayakan kebebasanmu. Ayo.."
Kami berjalan menyebrang ke kafe kecil yang tidak terlalu mencolok. Tempat yang biasanya luput dari perhatian orang-orang rapat dan tamu hotel. Lampu kuning menggantung rendah, meja kayu sederhana, dan aroma teh yang menenangkan.
Begitu duduk, Abian langsung menghela napas panjang.
"Ini jauh lebih baik daripada ruang meeting," katanya.
"Tidak ada proyektor, tidak ada pointer, tidak ada orang sok pintar," sahutku.
"Kamu baru saja mendeskripsikan hidupku," katanya dramatis.
Aku tertawa. "Aku harap kamu tidak tersinggung."
"Tidak. Aku merasa divalidasi."
Teh datang. Kami meniup uapnya bersamaan.
"Jadi," katanya sambil mengaduk perlahan, "sekarang kita resmi berteman?"
Aku berpikir sebentar. "Hmm, bisa dikatakan begitu"
"Teman," katanya. "tapi tidak semua teman bisa diajak cerita." Sambungnya seakan menyindirku yang enggan bercerita mengenai diriku sejak awal pertemuan kami.
"Dan tidak semua cerita bisa diceritakan ke teman," tambahku.
Ia mengangguk. "Setuju."
Hening muncul sebentar, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti jeda alami.
"Aku juga jarang punya teman cerita," kata Abian akhirnya. "Biasanya orang cuma lihat aku sebagai... ya, Abian yang terlihat yakin. Tidak bermasalah. Lengkap. Sempurna"
"Kedengarannya berat."
"Iya. Aku sering tidak tahu harus jujur ke siapa." sambungnya lalu menyesap teh nya pelan. Seakan ungkapannya itu adalah hal yang sudah lama menyangkut di tenggorokannya.
Aku menatapnya. "Kamu boleh kasih tau aku jika mau."
Dia tersenyum kecil. "Yakin? Nanti aku jadi bergantung denganmu, tidak mau jauh."
"Ya aku yang menjauh kalau kamu dekat-dekat," jawabku santai, bersandar pada kursiku, lalu melihatnya tajam sembari melipat kedua tanganku di d**a.
Ada jeda kembali saat mata kamu beradu, dan tawa itu muncul begitu saja di antara kami. Percakapan berlanjut tanpa tekanan. Tentang makanan aneh yang sama-sama kami benci, tentang musik yang diam-diam kami dengar saat sendirian, tentang betapa absurdnya lalu lintas Jakarta.
"Aku tidak mengerti orang yang suka makan bubur dengan rapih, tidak diaduk" kataku.
"Setuju," sahutnya. "Itu pelanggaran moral."
"Wah," aku mengacungkan jempol. "Akhirnya ada yang sepaham."
Kami tertawa. Tidak ada jarak. Tidak ada kehati-hatian berlebihan. Aku menyadari satu hal: bersama Abian, aku tidak perlu menjadi versi tertentu dari diriku. Aku tidak perlu terlihat kuat atau misterius.
"Kamu kelihatan nyaman di hotel," katanya tiba-tiba.
"Itu dunia yang aku pahami," jawabku. "Karir yang membuat aku tetap hidup."
"Dan club?"
"Itu bagian penyeimbang diri," jawabku jujur.
Dia mengangguk, seolah menyimpan kalimat itu di kepalanya.
"Thalia," katanya tiba-tiba.
"Hm?"
"Aku mau nanya sesuatu. Tapi kalau kamu tidak mau jawab, tidak apa-apa."
Aku menyesap tehku sambil tetap meliriknya. "Ah, Kamu bikin aku deg-degan."
Dia tersenyum. "Santai. Ini bukan interogasi."
Aku bersandar. "Oke. Apa?"
"Kamu tinggal di mana?" tanyanya sedikit mencodongkan badannya ke arahku.
Aku mengetuk jemari pada daguku. Dia ikut memperhatikan.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena aku merasa agak janggal," katanya jujur. "Kita terlalu sering bertemu di lift dan aku mulai bertanya-tanya, apa mungkin tower elite itu membutuhkan waktu lama untuk memperbaiki lift-nya?"
Aku menarik napas dan tersenyum tipis, tidak ada salahnya jika ia tahu dimana apartemenku sebenarnya, "Oke. Aku bilang. Tapi jangan kaget."
"Sekarang aku malah yang deg-degan." jawabnya yang aku tau bercanda.
"Sini dekat-dekat.." ucapku pelan memberi isyarat bahwa aku akan membisikkan sebuah rahasia besar. Ia menarik kursinya lebih dekat. Lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku.
Aku mendekatkan bibirku pada telinganya, sekilas aroma parfume maskulin itu tercium, membuatku secara tanpa sadar menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Ia bergetar dan langsung menegakkan tubuhnya, "Aduh, jangan seperti itu, aku jadi merinding." Protesnya.
Aku menahan tawa, ia menggemaskan, "Oke maaf, tidak sengaja."
"Jadi rahasianya, apa?" tanyanya menatapku serius.
"Aku sebenarnya tinggal di gedung apartemen yang sama dengan kamu."
Matanya membesar. "Serius?"
"Iya," kataku cepat. "Kita beda empat lantai."
"Jadi selama ini kita hampir tetangga?"
Aku mengangguk, "Hampir," jawabku.
Dia mengerutkan dahi, jelas berpikir keras. "Tapi... waktu itu kartu apartemen kamu—yang hitam emas—itu kartu tower sebelah, kan?"
Aku menghela napas kecil. Inilah bagian yang tidak kusukai.
"Oh, itu, aku agak tipsy jadi malah mengeluarkan kartu apartemen lamaku," kataku sedikit berbohong. "Sudah aku jual."
"Oh," katanya spontan. "sekarang semuanya masuk akal."
Aku hampir tertawa karena betapa mudahnya ia percaya.
"Kamu tidak curiga?" tanyaku.
"Kenapa harus?" jawabnya polos. "Aku tidak merasa kamu bohong. Justru, semua jadi lebih masuk akal"
Aku menopang daguku pada meja dan menatapnya penasaran, "Oh iya? Memang apa yang tidak masuk akal?" tanyaku.
Ia mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan catatan, "Aku sudah menghitungnya, gaji bartender ditambah gaji resepsionis masih sangat jauh untuk dapat menutup biaya perawatan apartemen itu. Jadi, sangat masuk akal jika kamu menjualnya"
Aku terdiam sesaat, sedikit takjub, ternyata ia sebegitu memikirkan diriku. "Wow, kamu sampai segininya. Tapi, apakah tidak mencurigai kenapa aku bisa membeli apartemen itu dengan kedua pekerjaan itu?"
"Sedikit, tetapi aku simpan pertanyaan itu untuk pertemuan lain waktu" jawabnya dan aku setujui. Cukup sebatas itu saja ia mengetahui sesuatu tentang diriku.
Ia tidak perlu tau bahwa apartemen itu tidak pernah dijual. Aku hanya tidak sanggup tinggal di sana lagi. Terlalu banyak memori tentang pernikahan yang gagal, tentang diri yang runtuh perlahan. Tempat itu masih ada—utuh secara fisik, hancur secara emosional.
"Ayo, aku antar pulang," ucapnya.
"Tidak apa-apa, aku bawa mobil sendiri. Mungkin lain waktu.." jawabku, "lagi pula, kamu masih ada penutupan rapat malam ini, kan?"
Ia tersenyum dan mengangguk. Kami keluar dari kafe, udara malam menyentuh kulitku dengan lembut. Kami berjalan berdampingan kembali ke hotel, langkah kami pelan.
Kami sampai di depan parkiran mobil.
"Terima kasih sudah jadi teman ceritaku hari ini," katanya tulus.
"Sama-sama," balasku. "Kamu tidak seberat yang aku kira."
"Itu pujian," katanya sambil tersenyum.
Aku membuka pintu mobil dan melihatnya dari pantulan kaca. Dia masih menatapku, lalu mengangguk. "Terima kasih sudah mau mendengarkan. Hati-hati di perjalanan, sampai jumpa lain waktu"
Aku masuk dengan perasaan hangat yang asing. Tidak menggebu, tidak menakutkan.
Dan untuk kali ini, setelah sekian lama, aku menyadari: menjadi teman ceritanya terasa aman.
Justru karena itu— aku tahu, aku sedang berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang bisa melukaiku lagi.
-To Be Continue-