Thalia's POV
Aku tidak tahu sejak kapan percakapan kami berubah menjadi kebiasaan.
Bukan yang intens. Bukan yang mendesak. Tapi selalu ada.
Pesan singkat di sela rapat Abian. Balasan lambat dariku di sela shift. Tidak penting, tapi cukup untuk saling mengingatkan bahwa kami ada.
Sore itu, aku baru saja tiba di apartemen ketika aku ingat besok adalah ulang tahun Dito dan aku belum menyiapkan kado apapun. Entah bagaimana, tetapi Abian menjadi orang pertama yang terlintas dibenakku saat aku membutuhkan saran seperti ini. Aku mengambil handphone-ku dari saku seragam kerjaku, lalu mengirimkannya pesan.
Thalia :
Aku butuh saran.
Balasannya datang dengan sangat cepat.
Abian:
Tentang apa?
Aku tersenyum kecil.
Thalia :
Kado ulang tahun. Untuk teman.
Abian :
Perempuan atau laki-laki?
Thalia :
Laki-laki.
Abian :
Oke. Kita perlu definisi "teman" laki-laki yang kamu maksud di sini.
Aku tertawa pelan sambil menjatuhkan diri ke sofa. Ide itu muncul untuk menggodanya.
Thalia :
Dia teman yang... cukup dekat.
Abian :
Sedekat apa? Lebih dekat dari kita?
Aku mengulum senyum, aku tau iya sedang menerka-nerka siapa teman dekat yang aku maksud di sana.
Thalia :
Iya, mungkin bisa di bilang begitu.
Beberapa detik hening, titik tiga muncul, hilang, muncul lagi, lalu hilang lagi. Terlihat ia sedang mengetik lalu menghapus kembali. Kena kau. Seruku dalam hati.
Abian :
Kenapa bertanya padaku? 'Kan kalau dekat harusnya kamu tau harus memberi apa.
Aku tertawa kecil.
Thalia :
Katanya temanku, kok dimintai saran gamau.
Ting tong!
Dadaku mengencang karena kaget saat bell apartemenku berbunyi. Rasanya aku tidak mengundang siapa-siapa untuk datang. Aku berjalan ke depan lalu membuka pintu.
"Loh?"
Abian berdiri di sana. Dengan rambut setengah kering yang belum ia sisir dengan rapih. Kali ini tidak dengan setelan jas dan pantofel itu, tetapi dengan jaket halfzip berwarna abu-abu muda, celana pendek berwarna hitam, sepatu sneakers berwarna senada, dengan kalung perak yang menggantung pas di lehernya. Penampilannya selalu berhasil membuat mataku segar.
"Aku ganteng, ya?" celetuknya yang membuatku sadar sudah memandanginya terlalu lama.
"Pede banget," gumamku. "Ada apa ke sini?"
"Katanya minta saran kado, ya sudah kebetulan aku luang hari ini, jadi kita cari langsung saja ke mall" jawabnya santai lalu memasukkan kedua tangannya pada saku celana.
"Aku baru selesai shift, capek ah. Nanti aja.." tolakku lalu berniat menutup pintu. Ia menahannya.
"Ga akan cape, kalau cape nanti aku sewakan kursi roda di sana." Jawabnya asal yang ku hadiahi dengan cubitan di perutnya.
"Aduh," eluhnya lalu mengusap perutnya.
"Sembarangan kalau ngomong, yasudah aku ambil jaket dulu, sebentar."
Aku berlari kecil ke kamarku. Aku mengganti seragam kerjaku dengan short jeans skirt berwarna light blue dan oversize crewneck jacket berwarna putih polos. Aku merapihkan dandananku sedikit, mengenakan parfum, lalu mengikat asal rambutku, dan kembali keluar menemui abian yang bersandar pada dinding di depan apartemenku.
"Kita ke mana?" tanyaku sambil mengalungkan tas kecil dan mendekat ke arahnya.
"Tergantung," katanya. "Kalau mau banyak pilihan ke GI aku rasa cukup ok, gimana?"
Kami berjalan berdampingan menuju lift, "Ya, boleh, tidak begitu jauh juga." balasku
Dia tersenyum kecil. "Oke."
Kami turun bersama. Di lift, jarak kami tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sejauh sebelumnya. Ada perubahan kecil yang sulit kujelaskan. Seperti garis tipis yang mulai kabur.
"Teman kamu ulang tahun kapan?" tanyanya.
"Besok."
"Berarti kita berpacu dengan waktu."
"Ya setidaknya bukan berpacu dengan melodi, soalnya suaramu sumbang," celetukku.
Dia terkekeh. "Aku tersindir."
Mall tidak terlalu ramai hari ini, mungkin karena bukan akhir pekan. Kami berjalan berdampingan, berhenti di beberapa toko. Tidak ada sentuhan. Jarak kami aman. Terlalu aman untuk orang yang pernah saling mengenal tanpa pakaian. Aku mengangkat satu benda, lalu menggeleng. Dia mengusulkan sesuatu, lalu aku tertawa.
"Dia suka apa?" tanya Abian.
"Aku," jawabku asal sambil melihat-lihat deretan hoodie yang ada di salah satu store.
"Aku juga." celetuknya tak kalah asal yang tidak berani ku timpali, aku tidak ingin memanjangkan topik tersebut.
"Dia juga suka kopi," koreksiku.
Abian mengangguk. "Berarti alat seduh."
"Mesin kopi maksudmu?"
"Bukan. Ini lebih baik, kamu tau laki-laki selalu suka sesuatu yang bisa ia mainkan, 'kan?."
Aku tertawa. "Kamu termasuk?"
"Tentu." jawaban itu singkat, tapi cukup luas untuk penafsirannya. Sejauh yang aku kenal, laki-laki memang suka bermain-main. Fisik maupun perasaan.
Kami masuk ke toko peralatan kopi. Bau kopi sangat khas memenuhi toko ini. Abian mendekati rak alat V60 dan aku mengikutinya. Ia mengambil salah satu merek terbaik yang dijelaskan pegawai toko.
"Ini bagus. Tidak berisik. Tidak ribet. Tapi butuh perhatian."
Aku menatap benda itu, lalu menatap Abian. "Kamu sedang menjelaskan alat... atau seseorang?"
Dia tersenyum kecil. "Kadang sama saja."
Aku menggeleng pelan. "Oke. Aku ambil ini dan satu set dengan manual grinder-nya ya, mas"
Saat aku membayar, aku menyadari satu hal: aku nyaman. Terlalu nyaman. Tidak ada ketegangan yang keras, hanya kehangatan yang pelan-pelan merayap.
Di mobil, perjalanan pulang terasa lebih sunyi.
"Kamu capek?" tanyanya mengusap puncak kepalaku. Aku memandanginya yang fokus pada jalan di depan.
"Sedikit." Gumamku lalu menarik tangannya dari kepalaku, namun, engganku lepaskan. Aku menggenggamnya.
"Kalau mau, kamu bisa tidur."
Aku tersenyum. "Aku tidak gampang tidur di mobil orang."
"Aku bukan orang asing, tidurlah."
"Untuk saat ini, memang bukan lagi orang asing. Tapi, mungkin nanti akan kembali asing.." batinku.
Aku melepaskan genggaman itu, lalu mengalihkan tanganku untuk mengatur suhu pendingin ruangan di mobilnya. "Dingin, ya.." ucapku mengalihkan pembicaraan.
Ia tertawa kecil, lalu memberhentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah, "Ini aku ada selimut di belakang." jawabnya lalu mengambil selimut yang terlipat di jok belakang.
Ia membuka selimut tersebut lalu menyelimutinya ke kakiku. Tanpa sengaja kulit tangannya bersentuhan dengan pahaku, menciptakan degupan jantung dan kilasan ingatan hangatnya malam itu. Ia menatapku sendu, cukup dekat dengan wajahku hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya yang teratur. Aku mengusap bibir itu pelan, terasa hangat dan lembut saat ia mengecupnya pelan.
Tin! Tin!
Klakson kendaraan dibelakang kami membuat kami kembali sadar sepenuhnya. Kami tertawa kecil menutupi ke canggungan yang datang tanpa di undang. Menengahi kami dengan cara yang sangat tegas. Abian pun kembali menjalankan mobilnya menyusuri jalan pulang.
Mobilnya berhenti di parkiran apartemen, masih terasa hawa dingin yang cukup canggung.
"Terima kasih," kataku akhirnya memecah keheningan itu. "Kadoku terselamatkan."
"Sama-sama," jawabnya. "Aku senang membantu."
Aku membuka pintu, lalu keluar dari mobilnya. Tapi sebelum aku benar-benar menjauh, suaranya menahanku.
"Thalia."
Aku menoleh.
"Maaf, tadi kita hampir mengulang sesuatu malam ini," katanya pelan. "Dan aku tidak ingin itu terjadi dengan cara yang salah."
Dadaku mengencang. "Aku tahu."
Ia melangkah mendekat ke arahku, menatapku seakan ingin merengkuh, namun, ia menahan diri, "Kalau suatu hari aku lupa batas," lanjutnya, "tolong ingatkan aku."
Aku menatapnya lama. Terlalu lama.
"Kalau suatu hari kamu lupa," jawabku akhirnya, "aku takut aku tidak akan cukup kuat."
Hening menggantung di antara kami.
"Kalau itu terjadi, kamu perlu tau, aku tidak akan menyesal. Hanya, aku tidak yakin kamu merasakan keyakinan yang sama," katanya.
Aku tersenyum tipis. "Aku sudah terlalu sering menyesal, sampai aku tidak takut lagi akan hal itu."
Aku berbalik sebelum kalimat itu menyeretku lebih jauh.
Di dalam apartemen, aku bersandar di pintu. Napasku belum stabil.
Menjadi teman dengannya terasa aman.
Terlalu aman.
Dan aku tahu, batas yang paling berbahaya bukanlah yang dilanggar— melainkan yang terus kami dekati, pelan-pelan, sambil berpura-pura tidak menginginkannya.
-To be Continue-