Thalia's POV
Jam di ponselku menunjukkan pukul delapan malam tepat ketika aku menutup loker dan menghembuskan napas panjang. Shift hari ini melelahkan, jenis lelah yang tidak menyisakan ruang untuk drama atau pikiran berlebih. Aku masih mengenakan seragam hotel, rambutku terikat rapi meski sudah sedikit berantakan di bagian tengkuk. Biasanya aku akan langsung pulang, mandi, lalu mengurung diri.
Tetapi hari ini aku akan ke supermarket untuk berbelanja bulanan. Supermarket fasilitas apartemen menjadi tujuan paling logis. Aku masuk dengan tote bag di bahu, masih membawa aroma kerja dan sisa profesionalisme yang belum sepenuhnya luruh.
Tempat itu tidak pernah benar-benar ramai. Lampu putihnya terang, rak-raknya rapi, dan pendingin ruangan selalu disetel sedikit lebih dingin dari seharusnya. Aku mengambil troli untuk menampung belanjaanku nanti.
"Belanja bulanan?"
Suara itu membuatku menoleh.
Abian berdiri beberapa langkah dariku. Tidak dengan setelan jas, tidak dengan aura rapat atau ruang formal. Ia mengenakan kaus putih oversize dan sweatpants berwarna abu-abu muda. Santai. Terlalu santai untuk seseorang yang biasanya kutemui dalam versi rapi dan tertata.
"Kamu ngapain di sini?" tanyaku refleks.
Ia mengangkat bahu. "Mencari cemilan. Terus ga sengaja lihat kamu masuk."
Aku mengangguk tidak bertanya lebih lanjut, lalu mendorong troli menuju bagian rak-rak perlengkapan rumah tangga, "Aku duluan ya, banyak yang harus aku beli.." pamitku yang ternyata tidak membuatnya menjauh.
"Berarti butuh bantuan," katanya sambil langsung mengambil alih troli.
Aku berhenti melangkah. "Eh."
"Tenang," ucapnya cepat. "Kamu fokus belanja saja, urusan troli dan angkat-angkat, biar aku saja. Paling aku cuma akan titip 3-4 cemilan saja."
Aku ingin membantah, tapi kenyataannya... aku membiarkannya.
Kami berjalan berdampingan di lorong supermarket yang tidak terlalu ramai. Lampu putih terang, musik lembut, dan suasana penghuni apartemen yang santai membuat semuanya terasa jauh dari dunia kami masing-masing.
"Kamu masih pakai seragam," komentarnya.
"Iya, aku baru pulang langsung ke sini. belum sempat ganti." Jawabku lalu memasukkan kebutuhan pribadi seperti sabun cuci muka, sabun, dan shampoo ke troli.
"Kelihatan capek."
"Terima kasih atas pengingatnya," balasku.
Ia tertawa kecil. "Bukan itu maksudku."
Aku mulai mengambil kebutuhan dasar. Beras. Telur. Sayur. Abian memperhatikan, sesekali menambahkan barang tanpa bertanya.
"Ini satu kotak aja, aku nggak butuh buah banyak-banyak ." jawabku lalu akan mengembalikan kembali ke rak, namun ia tahan.
"Kamu harus sarapan dengan baik, makan buah yang banyak," katanya tenang. "Ini baik untuk kesehatanmu."
Aku menatapnya. "Iya, tapi aku tidak butuh sebanyak ini." jawabku tetapi ia tidak mendengarkan dan mendorong trolinya.
Aku tersenyum kecil. Sudah lama tidak diperhatikan, rasanya cukup menyenangkan.
Di rak makanan instan, kami bersamaan mengambil mie instan. Jari kami saling bersentuhan.
"Maaf," ucap kami hampir bersamaan.
Kami saling menatap, lalu tertawa kecil karena kesamaan refleks itu.
"Udah seperti adegan drama," gumamku.
"Versi murah," sahutnya.
Aku menambahkan beberapa mie instant ke troli dan ia terus mengembalikannya ke rak. Aku mendengus kesal dan menatapnya. Ia menunjukkan wajah tidak bersalah. Ia mengambil tiga bungkus mie instant merek lain dengan klaim merek lebih sehat.
"Jangan sering stock makanan instan yang seperti ini, tidak sehat. Kamu hidup sendiri, kalau sakit siapa yang akan urus?" omelnya lalu meninggalkanku kembali dengan troli itu. Seolah tidak menerima perdebatan dan penolakan.
Aku beralih ke rak camilan. Menimbang lama. Abian tanpa banyak bicara mengambil cemilan-cemilan yang ia bilang di awal akan dititipkan padaku. Aku melihat ia mengambil cokelat lalu membukanya.
"Hey, kenapa kamu buka?" Tanyaku panik lalu melihat kanan dan kiri. Khawatir ada yang melihat kelakuan konyolnya.
Ia tidak menjawab dan justru menyuapkan sepotong coklat itu padaku, "Kamu kelihatan butuh ini."
"Aku nggak bilang mau coklat. Lagi itu belum kita beli, malah dibuka." jawabku menatap tangannya yang tidak ia jauhkan dari bibirku.
"Karena kamu kelihatan capek," jawabnya santai. "Orang capek butuh gula."
Aku mendengus kecil. "Teori dari mana lagi itu?"
"Pengalaman hidup, tidak usah khawatir ini nanti akan tetap di bayar asal tidak membuang bungkusnya. Cepat aaaa..." katanya sembari menempelkan coklat itu ke bibirku. Aku memakannya, lalu ia mengulum jarinya menghilangkan bekas coklat ditangannya. Ia juga menambahkan satu batang cokelat lain ke troli begitu saja.
Aku ingin protes, tapi entah kenapa tidak jadi. Troli itu terus berjalan, dan aku baru sadar—kami berjalan bersebelahan, langkah kami seirama, jarak kami terlalu dekat untuk sekadar dua orang yang mengaku berteman. Rasanya... seperti pasangan yang sedang belanja malam. Pikiran itu membuatku mengernyit dan segera menepisnya.
Di rak tisu dan sabun, kejadian yang sama terulang. Kami sama-sama condong ke troli, sama-sama fokus, sama-sama tidak menyadari jarak yang menipis.
Aku menoleh untuk berkata sesuatu, tetapi tidak menyadari bahwa jarak kami terlalu dekat. Alhasil, bibir Abian mendarat dengan sempurna di pipiku. Sekilas. Sangat singkat. Refleks murni. Tetapi berhasil membuat kami membeku.
Aku bisa merasakan hangatnya sentuhan itu bahkan setelah ia menjauh setengah langkah.
"Maaf," katanya cepat. "Aku benar-benar nggak sengaja."
"Iya," jawabku, suara sedikit terlalu pelan. "Aku tahu."
Aku pura-pura merapikan barang belanjaan. Dia pura-pura menatap rak di depannya. Tidak ada yang berani saling melihat selama beberapa detik.
"Thalia?"
Aku menoleh. Dito berdiri beberapa langkah dari kami, membawa keranjang kecil. Matanya langsung turun ke troli belanja, lalu ke Abian, lalu kembali ke wajahku.
"Dit," sapaku lalu tersenyum.
Ia menoleh ke Abian. "Halo."
"Halo," jawab Abian sopan.
Dito menyipitkan mata. "Ini siapa?" tanya Dito memperhatikan Abian dengan tatapan yang seakan sedang menganalisa Abian.
"Teman," jawabku cepat. Menjawab, tetapi tidak memuaskannya.
“Abian ini Dito, rekan kerja gue di club.” ucapku memperkenalkan Dito ke Abian dan ia tersenyum.
“Bukan teman dengan manfaat tertentu, ‘kan? Teman normal?” tanyanya yang masih memicingkan matanya kepada Abian.
“Gue bakal jaga temen lo dengan baik.” jawab Abian meyakinkan Dito.
Dito tidak langsung percaya, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk mengulik lebih jauh, “oke gue cabut,” katanya akhirnya. “Jangan macam-macam ya, ntar gue aduin ke Gheo.” bisiknya pada Thalia.
Ia melangkah pergi sambil menggeleng, sesekali menoleh ke belakang.
Aku menghela napas panjang. “Maaf.”
“Kenapa?” tanya Abian.
“Dia emang gitu, agak lebay.” jelasku.
“Menurut aku lucu,” katanya sambil tersenyum kecil.
Kami berjalan berdampingan keluar dari supermarket menuju unitku dengan kantong belanja di tangan. Koridor apartemen terasa sunyi, lampunya temaram, langkah kami bergema pelan. Aku membuka pintu, menyalakan lampu, lalu menaruh belanjaan di meja dapur.
“Masuk aja,” kataku. “Sepatu di situ.”
Abian menurut, melepas sepatunya rapi. Ia langsung membantu tanpa diminta, membuka kantong-kantong belanja dan menyusunnya di meja.
“Kulkasnya di mana?” tanyanya.
Aku menunjuk. “Itu. Tapi jangan komentar isinya.”
“Belum lihat juga,” katanya sambil tersenyum.
Ia membuka pintu kulkas, lalu mulai menyusun dengan rapi. Sayur di laci bawah, s**u dan telur di rak tengah, botol-botol kecil berjajar seperti barisan yang disiplin. Aku bersandar di meja, memperhatikannya. Ada sesuatu yang menenangkan melihat seseorang bekerja dengan tenang di ruang pribadiku, tanpa bertanya berlebihan.
“Kamu rapi,” ujarku.
“Terbiasa,” jawabnya. “Kalau berantakan, kepala ikut berantakan.”
Aku mengangguk kecil. Masuk akal.
Sebelum menutup kulkas, ia menoleh. “Kamu sudah makan?”
Aku menggeleng. “Belum sempat.”
Ia melirik jam di pergelangan tangan lalu melepas jam tersebut dan menyimpannya pada meja dapur. “Masih awal. Aku bisa masakin sesuatu.”
Aku tertawa kecil. “Di dapurku?”
“Iya,” katanya santai. “Aku nggak rewel.”
“Aku yang rewel kalau dapurku berantakan,” balasku refleks. “aku sudah sabgat cape.”
“Berarti pas,” katanya. “Kamu istirahat. Aku yang masak. Aku akan bersihkan lagi dapurmu.”
Aku ragu. Ada jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Mengizinkannya memasak berarti mengizinkannya tinggal lebih lama. Lebih dekat. Terlalu domestik untuk seseorang yang seharusnya hanya teman cerita.
“Hmm okay, asal benar dirapihkan kembali aku tidak masalah,” kataku akhirnya.
“Rapuh itu spesialisasiku.” jawabnya seakan bangga dan meyakinkan bahwa ia benar-benar orang yang rapih.
Aku perhatikan ia sangat fokus menatap kulkas yang baru ia susun isinya, ia bergumam”Ada ayam, sayur, sama pasta.”
“Ah, Pasta,” putusnya cepat. “Cepat, aman, dan bikin kenyang.”
Aku mengangguk. “Aku mandi dulu.”
“Silakan,” katanya sambil meraih wajan.
Aku melangkah ke kamar, menutup pintu, lalu bersandar sebentar di baliknya. Napasku keluar pelan. Di luar, kudengar suara peralatan dapur. Terlalu normal. Terlalu hangat.
Air shower mengalir, menghapus sisa hari dari kulitku. Di bawah air, pikiranku melayang singkat—tentang bagaimana semuanya mengalir tanpa paksaan. Tentang sentuhan yang tak disengaja di supermarket. Tentang suara Abian yang tenang, tidak berusaha menguasai ruangku, hanya hadir.
Saat aku keluar dengan rambut setengah basah dan kaus longgar, aroma bawang dan lada menyambut. Aku berhenti di ambang dapur.
Abian berdiri di depan kompor, gerakannya efisien. Ia menoleh saat menyadari kehadiranku.
“Lima menit lagi,” katanya. “Kamu duduk aja.”
Aku menarik kursi pada area kitchen island dan duduk, dagu bertumpu di tangan. “Kamu sering masak?”
“Lumayan,” jawabnya sambil mengaduk. “Bikin kepala tenang.”
“Aku biasanya pesan,” kataku jujur. “Kalau masak jarang,”
Ia tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Nanti aku bisa masakin terus kalau kamu tidak keberatan.”
Beberapa menit kemudian, dua piring pasta aglio olio tersaji di meja. Sederhana. Hangat. Ia menarik kursi di sebelahku.
“Coba,” katanya.
Aku menyuap. “Enak.”
Ia menghela napas lega. “Tidak menyesal membiarkan aku memasak di sini, ‘kan?.”
Aku mengangguk setuju dan melanjutkan makanku.
Kami makan perlahan. Tidak ada percakapan berat. Hanya hal-hal kecil—tentang selera makanan, tentang betapa melelahkannya hari kerja, tentang playlist yang cocok untuk malam biasa. Tawa muncul tanpa direncanakan, tenggelam bersama bunyi sendok di piring.
Setelahnya, Abian membantu membereskan. Ia mencuci, aku mengelap. Bahu kami sesekali bersenggolan, tanpa komentar.
Saat semuanya rapi, ia berdiri sejenak di ruang tamu. “Aku pulang, ya.”
Aku mengangguk. “Terima kasih.”
Ia berhenti di depan pintu. “Terima kasih juga.”
Kami saling menatap, cukup lama untuk merasakan sesuatu yang tak perlu diberi nama. Lalu ia membuka pintu dan melangkah pergi membawa belanjaannya.
Aku menutup pintu, bersandar, dan tersenyum kecil.
Hal-hal kecil terasa cukup. Dan entah sejak kapan, itu yang paling menakutkan.