Thalia’s POV
Angin malam menyentuh kulitku pelan saat pintu balkon apartemen kutarik terbuka. Udara Jakarta di jam segini tidak benar-benar dingin, tapi cukup sejuk untuk membuat bahu terasa lebih ringan setelah satu hari penuh berdiri, tersenyum, dan berpura-pura baik-baik saja. Abian berdiri di ambang pintu, satu tangan menyelip di saku celananya, tangan lain memegang dua botol beer dingin.
“Ini legal, kan?” tanyanya sambil mengangkat botol sedikit, setengah bercanda.
Aku terkekeh. “Kalau ilegal, aku nggak akan nawarin balkon.”
Ia melangkah keluar, matanya menyapu pemandangan kota dari lantai tinggi. Lampu-lampu gedung terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Balkon apartemen itu tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada dengung kota yang menyelinap di sela-sela angin, suara kendaraan jauh di bawah, lampu gedung yang berkedip seperti tidak pernah lelah. Tapi malam itu, sunyi terasa lebih personal—seolah hanya milik dua orang yang duduk berdampingan tanpa agenda selain menghela napas bersama.
Kami duduk berdampingan di kursi balkon kecil. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jarak yang terasa nyaman.
“Kerja kamu hari ini kelihatan panjang,” katanya sambil menyerahkan satu botol padaku.
“Kamu juga.” Aku membuka tutup botol. Klik, “Rapat hotel lagi?”
“Iya. Dan entah kenapa rapat selalu lebih melelahkan daripada kerja fisik.”
Aku mengangguk setuju. “Karena capeknya bukan di badan, tapi di kepala.”
Abian tersenyum kecil, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang pas di kepalanya.
Kami minum dalam diam beberapa detik. Tidak canggung. Hanya sunyi yang tidak perlu diisi.
“Abian,” panggilku pelan.
“Hm?” Ia menoleh, matanya hangat, tapi terlihat capek.
“Kamu lagi mempersiapkan pernikahan, ya?”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak dramatis. Tidak bergetar. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang menegang di udara.
Abian berkedip. “Kamu tahu dari mana?” Nada suaranya bukan marah. Lebih ke… terkejut.
Aku menghela napas pelan. “Aku nggak sengaja lihat.”
“Lihat?”
“Notifikasi di hp kamu,” jawabku jujur. “Waktu itu… pagi hari. Yang aku pergi tanpa pamit.”
Aku tidak menjelaskan detailnya. Tidak perlu. Kami sama-sama tahu momen itu ada, walau tidak pernah dibicarakan.
Abian terdiam beberapa detik. Tangannya meraih botolnya sendiri, tapi ia tidak langsung minum.
“Oh,” katanya akhirnya. “Pantas kamu pergi tanpa pamit.”
Aku menoleh. “Kamu nggak keberatan aku tahu?”
Ia tersenyum kecil. “Harusnya aku yang minta maaf. Itu pasti bikin kamu nggak nyaman.”
Aku mengangkat bahu. “Aku tidak masalah, hanya merasa tidak enak saja dengan tunanganmu.”
Dan mungkin… lebih dari itu. Tapi aku tidak mengatakannya.
Abian menghela napas panjang. “Namanya Clara.”
Aku mengangguk.
“Kami sudah bersama cukup lama,” lanjutnya. “Keluarga kami saling kenal. Orang tua kami… berharap ini berlanjut ke pernikahan.”
“Dan kamu?” tanyaku pelan.
Ia tersenyum miring. “Aku tidak sepenuhnya yakin. Ragu.”
Jawaban itu terlalu jujur untuk seseorang yang akan menikah.
“Aku sayang sama dia,” katanya cepat, seolah ingin meluruskan. “Clara perempuan baik. Mandiri. Kuat. Semua hal yang… seharusnya dicari.”
Seharusnya.
“Tapi?” aku tidak menahan diri.
“Tapi aku sering merasa kosong.”
Ia menunduk, menatap lantai balkon. “Bukan karena dia kurang apa-apa. Justru karena dia terlalu bisa berdiri sendiri. Aku… nggak pernah benar-benar merasa dibutuhkan.”
Kalimat itu membuat dadaku mengencang.
“Clara selalu tahu apa yang dia mau,” lanjutnya. “Kalau aku ragu, dia sudah melangkah duluan. Kalau aku ingin memimpin, kadang rasanya… nggak ada ruang.”
Aku diam. Mendengarkan.
“Aku tahu itu bukan kesalahannya,” katanya lirih. “Dan mungkin ini ego. Tapi aku sering bertanya-tanya, apa pernikahan nanti hanya akan jadi dua orang yang berjalan sejajar tanpa pernah benar-benar saling bersandar.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa tetap lanjut?” tanyaku akhirnya.
Abian tertawa kecil, hambar. “Karena sudah terlalu jauh. Keluarga berharap. Tanggal sudah ditentukan. Semua orang terlihat bahagia….”
Angin berembus pelan. Aku menatap lurus ke depan, bukan ke arahnya.
“Pernikahan itu bukan garis finish,” kataku akhirnya. “Itu pintu.”
Abian menoleh.
“Dan pintu yang dibuka dengan ragu,” lanjutku, “sering kali ditutup dengan luka.”
Ia terdiam.
“Kalau kamu masuk hanya karena tekanan,” kataku pelan, terlalu pelan, “yang kamu korbankan nanti bukan cuma diri kamu. Tapi juga orang yang kamu ajak masuk.”
“Pernikahan itu bukan tentang seberapa lama kalian saling kenal, atau seberapa jauh sudah melangkah” aku menggantung ucapanku sejenak, mengambil jeda untuk meneguk beer. “Tapi tentang seberapa siap kalian menghadapi versi terburuk satu sama lain.”
Abian menoleh penuh minat.
“Kalau dari awal sudah banyak hal yang dipendam,” lanjutku, dengan suara yang ku jaga tetap tenang, “nanti yang meledak bukan cuma pertengkaran kecil. Tapi kelelahan.”
“Jangan menikah karena merasa harus,” ucapku menatapnya yang menatap lurus ke gedung-gedung tinggi di depan kami. “Menikahlah karena kamu memilih orang itu, bahkan di hari-hari kamu tidak menyukainya.”
Aku tersenyum kecil. “Karena aku percaya, pernikahan bukan hanya perihal memaafkan dan bertahan.”
“Lalu soal apa?”
“Soal pulang.”
Aku mengalihkan pandangan darinya, sedikit mengenang bagaimana dulu aku menikah tapi tidak pernah merasa ‘pulang, bahkan hingga saat ini aku tidak pernah merasa demikian. “Kalau kamu nggak pernah merasa pulang, sekeras apa pun kamu bertahan, lelahnya akan tetap menang.”
Abian terdiam beberapa detik. Ia menatap botol beer di tangannya, memutar pelan.
“Kamu tahu,” katanya kemudian, nada bercandanya muncul, “saran kamu terdengar kayak orang yang sudah pernah menikah saja.”
Kalimat itu meluncur ringan, tanpa niat apa pun.
Pernyataan itu terdengar bercanda. Tapi aku merasakannya menusuk tepat di tempat yang paling kuhindari.
Aku tersenyum. Senyum yang rapi. Aman.
“Mungkin aku cuma terlalu banyak mendengar dan mengamati,” jawabku ringan.
“Mengamati siapa?”
“Orang-orang yang berusaha terlihat bahagia di Club ataupun hotel.”
Abian tidak membalas. Ia hanya menatapku lama, seolah ada sesuatu di balik kata-kataku yang belum ia pahami.
“Aku senang kamu jujur,” katanya akhirnya. “Tentang notifikasi itu. Aku jadi bisa cerita… semua ini.”
Aku mengangguk. “Aku juga.”
Kami duduk diam lagi. Kali ini, sunyi tidak terasa canggung. Hanya berat.
“Aku masih belum tahu harus melakukan apa,” kata Abian pelan. “Tapi entah kenapa, setelah bicara sama kamu… kepalaku sedikit lebih ringan.”
Aku tersenyum kecil. “Mungkin karena kamu akhirnya jujur pada diri sendiri.”
Atau mungkin karena aku terlalu terbiasa mendengar cerita tentang pernikahan yang tidak pernah benar-benar bahagia.
Aku berdiri lebih dulu. “Aku masuk dulu, ya.”
Abian menoleh. “Capek?”
“Sedikit. Besok aku dapat jadwal pagi.”
Aku tersenyum lagi. “Dan kadang, berpikir terlalu banyak juga melelahkan.”
Ia tertawa kecil. “Terima kasih, Thalia.”
Aku mengangguk, “Kalau mau di sini dulu silahkan, nanti kalau mau pulang, tutup saja semua pintu,” ucapku lalu melangkah masuk, meninggalkannya di balkon dengan pikirannya sendiri.
Di balik pintu kamar yang tertutup, aku bersandar, memejamkan mata.
Ada hal-hal yang terlalu mudah kukatakan.
Dan ada hal-hal yang terlalu sulit untuk kuakui.
Malam itu, Abian mungkin sedang meragukan pernikahannya. Sementara aku… masih meragukan diriku sendiri
Author POV
Malam belum benar-benar larut ketika Thalia meninggalkannya sendirian di balkon.
Abian masih duduk di tempat yang sama, botol beer hampir kosong di tangannya. Angin Jakarta berhembus pelan, membawa suara klakson jauh di bawah sana—berisik, hidup, tidak pernah benar-benar diam. Seperti kepalanya malam ini.
Pernikahan itu pintu.
Kalimat Thalia terus berulang, menabrak-nabrak pikirannya tanpa permisi. Ia meneguk sisa beer, berharap pahitnya bisa menenggelamkan suara itu. Tidak berhasil.
Ia memejamkan mata sejenak. Bayangan Thalia muncul tanpa diminta—cara ia berbicara tenang tapi menusuk, caranya menahan sesuatu di balik senyum yang terlalu rapi. Seolah perempuan itu tahu persis apa yang harus dikatakan, seakan pernah berada di sana.
Abian mengeluarkan ponsel dari saku celana. Jemarinya ragu di layar sebelum akhirnya menekan satu nama.
Clara.
Nada sambung terdengar. Satu. Dua.
“Halo, kenapa Bi?” suara Clara muncul. Jernih. Tertata. Seperti biasa.
“Kamu lagi di mana?” tanya Abian.
“Masih di kantor. Kenapa?”
Ia menghela napas. “Aku baru selesai rapat. Capek. Aku kepikiran kamu. Pulang jam berapa? Biar aku jemput..”
Ada jeda di seberang sana. Tidak lama, tapi cukup terasa.
“Hmm, gausah..” Clara tertawa kecil. “Kamu katanya cape, langsung istirahat saja. Aku hari ini sudah minta jemput supirku.”
“Iya,” jawab Abian. “Tapi aku pengin ketemu kamu. Aku pengen peluk…”
“Nanti, ya? Aku juga masih ada kerjaan yang harus diselesain. Proposal itu belum aku kirim. Takutnya ke malaman.” Tolak Clara.
Abian terdiam. Ia tahu. Selalu ada sesuatu yang harus diselesaikan.
“Yasudah, aku nggak mau ganggu,” katanya akhirnya.
“Kamu nggak ganggu,” Clara cepat menyela. “Aku cuma… lagi fokus. Kita ketemu nanti aja, ya? Pas sudah ada waktu luang. Lebih enak, nggak capek.”
Lebih enak. Lebih praktis. Selalu rasional.
“Iya,” jawab Abian pelan. “Nggak apa-apa.”
“Kamu jaga kesehatan, ya,” kata Clara. Nada suaranya lembut. Peduli. Tapi terasa jauh. “Jangan minum terlalu banyak.”
“Iya.”
Panggilan berakhir.
Abian menatap layar ponselnya yang gelap beberapa detik sebelum meletakkannya kembali di meja kecil balkon. Dadanya terasa kosong dengan cara yang familiar. Tidak sakit. Tidak juga hangat. Hanya… tidak ada apa-apa.
Ia menengadah, menatap langit Jakarta yang nyaris tak berbintang. Lampu-lampu gedung menyala seperti saksi bisu, sementara kata-kata Thalia kembali menyusup.
Kalau kamu nggak pernah merasa pulang…
Abian menghembuskan napas panjang. Ia menyadari sesuatu malam itu—bukan tentang Clara, bukan juga tentang pernikahan. Tapi tentang dirinya sendiri. Tentang betapa mudahnya ia ingin tinggal lebih lama di balkon apartemen seorang perempuan yang baru dikenalnya dengan cara yang salah.
Tentang betapa sulitnya ia meminta ruang dari perempuan yang seharusnya menjadi masa depannya.
Dan itu menakutkan.
Abian meraih botol beer kosong, berdiri, lalu melangkah masuk ke dalam apartemen Thalia. Dan di antara kebisingan itu, Abian tahu—
ia baru saja sampai di persimpangan yang tidak bisa lagi ia abaikan.