Author POV
Malam itu club terasa lebih hidup dari biasanya, atau mungkin Abian hanya lebih peka. Ia sudah beberapa kali datang, sudah tahu di mana harus berdiri tanpa menghalangi lalu lintas bartender, sudah tahu Dito akan menyodorkan minuman tanpa perlu banyak tanya.
"Kayak biasa?" tanya Dito sambil meracik.
Abian mengangguk. "Yang bikin kepala tenang, bukan ribut."
Dito terkekeh. "Datang ke tempat ribut buat nyari tenang.."
Abian hanya tersenyum, matanya otomatis mencari satu sosok. Thalia sedang berdiri dekat panggung, berbicara dengan salah satu staff, gerakannya santai tapi tegas. Tidak ada yang meragukan posisinya di sini—ia tidak perlu mengklaim apa pun.
"Dia lagi good mood," komentar Dito pelan, mengikuti arah pandang Abian.
"Kelihatan," jawab Abian.
Ia tidak menyadari sejak kapan ia mulai bisa membaca Thalia dari hal-hal kecil seperti itu.
Malam berjalan ringan. Abian duduk, sesekali ikut tertawa mendengar candaan Dito, menyapa beberapa staff yang sudah mengenalnya. Ia tidak lagi terlihat seperti tamu; lebih seperti seseorang yang sering menunggu di sudut yang sama.
Abian baru saja meletakkan gelasnya ketika ia menoleh ke arah Dito. Musik mengalun lebih rendah dari biasanya—transisi menuju set DJ berikutnya.
"Dit," panggil Abian, nada suaranya santai tapi ada sesuatu yang mengendap di baliknya.
"Sebenernya... posisi Thalia di sini apa?"
Dito berhenti sejenak, menatap Abian seperti sedang menimbang seberapa banyak yang perlu ia katakan. Lalu ia tersenyum kecil.
"Masa lo ga tau? Katanya temen, gimana sih? Dia Owner," jawabnya ringan. "Pemilik club ini."
Abian mengerjap. "Serius?"
"Serius," sahut Dito. "Ini semua punya dia. Tapi ya lo liat sendiri—dia nggak pernah pasang label."
Abian menoleh ke arah Thalia. Cara ia berdiri, berbicara dengan staff, tertawa tanpa berlebihan—semuanya tiba-tiba terasa masuk akal.
"Makanya semua orang di sini respect," lanjut Dito. "Bukan karena jabatan. Tapi karena dia bangun tempat ini dari nol, dan nggak pernah ngerasa superior."
Abian mengangguk pelan. Ada rasa kagum yang tidak bisa ia sembunyikan. Dan entah kenapa, itu membuat perasaannya semakin rumit.
Abian kembali memandangi Thalia dari balik gelasnya.
Owner.
Kata itu masih bergema di kepalanya, seperti gema yang datang terlambat tapi menghantam tepat di d**a.
Perempuan yang ia kenal sebagai receptionist hotel dan bartender itu ternyata adalah pemilik club yang sedang naik daun di Jakarta. Perempuan yang berjalan di antara lampu neon dan dentuman bass miliknya sendiri.
Dan anehnya, fakta itu tidak membuatnya merasa kecil. Tidak ada rasa dilangkahi. Tidak ada dorongan untuk mundur.
Justru sebaliknya. Ia sangat kagum.
Thalia mandiri tanpa perlu menunjukkan kuasa. Ia memimpin tanpa menginjak. Ia kuat tanpa membuat orang lain merasa tak berguna. Keberadaannya tidak meminta Abian mengecil—tidak memaksanya menyesuaikan diri, tidak meniadakan nalurinya sebagai laki-laki.
Ia tidak perlu Abian untuk berdiri.
Namun, tetap memberi ruang jika Abian ingin berdiri di sampingnya.
Perasaan itu asing. Dan menenangkan.
Tanpa sadar, bayangan Clara menyelip di pikirannya.
Clara juga perempuan mandiri. Terlalu mandiri, mungkin. Bersamanya, Abian sering merasa menjadi penonton dalam hidup yang sudah tertata rapi tanpa celah untuknya. Setiap kali ia ingin melindungi, Clara sudah lebih dulu menolak. Setiap kali ia ingin hadir sebagai laki-laki, nalurinya dipatahkan oleh kalimat, "Udah kamu diam aja, tenang, aku bisa selesaikan semuanya."
Bukan salah Clara. Hanya... Abian tidak diberi ruang untuk berguna.
Abian meneguk minumannya sekali lagi, kali ini lebih dalam. Sorotan lampu kembali bergerak. Gheo naik ke panggung.
Set DJ dimulai. Dentuman bass memenuhi ruang, tapi tidak menenggelamkan apa pun justru mengikat semua orang di ritme yang sama. Gheo berdiri di balik booth dengan aura yang sulit diabaikan. Maskulin, fokus, penuh kontrol. Tato di lengannya terlihat jelas saat ia mengangkat satu tangan, memberi aba-aba pada crowd.
Abian memperhatikan Thalia.
Perempuan itu berdiri tak jauh dari panggung, menikmati musik dengan cara yang berbeda. Tidak berlebihan, tidak mencari perhatian. Tapi jelas... bersinar.
Saat set pertama selesai, Gheo turun dari panggung. Keringat membasahi pelipisnya, napasnya sedikit berat, tapi senyumnya lebar saat melihat Thalia.
"Gimana?" tanyanya, suaranya sedikit lebih keras agar terdengar. "Cukup oke ga gue bawa ke DWP?"
Thalia tertawa kecil. "Lo makin songong, ya. Emang di undang buat manggung di DWP?"
"Tahun ini belum, mungkin tahun depan," sahut Gheo cepat.
Thalia mengangguk jujur. "Aamiin, gue doain deh."
Mereka berjalan mendekat ke arah tempat duduk Abian. Gheo memberi isyarat kepada Dito untuk membuatkan dua minuman untuk Gheo dan Thalia.
"Kamu makin betah di sini, ya?" tanyanya pada Abian.
"Lumayan. Aku mulai ngerti kenapa kamu nggak pernah benar-benar pulang cepat dari sini."
"Tempat ini punya caranya sendiri buat bikin orang stay," balas Thalia menyesap minumannya sembari bersandar pada meja Bar. Tatapannya lurus ke depan memperhatikan DJ lain yang sedang bermain di atas panggung. Jemarinya mengetuk gelas mengikuti irama musik.
Gheo menatapnya lebih lama dari biasanya, lalu suaranya merendah. "Ghyta... Ke bali, yuk? Empat hari tiga malam. Gue ada event di atlas.."
Ajakan itu bukan hal baru. Dan biasanya—jawabannya juga bukan hal baru.
Namun kali ini, Thalia tetap bergerak mengikuti musik dan ia tersenyum. "Iya boleh, kapan?" jawabnya ringan sembari menyesap minumannya.
"Lo serius?" tanya Gheo, alisnya terangkat. Ada nada ragu di sana, seperti takut jawabannya hanya candaan. "Jangan bercanda kalo nggak mau."
Thalia menarik napas. Lalu tatapannya beralih ke Gheo.
"Serius," katanya. "Gue ikut."
Gheo terdiam satu detik penuh. "Hah?"
"Ha ho ha ho, kenapa sih?" lanjut Thalia pelan tapi mantap. "Gue juga butuh liburan, sesekali harus nikamtin hidup gue sendiri."
Gheo tertawa kecil, tidak percaya. "Lo yakin ini bukan efek alkohol? Atau lo mulai terpesona sama gue?"
Thalia tersenyum tipis. "Sekali lagi nanya, gue tarik jawaban gue ya.."
Ada sesuatu di mata Gheo yang berubah.
Kaget. Senang. Hati-hati.
"Oke ga akan gue tanya lagi" ulangnya, kali ini lebih lembut.
Thalia mengangguk. "Kasih tau aja kapan, biar gue ajuin cuti ke hotel.."
Gheo menariknya ke pelukan singkat, penuh euforia yang tertahan. Tidak lama, tapi cukup jelas.
"Tenang aja," katanya sambil tertawa kecil. "Tiket, hotel, semua gue yang urus."
Abian menyesap minumannya. Kali ini, lebih cepat. Dadanya terasa panas, tidak nyaman, dan ia tahu ini bukan efek dari alkohon, tetapi dari
perasaannya yang terusik.
Dito yang sejak tadi menyimak sambil menikmati musik dan meracik minuman, tiba-tiba menepuk meja kecil di sampingnya.
"Buset, enak banget hidup lo Ghe. Bali lagi, Bali lagi," celetuknya sambil tertawa. "Gue heran deh, Ghe. Dari dulu lo bolak-balik Bali, tapi gue nggak pernah sekali pun diajak."
Gheo menoleh, mengangkat alis.
"Lo ngapain ikut? Di sini aja kerja, gombalik cewe-cewe."
"Ya kan bosen gitu cewe lokal terus, Bang DJ. Sekali-kali mancanegara" balas Dito santai. "Capek juga tau ngurus club Jakarta melulu."
Thalia tertawa kecil mendengarnya. "Oh cape ngurus club, yaudah kenapa ga resign?" celetuk Thalia yang langsung membuat Dito menyatukan kedua telapak tangannya dan membungkuk.
"Ampun tuan putri, hamba masih ingin di gaji dua digit." Jawabnya yang berhasil membuat Thalia tertawa.
Mood-nya memang sedang baik malam itu—terlalu baik, bahkan. Ada ringan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Abian yang sejak tadi hanya menyimak, melihat celah itu.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, meletakkan gelas di tangannya, lalu berkata seolah bercanda tapi suaranya terdengar terlalu tenang untuk disebut iseng.
"Yaudah," katanya. "Kalau gitu gue sama Dito ikut aja. Gimana?"
Semua mata menoleh ke arahnya.
Abian melirik Thalia sekilas sebelum melanjutkan, "Kebetulan gue juga lagi butuh liburan. Cape, meeting terus.."
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, jantung Thalia berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menatap Abian, lalu Gheo, lalu Dito—dan tanpa sadar tersenyum.
"Sebenernya... ide bagus sih," ujar Thalia akhirnya. "Ramai-ramai malah lebih seru."
Dito langsung mengangkat kedua tangannya.
"NAH! Berarti gue ga perlu ngajuin cuti lagi, udah di acc pusat!"
Gheo terdiam beberapa detik.
Ia menatap Thalia, mencoba membaca apakah ini sungguh-sungguh atau hanya spontanitas sesaat. Bali awalnya adalah undangan yang ia niatkan sederhana—pekerjaan, musik, dan Thalia. Ruang tanpa gangguan. Waktu tanpa orang lain.
Dan sekarang— Ia menarik napas pendek, lalu mengangguk pelan.
"Ya... kalau kalian mau ikut, ya ikut aja. Lumayan buat ngerame-in"
Nada suaranya terdengar santai, tapi Thalia yang mengenalnya cukup lama tahu—Gheo sedang kesal.
Bukan marah. Hanya kecewa karena kesempatan untuk lebih lama sendiri bersama Thalia, menguap begitu saja.
Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya ke arah Thalia, suaranya direndahkan agar hanya mereka berdua yang mendengar.
"Lo yakin?" tanyanya pelan. "Bukan karena kebawa suasana?"
Thalia menatapnya, kali ini lebih tenang.
"Gue butuh liburan, Ge. Gue pengen nikmatin hidup... kayak lo."
Jawaban itu membuat Gheo terdiam.
Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Oke."
Gheo mengalihkan pandangannya kepada Abian yang entah kebetulan atau tidak, juga menatapnya. Mereka tau, satu langkah salah saja, mereka bisa kalah dan kehilangan Thalia.