Thalia POV
Aku tidak langsung bangun.
Bukan karena masih mengantuk, melainkan karena tubuhku sudah terlalu nyaman untuk bergerak. Abian masih di sana. Lengannya melingkar longgar di pinggangku, hangat, tidak menekan, tidak menahan—hanya memastikan aku tidak menjauh darinya.
Hujan masih turun. Pelan, konsisten, seperti berniat menemani hari ini sampai kami siap menghadapi kenyataan.
Aku membuka mata perlahan.
Abian terjaga.
Ia tidak menatapku dengan ekspresi orang yang baru bangun. Matanya sedikit sembab, lingkar gelap samar di bawahnya, seolah pagi tadi tidak memberinya istirahat yang layak. Tapi sorotnya tenang. Terlalu tenang untuk laki-laki yang seharusnya bangun dengan kebingungan.
"Kamu bangun?" suaranya rendah, serak oleh pagi.
Aku mengangguk kecil. "Sejak kapan?"
"Baru sebentar." Ia tersenyum tipis. "Aku takut kamu kebangun kalau aku gerak."
Kalimat itu sederhana, tapi dadaku menghangat aneh. Aku tidak menjawab. Hanya membenamkan wajah sedikit lebih dalam ke bantal, membiarkan jarak di antara kami tetap seperti ini—dekat, tapi belum berani menyebutnya apa.
"Dingin," gumamku jujur.
Abian mendekat sedikit. Tidak mendesak, tidak tiba-tiba. Ia hanya menyesuaikan posisi, membuat aku bersandar ke dadanya. Pakaian kerjanya masih lengkap tergeletak di kursi. Seakan ia memilih tetap siap pergi kapan saja.
Atau mungkin... takut terlalu nyaman.
"Gini lebih hangat?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk lagi.
Kami diam cukup lama. Tidak canggung. Tidak juga terlalu sadar. Hanya dua orang yang sama-sama lelah dan menemukan keheningan yang aman.
"Aku harusnya pulang," katanya akhirnya.
"Tapi?" tanyaku tanpa membuka mata.
"Tapi hujannya awet, aku jadi makin nyaman di sini."
Aku terkekeh kecil. "Ck, padahal kalau pulang juga tidak akan menerobos hujan, tinggal turun dengan lift."
"Aku memang nggak jago bikin alasan," sahutnya cepat. "Aku lebih jago jujur."
Aku membuka mata, menatapnya. "Jujur soal apa?"
Ia berpikir sebentar. "Soal nyaman."
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada genit. Tidak juga romantis berlebihan. Justru datar, seperti fakta.
Aku menelan ludah. "Abian..."
"Iya," sahutnya cepat, seolah siap ditegur.
"Kita seharusnya nggak begini."
Ia mengangguk. "Aku tahu."
Aku mendesah pelan. "Dan aku malah nggak menyuruh kamu pergi."
Ia tersenyum kecil. "Itu yang bikin berbahaya."
Kami tertawa pelan bersamaan. Bukan tawa bahagia—lebih seperti dua orang yang menyadari mereka sedang berdiri di tepi sesuatu yang curam.
Abian mengangkat tangannya, menyentuh pipiku. Hangat. Lembut. Tidak meminta apa pun. Hanya menyentuh, lalu berhenti.
Ia menciumku pelan. Tanpa tuntutan balasan. Bibirnya hanya menetap sesaat, seperti janji yang tidak diucapkan. Aku diam. Tidak menjauh, tidak juga menyambut. Tapi aku tidak menghentikannya.
Ia mundur perlahan. Kami akhirnya bangun. Aku meminjamkan kaus kepadanya—yang kebesaran, membuatnya terlihat sedikit... tidak seperti Abian yang kukenal di jas rapi dan ruang rapat. Kami minum kopi di dapur kecilku. Berdiri berdampingan, bahu kami beberapa kali bersenggolan tanpa disengaja.
"Tapi beneran, aku lebih nyaman di sini dari pada apartemenku, lebih..." tanyanya sambil mengaduk kopinya.
"Apa?" tanggapku sembari menyesap kopiku.
"Hangat."
Aku menatapnya. "Kamu menilai dari kopinya atau ruangannya?"
Ia terkekeh. "Dari suasananya."
Aku tersenyum kecil. "Kamu terlalu puitis buat jam segini."
"Biasanya aku kaku," balasnya. "Entah kenapa di sini... aku lebih gampang ngomong."
Aku tidak menjawab. Karena aku merasakan hal yang sama.
Kami duduk di sofa. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak menjaga jarak berlebihan.
"Kamu kerja hari ini?" tanyanya.
"Aku libur hari ini. Kamu?"
"Harusnya, tapi aku izin."
Kami saling menatap, lalu tertawa kecil. Seperti pasangan yang tidak ingin disebut pasangan.
"Thalia," katanya tiba-tiba, serius.
"Hm?"
"Aku nggak nyesel soal tadi pagi."
Dadaku mengencang. "Abian—"
"Tunggu," potongnya lembut. "Aku juga nggak berharap apa-apa. Aku cuma... pengin kamu tahu."
Aku mengangguk pelan. "Aku juga nggak nyesel."
Ia tersenyum, lega. "Berarti kita sama-sama bersalah."
"Ya, namanya juga manusia," balasku.
Tak lama dari sana, handphone miliknya berbunyi. Lalu berhenti, berubah menjadi dentingan notifikasi pesan. Wajahnya yang semula santai berubah menjadi tegas kembali.
Ia berdiri, mengambil jasnya agak terburu-buru "Aku harus pergi."
Aku mengangguk lalu mengantarnya sampai pintu. Ingin rasanya aku bertanya kenapa buru-buru, tetapi aku memilih untuk lebih baik tidak tahu. Saat ia hendak keluar, ia berhenti.
"Nanti aku kembali lagi, aku akan kabari." ucapnya seakan menjanjikan sesuatu yang tidak ingin aku pegang.
Aku menatapnya lama. Lalu tersenyum pahit. "Sudah sana."
Ia tersenyum—senyum yang tidak menang, tapi juga tidak kecewa.
Saat pintu tertutup dan aku sendirian, aku bersandar di sana cukup lama.
Aku tahu.
Yang paling berbahaya dari pagi ini bukan ciuman, bukan pelukan, bukan tubuh yang saling mencari hangat.
Melainkan kenyataan bahwa
kami berdua mulai merasa tenang saat bersama satu sama lain. Dan ketenangan seperti itu tidak pernah datang tanpa harga.
—-
Malam itu aku tidak kembali ke club milikku.
Aku memilih menerima undangan Gheo—undangan yang sudah beberapa hari terselip di chat, singkat, santai, khas dirinya.
"Main ke Orion. Gue manggung malam ini."
Tidak ada embel-embel lain. Tidak ada rayuan. Seperti biasa, ia selalu memberi ruang seolah aku bebas memilih, meski aku tahu... ia selalu berharap aku datang.
Dan entah kenapa, malam ini aku datang.
Orion berbeda dari clubku. Lebih gelap, lebih liar, lebih padat. Lampu-lampu bergerak liar di atas kepala, asap tipis menggantung di udara, dan dentuman bass terasa sampai ke tulang. Aku berdiri di pinggir dance floor, membiarkan musik menyusup ke tubuhku pelan-pelan.
Lalu aku melihatnya.
Gheo berdiri di balik DJ booth, tubuhnya sedikit condong ke depan, satu tangan mengatur mixer, satu lagi sesekali mengangkat headphone. Lengan kanannya terbuka—tato hitam di kulitnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu. Rahangnya tegas, sorot matanya fokus, tenang, seperti ia sepenuhnya tahu apa yang sedang ia lakukan.
Tampan. Maskulin.
Dan berbahaya dengan caranya sendiri.
Aku tidak heran ketika beberapa perempuan mulai mendekat ke area booth. Ada yang tersenyum berlebihan, ada yang sengaja menari terlalu dekat, ada yang terang-terangan menatapnya seolah ingin ditatap balik.
Gheo tidak menanggapi.
Ia tidak dingin. Tidak juga arogan.
Ia hanya... tidak berpaling.
Tatapannya justru mencari.
Dan saat matanya akhirnya bertemu denganku, aku tahu—aku tidak salah datang.
Ia mengangkat alisnya sedikit, senyum kecil terukir di sudut bibirnya. Bukan senyum untuk penonton. Untukku. Tangannya bergerak halus mengubah beat, dan musik seakan menyesuaikan ritmeku.
Aku tertawa kecil sendiri.
"Pamer," gumamku.
Aku membiarkan diriku larut. Menari tanpa beban, tanpa perhitungan. Malam ini aku bukan Thalia pemilik club. Bukan Thalia yang berpikir terlalu banyak. Aku hanya perempuan yang menikmati musik dan cahaya.
Dan Gheo memperhatikanku.
Bukan dengan tatapan lapar. Tapi dengan perhatian yang konsisten, seolah memastikan aku baik-baik saja di tengah keramaian. Setiap kali aku menoleh ke arahnya, matanya sudah lebih dulu ada di sana.
Selesai set, ia turun menghampiriku.
"Gila," katanya sambil menyeringai. "Gue kira lo bakal ga datang lagi."
Aku mengangkat bahu. "Lagi pengen dengar musik kebetulan."
"Dan lo ga salah pilih nonton penampilan gue," balasnya cepat.
"Jangan besar kepala."
Ia tertawa, suara rendahnya nyaris tenggelam oleh musik latar. "Lo minum?"
"Boleh."
Ia mengambilkan minuman untukku, menyerahkannya tanpa menyentuh tanganku. Selalu begitu. Sejak dulu, ia tahu batas yang tidak boleh ia lewati—bukan karena aku melarang, tapi karena ia memilih menghormatinya.
Kami berdiri berdampingan, bahu kami sesekali bersenggolan. Percakapan kami ringan. Tentang musik, tentang crowd, tentang hal-hal sepele yang tidak menuntut apa pun.
"Lo kelihatan lebih hidup malam ini," katanya tiba-tiba.
Aku menoleh. "Masa?"
"Iya." Ia menatapku lama. "Kayak... lagi senang."
Aku terdiam. Tidak menjawab.
Gheo tidak memaksa. Ia hanya mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke dance floor.
"Ada yang bikin lo senyum hari ini?" tanyanya santai, seolah hanya ingin tahu.
Aku memikirkan pagi tadi. Hujan. Kopi. Pelukan yang terlalu tenang untuk disebut kebetulan.
"Ada," jawabku jujur.
Ia mengangguk. Tidak cemburu. Tidak menyela. Tapi rahangnya mengeras sesaat—hal kecil yang mungkin hanya aku yang menyadarinya.
"Gue seneng," katanya akhirnya. "Selama lo seneng. Tapi, kalau ada yang bikin lo sedih atau sakit, tinggalin. Kasi tau gue."
Aku menatapnya. "Lo selalu bilang begitu."
"Karena itu satu-satunya hal yang gue bisa lakuin buat lo."
Di kejauhan, musik kembali menguat. Lampu menyapu ruangan. Dan di tengah keramaian itu, aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku terasa sesak—
Ada dua laki-laki yang memperhatikanku dengan cara yang sangat berbeda.
Yang satu membuatku merasa tenang hingga lupa batas. Yang satu membuatku merasa aman tanpa pernah menyentuh.
Dan aku tidak tahu mana yang lebih berbahaya
untuk seseorang sepertiku yang masih belajar
bagaimana caranya tidak mati rasa.
Malam terus berjalan. Aku membiarkan diriku tinggal sedikit lebih lama, menemani Gheo melakukan penampilannya yang selalu memiliki kharisma tersendiri, namun, pikiranku entah ada di mana.