9

1029 Words
"Kami mau kembali ke pantai, harapan untuk selamat di sana lebih besar daripada di dalam hutan," ucap dua orang perempuan, diiyakan oleh beberapa orang laki laki. Sebenarnya mereka tidak pernah tahu kalau ternyata yang ikut ke dalam hutan banyak sekali. Hingga pada titik di mana mereka terlalu lelah akhirnya yang memutuskan untuk lanjut mencari pemukiman penduduk adalah enam orang. Mahesa, Margareta, Dean, Valen, Hanum dan Dito. Dengan keadaan lemas tak berdaya mereka yang tidak memutuskan melanjutkan perjalanan berbalik arah. Menggantungkan harapan pada pantai dan lautan. Malam kembali menyambut, gulita pekat kembali melumat terang hingga di antara keenam orang itu hanya mengandalkan cahaya dari api unggun. "Mereka sudah sampai pantai belum, ya?" tanya Margareta, bagaimanapun hati seorang perempuan lebih peka dan banyak khawatir. "Semoga saja sudah." Valen seperti seorang anak kecil, dia membawa kayu panjang dan memainkan api. Menciptakan bara yang terbang rendah di udara. Sementara itu Mahesa, untuk pertama kalinya dia penasaran dengan apa yang diucapkan Hanun. "Num," sapa Mahesa. Perempuan yang tengah memeluk lututnya itu mengangkat wajahnya, lalu melihat Mahesa dengan manik mata sepekat arang. "Waktu di sekoci, lo mengatakan sesuatu, gue penasaran apa maksud dari perkataan Lo waktu itu?" Dean dan Valen mengangguk seakan mereka mengatakan jika pertanyaan yang Mahesa utarakan mewakili rasa penasaran mereka. "Hah, yang mana?" tanya Hanum, dia sudah mengubah posisi duduknya hingga tegak. "Jangan takut untuk melangkah, Lautan Ilusi dan pulau Marai yang kalian anggap sebuah mitos itu sesungguhnya ada. Dan di sinilah kalian berpijak. Berhati-hatilah pada dua pria dengan segara biru." "Siapa pria dengan segara biru?" tanya Valen "Emang gue ngomong gitu pas di sekoci?" tanya Hanum. "Iya, tapi kalian sadar gak sih, kayak bukan Hanum yang ngomong. Dia kayak gak sadar pas ngucapin itu," ungkap Margareta. Hanum menelan ludah, benar adanya dia sama sekali tidak menyadari Apa yang dikatakan. Perempuan itu merasa tidak mengatakan itu, bahkan ini adalah pertama kalinya dia mendengar dua pria dengan segara biru. "Gue beneran gak tahu." Dean yang duduk paling dekat dengt Hanum berusaha menenangkan perempuan itu dengan mengusap pundaknya. "Udah gak usah dipikirin." Hanum mengangguk. Keenam orang itu mengambil posisi untuk merebahkan tubuhnya. Dengan alas tidur seadanya yang disediakan oleh alam. Nyenyaknya tidur mereka terganggu boleh gaduhnya suara tepat di tengah malam. Valen lah yang pertama kali merasakannya. "Dean, Dean, Bagun Dean." Tubuh lelaki itu diguncang lembut oleh Valen. Saking jelasanya kegaduhan yang dia dengar, dia yakin bahwa lokasi pemukiman itu tidaklah jauh dari tempatnya kini. Dean hanya menggeliat sedikit, rasa lelah dan kantuk memeluk erat tubuhnya. Tidak berhasil membangunkan Dean, Valen lalu membangunkan Margareta. "Mbak, Mbak." Diusap usap tangannya, Margareta menggeliat dan langsung bangun begitu melihat Valen menatapnya. "Ada apa Valen?" "Mbak dengar itu?" tanya Valen. Margareta diam, berusaha mendengar apa yang Valen dengar. Wajahnya semringah, senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Tidak sia sia dirinya bertahan di dalam hutan karena ternyata yang dia tuju sudah sangat dekat. "Tidurlah dulu, siapkan tenaga untuk besok melanjutkan perjalanan." Valen mengangguk, dia kembali pejamkan mata. Sayangnya lelaki itu tidak bisa tidur, persis sama seperti malam sebelum dia berangkat menggunakan kapal Feri. Keesokan paginya, Mahesa bangun lebih awal, api unggun sudah padam, menyisakan bara dan abu pembakaran yang banyak menumpuk. "Semalam gue dengar kok," ucap Dito saat Margareta menceritakan kejadian semalam kepada Hanum. "Dengar apa?" tanya Mahesa. "Dengar suara seperti keriuhan orang orang, kayak ada aktivitas gitu. Gue yakin kita sudah dekat," ucap Valen antusias. Lelaki itu baru bangun tidur, suaranya masih serak. Dean mengeluarkan sesuatu dalam saku bajunya, buah murbei yang dibungkus daun lebar. Bentuknya sudah tidak karuan, tetapi lumayan untuk mencuci mulut mereka pagi ini. "Yang ungu lebih manis," ucap Margareta. "Tapi udah gepeng," celetuk Hanum, meski begitu tetap saja dimakannya. "Ayo lanjut jalan?" tanya Dean. "Gue kepengen ke belakang," celetuk Margareta. Hanum berdiri lalu dia mengangguk dan mengerti kebutuhan setiap manusia di pagi hari. Sembari menunggu Margareta dan Hanum selesai, empat pria itu saling menceritakan dan memperkirakan apa kegaduhan yang mereka dengar setiap malamnya. "Pasar malam gak sih?" tanya Dean. "Harusnya kalau pasar malam ada musik, di Komidi putar gitu kan biasanya pake musik, dangdutan gitu." Pendapat Valen benar adanya. Semua setuju. "Mungkin pasar malam, yang bener bener pasar, tempat jual beli sayuran gitu. Di salah satu daerah di Jawa Barat ada pasar yang bukanya jam dua belas malam sampe jam delapan pagi." Dean yang selalu keliling Indonesia pernah melihat hal itu. "Ya mungkin saja, duh mereka lama banget." Dito mengeluh. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian dua perempuan itu muncul kembali. Perjalanan mencari sumber kegaduhan itu kembali dilanjutkan. Mereka berjalan menyusuri hutan dengan semak belukar, membuka dalan dengan batang kayu yang mereka temukan di jalan. Lalu berusaha menyibak tumbuhan tumbuhan yang menghalangi jalan mereka. Semakin jauh berjalan, tidak ada tanda tanda mereka akan menemukan ujung hutan. Putus asa tentu saja, seharian berjalan membuat keenam orang tadi merasa sangat lelah dan lapar. "Harusnya benar gak sih, kita gak boleh jauh jauh dari pantai?" tanya Dean, yang mulai merasakan jika perjalanan mereka di hutan itu sia sia. "Di rumah penduduk setidaknya ada alat komunikasi yang bisa kita pinjam, penyelamat pun bisa cepat datang." "Bagaimana jika orang-orang di pantai ternyata sudah berhasil di selamatkan?" tanya Valen. Mereka semua termenung, bisa saja hal itu terjadi, dan setidaknya jika mati karena tidak bisa bertahan di pantai, tim penyelamat bisa dengan mudah membawa jenazah mereka ke pangkuan keluarga. "Siapa yang setuju untuk kembali?" tanya Mahesa. Semua mengangkat tangannya. Keinginan yang sama dari enam orang itu mengantarkan mereka untuk putar balik dan kembali menuju pantai. Tidak ada yang sia sia dalam setiap perjalanan, meski perjalanan kali ini termasuk gagal dan tidak bertemu dengan ujungnya. Dari perjalanan ini mereka belajar arti sebuah persahabatan yang sebenarnya. Dari perjalanan kali ini mengajarkan mereka untuk senantiasa bersyukur karena mendapatkan makanan itu ternyata hal yang tidak mudah. Sulitnya mencari makanan membuat mereka sadar bahwa syukur itu merupakan hal yang patut mereka lakukan. Perjalanan putar arah menuju pantai kali ini tidak terlalu berat, mereka tidak perlu susah payah membuka jalan, karena sudah ada jalan setapak yang mereka lalui sebelumnya. "Gue lapar," celetuk Dean di tengah perjalanan. "Sama," jawab Valen. "Sabar, nanti di pantai kita mancing ikan," hibur Mahesa, dia sendiri pun sebenarnya sangat lapar. Menghibur teman-temannya berarti menghibur diri sendiri jika tidak lama lagi mereka akan menemukan sumber makanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD