Mengikuti jalanan yang telah mereka buka sebelumnya, perjalanan kembali ke pantai menjadi tidak terlalu sulit digapai. Mahesa sebagai sosok yang lebih tua, berjalan paling depan. Sedangkan Margareta dan Hanum mengikuti di belakangnya.
Perih dan sakit di ulu hati yang disebabkan oleh lapar dirasakan oleh masing-masing pemuda yang berjalan kian lambat. Napas Valen terengah, dia hampir pingsan.
“Bro, stop dulu!” teriak Dean yang berjalan tepat di belakang Valen. Mahesa, Margareta dan Hanum menghentikan langkahnya. Valen berlutut seraya memegangi perutnya kesakitan.
“Mau ke belakang, lo?” tanya Margareta, mengira Valen sakit perut karena ingin ke belakang.
“Perih,” rintih Valen, perut rasanya seperti diperas, mata berkunang-kunang dan berkeringat dingin.
Tidak ada makanan yang mereka miliki, jika boleh jujur mereka sama-sama lapar, hanya saja ketahanan tubuhnya lebih kuat dibandingkan Valen. Paku sayur dan tanaman Sellaginela yang mereka makan ternyata tidak cukup mengenyangkan. Kini tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk pengganjal perut.
“Kalian duluan saja.” Valen kembali merintih. Untuk duluan ke pantai mereka tidak mau, tidak mungkin meninggalkan Valen sendirian kesakitan di hutan. Apalagi Valen adalah orang yang mempunyai banyak jasa.
Menyelamatkan Margareta yang terjepit di kapal, menyelamatkan dan merawat luka Dean hingga tidak menimbulkan infeksi, menolong orang yang terkena hipotermia meski takdir tidak sepakat dengan keinginan mereka.Dan Valenlah yang berjasa membuat api serta banyak lagi penemuan lain yang dia ciptakan.
Jika Valen ditinggalkan tidak akan ada orang yang peduli lagi kepada mereka, jika Valen dibiarkan merasakan rasa sakit sendirian bisa saja pemuda berwajah sedikit cantik tidak bisa bertahan dan mungkin akan menerima takdirnya sebagai sosok tak bernyawa.
“Gue tetep di sini, kalian yang ingin cepat sampai pantai bisa duluan,” ucap Dean, lelaki yang paling banyak dibantu oleh Valen.
“Gue di sini juga.” Merasa berutang, Margareta mendekat dia menjadikan pahaanya sebagai bantalan untuk Valen yang dibaringkan di atas permukaan tanah dengan posisi meringkuk persis seperti udang.
“Gue juga!” Akhirnya Mahesa dan yang lain pun memilih untuk menolong Valen.
Perih yang dirasakan Valen disertai dengan dorongan dari dalam perut yang terus merayap naik hingga membuat dadaa dan tenggorokannya sakit. Rasanya napas begitu sesak, anak muda itu takut untuk memejamkan mata. Takut saat kelopaknya dipejamkan, tidak pernah terbuka lagi.
“Gak usah khawatir, gue emang punya sakit lambung. Gue memang begini kalau telat makan.” Di tengah rintihannya Valen masih bisa bergumam menenangkan kelima temannya.
“Biasanya kalau sakit begini lo ngapain, ini gue mesti gimana buat nolong lo?” Dean menjadi sosok yang paling khawatir, jujur memang dia merasa kesal dengan kehadiran Valen sejak pertama kali dia mengikuti Dean ke mana pun di atas kapal. Lama kelamaan perasaan kesal itu berganti menjadi rasa seorang kakak laki-laki terhadap adiknya.
“Biasanya minum obat doang, minum air hangat dan makan. Udah sembuh, Kak Dean jangan tanya terus.”
“Valen, lo tidur aja,” perintah Mahesa. “Gue nyari yang bisa makan sebentar, siapa tahu di dalam sana ada rumah makan Padang.” Lelaki itu berusaha mencairkan ketegangan dengan melontarkan gurauan, diikuti oleh Dito dan Hanum, mereka akhirnya berjalan ke arah yang entah sebelah mana. Yang pasti mereka hanya mengikuti feeling dan kata hati ke mana harus melangkah.
“Lo dengar itu?” tanya Dito. Dari jarak beberapa meter terdengar teriakan teriakan persis seperti suara primata sejenis monyet. Mereka mendekat dan benar saja, banyak monyet kecil bergelantungan loncat sana sini.
Mahesa tersenyum lebar, dengan adanya makhluk itu berarti ada sumber makanan tidak jauh dari tempat ini. Pasti ada banyak buah buahan mengingat mereka memang makan buah. Berhati-hati tiga orang itu terus melangkah.
Sementara itu, Dean terus menjaga Valen. Menghapus bulir bulir keringat yang terus membasahi pipi Valen. Teringat akan kisahnya yang mendapatkan beasiswa jalur prestasi. Dean terus mengingat bagaimana lelaki ini merasa sangat takut mabuk laut karena ini adalah perjalanan pertama menggunakan kapal Feri.
Perjalanan pertama yang berakhir menyedihkan seperti sekarang ini.
“Di tas ada obat asam lambung,” ucap Valen.
“Di tas gue juga ada laptop sama sedikit makanan, sayang sekali tasnya ikut tenggelam bareng kapal.” Dean mendengkus kesal, sedang sakit begitu pun ada saja yang membuat dirinya gemas, Dia lantas mengacak poni Valen yang lengket karena kebanyakan keringat.
“Sekoci masih ada, kan di pantai?” tanya Margareta. Menatap wajah Valen yang terpejam karena kesakitan perempuan itu mengingat adiknya yang lama tidak dia jumpai.
“Mungkin masih ada, kenapa, mau pulang pakai itu?” tanya Dean.
“No! Maksud gue, nanti ketika sampai di pantai bagaimana jika salah seorang dari kita, kami semua naik sekoci ke lokasi tenggelamnya kapal. Tas kita semua itu tidak mungkin semuanya ikut tenggelam. Siapa tahu ada yang mengapung, cari saja.”
Ide cemerlang. Valen yang sedari tadi memejamkan mata karena kesakitan langsung terbangun, dia menatap wajah Margareta. Lalu tersenyum karena satu pemikiran dengannya.
“Gue sebenarnya pengen usul begini juga, tapi udah kebanyakan ide gila entar gue disangka cerewet dan sok tahu.” Lelaki itu berucap seraya memengangi perutnya yang perih.
“Lo emang cerewet, itu lagi sakit aja masih bisa ngomong panjang lebar. Udah diem.” Dean mengomeli Valen bukan karena tidak peduli, dia hanya merasa setidaknya dengan begitu bisa menutupi perasaan cemas yang berlebihan.
“Ya siapa tahu nanti yang ketemu itu tas gue, di sana ada obat. Jadi kalau sakit lagi kayak begini gue gak nyusahin lagi.”
Dean menyentil kening Valen dengan pelan. Lalu membiarkan lelaki itu untuk terus menikmati rasa sakit.
Margareta hanya tersenyum dengan perdebatan yang terjadi, entah mengapa justru hanya dialah yang menikmati perjalanan ini, berada di hutan, kesulitan makanan, dan bahkan dia harus terus tahan haus. Margareta berpikir, jika sekarang mereka sudah sampai di Surabaya bisa saja dia tertangkap orang suruhannya Max dan Istrinya.
Tuhan seperti memberikan bonus kepada dirinya dalam tempat persembunyian, yaitu teman yang asik. Seperti Mahesa yang tiba-tiba datang membawa banyak makanan seperti sekarang ini. Mereka tidak menyangka lelaki itu benar benar datang dan membawa makanan seperti baru pulang dari pasar buah.
“Len, bangun, Len. Liat banyak sekali makanan di sini.” Valen menoleh, perutnya berteriak minta buah bulat dengan warna yang cantik. Lelaki itu tidak tahu buah apa itu namanya.
Hanum dan Dito membawa dua botol air mineral yang kemasannya sangat usang dan sedikit jernih. Air di dalamnya bersih.
“Lo dapat ini semua dari mana? Ada kebun buah di sini, ya?”
Mahesa, Dito dan Hanum saling pandang. Lalu dia menyodorkan tangannya, di pergelangan tangan terdapat bekas gigitan dan cakaran, terlihat menyakitkan.
“Ini bayaran yang gue dapat untuk makanan-makanan itu,” ucapnya, tanpa memberitahukan lebih detail lagi. Dia hanya melihat sekeliling, dan memberikan buah buahan itu agar semua temannya bisa ikut makan.