“Ini bayaran yang gue dapat untuk makanan-makanan itu,” ucap Mahesa, tanpa memberitahukan lebih detail lagi. Dia hanya melihat sekeliling, dan memberikan buah buahan itu agar semua temannya bisa ikut makan.
Valen mulai dengan mengambil satu sisir pisang aneh sekali, di hutan tepi pantai dia rasa tidak ada pohon pisang. Sepanjang belusukan di hutan pun mereka tidak melihat pohon pisang. Semak belukar iya, banyak.
Selain itu, buah buahan yang dia bawa pun sangat manis.
"Gue beneran penasaran Lo dapet makanan ini darimana?" Rupanya Margareta pun ingin tahu. Kemudian dia mengambil buah semangka yang sudah terbelah, lebih tepatnya dibelah dengan cara dibenturkan ke bebatuan.
Manis dan tanpa biji, dia berani menjamin, buah ini jika di supermarket harganya mahal.
"Kalian gak bakalan jijik kalau seandainya gue kasih tahu dari mana itu makanan berasal?" tanya Mahesa.
Kunyahan Margareta melambat, dia mulai curiga dan punya firasat yang gak enak perihal buah buahan ini, ditambah dengan luka luka yang dimiliki oleh Mahesa.
Terlihat seperti cakaran hewan buas. Hanum juga tidak banyak bicara, dia menikmati pisang dengan enggan.
"Lo mungut di mana?" tanya Dean yang juga sama sama penasaran.
"Kami mencuri di sarang monyet." Dito membeberkan kenyataannya.
Membuat kunyahan Dean, Margareta dan Valen berhenti serempak. Bukan jijik melainkan mereka takut monyet monyet yang marah akan menyerang mereka.
"Gak bakalan, gue udah hajar mereka, gue bilang sama mereka buat gak ikuti kami." Mahesa kembali mencomot semangka manis yang sempat dia pecahkan tadi.
"Ya kali mereka mengerti." Dean memutar matanya, lantas lelaki itu berdiri dan melihat sekeliling. Memang aman, tidak ada seorang pun yang mengejar atau mengikuti Mahesa.
Ketika bersama, rasa takut memang sirna begitu saja, perjalanan mengerikan itu pun kini hanya tinggal mereka lalui dengan melawan lapar dan dahaga.
Ketika salah satu dari mereka sakit seperti saat ini, maka bagai seorang ibu yang anaknya sakit, semua pun merasakan penderitaan itu.
Sudah tak terhitung berapa malam mereka berada di hutan itu, pastinya malam demi malam mereka lalui dengan cepat.
Kicau burung adalah salah satu tanda jika malam telah meninggalkan hari berganti menjadi pagi yang hangat dengan matahari yang mengintip dari celah daun.
Perasaan ingin sampai ke pantai begitu menggebu. Mereka yakin Tim SAR sudah datang menyelamatkan orang orang yang sudah berada di tepi pantai.
Beristirahat beberapa waktu, Valen terlihat lebih segar. Dia memaksakan diri karena tidak mau berlama lama tinggal di hutan.
Terlebih lagi, Dean terus mengolok olok Valen tentang sakitnya, katanya sih penyakit orang susah dipelihara terus.
Berjalan di tengah hamparan belukar yang basah berembun, enam anak manusia itu berharap bisa segera sampai di pantai.
Angin berembus sedikit kencang, gemuruh ombak terdengar samar. Semringah, mereka akhirnya bisa kembali ke pantai dengan selamat. Tidak ada penyesalan mengapa mereka sampai menjelajah hutan. Setidaknya, makanan mereka kantongi cukup untuk dua hari jika dihemat.
Formasi pohon yang rapat kini mulai berkurang, mereka bisa melihat langit dan laut.
Mereka bisa merasakan aroma asin yang dirindukan, lalu menjejak kaki di hamparan pasir.
Namun alangkah terkejutnya ketika sampai di pantai, orang orang bergelimang lemah. Ada yang terseret ombak, ada yang mengulurkan tangan minta pertolongan dan tidak sedikit yang tak mampu bertahan.
Menyerah pada takdir dan hingga hidup berakhir karena hipotermia, kelaparan dan kehausan.
Sungguh kematian yang sia sia. Hanya dengan menunggu pertolongan yang tak kunjung tiba.
Tungkai kaki Valen lemas, dia harus menyaksikan orang orang yang pernah dia lihat di kapal kini hanya tinggal nama.
Membusuk dan menguarkan aroma tidak sedap dengan keadaan yang menyedihkan.
Dean mendekati orang yang mengacungkan tangan minta pertolongan.
Sisa air tawar yang didapatkan dari hutan dia berikan dan disambut dengan rakus oleh laki laki separuh baya itu.
Pisang matang yang mereka rampas dari kawanan monyet pun diberikan kepada sosok kelaparan.
Orang orang yang sekarat berusaha mereka tolong, meski mustahil dan harapan untuk kembali hidup amatlah tipis.
"Valen, Lo gak tolong mereka, CPR lagi?" tanya Margareta. Valen meringis, pria itu melihat kedua telapak tangannya dan bergetar hebat.
Gagal dalam menolong orang terkena hipotermia menorehkan trauma yang mendalam bagi lelaki berusia delapan belas tahun itu.
"Gak usah kalau gak sanggup," ucap Hanum. Menepuk pundak Valen, berusaha memberikan kekuatan kepada lelaki itu. Valen tersenyum pias. Dirinya tidak bisa, tidak bisa!
Dean melihat sekeliling, betapa mengerikannya pantai ini. Kalung segara biru yang dia kantongi terasa panas. Pun dengan Mahesa, dia meraba lehernya, kalung yang dia kenakan memancarkan cahaya yang berkilau kebiruan.
Pulau Marai dan Lautan Ilusi mereka lihat seperti Ilusi, lautan hampa yang berkabut dan pulau suram tak terawat.
Bahkan gelimang mayat mayat di tepian pantai pun rasanya seperti tidak nyata. Mereka seperti sedang diperdaya oleh sebuah tipuan nyata.
Berbeda dengan Mahesa dan Dean, orang orang yang tersisa justru melihat keindahan. Laut yang biru dan juga pulau berpasir kemerahan yang halus membelai telapak kaki mereka.
Sapuan ombak kecil laksana lidah yang menjilati kaki, memberikan sensasi nyaman yang membuat mereka betah tinggal di sana.
"Dean dan Mahesa ngapain, bukannya nolong orang malah pandang pandangan gak jelas."
Dito menggerutu, dia diikuti Margareta dan Valen juga Hanum berlari menghampiri sekumpulan orang yang tidak berdaya.
Memberikan sebisa bisa pertolongan, air, makanan dan perlindungan dari sengatan sinar matahari yang sudah mulai meninggi.
Segara biru perlahan meredup, kemudian padam. Penglihatan Dean dan Mahesa kembali sama dengan penglihatan yang lainnya.
Bergegas keduanya menolong sambil berpikir keras apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Sesekali Dean menatap Mahesa, raut wajah keduanya terbaca sedang ruwet dan penuh pertanyaan.
Setelah menolong orang orang itu mereka menyingkirkan jenazah, dikumpulkan di satu tempat agar nanti jika penyelamat datang mereka bisa membawa pulang ke pangkuan keluarga agar dikebumikan sesuai dengan kepercayaan masing masing.
"Apa kita bisa bernasib sama dengan mereka?" tanya Valen.
Bukannya takut kepada kematian, bocah paling muda itu takut mati sebelum dia mengucap maaf dan menatap wajah ibunya untuk yang terakhir kali, terkesan lemah memang, tetapi bisa apa memang seperti itu kenyataannya.
"Cepat atau lambat. Kejadian hari ini membuktikan bahwa bergerak adalah pilihan yang tepat, lihat saja, mereka yang memilih untuk kembali dan berdiam diri justru menjemput kematian lebih cepat." Mahesa menatap jauh ke lautan lepas tak tampak setitik pun kapal yang akan datang menyelamatkan mereka, selain burung burung yang terbang rendah dan sesekali menyentuh permukaan laut.