Barisan bukit itu seperti tampak seperti benteng pembatas, meski jaraknya masih jauh mereka melihat kontur pepohonan yang semakin jelas.
Kembalinya Hanum dan Dito membuat semua senang, terutama Margareta karena memiliki teman sesama perempuan.
Namun, Dean dan Mahesa melihat Hanum berbeda. Apalagi ketika liontin Segara Biru sedang bekerja.
Bukan hanya alam sekitar yang berubah, melainkan Hanum juga.
Hanum tidak terlihat seperti manusia pada umumnya. Wajahnya pucat, matanya merah dengan bibir kebiruan. Gerak perempuan itu pun lamban, tidak ada cahaya yang terpancar di wajahnya.
Mahesa memberi kode kepada Dean untuk mendekat. Keduanya lalu berjalan melambat. Membiarkan yang lain jalan duluan.
"Dean, Lo sentuh liontinnya?" bisik Mahesa.
"Gue penasaran, Lo lihat Hanum?"
Mahesa mengangguk, dia tidak mengalihkan pandangan dari sosok yang sedang mereka bicarakan, seakan takut jika lengah sedikit saja sosok itu akan menghilang. Sama seperti matahari yang tenggelam kala malam tiba.
"Iya, sebenernya yang enggak nyata itu penglihatan tanpa liontin ini atau dengan liontin ini?"
"Kita perlu selidiki. Lo ingat gak apa yang dikatakan Hanum di sekoci. Dia bilang hati-hati dengan dua orang dengan segara biru. Liontinnya berwarna biru. Mungkinkah itu kita?" bisik Mahesa.
"Bisa jadi, yang pasti kita harus hati-hati."
Usai mengucapkan kalimat itu, Hanum menoleh ke belakang, mengangkat sudut bibirnya sedikit seakan tahu dengan apa yang dibicarakan oleh Mahesa dan juga Dean.
Bibir dua lelaki itu sontak terkatup. Tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai sampai salah tingkah dibuatnya.
"Kok gak sampai-sampai," keluh Valen. Lelaki itu mulai menyentuh perutnya, khawatir temannya itu akan tumbang lagi, Dean buru buru berinisiatif mengajak semuanya beristirahat.
Dia tidak tahu pasti sampai kapan penglihatannya akan berakhir. Rasanya tidak betah melihat suasana yang kelabu persis seperti sedang menonton acara di televisi tidak berwarna.
Mahesa berjalan agak menjauh, dia harus mendapatkan makanan untuk Valen. Benar saja, di ujung batas pantai dan hutan ada sesuatu yang bisa mereka makan.
Padahal Mahesa hanya memikirkan itu, hanya membayangkan seandainya di sana ada makanan.
Bukan makanan yang istimewa, bukan makanan mewah, melainkan sebuah semangka berukuran sedang yang sepertinya terbawa hanyut oleh air laut. Salah satu sisinya hampir membusuk, tetapi sisi lainnya masih bisa dan layak dikonsumsi.
"Di laut begini ada semangka, aneh gak sih?" celetuk Dean.
"Ini Pulau Marai, Lautan Ilusi," papar Hanum.
"Apa yang kalian butuhkan bisa kalian dapatkan." Begitu kata Hanum.
Dia mengambil potongan kecil semangka dan memakannya.
"Kalian pernah mendengar Legenda Pulau Marai, Pulau Kabut, Lautan Ilusi?" tanya Hanum.
Dean masih tidak sanggup melihat wajah perempuan itu. Rasanya begitu menakutkan, tidak seperti Hanum yang menangis di tengah hutan karena ingin pulang. Tidak seperti Hanum yang biasa dia lihat.
Dito? Tidak jauh beda dengan Hanum, hanya saja tidak begitu menakutkan. Dean lantas menepis pikirannya. Mungkin Hanum dan Dito kelelahan mengejar mereka sampai sejauh ini.
"Gue gak tahu, selama tinggal di Kalimantan sekalipun gak pernah dengar namanya pulau Marai." Mahesa menjawab, dia mencoret coret pasir dengan ranting kering. Menuliskan namanya, nama ibunya di sana. Ah ... Seharusnya kini dia sedang menikmati masakan sang Ibu. Menikmati kepulangannya ke Surabaya.
"Kalau pulau Kabut pernah dengar dari Ibu. Katanya banyak makhluk bukan manusia di sana." Valen menikmati semangka itu hingga mulutnya sedikit belepotan.
"Pulau Kabut dan Pulau Marai itu bisa dikatakan sama, bisa dikatakan beda. Tempat yang kita pijak saat ini adalah pulau Marai, dan balik bukit sana ada pulau Kabut."
"Kenapa baru bilang?" tanya Mahesa, karena perasaan pertama kali mereka bersama bahkan menjelajah hutan Hanum tidak pernah mengatakan apa apa.
"Hanya baru ingat." jawabnya datar.
"Jadi pulau di balik bukit itu adalah pulau Kabut?"
Perempuan itu tersenyum tipis, lalu menggeleng.
"Nanti kalian tahu sendiri."
Mahesa dan Dean saling pandang. Warna lautan kembali terlihat normal. Penglihatan mereka kembali seperti semula dengan proses secepat mengubah efek kamera pada layar ponsel.
Dean hampir menyentuh kembali kalungnya dan Mahesa cegah.
"Biar saja dulu begini," ucap Mahesa.
Dean mengangguk. Mereka mulai tahu, menyentuh Segara Biru bisa membuat keadaan menjadi menyeramkan, dan itu akan bertahan sekitar satu jam sebelum akhirnya kembali menjadi normal.
"Keburu malam, mau lanjut sekarang?" tanya Dito.
Dean melihat wajah Dito, kembali segar, tidak sepucat mayat dan lebih banyak berinteraksi.
Pun dengan Hanum, Mahesa jadi lebih betah menatap wajah perempuan itu dibanding sebelumnya.
"Lanjut saja." Jawab Mahesa.
Tidak bosan bosan lelaki itu menyusuri pantai demi mendapatkan titik terang. Sesekali matanya menatap lautan lepas berharap ada Kapal yang akan datang menyelamatkan mereka.
Dean terus berspekulasi, di kepalanya timbul jutaan pertanyaan tentang misteri dari pulau Marai, Pulau Kabut dan juga Lautan Ilusi.
Dia melihat betapa indahnya pantai yang dia pijak saat ini. Berbeda dengan ketika Segara Biru dia sentuh.
Logikanya, pantai seindah ini sudah pasti dikunjungi banyak wisatawan. Lebih pas jika keadaan di sini seperti apa yang dia lihat sebelumnya.
Mereka hampir sampai dekat bukit, ujung Pulau Marai yang mereka perkirakan ada penduduk di sana. Gaduhnya suara penduduk sering mereka dengar kala malam.
Bukit karang itu terhampar di hadapan mereka, hijau yang terlihat dari kejauhan berasal dari tumpukan lumut yang menyelimuti hampir seluruh permukaan karang.
Ada setapak jalan yang bisa dilalui untuk memanjat bukit karang tersebut. Valen adalah sosok yang paling bersemangat atas sampainya mereka di sana.
Tubuh kecilnya berusaha memanjat, bersamaan dengan itu Hanum dan Dito pamit untuk tidak melanjutkan perjalanan. Sungguh satu keanehan yang membuat siapa saja tercengang.
"Tugas kami selesai sampai di sini. Lanjutkan perjalanan kalian," ucap Hanum, perempuan itu mundur satu langkah. Diikuti oleh Dito.
"Apa maksudnya?" tanya Margareta, rasa senangnya karena mendapatkan teman seperti Hanum sirna dipatahkan oleh pernyataan keduanya.
"Pergilah dan jangan lihat ke belakang," sambung Dito.
Mahesa dan Dean Refleks menyentuh Segara Biru. Ingin memastikan yang mereka lihat itu apa.
Laut kembali kelabu, angin yang semula sejuk kini seperti menggila. Dan yang lebih menakutkan adalah sosok Hanum dan Dito yang kembali seperti tadi. Pucat dan pasi.
"Num, jangan bercanda," ucap Margareta.
"Gue ada salah sama kalian?" tanya Valen, menuruni undakan batu karang yang sudah dia pijak.
"Kami akan kembali ke tempat asal. Berjanjilah untuk bertahan dan pulang dengan selamat."
Dua sosok itu mundur menjauh, Margareta berjalan menyusul, tetapi Dean dan Mahesa mencegahnya.
Dua sosok itu kemudian berjalan menjauh, berjalan menuju tempat di mana pertama kali mereka ditinggalkan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Bisik batin Mahesa. Dia terus menatap sosoknya menjauh hingga menghilang seperti seberkas cahaya ditelan pekat gulita.