13

1037 Words
Baru saja Mahesa mendengarkan celotehan Valen, manakala jemarinya bergerak tanpa perintah kalung segara biru yang dia kenakan kembali memantulkan cahaya dan membuat semua berubah. Lautan Ilusi terlihat begitu suram, dengan ombak besar yang menggila seperti di pantai selatan. Hamparan pasir yang ada di hadapannya pun tidak tampak seperti hamparan pasir indah yang terlihat sebelumnya. Ditatapnya wajah Valen yang selalu optimis, berubah laksana wajah orang yang menyimpan ribuan duka. Sontak Mahesa berdiri, membuat Valen membuka mata dan tanpa senyum laki laki itu mengawasi pergerakannya. Segara Biru yang Mahesa dapatkan dari Kakek Zumi sebelum dia pergi memang bisa melindungi dari kejahatan sihir dan Ilusi. Kalung itu serupa kalung kejujuran yang membuat semua yang terlihat adalah apa yang sebenarnya. Sampai saat ini, meski Dean memiliki kalung yang sama, tetapi Mahesa tidak pernah tahu apakah fungsi keduanya juga sama? Penglihatannya menjawab pertanyaannya tersebut. Mahesa melihat Margareta dengan wajah kuyu dan penuh rasa takut berdiri membelakangi Ombak. Meski sesekali dihiasi dengan senyuman, tetapi lelaki itu tahu betul bahwa kepalsuan mendominasi senyum yang dimiliki Margareta. Dean menatapnya dengan kening berkerut. Melihat gelagat dari lelaki itu, Mahesa membuat kesimpulan diri bahwa Dean memiliki penglihatan yang sama dengan dirinya. Mahesa menyentuh kalung itu perlahan, lalu menatap Dean. Tanpa dipanggil Dean berjalan mendekat. Enggan percakapannya didengar oleh Valen, Mahesa memilih untuk sedikit menjauh dan menghampiri Dean yang sedang berjalan. "Jangan bilang apa yang Lo lihat sama dengan apa yang gue lihat," ucap Mahesa. Anggukan merupakan jawaban yang diberikan oleh Dean. Dia melihat sekeliling dan semua tampak begitu angker, berkali-kali Dean menyentuh, mengusap bahkan menggosok Segara Biru berharap semua berubah seperti sedia kala. Debur ombak menggila memaksa Mahesa untuk beranjak dari tempatnya sekarang. Tanda tanda hujan dan badai sudah terlihat menggantung di kaki langit. "Valen, ayok!" ajak Mahesa, Valen sempat menoleh sebentar lalu kembali memejamkan mata dan menikmati keindahan pantai dengan angin yang seolah membelainya. Debur ombak serupa bisikan, pasir putih empuk dan bersih. Valen merasa nyaman, dan enggan untuk membuat kakinya bekerja lebih ekstra lagi. "Len, kita harus cepat, sebentar lagi bakal hujan." Dean berjongkok dan menepuk nepuk pundak Valen. Pria itu paham betul, Valen lelah, Valen ingin istirahat. Namun, jika terus terusan berada di sini mereka bisa mati kedinginan karena hujan. Mendengar ajakan Dean dan Mahesa, Valen melihat langit, biru dan indah. Sang Raja hari dengan gagah bersinar tanpa penghalang. "Hujan apaan?" tanya Valen, jelas jelas dari penglihatan lelaki itu cuaca sangat panas, terik malah, sampai sampai dia merasa sangat kehausan. "Dean, coba jauhkan kalungnya, apa yang terjadi?" tanya Mahesa. Dean menelan ludah, dia mengeluarkan benda berkilauan itu dari kantong celananya. Tangannya bergetar, liontin segara biru dengan rantai keperakan itu bergoyang ditiup angin. Dengan gerakan lambat, dibukanya kepalan tangan Dean, Segara Biru meluncur dari tangannya. Seperti sebuah tirai yang dibuka, kelabunya Pulau Marai dan Lautan Ilusi perlahan menghilang dari penglihatan Dean, tergantikan oleh cuaca cerah seperti sebelum dia menyentuh kalung itu. Margareta yang masih betah bermain air dan Valen yang menatap bingung ke arahnya. Mahesa menghela napas lega. Dengan tangan gemetar, lelaki itu berusaha melepaskan kalung dari lehernya. "Kenapa pada buang kalung?" tanya Valen. Sayangnya tidak ada jawaban. Margareta mendekat, terheran heran dia melihat Dean dan Mahesa menatap kalung yang teronggok di atas pasir. "Tapi gue gak bisa tinggalin kalung ini di sini, gue janji mau balikin kepada pemiliknya." Dean berlutut. Mengambil segenggam pasir kemudian meletakkan kalung di atasnya. Tanpa menyentuh liontin Sagara Biru yang berkilau indah. "Plastikin aja," usul Mahesa. Inginnya sih begitu, tetapi tidak satupun plastik yang bisa mereka temukan di sini. "Ada apa sebenarnya?" tanya Margareta penasaran, sesekali perempuan itu memperbaiki rambutnya yang berantakan karena tiupan angin. "Kalung ini membuat penglihatan kami sama sekali tidak nyata," jawab Dean. "Pantas kalian bilang mau hujan." Tangan Valen terulur, tetapi Mahesa buru buru menepis niatan lelaki itu yang ingin menyentuh Segara Biru. "Jangan disentuh. Ayo, keburu sore sebaiknya kita lanjutkan perjalanan." Dengan berat hati, Valen berdiri, menepuk nepuk sisa pasir yang menempel pada pakaiannya. Lalu Mahesa dan juga Dean mengambil kalung tersebut dan berusaha agar Segara Biru tidak mereka sentuh. Pantai sepi, hanya debur ombak yang menjadi pengantar perjalanan, hanya angin kencang yang membuat mereka merapatkan tubuh. "Dean!" terdengar panggilan di kejauhan, berada di Lautan Ilusi membuat lelaki itu enggan menoleh. Semua hanya Ilusi dan kepalsuan, layaknya fatamorgana di hamparan Padang pasir. "Wooiii!" Valen berhenti. Diikuti oleh Margareta, Mahesa mengira ada sesuatu yang terjadi. Sampai lelaki itu berbalik dia melihat dua orang yang semula memutuskan untuk tetap tinggal di pantai bersama korban korban yang sekarat di sana. "Mereka," ucap Mahesa tersendat, Valen melihat ke belakang, diikuti Margareta. Hanum dan Dito melambaikan tangan, mereka berlari dengan semangat. Entah apa yang membawa keduanya hingga memutuskan untuk kembali dan ikut menjelajah bersama keempat orang yang sudah lebih dahulu berjalan. "Num," sambut Margareta, keduanya berpelukan. Dito tersenyum lega, akhirnya bisa kembali berkumpul dengan orang orang penuh semangat seperti Mahesa dan juga Valen. "Apa yang membuatmu berubah pikiran?" selidik Mahesa. Dito mengendikkan bahu, lalu dia melihat barangkali ada air yang bisa diminum. "Habis." Valen membaca gerak gerik Dito. Hanum mengurai pelukan Margareta, berulang kali perempuan itu meminta maaf karena mengambil keputusan yang salah. "Ayo jalan," ajak Hanum. Mahesa mengangguk senang lalu enam orang itu kembali bersatu menyusuri pantai yang kian jauh kian terasa sangat aneh. Dalam perjalanan menuju pencarian yang tak pasti itu, Hanum menceritakan bahwa dia tidak sanggup berdekatan dengan Jenazah. Bukannya tega meninggalkan beberapa orang yang masih bertahan di sana, tetapi Hanum tetap tidak bisa. Mereka enggan bernasib sama dengan sosok sosok tak berdaya itu, Hanum masih ingin pulang dan meneruskan cita citanya untuk menikah. Berjalan menyusuri pantai sekian lamanya, akhirnya menemukan deretan perbukitan jauh di ujung sana. Tempat yang menyala terang persis seperti pegunungan sebelum matahari terbit. Cahaya itu merekah, tanda tanda kehidupan mereka rasakan. Valen bersorak senang. Kata 'pulang' terus terusan menari di kepalanya. Menemukan pemukiman artinya menemukan cara agar mereka bisa pulang dengan selamat ke rumah masing masing. Harapan itu amatlah besar, mereka tida tahu, apa sebenarnya yang ada di balik bukit tersebut. Langkah mereka percepat, pasir pasir memijat dan menggelitik kaki. Sesekali sapuan ombak membersihkan sisa pasir yang menempel Tanpa mereka ketahui, Dean penasaran, kembali lelaki itu menyentuh kalung yang hampir saja dia buang tadi. Langit berubah keunguan, Angin bertiup mengerikan dan laut tidak lagi berwarna biru. Dean penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD