Bagian 0.3

1772 Words
Naya membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Naya kemudian melihat jam yang ada di kamarnya, menunjukan pukul 19.30 berarti dia tidur hampir tiga jam. "Bunda mana ya?" tanya Naya pada dirinya sendiri, karena tidak biasanya Bunda tidak membangunkannya. Naya memilih mandi terlebih dahulu baru mencari Bundanya. "Bunda," panggil Naya saat keluar dari kamarnya lengkap dengan baju tidur bercorak hello kitty dan sendal rumah berbentuk kepala hello kitty. Naya adalah penyuka hello kitty. "Bunda ikut Ayah dinas ke luar kota," ucap seseorang hampir saja membuat Naya menjerit jika ia tak mengenali suara milik siapa itu. "Huh, kamu ngagetin aja sih." kesal Naya sambil mengelus dadanya. "Sini," pinta Bintang sambil menepuk sofa di sisinya, meminta Naya duduk di sampingnya. Naya mengangguk dan berjalan ke arah Bintang. Bintang yang tadinya bermain handphone sambil menunggu Naya bangun, sekarang ia memasukan handphonenya ke dalam saku jaketnya. "Laper," rengek Naya manja saat sudah duduk di samping Bintang. Bodo amat sama gengsi. Batin Naya karena dari pulang sekolah tadi ia belum makan. "Laper? Nau makan apa? Hm!" tanya Bintang sambil menyelipkan anak rambut Naya ke belakang telinganya. Bintang tersenyum manis membuat Naya tak berkedip melihatnya. Andai Bintang selalu seperti ini, mungkin saat ini Naya akan menjadi gadis paling beruntung di dunia. "Hm nggak tau... Kamu nggak bawa makanan apa-apa?" tanya Naya karena biasanya Bintang setiap ke rumahnya pasti selalu membawa makanan. Pacar yang baik. "Enggak, soalnya tadi aku buru-buru," ucap Bintang sambil mengelus rambut Naya. Bintang menghirup aroma rambut Naya yang bagaikan candu untuknya. Bintang sangat menyukai saat Naya manja seperti ini, karena Bintang merasa kalau Naya memerlukannya. Pada faktanya cowom itu sebenarnya lebih suka gadis yang manja daripada mandiri, meski terkadang ada saatnya juga gadis itu harus bisa bersikap dewasa. "Mau makan di luar?" tanya Bintang yang dijawab Naya dengan anggukan. "Ya udah sana ganti baju," suruh Bintang. "Oke, tunggu ya." Naya langsung berlari menuju kamarnya. Sekitar sepuluh menit kemudian Naya keluar dari kamarnya, dia terlihat sangat cantik dengan pakaian simplenya yang hanya menggunakan kaus berwarna navy dan celana ripped jeans. Tanpa make up dan dengan rambut yang digerai bebas. "Yuk," ajak Naya saat melihat Bintang yang hanya diam menatapnya. "Hm, yuk." Bintang menggandeng Naya dengan possessive. Seperti biasa, Bintang membukakan pintu mobil untuk Naya. Kadang Naya merasa seperti tuan putri yang selalu dimanja tapi kadang Naya juga merasa seperti tahanan yang selalu dikekang. "Mau makan di mana?" tanya Bintang saat mereka sudah di perjalanan. Bintang sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari tangan Naya. Bintang sangat menyukai Naya yang seperti ini, penurut. "Terserah deh, di pinggir jalan juga gak papa," ucap Naya sambil tersenyum. "Emang kamu mau makan apa? Hm?" tanya Bintang sambil mengacak rambut Naya gemas membuat gadis itu menggerutu kesal. "Hm aku mau... Sate aja deh," ucap Naya yang dijawab Bintang dengan anggukan. "Di resto biasa aja ya, di sana kan ada sate juga," ucap Bintang. "Enggak ah, kita cari yang di pinggir jalan aja. Biar lebih merakyat. Kangen makan di pinggir jalan," ucap Naya dengan senyum manisnya yang biasanya ampuh membujuk Bintang. "Oke," ucap Bintang setelah berpikir beberapa saat. "Sampe," ucap Bintang, menghentikan mobilnya di depan sebuah tempat makan lesehan. Tidak terlihat seperti tempat makan pinggir jalan, namun setidaknya lebih baik daripada harus makan di resto dan di kelilingi para laki-laki buncit berjas. Bintang keluar dari mobil terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk Naya lalu seperti biasa menggandeng Naya dengan possessive seakan jika ia melepaskannya maka Naya akan dicuri orang. "Matanya jangan jelalatan!" ingat Bintang. Naya mendesah pelan. "Yang ada harusnya aku yang ngomong gitu. Biasanya kan cowok yang suka jelalatan," ucap Naya kesal membuat Bintang terkekeh. Mana mungkin dia jelalatan melihat cewek lain saat ia sudah memiliki malaikat tanpa sayap seperti Naya. Mereka memilih tempat yang agak jauh dari tempat pembakaran sate, karena Bintang tak ingin asma Naya kambuh. "Malam Mas-Mbak mau pesan apa?" tanya seorang pelayan wanita sambil menatap Bintang dengan tatapan berbinar. Seakan melihat berlian saja. "Hm, saya satenya dua puluh tusuk. Daging semua ya Mbak jangan pake hati karena saya udah sering makan hati," ucap Naya sambil melirik Bintang sekilas membuat pelayan itu salah tingkah sedangkan Bintang tersenyum penuh makna. "Kalo saya satenya sepuluh tusuk aja," ucap Bintang. "Baik Mas-Mbak tunggu sebentar ya," ucap pelayan itu lalu pergi. "Gini nih cowok, baru aja bilang jangan jelalatan eh dianya yang liat kiri liat kanan," ucap Naya menyindir membuat Bintang terkekeh. "Kamu kenapa sih? cemburu?" goda Bintang membuat Naya mendengus kesal. Cemburu? No! "Enggak," jawab Naya. "Di balik kata ENGGAK itu biasanya IYA lho," ujar Bintang sambil mencolek dagu Naya.. "Oh ya? berarti yang kamu bilang aku nggak boleh kerja kelompok berarti boleh dong!" cerca Naya. "Kalo itu enggak ya enggak!" balas Bintang dingin. Nah lho balik lagi kan sifatnya. "Eh Bintang," tegur seorang gadis dengan dress selutut berwarna pink yang langsung duduk dan memeluk Bintang. Naya menatap gadis itu bingung, siapa dia? Apa jangan-jangan mantan Bintang yang kembali. Mantan Bintang yang membuat Bintang menjadi possessive seperti ini. Lalu setelah mereka bertemu maka ini bagus untuk Naya. Siapa tau CLBK. "Siapa ya?" tanya Bintang setelah melepaskan secara paksa pelukan gadis itu. "Ya Tuhan, kamu lupa siapa aku?" gadis itu balik nanya dengan nada merajuk. Menjijikan. "Oke, aku Desi MANTAN PACAR kamu," ucap gadis itu sambil melirik sinis Naya yang duduk di sebelah Bintang. Gadis itu telihat sekali bangga menjadi mantan pacar Bintang. Hellow, lo cuman mantan. Apa yang perlu dibanggain dengan status mantan. Batin Naya. "Oh." Mampus. Batin Naya setelah melihat reaksi Bintang yang super duper cuek itu. "Kamu kangen nggak sama aku?" tanya gadis itu dengan nada centil sambil menyandarkan kepalanya di pundak Bintang. Ewh. Hello, berasa jadi nyamuk gue. Batin Naya. "Sorry, ada pacar gue." Bintang mendorong tubuh Desi menjauh. "Ih kok kamu gitu," ucap Desi dengan nada yang dibuat-buat. Naya hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah Desi, lama-lama Naya bisa migren. Naya melirik Bintang yang hanya diam tanpa reaksi apapun. Coba aja Naya yang ada di posisi Bintang, sudah bisa dipastikan saat ini Bintang akan ngamuk nggak jelas. "Maaf Mas-Mbak ini satenya." pelayan meletakan sate pesanan Naya dan Bintang. "Makasih Mbak," ucap Naya sambil tersenyum manis. "Jadi cewek kaya gini yang kamu pilih," ucap Desi memandang Naya dari ujung kaki sampai unjung rambut. Naya yang ingin memakan satenya meletakannya kembali. "Excuse me, maksud lo apa ya?" tanya Naya. Desi tersenyum sinis, "Gadis nggak jelas ini yang ngebuat kamu ninggalin aku?" "Jaga ya mulut lo!" peringat Bintang dengan tatapan tajamnya. "Kenapa aku harus jaga mulut? Emang bener kan," ucap Desi sinis. "Lo nggak lupakan siapa gue dan apa yang bisa gue lakuin?" tanya Bintang setengah berbisik dengan seringainya yang mampu merubah ekspresi Desi. "Oke. Aku pergi," ucap Desi lalu pergi. "Ngomong apa kamu sama dia?" tanya Naya setelah Desi benar-benar pergi. "Nggak ngomong apa-apa," ucap Bintang. "Oh." "Cemburu ya?" tanya Bintang menggoda. "Enggak, ngapain aku cemburu," sanggah Naya, kembali memakan satenya. "Karena kamu cinta sama aku," ucap Bintang dengan begitu pedenya. "Aku bukan kaya kamu ya, cemburuan nggak jelas," sindir Naya. "Cemburu itu menandakan cinta," seru Bintang tak mau kalah. "Tapi cemburuan itu ada batasnya," kata Naya kesal. "Tapi cinta aku ke kamu nggak ada batasnya jadi cemburu aku ke kamu juga nggak ada batasnya," ungkap Bintang membuat Naya terdiam. Dan untuk kesekian kalinya Naya kalah saat berdebat dengan Bintang. "Udah ah, tuh makan satenya," suruh Naya mengalihkan pembicaraannya. Bintang terkekeh geli lalu kembali memakan satenya. "Udah?" tanya Bintang setelah melihat dua puluh tusuk sate yang Naya pesan habis. Antara Lapar dan emosi. "Udah," ucap Naya sambil tersenyum manis. Senyum yang menjadi obsesi Bintang. Senyum itu hanya miliknya. Naya hanya boleh tersenyum karena dan untuk Bintang. "Ya udah, pulang yuk," ajak Bintang setelah membayar sate. "Tapi pulangnya ke rumah aku ya," pinta Bintang. "Hah? kenapa?" jerit Naya dengan mata melotot. "Aku nggak mau kamu sendirian di rumah, nanti kalo kenapa-kenapa gimana?" tanya Bintang. "Tap---" "Aku nggak nerima penolakan Naya!" ucap Bintang tegas dengan tatapan tajamnya membuat Naya mendengus kesal. Yang ada gue bisa bahaya kalo serumah sama lo. Batin Naya. --- "Ma, Pa," panggil Bintang saat memasuki rumah yang besarnya tiga kali lipat besar rumah Naya. "Iya, kenapa sayang?" tanya Mama Bintang saat menuruni tangga bersama Papa Bintang. "Ya ampun, Nayaaa... Mama kangen," ucap Mama Bintang langsung menghambur kepelukan Naya. Semua keluarga Bintang memang sangat dekat dengan Naya. "Naya juga kangen Mama," ucap Naya, masih dalam dekapan Mama Bintang. Mama Bintang itu sudah seperti Ibu kedua untuk Naya setelah Bundanya. "Kamu kok nggak bilang mau bawa Naya ke sini? Mama kan bisa masakin sesuatu atau nyiapin apa gitu buat calon mantu Mama yang cantik ini," ucap Mama Bintang sambil mencium pipi Naya lalu menatap kesal pada Putra tunggalnya itu. "Syukur juga Bintang bawa ke rumah, nggak ke hotel," balas Bintang kesal yang tak dihiraukan oleh Mamanya. "Papa, kangen," ucap Naya manja pada Papa Bintang. Meski sudah berumur Papa Bintang masih terlihat tampan dengan tubuh tegapnya. Papa Bintang merentangkan tangannya, agar Naya masuk ke dalam dekapannya. Naya memeluk papa Bintang dengan erat. Mereka memang sudah seperti Papa dan Anak kandung, Papa Bintang bahkan mencium kening Naya dan tidak ada yang keberatan dengan hal itu. "Gimana kabar kamu?" tanya Papa Bintang lembut, sangat berbeda dengan anaknya yang menyebalkan itu. "Naya baik, Papa gimana?" tanya Naya balik. "Papa baik sayang," ucap Papa Bintang sambil mengacak rambut sang calon menantu. "Gak usah lama-lama kali peluknya. Kaya gak ketemu sepuluh tahun aja." kesal Bintang membuat Mama dan Papanya terkekeh. "Ya udah Naya malam ini tidur sama Mama ya sayang," ucap Mama Bintang yang dijawab Naya dengan anggukan. "Enggak!" seru Bintang tiba-tiba. "Enak aja Mama main bawa-bawa aja. Naya sama Bintang," bantah Bintang. "Bintang! Kamu sama Naya itu belum halal," sanggah Mama Bintang. "Nanti kan juga halal," kata Bintang asal. "Ya udah, tidur sama Nayanya nanti juga," ucap Mama Bintang tak mau kalah. "Naya calon istri siapa?" tanya Bintang. "Kamu," jawab Mama Bintang. "Jadi yang paling berhak itu aku," ucap Bintang. "Yang calon mertuanya siapa? kalo Mama nggak ngerestuin, kamu gak bisa nikah," balas Mama Bintang tak mau kalah. "Udah-udah mendingan Naya tidur sama Papa aja," ucap Papa Bintang sambil tersenyum lebar. "Papa!" geram Bintang dan Mamanya membuat Naya dan Papa Bintang terkekeh. "Bintang ngalah dong sama Mama," ucap Naya sambil tersenyum. Tentu saya Naya lebih memilih tidur dengan Mama Bintang daripada Bintang yang bisa saja khilaf melakukan sesuatu. "Enak aja! Enggak! Kalo soal kamu, aku nggak mau ngalah sama siapapun!" tegas Bintang, namun terkesan kekanak-kanakan. "Ya udah Naya tidur sendiri aja ya, di kamar tamu," ucap Papa Bintang yang dihadiahi tatapan tajam dari Bintang dan Mamanya yang masih berdebat tentang Naya akan tidur di mana dan bersama siapa. "Tidak ada penolakan!" ucap Papa Bintang tegas membuat mau tak mau Bintang dan Mamanya mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD