Bagian 0.4

884 Words
"Pagi Ma," sapa Naya pada Mama Bintang. "Pagi sayang, ya ampun calon mantu idaman banget sih. Udah bangun jam segini, mana udah pake baju sekolah lagi," ucap Mama Bintang sambil tersenyum hangat pada Naya. "Hehe, Mama bisa aja." Naya tersenyum canggung saat mendengar pujian Mama Bintang. "Ma, Naya bantuin ya," ucap Naya. "Gak usah sayang, Mama bisa sendiri kok. Kamu kan tamu," ucap Mama Bintang. Saat ini Mama Bintang sedang membuat sarapan. Di rumah Bintang memang ada beberapa pembantu, tapi kalo urusan memasak Mama Bintang tidak mempercayakannya pada siapapun. Dan masakannya pun perlu diacungi jempol. "Mama kaya sama siapa aja lagi," ucap Naya. "Ya udah Naya bantuin Mama bangunin Bintang aja ya. Soalnya Bintang susah bangunnya," ucap Mama Bintang sambil tersenyum. "Hm, ya udah deh. Naya bangunin Bintang," ucap Naya yang dijawab Mama Bintang dengan anggukan. Naya pergi ke kamar Bintang dan mengetoknya beberapa kali. "Naya, langsung masuk aja. Bintang emang rada budeg kalo lagi tidur," teriak Mama Bintang dari dapur membuat Naya terkekeh. "Iya Ma." Balas Naya berteriak karena tidak akam terdengar jika tidak berteriak. Naya masuk ke kamar Bintang. Bibir Naya melengkung membuat senyuman dengan sendirinya saat melihat banyak foto-fotonya ada di kamar Bintang. Mulai dari ukuran kecil sampai yang besar. Mulai dari Naya yang melihat ke arah kamera sampai dalam keadaan candid.   Coba aja kamu nggak sepossessive itu, mungkin saat ini aku udah jatuh cinta sama kamu. Batin Naya. Naya tersenyum tipis saat melihat wajah tenang Bintang yang sedang tertidur. "Bintang, bangun." Naya mengelus lembut kepala Bintang. Jantung Naya berdebar saat melakukannya. Bukannya bangun, Bintang malah menarik tangan Naya hingga tubuh Naya jatuh tepat di atas tubuh Bintang. "Masih ngantuk," bisik Bintang lalu memeluk pinggang Naya membuat kepala Naya tersandar di d**a bidang Bintang. "Eh Bintang kalo keliatan Mama Papa kamu gimana," ucap Naya gugup sambil mencoba bangun namun pelukan Bintang sangat erat. "Bintang," panggil Naya setelah tidak mendapat sahutan dari Bintang. Naya mendongakan kepalanya menatap Bintang yang ternyata sudah tertidur kembali. Naya menatap wajah tampan Bintang yang sedang terlelap. Bintang mempererat pelukannya membuat kepala Naya jatuh tepat di atas d**a bidangnya, lagi. "Bintang ini udah pagi, nanti telat," ucap Naya. Bintang hanya bergumam tidak jelas. "Bintang ih, bangun." Naya menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga tubuh Bintang ikut begoyang. "Kamu diem atau aku marah?" tanya Bintang dengan mata yang masih terpejam namun berhasil membuat Naya diam. Naya diam untuk beberapa saat namun saat tatapannya kembali tearah pada jam, Naya mencoba membangunkan Bintang lagi. "Bintang bangun ya," pinta Naya lembut sambil mengelus d**a bidang Bintang dengan lembut. Tanpa Naya sadari apa yang dilakukannya membuat Bintang menegang, sentuhan itu begitu lembut namun terkesan menggoda bagi Bintang. "Bintang." Naya mengangkat kepalanya agar dapat melihat wajah Bintang. Naya menghembuskan napasnya tepat di lekukan leher Bintang. "Naya!" geram Bintang merasa dipermainkan. "Kenapa?" tanya Naya dengan polosnya. "Gak papa," ucap Bintang membuat kening Naya berkerut. "Bin, mandi yuk!" suruh Naya. "Ayok." Bintang langsung bangun, hampir saja membuat tubuh Naya jatuh jika Bintang tidak menahannya Naya. "Maksud aku, kamu mandi bukannya aku ngajak kamu mandi berdua," suruh Naya. "Kamu!" geram Bintang sambil mencubit kedua pipi Naya membuat gadis itu meringis. "Aww sakit," ucap Naya sambil mengelus pipinya yang merah. Bintang mengelus pipi Naya lalu meniupnya pelan. "Maaf," ucap Bintang dengan wajah memelas yang hampir saja membuat tawa Naya pecah. Sungguh sangat menggemaskan. "Udah ah, sana kamu mandi. Aku mau bantuin Mama," ucap Naya lalu berlari keluar dari kamar Bintang membuat Bintang terkekeh melihat tingkah gadisnya itu. Sangat lucu. Batin Bintang. Saat Naya keluar dari kamar Bintang ternyata Papa dan Mama Bintang sudah duduk rapi di meja makan. Dengan agak canggu Naya mendekat ke arah mereka. Naya canggung karena mengingat kejadian di kamar Bintang tadi. "Pagi Pa," sapa Naya. "Pagi sayang," sapa Papa Bintang lembut. "Gimana sayang, Bintangnya udah bangun?" tanya Mama Bintang. "Udah Ma," jawab Naya dengan senyum manisnya. "Susah ya pasti? Bintang emang gitu kebo," ucap Mama Bintang membuat Naya terkekeh. "Enggak juga kok Ma," jawab Naya dengan wajah memerah karena kembali mengingat kejadian saat Bintang menariknya dan memeluknya erat. "Pagi," sapa Bintang lalu duduk di sebelah Naya tak lupa memberikan kecupan singkat di pipi Naya membuat Mama Bintang mendelik marah pada sang putra. Sedangkan Papa Bintang hanya terkekeh, sebelas dua belas. "Bintang, berapa kali sih Mama harus bilang pake baju tuh yang bener," ucap Mama Bintang melihat pakaian anaknya yang acak-acakan. Naya ikut menoleh menatap pakaian Bintang. "Malu-maluin Naya aja kamu itu," sambung Mama Bintang. "Punya pacar ganteng gini apa yang harus dimaluin," ucap Bintang dengan alis terangkat. Mama Bintang memutar matanya jengah dengan sikap anaknya yang menurun dari suaminya. "Gini nih, keturunan kamu," ucap Mama Bintang menatap Papa Bintang. "Eh kok Papa," ucap Papa Bintang tak terima. Mama Bintang mendelik pada sang suami yang menampilkan tampang watados yang membuat orang pengen menaboknya. "Udah sekarang kita sarapan aja," ucap Mama Bintang. "Naya mau makan apa sayang?" tanya Mama Bintang berniat mengambilkan untuk Naya. "Naya ambil sendiri aja Ma," ucap Naya sopan. "Anaknya siapa yang dimanja siapa?" tanya Bintang sewot. "Ngapain juga Mama manjain kamu," ucap Mama Bintang membuat Bintang mendengus. "Sini biar aku yang ambilin," ucap Naya lalu mengambilkan nasi goreng untuk Bintang lengkap dengan ayam dan telurnya. Bintang tersenyum penuh kemenangan menatap Mamanya. Anak, Ibu, dan Ayah sama saja. Batin Naya. Setelah selesai mereka sarapan, Bintang dan Naya pamit untuk pergi ke sekolah. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD