Bagian 0.5

1353 Words
Saat ini Bintang dan Naya sedang dalam perjalan menuju sekolah dengan menggunakan mobil Bintang. "Eh Bin, coba kamu liat anak itu kenapa?" tanya Naya sambil menunjuk seorang anak perempuan yang sepertinya sedang dimarahi dan dipukul oleh beberapa orang. Naya meneguk salivanya susah payah. "Itu dipukul Bin," ucap Naya histeris. "Ya udah, bukan urusan kita juga," ucap Bintang cuek. "Ih kamu mah. Itu kesian Bin," ucap Naya. "Bin itu dipukul lagi," ucap Naya lagi. "Ya udah kamu mau apa?" tanya Bintang akhirnya. "Bantuin," ucap Naya memohon. "Please, Bintang sayang," ucap Naya memanggil Bintang dengan sebutan sayang untuk pertama kalinya. "Oke," ucap Bintang lalu menepikan mobilnya, karena saat itu kebetulan sedang lampu merah. "Maaf Mas-Mbak ada apa ya?" tanya Naya saat mereka sudah ada di depan anak yang menunduk ketakutan. Pakaian anak itu terlihat sangat lusuh. "Ini Neng, kecil-kecil udah berani maling," ucap salah satu Ibu-ibu ingin memukul anak itu lagi tapi tangannya ditahan oleh Bintang. "Indonesia itu negara hukum. Anak-anak dilindungi KPAI," ucap Bintang. "Lo nggak usah sok ngajarin," ucap salah satu Bapak-bapak. "Gue nggak ngajarin, gue cuman ngasih tau," ucap Bintang. "Wah belagu nih bocah," ucap Bapak-bapak yang lain sambil geleng-geleng kepala. "Udah-udah. Mas-Mbak gimana kalo anak kalian yang diginiin. Oke anak ini salah, And I admit it. Tapi kalian gak bisa kaya gini!" ucap Naya sampai-sampai ia lupa baru saja menggunakan bahasa Inggris. Dan dapat dipastikan hanya Bintang yang paham saat Naya mengucapkan bahasa Inggris. "Lo nggak usah sok tau," ucap seorang Bapak-bapak sambil menunjuk wajah Naya. Bintang menepis tangan Bapak-bapak itu. "Lo! Jangan nunjuk cewek gue kaya gitu!" bentak Bintang sambil menunjuk wajah Bapak-bapak itu. Naya mengeluarkan uang seratus ribu lalu memberikannya kepada Bapak-bapak yang menunjuk wajahnya tadi. "Saya bayar apa yang diambil anak ini! Dan saya rasa, ini lebih dari cukup," ucap Naya tegas. "Sayang, ikut Kakak ya," ucap Naya pada anak perempuan itu. Anak itu menatap Naya ragu tapi sesaat kemudian mengangguk. "Bintang ayo," ajak Naya saat Bintang masih diam menatap tajam Bapak-bapak yang dengan beraninya menunjuknya gadisnya. Bintang menyeringai ke arah Bapak-bapak itu, satu hal yang Naya ketahui Bintang pasti sudah merencanakan sesuatu. "Bintang!" panggil Naya lagi. Akhirnya Bintang mengikuti Naya dan anak gadis itu menuju mobil. "Naya duduk di depan!" ucap Bintang tegas saat melihat Naya ingin duduk di belakang bersama anak perempuan itu. Naya mengangguk dan duduk di depan, tak ingin berdebat dengan Bintang. "Sayang, rumah kamu dimana?" tanya Naya pada anak itu. "Di ujung jalan di samping penampungan sampah yang ada di depan itu Kak," ucap anak itu. "Nama kamu siapa?" tanya Naya. "Bulan Kak," ucap anak yang bernama Bulan itu. "Bulan kenapa mencuri?" tanya Naya dengan lembut. "Mama Bulan sakit-sakitan, adik Bulan belum makan dan kelaperan. Bulan gak tega," ucap Bulan dengan polosnya, matanya terlihat berkaca-kaca. "Kalo Ayah bulan?" tanya Naya dengan nada yang lebih pelan. "Ayah Bulan pergi saat Kakak Bulan meninggal," ucap Bulan. Naya mengerutkan keningnya bingung tapi akhirnya ia mengangguk. "Bintang, berhenti di supermarket depan ya," pinta Naya yang dijawab Bintang dengan anggukan. "Bulan, apapun alasannya kamu nggak boleh mencuri kaya tadi karena selain itu nggak dibolehin sama agama, gimana kalo kamu dipukulin kaya tadi? Sayang, nggak semua orang bisa menerima alasan kita. Kadang hanya kita yang mengerti dan memahami apa yang terjadi," ucap Naya yang dijawab Bulan dengan anggukan, entahlah dia mengerti atau tidak dengan yang diucapkan Naya. "Bintang kamu jagain Bulan ya di sini, biar aku aja yang masuk," ucap Naya yang lagi dan lagi dijawab Bintang dengan anggukan. Naya berbelanja beberapa barang yang sepertinya dibutuhkan Bulan. Mulai dari beras, gula,s**u, telur, mie, sosis, roti, dan buah-buahan. Tak lupa juga Naya membeli obat-obatan yang sekiranya diperlukan oleh adik Bulan yang sedang sakit. Naya memasukan belanjaannya ke dalam bagasi mobil dibantu Bintang. "Bulan, kamu tunjukin rumah kamu ya," ucap Naya. Mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah gubuk. Naya dan Bintang saling melemparkan tatapannya, yang hanya mereka yang mengerti. "Nay kamu ada ulangan fisika kan? kita udah telat loh," ucap Bintang membuat Naya bimbang. Antara ingin menemui keluarga Bulan atau kembali ke sekolah. "Bulan tadi Kakak beli beberapa bahan makanan buat kamu, kamu janji ya jangan mencuri lagi. Kakak nggak bisa mampir ke rumah kamu, karena Kakak harus sekolah." Naya menatap Bulan lekat. "Kakak serius? Makasih ya Kak, Bulan janji nggak akan mencuri lagi," ucap Bulan dengan wajah ceria. "Biar aku aja yang nurunin barang-barangnya kamu di sini aja!" perintah Bintang. Bintang membawakan barang belanjaan itu sampai tepat di depan pintu rumah Bulan. "Bulan, ini ada sedikit buat kamu." Bintang memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan. Yang mungkin bagi Bintang dan kebanyakan orang kalangan atas sedikit. "Ya Allah, makasih Kak," ucap Bulan lalu memeluk erat Bintang. Bintang tersenyum tipis tapi ia tidak membalas pelukan Bulan. Bagi Bintang, pelukannya hanyalah milik Naya, satu-satunya perempuan yang akan ia peluk bahkan tanpa diminta. "Ya udah Kakak pergi dulu ya," ucap Bintang lalu pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Naya melihat semua kejadian itu, tapi ia hanya diam. Setidaknya Bintang ternyata memiliki hati juga. --- "Gila, susah banget soalnya," ucap Dinda sambil geleng-geleng kepala membuat Naya terkekeh. "Soalnya mah gampang kali, jawabannya yang susah," ucap Naya sambil memasukan buku-bukunya ke dalam tas karena bel istirahat sudah berbunyi. "Lo sih enak pinter," ucap Dinda "Lo juga bisa pinter kali, cuman lo kurang usaha aja," ucap Naya sambil tertawa pelan. "Ya Alllah Naya, kurang usaha gimana coba gue belajar sampe jam satu malam," ucap Dinda. "Iya sampe jam satu malam tapi gue tau lo belajarnya di handphone kan? Lo kan nggak pernah nyatet materi di papan tulis. Terus lo itu banyak khilafnya, niatnya sih belajar eh pas liat ada notif line masuk pasti lo langsung buka line, belum lagi kalo ada notif IG." Dinda hanya nyengir mendengar ucapan Naya yang memang benar adanya. "Udah ah gue laper nih," ucap Naya lalu bangkit dari duduknya diikuti Dinda. Seperti biasa Bintang sudah menunggu Naya di depan kelas Naya bersama dua sahabatnya. "Kak Darrel kenapa?" tanya Naya saat melihat wajah Darrel yang penuh luka lebam. Dan bukannya menjawab pertanyaan Naya, Darrel malah melirik Bintang sekilas. "Gak papa kok," jawab Darrel sambil tersenyum tipis. Naya mengangguk karena ia tahu ada sesuatu yang ditutupi Darrel dan ia tidak ingin mencoba bertanya lebih apalagi tatapan Bintang yang terlihat tidak suka saat Naya berbicara dengan Darrel. "Yuk ke kantin kan?" tanya Naya. "Iya yuk, gue laper banget nih," ucap Dinda. Mereka berlima pun pergi ke kantin, tapi entahlah Naya merasa ada yang berbeda dengan Bintang dan Darrel. Mereka berdua sama sekali tidak berbicara sepatah katapun, untung ada Vano yang menghidupkan suasana dengan candaannya. "Anjir dari perasaan gue ngomong sendiri aja." Vano berdecak kesal membuat Naya terkekeh. "Lah bukannya lo emang sendiri Kak? Kan lo jomblo," ucap Dinda membuat mata Vano melotot, mulutnya terbuka lebar. "Iya gue jomblo," ucap Vano membuat tawa Naya pecah seketika. Bukan kata-katanya yang lucu tapi ekspresi Vano yang mengundang tawa membuat Naya ngakak seketika. "Ngomongnya berdua kok Kak, Dinda dari tadi kan ngomong juga," ucap Naya sambil terkekeh pelan. "Gue duluan ya," ucap Darrel lalu berdiri dari duduknya. "Woy gue ikut lo deh," ucap Vano lalu ikut berdiri. "Gue juga, gue nggak mau ya jadi nyamuk," ucap Dinda. "Oke, nanti gue nyusul," ucap Naya sambil memberi kode dengan melirik Bintang sekilas. Setelah mereka pergi dan hanya meninggalkan Naya dan Bintang. "Jauhin Darrel!" ucap Bintang tiba-tiba dan tegas lalu pergi meninggalkan Naya yang menatap bingung ke arah Bintang. Jangan-jangan ada hubungannya wajah Kak Darrel yang kaya gitu sama Bintang. Batin Naya. "Woy!" "Hah? astaga lo ngagetin gue tau!" ucap Naya pada Akbar yang tiba-tiba datang. "Hehe, sorry. Abisnya gue liat lo bengong gitu," ucap Akbar lalu duduk di sebelah Naya. "Kita jadi kan kerja kelompok. Oh ya lo sama gue aja, gue bonceng," ucap Akbar. "Hm, kalo gue nggak ikut boleh gak? Gini maksud gue, lo bisa suruh gue cari bahannya gitu terus gue kumpul sama lo," ucap Naya memberi penawaran. "Hah? Nggak ikut? Kenapa?" terlihat sekali raut tidak suka Akbar saat Naya mengatakan itu. "Sorry, gue nggak bisa kasih tau alasannya," ucap Naya. "Bintang? Alasan lo pasti Bintang kan?" tanya Akbar kemudian tersenyum sinis. "Gue duluan ya Bar," ucap Naya lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Akbar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD