Bagian 0.6

1503 Words
"Berapa kali aku harus bilang? Aku nggak suka kamu dekat apalagi bicara sama Akbar!" ucap seseorang mengejutkan Naya saat Naya sedang berjalan di koridor menuju kelasnya. Naya menoleh menatap Bintang. "Bintang," ucap Naya terlihat kaget. "Aku harus ngomong pake bahasa apa supaya kamu ngerti? I don't like you talking to other men!!!" bentak Bintang lalu menarik Naya ke gudang belakang sekolah. "Kamu mau aku ngelakuin apa supaya kamu jera?!" tanya Bintang dengan wajah memerah menahan emosinya. "Kamu mau aku pakai cara apa Nay?!" "Apa perlu aku bermain dulu sama Akbar baru kamu ngerti?!" tanya Bintang dengan alis terangkat. Tentu Naya sangat mengerti maksud bermain bagi Bintang. "Kamu gila!" bentak Naya akhirnya membuat tatapan Bintang menggelap. "Iya aku gila karena kamu Natasya Allura!!!" bentak Bintang. "Stop jadiin aku alasan semua ini. Stop jadiin aku alasan semua tindakan kamu!" bentak Naya. "Aku capek, capek sama semua sifat possessive kamu. Bintang, apa kamu pikir dengan kamu ngelakuin semua ini kamu bisa miliki aku seutuhnya? enggak Bin!" ucap Naya. Bintang mendorong tubuh Naya hingga membentur tembok. Naya memejamkan matanya saat merasakan nyeri di punggungnya. "Gue nggak suka lo jadi cewek pembangkang! Lo milik gue! Hanya gue!" bentak Bintang sambil mencengkram dagu Naya. Naya memejamkan matanya sesaat. "Sa---kit," lirih Naya dengan air mata yang mulai mengalir. Bintang terlalu sulit untuk dipahami. Sifatnya yang berubah-rubah sangat sulit untuk dipahami. Kadang Bintang seperti malaikat untuk Naya, memberikan apapun yang diminta Naya. Tapi sedetik kemudian Bintang bisa saja menjadi monster yang bisa kapan saja menyakiti Naya. Bintang melepaskan cengkramannya di dagu Naya. Tangannya terkepal dan sedetik kemudiam meninju tembok yang ada di samping Naya. "Aku benci kamu!" bentak Naya lalu berlari tanpa arah sampai... Bruk "Naya, lo kenapa?" tanya Darrel saat melihat mata merah Naya ditambah ada sedikit luka di dagu Naya. Naya diam tak menjawab tapi air matanya terus mengalir seakan mewakili perasaannya saat ini. Darrel memeluk Naya erat, satu hal yang Darrel tahu, jika melihat wanita menangis jangan tanyakan alasannya kenapa tapi peluklah dia sampai dia tenang dan jangan paksa dia mengatakan apa yang terjadi. Kadang menangis dan diam adalah kebiasaan wanita saat sedang terluka. "Kita ke mobil gue ya," ucap Darrel yang disetujui Naya dengan anggukan. "Mau cerita?" tanya Darrel. Naya terdiam sesaat lalu mengangguk. "Apa dalam cinta selalu ada keegoisan? aku tau cemburu itu wajar dan udah kaya bumbu dalam sebuah hubungan. Tapi menurut aku Bintang udah kelewatan, dia gak penah mau mendengar apalagi mengerti. Aku juga punya batas kesabaran tapi Bintang selalu aja menguji kesabaran aku. Dan dia selalu aja menjadikan aku alasan semua yang dia lakuin. Bahkan aku takut untuk sayang apalagi cinta sama dia, dia seperti monster bagi aku." Naya memejamkan matanya untuk mengatur emosinya. Napasnya mulai sesak karena bicara panjang lebar sambil menangis. "Aku cuman bicara sama Akbar, itu pun tentang aku nggak bisa ikut kerja kelompok. Dan itu semua Bintang yang ngelarang. Tapi dia malah marah dan Kakak juga tau kan gimana kalo Bintang marah." Jelas Naya dengan air mata yang terus mengalir. "Kamu udah jelasin semua itu sama Bintang?" tanya Darrel. Naya menggeleng. "Itu kesalahan kamu. Kamu gak mencoba buat mencegah atau meluruskan masalah ini. Kamu ngebiarin Bintang dengan segela pemikiran buruknya itu. Nay, gue gak nyalahin lo tapi dalam hal ini bukan cuman Bintang yang salah. Lo tau kan gimana dia, gimana cintanya dia sama lo. Cinta itu nggak bisa dikendalikan. Yang Bintang tau, dia cinta sama lo dan lo milik dia," ucap Darrel. Naya menatap lekat Darrel yang juga menatapnya. Naya mengerti maksud Darrel tapi tidak semudah itu. Bintang itu terlalu misterius bahkan Naya tidak pernah bisa menebak apa yang dipikirkannya. "Lo ntgak perlu menebak apa yang dipikirkan Bintang. Lo cukup mengerti dengan apa yang dia pikirkan. Gue tau lo lebih dewasa dalam hal berpikir daripada Bintang," ucap Darrel seperti bisa membaca pikiran Naya. Andai saja Bintang seperti Darrel yang bisa mengerti Naya tanpa harus Naya katakan. Semua pasti akan terlihat dan terasa lebih mudah. "Jangan bilang Kakak kaya gini karena aku," ucap Naya sambil menyentuh bagian wajah Darrel yang lebam. Entahlah hal apa yang membuat Naya sangat yakin kalo Bintanglah yang melakukan hal itu. "Gue nggak bilang," ucap Darrel sambil terkekeh. "Huh, aku serius loh Kak," ucap Naya tak dapat menutupi wajah kesalnya. "Oh jadi mau diseriusin nih?" tanya Darrel menggoda. "Kak Darrel ih," ucap Naya sambil mencubit pinggang Darrel. "Awww," ringis Darrel membuat Naya tertawa. "Gini nih, udah didengerin curhatnya eh malam nyubit," sewot Darrel dengan wajah kesal yang dibuat-buat. "Kak jujur sama aku. Bintang yang ngelakuin semua ini?" tanya Naya serius. "Hm," jawab Darrel akhirnya. "Hah? bBeneran Kak? Astaga pasti gara-gara aku ya?" tanya Naya merasa bersalah. "Idih geer banget sih," ucap Darrel sambil mendorong pelan kepala Naya. "Kak Darrel!" kesal Naya membuat Darrel terkekeh. Flashback "b*****t!" bentak seseorang. "Duh woles bro, ada apa?" tanya Vano menatap Bintang yang terlihat marah. "Anjing. Siapa yang ngasih lo hak buat dekat sama Naya?!!" tanya Bintang dengan nada membentak. "Tunggu-tunggu ini ada apa sih?" tanya Vano yang tidak tahu apa-apa. Bugh Sebuah tinjuan mendarat tepat di sisi mata sebelah kiri Darrel. "Itu karena lo udah natap milik gue!" Bugh Sebuah tinjuam mendarat lagi, kali ini di sudut bibir Darrel. "Itu karena lo udah bicara sama milik gue!" Bugh Kali ini tinjuan itu mendarat tepat di pipi kanan Darrel. "Dan itu karena lo udah nyentuh milik gue!" "Udah? Puas lo?" tanya Darrel sambil tersenyum sinis. "Milik lo? Lo bahkan nggak bisa buat Naya bahagia!" ucap Darrel sambil menatap remeh Bintang. "Gue tau lo sayang sama dia. Tapi lo laki-laki yang paling t***l yang pernah gue kenal. Lo ngekang dia, lo pikir hal itu bisa buat lo memiliki Naya seutuhnya? Hah?!" bentak Darrel. "Udah kita sahabat. Please, kita bisa bicarain ini semua. Darrel lo tau kan gimana Bintang begitu juga lo Bin. Kita sahabatan bukan setahun dua tahun tapi sepuluh tahun Anjing! Jangan karena cewek kita sampai berantem gini!" bentak Vano. Vano bukanlah tipe orang yang emosian tapi kali ini Vano terlihat sangat marah. "Lo lo berdua punya otak kan? cari jalan keluarnya pake otak bukan pake otot," ucap Vano. Bintang dan Darrel sama-sama diam dengan tatapan tajam mereka. "Udah sekarang kalian baikan!" perintah Vano yang tak dihiruakan oleh Bintang dan Darrel. Mereka malah pergi meninggalkan Vano yang menatap kesal pada mereka. "Anjir, gue ditinggalin. Di tinggal pas lagi sayang-sayangnya itu sakit tau nggak," ucap Vano dengan nada yang dibuat-buat. "Bodo!" ucap Bintang dan Darrel bersamaan sebelum mereka benar-benar pergi. Flashback off "Astaga, Kak maaf ya," ucap Naya merasa bersalah setelah mendengarkan cerita Darrel. "Udah, ini bukan salah lo." Darrel mengelus dagu Naya yang luka dengan lembut. "Sakit?" tanya Darrel yang dijawab Naya dengan anggukan. Darrel menghela napasnya. "Nay mending sekarang lo temuin Bintang sebelum dia bertindak di luar batas sama Akbar. Kalo sama gue aja dia bisa kaya gitu apalagi sama Akbar," ucap Darrel. "Biarin aja lah Kak, sekalian siapa tau Akbar lapor polisi terus Bintang ditangkap," ucap Naya asal. "Ya lo pikir bokap nyokapnya bakal biarin putra satu-satunya mereka masuk penjara?" tanya Darrel sambil mencubit pipi Naya gemas. "Awww sakit," rengek Naya manja. Coba aja gue kenal lo lebih dulu Nay, mungkin sekarang lo gak akan menderita kaya gini karena berhubungan sama Bintang. Batin Darrel. "Udah sana ke kelas gih," ucap Darrel. "Oke, btw thanks ya Kak udah mau dengerin curhatan aku," ucap Naya sebelum pergi. --- Naya kembali ke kelas, dan sepertinya Naya sedang beruntung karena tidak ada guru. "Naya! Lama banget sih," gerutu Dinda saat Naya masuk kelas. "B aja kali," ucap Naya cuek. "Idih lo kenapa sih?" tanya Dinda tak suka dengan perubahan sikap Naya. "Gapapa," jawab Naya singkat. "Anjir singkat banget," kesal Dinda membuat Naya terkekeh. Tiba-tiba kelas yang ramai menjadi sepi saat seseorang masuk dan duduk di atas meja guru. "Bintang," lirih Naya. Naya menatap seisi kelas yang menunduk takut kecuali Akbar. "Lo, sini!" perintah Bintang pada Akbar. "Gue? Gue nfgak ada urusan sama lo. Kalo lo punya urusan sama gue, lo yang ke sini," ucap Akbar menantang. "Nay ada apa sih?" tanya Dinda. "Din please bantuin gue panggil Kak Vano atau Kak Darrel," ucap Naya memohon. "Tapi Nay," ucap Dinda. "Please," mohon Naya. "Oke." Naya diam menatap Bintang yang sama sekali tidak menatapnya, seakan tidak memperdulikan keberadaan Naya. Tatapan Bintang terus saja tertuju pada Akbar yang juga menatapnya. Hanya ada satu hal dalam pikiran Bintang, Naya miliknya dan dia akan melakukan apapun agar Naya tetap menjadi miliknya, tidak perduli ini obsesi ataupun cinta. Bintang berjalan mendekat ke arah Akbar yang sudah berdiri dari duduknya. "Gue nggak suka lo dekat apalagi bicara sama Naya," ucap Bintang datar tanpa emosi. "Oh ya?" tanya Akbar terkesan meledek. Bugh Satu tinjuan mendarat di hidung Akbar. Bugh Kali ini satu tinjuan mendarat di sudut bibir Bintang. "Bintang," panggil Naya. Bugh Sekali lagi tinjuan Bintang mengenai wajah Akbar. "Bintang please," mohon Naya sambil memegang tangan Bintang yang siap untuk melayangkan tinjuan lagi. "Sekali lagi kamu mukul Akbar kita putus," ucap Naya berhasil menarik perhatian Bintang. Bintang menurunkan tangannya dan langsung menatap Naya tajam, penuh dengan amarah. "Putus?" tanya Bintang yang dijawab Naya dengan anggukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD