"Sebentar … kalo Hendra yang tidur situ. Terus yang ada di pinggir jalan tadi, siapa?” tanya Esih dengan wajah pucat pasi. Wanita muda tersebut mundur selangkah, lalu menoleh ke arah depan. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat dengan jelas ke arah jalan raya. Posisi toko memang berada lurus dengan jalan raya. Mata Esih kembali membelalak ketika mendapati sebuah wajah menyembul dari balik pohon besar di depan toko. Wajah itu begitu putih dan tengah menatapnya dengan sebuah seringai menyeramkan. Benar-benar hanya sebuah kepala tanpa badan dan anggota tubuh lainnya. “Neng, kamu itu habis lihat apa?” Esih tidak langsung menjawab pertanyaan Kang Engkus. Ia memijat kedua kening dengan dua jari telunjuk. Tiba-tiba wanita ini jatuh tak sadarkan diri, tak lama setelah menoleh ke ar

