"Teh, tolong antar Hendra pulang!"pinta Hendra lirih. Tenggorokan Esih semakin tercekik. Rasa haus bercampur kaget membuat dirinya tidak mampu menelan air liur. Dari tempatnya berdiri, Esih bisa melihat Tara sedang tertidur pulas di kursi sofa ruang tamu. Lampu masih menyala. Yang barusan ngobrol dengan Asep bukan Aa' Tara? Esih menatap nanar tubuh suaminya yang sedang tidur pulas. Pria tersebut tidak merasa terganggu dengan percakapan Esih dengan Hendra. Wanita berkulit bersih ini mengedarkan pandangan. Ia mencari keberadaan Asep. Namun, pegawai baru tersebut tak ada. Esih berdoa dalam hati agar Tara terbangun dan segera menolongnya untuk keluar dari suasana mencekam ini. Bulu kuduk telah berdiri. Esih mengusap tengkuk dan kedua lengan bergantian. "Teteh, tolong antar abdi pulang!" p

