"Oh, ya, Kang. Aku pengen tahu, hamil apa enggak. Tapi aku yakin kalo hamil, melihat dari tanda-tandanya. Seperti apa wajah anakku nanti?" "Amit-amit, Esih! Jangan sampe terjadi itu," sahut Euis dengan bergidik. "Apa maksud kamu Euis? Enggak suka kalo aku hamil?" "Sudah, sudah. Mungkin maksud Euis itu, perut kamu masih kecil. Pamali bilang gitu. Tunggu udah besar dulu. Biar janinnya bisa sehat," jelas Kang Engkus untuk meredakan amarah Esih. "Iya, Kang. Aku tahu itu pamali." "Nah, bagus. Gak marah-marah dulu. Esih seperti itu karena sayang sama kamu. Kalian sudah seperti sodara. Ayo berangkat!" "Ya, Kang. Aku mau naik motor sendiri," balas Esih yang langsung berjalan ke arah motor dan langsung mengendarainya. Euis tampak kecewa dengan perilaku Esih. Kang Engkus yang mengetahui hal t

