"Doa apa, Kang?"tanya Euis dengan mata fokus ke depan. Tak urung wanita muda ini jadi penasaran juga, saat embusan angin dingin bercampur aroma pandan dan anyir darah memenuhi rongga hidung. Kang Engkus yang lebih paham tentang gangguan makhluk tak kasat mata segera memimpin doa. "Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum. Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh. Man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih." Euis seketika mengikuti bacaan Ayat Kursi Kang Engkus. Mereka turun dari motor dan sesuai saran Kang Engkus, Euis pun ikut melepas alas kaki. Kini keduanya menutup doa dengan zikir. Kepala Euis terasa pening. Ia bermaksud akan berteduh lalu berjalan dengan terhuyung-huyung untuk sampai ke sebuah gubuk. Akhirnya dengan dibantu oleh Kang

