3 | Pernikahan

1747 Words
Mendengar itu, Myra terpana. Sejenak, jiwanya seolah terlepas dari realita. Lututnya goyah, telapaknya dingin. Me-me-menikah? Dengan Callan? Yang empunya nama melanjutkan, "...sebagai balasannya, aku akan menyerahkan kastil Grimmson sebagai hak untuk klan Rosean tinggali." Ayahnya, Duke Keenan tidak kalah kagetnya. Pria separuh baya itu melotot. Dia lantas berseru. "Mengapa-" Panglima itu segera menaikkan telunjuknya, menyela. "Perlukan aku ingatkan, jika kalian sekarang tidak berhak menanyakan apa pun, wahai Para Mawar berduri tajam?" Callan menyebut julukan itu dengan nada rendahan. "Masih untung kalian kuberi kesempatan. Kalian tahu apa yang biasa kaum kami lakukan pada para Rosean?" Sosok berbaju zirah itu melangkah mendekat pada anggota keluarga kerajaan yang lama. "Dalam tradisi kami, kalian tidak boleh mati dengan layak. Aku bisa memerintahkan itu sekarang." Seketika, seorang prajurit menarik rantai para Rosean dengan kencang. Bulu kuduk sang puteri berdiri. Bagaikan gila, sang Panglima kemudian terkekeh. "Lebih baik penawaranku, bukan? Lagipula, asal kalian tahu saja, jika kalian terbuang, nasib kalian tidak akan lebih baik dari menjadi bahan amukan rakyat," candanya. "Hidup sebagai klan yang terbuang di kastil terpencil tentu jauh lebih baik daripada jadi target serangan massa di luar istana, dicincang hingga ke dalam tulang kalian." Callan melangkah berbalik dan bersandar pada meja yang dulunya adalah meja agung raja. "Plus, salah satu anggota klan rendahan kalian akan menjadi ratu. Walau hanya gelar, bukan ratu yang asli," cibirnya lagi. "Bukankah itu yang Putri Myra selalu inginkan, bukan? Menjadi ratu?" pungkas Callan yang menyunggingkan senyum palsu. Myra menggeleng kecil. Pandangannya berkabut, menahan emosi, tapi segera mencubit pahanya, mengalihkan perasaan yang hampir keluar. "Kami butuh waktu," ujar Duke Guliart, mencoba menawar, yang dibalas dengan decakan. "Satu jam dari sekarang, atau minyak mendidih," ia menunjuk pada Godwin, kemudian pada tiga anggota kerajaan sisanya, "dan terbuang di luar istana adalah jawaban final kalian." Prajurit di belakang menarik rantai, menyuruh mereka pergi. Namun Myra tiba-tiba berdiri. "Tunggu! Izinkan aku bicara empat mata dengan panglima, kalau begitu," serunya lantang. "Aku ingin menanyakan sesuatu." Myra mengepalkan tangannya kuat-kuat, meski gentar, ia berusaha mengais-ngais keberaniannya yang tersisa. Sebaliknya, Callan membalas Myra dengan tatapan yang begitu dingin, teringat kejadian dua hari lalu. Dia mendengus kasar, kemudian mengusir yang lain pergi. Perlahan, sang putri menoleh pada keluarganya untuk yang terakhir kali, dan sang panglima melotot tajam. Myra tahu, pandangan itu berarti satu hal. Jangan sampai kau tidak setuju dengan perjanjian ini, Myra. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── "Kenapa kau ingin menikahiku?" Myra menatap Callan, rasa marah mulai muncul. Panglima itu mendengus. Ia turun dari sandarannya di meja seraya mengunyah pipinya. Matanya terus memandang Myra dengan pandangan menghina. "Jangan salah sangka; aku menikahimu bukan karena menginginkanmu atau apa." "Lantas?" suara Myra naik beberapa oktaf, membuat Callan makin berang. "Wanita yang layak bagiku adalah wanita yang dewasa, tidak lugu, dan terutama: tidak berdarah Rosean sepertimu. Kau jauh sekali dari tipeku, Tuan putri." Mendengar itu, hati Myra merasa disengat. Perih, tapi itu benar. Dari dulu hingga sekarang, Panglima satu itu adalah primadona di mata gadis-gadis lajang Avendra. Ia sering mendengar bisikan satu-dua, bahwa panglima itu ahli sekali di ranjang. Myra sebenarnya tidak mengerti apa artinya. Ahli di ranjang? Apakah dia ahli dalam tertidur pulas? Tapi julukan itu membuat Callan malah makin populer. Semua wanita berebut menginginkannya. Termasuk... Myra menunduk, dan tertawa dalam hatinya. Rupanya, liontin yang berlukiskan wajah Callan itu masih melingkari lehernya. Namun perkataan Callan barusan membuatnya sakit hati. Dan jangan lupakan kalau pria itu baru saja menjatuhkan klannya kemarin. Mana mungkin Myra bisa menikah dengan orang yang jelas-jelas membencinya? "Jadi? Kenapa kau bersikeras ingin menikahiku? Pilih saja wanita yang lebih kau suka, wahai panglima. sesuai dengan tipemu di luar sana." "Kau lebih naif dari yang kuduga." Callan berjalan menuruni tangga ke arah Myra. "Politik. Tidakkah pamanmu yang b*****h itu mengajarimu? Dia masih memiliki sekutu. Jika mereka sampai mendengar bahwa Yang Mulia Godwin b******k itu dikudeta, apa yang akan mereka lakukan, Putri Myra?" tanya Callan. Myra berpikir sebentar. "Me-mereka akan menyerang?" "Hebat! Benar sekali, Yang Mulia." Callan pura-pura bertepuk tangan. Amarah Myra makin terbakar. "Mereka akan mengembalikan Godwin ke takhta, dan beberapa dari mereka bahkan sama kuatnya dengan Avendra. Jadi, untuk mencegah hal itu terjadi, aku perlu seseorang yang adalah hak waris pamanmu dan juga pewaris utama klan Rosean, agar pembela Godwin memandang aku sebagai sekutu juga. Paham, Yang Mulia?" Callan kini menunduk ke arah wajah puteri yang begitu ia anggap remeh, dia hina selama bertahun-tahun, yang ia pandang tidak pernah layak mendapatkan gelar pewaris makhota. Tangannya mulai bergerak. Pandangannya lurus kepada wajah pucat Myra. Gadis bermuka lusuh itu mencoba mengalihkan matanya, namun terlambat. Callan menangkup dagunya. Memaksa Myra menatap mata amethyst-nya yang memancarkan murka. Membuat sang putri merasakan sebentar semua kebencian, dendam, dan sakit hati yang dia simpan selama ini. Myra membulatkan matanya, horor serasa menyusup hingga ke tulangnya. "Itulah alasanku, Yang Mulia. Maka, jawab saja..." Pria itu mengatakannya seolah-olah ia ramah, namun nadanya sungguh mengancam. Bagai predator yang bermain-main dengan mangsanya. Tapi Myra tidak tahu harus lebih takut yang mana; nada itu, atau semua niat jahat yang ia tahu sudah Callan siapkan di baliknya. "...ya atau tidak?" Sejenak, hanya keheningan yang membalas pertanyaan Callan malam itu. Ketakutan, Myra segera menghindari pandangan sang panglima dan mengalihkan mata cokelatnya ke arah lain. Callan yang kesal menjatuhkan dagu si gadis itu. Tersentak, Myra mulai membuka mulutnya lagi. "A-aku-" Callan memotongnya tajam. "Perlu waktu? Perlu berdiskusi dengan ayahmu? Maka pergilah." Callan menoleh ke samping, tidak mau memandang Myra lagi. "Pergi. Kurang dari sejam, kau yang kembali ke sini menyampaikan hasilnya. Tidak perlu keberadaan keluargamu, aku muak dapat drama seperti tadi." Myra lantas mengangguk, dan berjalan ke arah sebuah ruangan sebelum rantainya diseret paksa. Hatinya penuh kecamuk. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── "Tidak." Duke Keenan berucap tegas. "Sampai kapan pun, tidak akan kuserahkan Myra ke tangan mereka." Duke Guliart memutar matanya. "Astaga, Keenan. Kau sudah gila, hah? Kau tidak sadar di mana posisi kita sekarang?" Nadanya meninggi. "Tidak dengar perkataan panglima sialan tadi? Myra menikah dengan imbalan kastil Grimmson atau kuali berisi minyak mendidih. Seharusnya ini bukan pilihan sama sekali." Jangan salah sangka. Grimmson bukanlah kastil mewah. Batu-batunya begitu tua, strukturnya hampir runtuh, dan letaknya jauh di utara dan ditutupi kabut. Namun setidaknya masih bisa ditinggali. Myra diam-diam mengiyakan dalam hatinya. Orang gila mana yang memilih pilihan kedua? Ayahnya, jelas. Ayahnya yang begitu menyayanginya, hingga rela memberikan nyawanya. "Ya! Kita memang akan dapat Grimmson, tapi bagaimana dengan Myra?" seru Keenan. "Bayangkan dia menjadi istri dan ratu di tengah-tengah Lavendar yang membencinya ke ubun-ubun. Belum lagi dijadikan pelampiasan amarah oleh rakyat. Lagipula, status wangsa Rosean tidak akan kembali juga! Jika rakyat tahu kalau kita menukar Myra hanya demi sebuah kastil, kita akan jadi bulan-bulanan," tukasnya. "Harga diri kita akan lebih rendah-" "Kau benar-benar!" Guliart meradang, lantas membalikkan meja tempat mereka berdiskusi dengan keras. Keenan langsung menutup mulutnya. Myra sudah terdiam sejak tadi. Godwin? Oh, dia dikurung karena menghantam salah satu prajurit tadi. Klasik. "INI BUKAN MASALAH MYRA SAJA!" Duke Guliart melotot, urat-uratnya terlihat. Muak dengan Keenan yang sepertinya hanya memikirkan Myra. "Kau tidak memikirkan nasibku, hah? Anakku dan istriku? Atau Rosean lainnya? Kami juga punya hidup yang harus diperjuangkan, bukan hanya Myra, Myra, dan Myra!" "Dan kau..." Guliart menunjuk Keenan yang duduk, "...bukan seorang Rosean, Duke Keenan Rainald. Kau bisa saja langsung pulang ke rumah keluargamu. Tidak ada yang akan menangkapmu. Kami?" Guliart benar. Kalaupun minyak mendidih itu hanya gertakan, nasib anggota klan Rosean tidak jauh lebih baik. Klan-klan bangsawan yang dijatuhkan oleh rival mereka berakhir tidak lebih baik dari sampah. Myra teringat klan Harrowen yang jatuh tahun lalu—anggotanya ditindas, sisanya dijual sebagai b***k atau mengabdi sebagai pelayan kelas rendah. Beruntung satu dua yang berhasil lari ke pedesaan, menyamar hidup menjadi petani. Itu pun jarang, karena dipastikan anggota klan yang jatuh akan dibabat habis oleh rivalnya. Setidaknya dengan kastil Grimmson, klan Rosean punya tempat tinggal yang aman. Mata Myra sayu. Tentu saja. Diskusi ini pasti akan berakhir dengan sepakat menikahkannya. Siapa yang menyangka hal ini bisa terjadi? Rasanya, baru minggu kemarin ia merayakan ulang tahun Avendra sebagai pewaris takhta yang terhormat. Berpesta, berkuda, berburu dan memanah sesuka hatinya, sebebas jiwanya. Lamaran diterimanya dari sana sini, lantas ia menolaknya dengan ringan hati. Masa depannya cerah. Bahkan sempat ada pembahasan bahwa Godwin akan pensiun, turun takhta agar Myra cepat-cepat menggantikannya. Kini nasibnya bagai meja yang dibalik Guliart tadi. Porak poranda, terguling. Ia kembali menjadi bangsawan kelas tiga, tidak punya hak untuk di Dewan, bahkan tak berhak memakai lambang keluarga di depan umum. Kemudian menikah dengan Callan. Raja baru Avendra yang membencinya. Hatinya berdegup kencang, begitu takut. Namun, ada sedikit api yang memercik di d**a sang puteri. Di dalam hati, dia yakin, kalau dia tidak seperti yang Callan pikir. Bolehlah dia seorang Rosean, namun dia bukan seorang tiran. Meski hidup dalam gemerlap sebagai puteri makhota, toh ia tidak jahat dan peduli dengan yang di sekitarnya, tidak seperti yang Callan tuduh? Plus, walaupun semua orang menjauhinya kelak, setidaknya dia masih bisa tidur di tempat yang nyaman, istana Warrington yang dia kenal. Hidupnya akan terjamin. Tidak mungkin mereka menelantarkan istri sang Raja, bukan? Myra berdiri perlahan. Keputusannya sudah bulat. Tidak peduli kalau mendadak. Toh, sang raja hanya memberikan mereka satu jam saja. "Aku setuju... pada pilihan pertama," ujar Myra final. "Aku akan menikahi Panglima Callan." Mata Duke Keenan membulat. Hatinya yang sentimental tidak percaya. Suaranya melirih. "Myra..." "Keputusanku final, Yah." Myra menghela napas. "Paman Guliart benar. Ini seharusnya bukan pilihan. Kita—maksudku—kalian bisa hidup aman di Grimmson, dan setidaknya aku bisa hidup di sini." Keenan menghela napas panjang. Sesuatu yang terasa berat menimpa dadanya. Di satu sisi, dia tak mau melihat putri semata wayangnya terluka. Namun di sisi lain, tidak ada jalan lain. "Baiklah." Keenan menatap Myra pasrah. "Tapi, ayah ingin memberikan satu permintaan kepada Callan." Guliart melotot ke arah Keenan tajam. "Kau hilang akal? Tidak dengar perkataannya tadi? Kita bukan pihak yang berhak bernegosiasi!" "Aku tahu," balas Keenan. "Tapi ini bukan hal yang besar. Ini hanya permintaan seorang ayah untuk anaknya." Myra menutup matanya mendengar itu. Menahan emosi yang campur aduk. Ayahnya sungguh menyayanginya. Sang puteri meneguk ludah, memandang langit-langit demi meredam emosi saat pintu ruangan mereka berdiskusi diketuk keras. "Tuan Putri Myra diminta menghadap," ujar satu prajurit lantang. "Dia yang akan menandatangani perjanjiannya." Mendengar itu, mereka semua bangkit. Keenan membisikkan permintaan itu ke telinga anaknya, tak ingin Guliart makin emosi. Pintu diketuk, dan Guliart menunjuk pintu, meminta Myra duluan pergi. Puteri itu sudah sudah siap. Dengan satu ayunan langkah dalam gaun lusuhnya, dia berjalan kembali ke aula istana. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD