4 | Delapan belas

1987 Words
"Meminta mengundur pernikahan hingga kau genap delapan belas?" Mata Callan menyipit. Usia dewasa menurut hukum Avendra—ketika seorang bangsawan tak lagi bisa diwakili wali. "Kapan tepatnya?" Myra mengadah ke langit-langit, mencoba mengingat tanggal. "Du-dua minggu lagi." ujar Myra lirih. "Saat pertengahan musim semi." Ia menatap Callan, kemudian cepat-cepat memalingkan muka, meremas jemarinya perlahan. Seharusnya itu bukan permintaan yang besar, kan? Hanya dua minggu. Waktu yang cukup untuk bersiap-siap menikah juga. Setidaknya saat umurnya delapan belas, dia sudah tergolong dewasa. Tapi apa yang akan dia lakukan selama dua minggu? Callan menekuri kertas di mejanya, berpikir sebentar, dan menatap Myra lagi. "Ya." Sang putri mendongak, langsung menghela napas lega. "Tapi," sela Callan. "Kau tidak boleh keluar dari daerah istana Warrington sama sekali. Kau dan seluruh keluargamu. Kalian akan ada dalam pengawasan ketat. Mengerti?" Mendengar itu, Myra lantas mengangguk. Masih untung Callan menerima usulan itu, tidak mungkin ia bernegosiasi lagi. "Baiklah. Semuanya sudah selesai, kan?" Callan berbalik, dan mempersilahkan Myra duduk di atas meja agung raja. Gulungan kuning yang begitu sakral, hanya digunakan untuk pergantian kekuasaan di Avendra sudah terlampir di sana. "Maka dari itu, silahkan tanda-tangani surat ini, Yang Mulia Putri Myra." Panggilan itu membuat Myra berdegup. Tapi Callan mengerling, menatap Myra sambil tersenyum sinis. "Nikmatilah. Itu kali terakhir kau akan mendengar seseorang memanggilmu Yang Mulia." Dengan hati-hati, Myra perlahan duduk di atas kursi. Dengan pena di tangannya, seluruh saksi perjanjian mulai berjalan keluar. Bahkan keluarganya, Guliart, Keenan, dan pamannya... Godwin. Muka sang raja yang akan diturunkan terlihat merah. Dia dirantai ekstra. Namun selain dari ia, mereka semua siap untuk menyaksikan penyerahan kekuasaan resmi. Sebuah kontras yang aneh terlihat jelas di aula istana. Para saksi—perwakilan dari tiga distrik Avendra, anggota Wangsa Lavendar, serta Callan yang justru berpakaian mewah. Yang laki-laki berjubah ungu yang menjuntai yang membalut terusan emas yang rapi. Yang perempuan, bergaun dengan ikat pinggang berlian dengan tudung kepala berbahan satin. Empat anggota keluarga kerajaan yang ada malah jadi yang berpakaian compang-camping, tercampur lumpur dan berbau busuk. Sebelum mengangkat pena, Myra menengadah ke atas sekali lagi. Persis di atas palang pintu aula, terpampang kain raksasa. Panji wangsa Rosean, yang berwarna krimson terang, terpampang indah dihiasi bunga mawar di sampingnya. Tanda kejayaan dinasti Rosean. Seratus tahun lamanya dinasti Rosean berkuasa. Gagah dan perkasa. Bahkan ketika Teror Mawar Berdarah yang menewaskan setengah dari dinastinya, mereka tetap bertahan. Kejatuhan yang begitu mendadak. Namun, siapakah yang patut disalahkan? Apakah kekuasaan pamannya memang begitu kejam dan tirani sehingga tidak ada yang berkedip saat kekuasaannya runtuh? Atau mungkin Myra pun ikut andil dalam peristiwa ini? Sebagai putri mahkota, apakah ia benar-benar buta atas ketidakadilan dan kekacauan yang terjadi di luar sana? Sepertinya iya. Sang putri menarik napas panjang, dan menurunkan penanya. Satu bubuhan tanda tangan, semuanya pergi. Gelarnya, hartanya, kehormatannya. Semuanya adalah milik wangsa Lavendar sekarang. Panji merah itu tidak akan terpampang lagi mulai besok. Dan Myra tahu persis apa yang akan jadi penggantinya. Panji warna ungu. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Setelah malam yang menguras emosi, yang Myra inginkan hanya tidur, di tempat yang setidaknya empuk, bukan kain tipis tempat dia tidur sepanjang hari. Dan permohonannya terwujud. Setelah aula dibubarkan, Callan menyuruh Myra untuk digiring ke lantai satu, tempat para pelayan dan pengurus istana tinggal. Di situ, ia dibawa kamar yang seingatnya adalah kamar kepala pelayan yang ternyata sedang kosong. Lantai satu selalu dingin. Bangunan tua Warrington sejatinya adalah kastil perang, bukan tempat bagi darah bangsawan. Namun setelah peristiwa Teror Mawar Berdarah, Godwin yang paranoid memindahkan semua harta dan kekuasaannya di sini. Myra meminta untuk dibolehkan mandi, dan akhirnya ia bisa mencuci tubuhnya yang dekil dengan air hangat di tempat pemandian pelayan setelah dua hari mendekam di penjara bawah tanah. Ketika berendam, sekali-kali ia mencoba menenggelamkan dirinya, namun hawa air panas yang gerah membuatnya tidak tahan menyelam barang lima detik. Lalu, tidak seperti biasanya, tempat itu sepi. Bukan tempat itu saja. Rasanya, seluruh istana jadi sunyi sekali. Kemana semua orang? Di masa pemerintahan Godwin, malam selalu riuh ramai. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan keluar istana tanpa izin. Setelah mandi sambil melamun lama, Myra kembali ke kamarnya. Ruangan itu hanya seperempat luas kamar lamanya di lantai tiga yang megah. Sebaliknya, kamar itu seadanya. Hanya ada lemari, meja yang kakinya termakan oleh rayap, perapian yang mati, dan tempat tidur dengan kain yang kumal. Myra berhenti melangkah. Untuk pertama kalinya dalam hari-hari itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Di atas tempat tidur, baju tidur berkain satinnya tergeletak, walau hanya dalamannya saja. Baju luarnya sudah hilang entah kemana. Jauh baik daripada memakai gaunnya yang sudah robek-robek. Dengan lega, Myra langsung mengenakannya. Akhirnya, gadis itu merebahkan diri. Kasur yang ada di kamar ini tidak begitu empuk, tapi jauh lebih baik dari kain tipis penjara. Hawa dingin menyelimuti, membuat dia ingin cepat-cepat tertidur sebelum menggigil. Dia memutuskan untuk melamun lagi. Tak lama lagi, dia akan menikah. Menikah? Benarkah? Masih sempatkan ia menjahit gaun pernikahan? Mengundang bangsawan negeri tetangga? Berkenalan dengan keluarga calon suaminya.... Ah, lupakan. Lupakan itu semua. Masih untung kalau panglima itu sudi mengadakan pesta pernikahan bagi mereka. Dan jangan lupa. Sejak perjanjian itu ditandatangani, dia bukan Tuan Putri lagi. Untuk dua minggu kedepan, dia hanya Myra Rosean. Seorang gadis biasa tanpa embel-embel apapun. Atau dia kembali menjadi Myra Reinald? Bangsawan kelas tiga dari keluarga ayahnya. Itu gelar dan nama lamanya dulu sebelum Teror Mawar Berdarah. Atau dia akan menjadi Myra Lavendar? Tapi itu nanti. Seorang Lavendar dengan rambut merah terang. Pasti aneh kelihatannya. Myra terkekeh sedikit. Masih melamun, gadis itu mengangkat jari manisnya yang dilingkari cincin emas kecil. Callan yang memberikannya tadi. Cincin yang sederhana. Hanya sekedar tanda kalau Myra, secara teknis, sudah bertunangan. Menjaganya jauh dari jangkauan pria lain. Namun Callan tidak ikut memakainya juga. Hanya Myra seorang. Panglima itu tidak sudi berbagi cincin dengan putri yang dimusuhi semua orang. Apalagi dia-lah pemimpin yang menjatuhkannya. Tunangan Callan...ya? Myra mengadah ke langit-langit. Dulu, ada malam-malam dimana dia sering bermimpi, dimana dia menjalin hubungan dengan sang panglima muda yang kepopulerannya tersebar ke seluruh Avendra. Liontin berlukiskan wajah sang panglima sudah tidak ia kenakan—hampir saja ia buang jika tidak merasa sayang tadi. Namun, sepertinya ia harus menghapus angan-angan itu jauh-jauh. Terlihat di mata ungunya bahwa ia sesuatu yang begitu kasar sudah terkubur, hanya untuk Myra. Entah berapa lama sudah ia menyembunyikannya. Matanya terasa berat. Myra pun jatuh tertidur, setelah menertawakan nasibnya dalam hati. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── "Hidup Paduka Callan!" "Hidup Wangsa Lavendar!" "Hidup Avendra!" Jauh di bawah bukit yang menopan istana Warrington, nampak sorak sorai yang hebat di halaman taman istana. Semua orang di pesta itu bersulang. Tertawa bahagia melihat Callan yang menang total. Dia, meskipun belum dinobatkan, secara teknis telah menjadi Raja Avendra. Pria itu sendiri sedang dirangkul oleh sekutu-sekutunya, masing-masing menepuk bahunya bangga. "Selamat, nak. Tidak percaya kau bisa sejauh ini," ujar raja Dain, sekutu terdekat Callan dari kerajaan dagang di barat laut Avendra itu mengangkat gelasnya. "Astaga, aku sangat merasa bangga. Seperti anakku sendiri saja yang menang." "Terima kasih, Yang Mulia Dain. Mendapat dukunganmu merupakan sebuah kehormatan bagiku," balas Callan dengan tersenyum sopan. Kerajaan Okrea dari Barat adalah sekutu terbesarnya. Dan dengan taktik & karisma Callan, Dain langsung mengirim dukungannya diam-diam, secara dia juga membenci Godwin setengah mati. "Aku harap b*****h Godwin itu segera dieksekusi secepatnya." Dain mendengus. "Kapan tepatnya?" "Dua minggu lagi, setelah penobatan Raja." Kini Arthur, sahabat Callan yang berbicara. Di Avendra, eksekusi raja hanya sah dilakukan setelah penobatan penerusnya. "Di hari itu, secara berurutan Callan akan menikah, menjadi raja, dan membunuh Paduka Godwin yang terhormat. Hebat, bukan?" Arthur terkekeh, namun mengaduh setelah Callan mencubit sikunya diam-diam. "Astaga. Dasar anak muda, ambisi kalian sungguh kelewatan." Dain tersenyum tipis. "Tapi menurutku tidak apa-apa. Kau sungguh pantas mendapatkannya, Callan. Kau benar-benar hebat." Ia pun menunduk, mohon pamit. "Maka dari itu, aku undur diri. Terima kasih atas undangannya. Sungguh pesta yang meriah. Dan sekali lagi, selamat atas keberhasilanmu, Yang Mulia Raja Callan dari Avendra." Panggilan baru itu membuat Callan tersenyum lebar. Kedua raja itu saling menunduk, dan Raja Dain pun beranjak pergi. Sang raja baru melayangkan pandangannya ke seluruh taman istana Warrington yang dihiasi warna ungu. Dia dan sekutunya sepakat menggelar pesta di sini setelah penyerahan kekuasaan resmi ditanda-tangani. Mereka semua menari, tertawa, dan bernyanyi. Sudah lama sekali sejak mereka dapat melakukan ini, karena adanya larangan dari Godwin. Maka dari itulah semua orang diundang, kecuali anggota Rosean. Para mawar itu sedang meringkuk di dalam. Tidur dalam penuh penjagaan ketat di dalam penjara bawah tanah. Arthur kembali dari mengambil minuman lagi. Ia mendekati Callan dan menepuk bahunya. "Hei, Callan! Pssst," bisik Arthur seraya menunjuk dagunya ke arah wanita-wanita kerajaan yang sedang berdansa. "Menawan, bukan? Ayo kita tutup malam ini bersama mereka." Arthur mengedip. Callan memutar bola matanya, sedikit geli dengan kelakuan Arthur itu. Dasar genit. Melihat reaksi sahabatnya itu, Arthur terkekeh. "Ayolah. Aku tahu tunanganmu memang Yang Mulia Putri-" Seketika telinga Callan berdiri. "Myra rakyat biasa. Bukan putri, bukan Yang Mulia. Dia bukan siapa-siapa lagi." Callan memotong tajam. "Ya ya ya, terserah. Yang pasti, tunanganmu itu cantik." Arthur mendorong bahunya lagi. "Tapi tidak mungkin kau menyentuhnya malam ini kan? Dia harus tetap perawan sebelum malam pertama. Sementara perayaanmu sebagai raja belum lengkap. Aku hanya menyarankan saja, kawan." Callan berpikir sejenak. Benar juga perkataan itu. Sejak fokus menyusun langkah kudeta, ia sudah mulai lupa sentuhan wanita. Setengah jam kemudian, ia lantas memutuskan untuk menyudahi pestanya. Pria itu pun berdiri, dan gelas pun ia dentangkan untuk perhatian. Seraya mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, satu wanita berambut pirang menarik perhatiannya. Seperti yang sudah-sudah. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Pagi itu, Myra terbangun sambil menggigil. Astaga! Rasanya tadi malam ia seperti tidur di dalam peti es. Padahal ini kan musim semi! Gadis itu melompat dari tempat tidurnya sambil bergetar. Wah, pantas saja. Ternyata perapian di ruangan ini belum dihidupkan. Kayu bakarnya saja tidak ada. Myra kira, akan ada yang menghidupkannya selama ia tidur. Alam bawah sadarnya masih mengira bahwa ia putri, rupanya. Dengan tubuh gemetar, ia beranjak keluar kamar. Istana masih sunyi, namun kamar-kamar di sampingnya sudah terisi. Tidak kosong lagi. Semua orang, termasuk penjaga, tertidur pulas. Entah mereka habis darimana. Butuh beberapa detik bagi Myra untuk tersadar, kalau ia terbangun dini hari. Pantas saja ia kedinginan setengah mati. Ia putuskan untuk mencari kayu bakar untuk mengisi perapian di kamarnya. Di ruang depan, tidak ada. Di ruang belakang, dapur, dan ruang makan tidak ada. Ia berniat mengecek lantai dua dan tiga, tapi dia urungkan. Bisa-bisa ia tertangkap dan dituduh berniat membunuh raja & keluarganya. Myra terus menyusuri istana Warrington, tempat ia tumbuh yang kini memiliki hawa yang berbeda. Tetap tidak ada kayu bakar. Tidak ada pilihan lain. Gadis itu membuka pintu perlahan, dan melangkah ke halaman belakang. Menghindari penjaga yang sedang tertidur, Myra mengendap-endap ke daerah timur. Tempat kandang kuda dan perkakas dibuat. Ia berjalan melewati tempat yang penuh dengan serbuk kayu dengan hati-hati, sebelum sebuah barang mengkilat menangkap matanya. Astaga. Busurku! Myra terkesiap gembira. Dia segera berlari mendekati tumpukan kayu yang dianggap sampah. Busur kesayangannya itu hadiah dari ayahnya. Besi di bagian genggamannya bermotif sulur khas Avendra, dan terbuat dari pohon Yew terbaik yang hanya tumbuh di Kastil Myria, tempat tinggalnya yang lama. Kayunya lentur, cocok untuk busur berburu. Ia dan ayahnya yang merakitnya sendiri. Pasti prajurit-prajurit tidak bertanggung jawab yang kemarin membuangnya disini. Myra menoleh sekeliling, sebelum mengalungkan busur itu ke badannya. Dia meraup beberapa kayu yang mengelilinginya juga, karena dia tak kunjung menemukan kayu bakar. Dengan rasa lega, ia berniat kembali ke kamarnya. Namun entah mengapa, dia merasa enggan kembali ke istana yang suram itu. Seakan-akan Istana itu sudah berubah dalam satu malam. Istana itu bukan lagi Warrington yang ia kenal. Myra menoleh sekeliling, dan di tanah, ia menemukan beberapa anak panah usang. Ia diam-diam mengambilnya, dan pergi melangkah jauh. Di depan, terdapat lembah kecil, persis di bawah bukit tempat istana Warrington berdiri. Lembah itu ditutupi kabut. Myra melangkah ke situ, mulai memasuki hutan. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD