5 | Hutan

1822 Words
Wanita berambut pirang itu bergelung di kasurnya. Ia mulai terbangun. Seketika, sensasi nikmat langsung kembali menerjang celah pahanya. Dia mengerang. Ia meraba ke samping, mencoba mencari sosok yang tadi malam bermain dengannya hingga pagi. Namun, sosok bertubuh kekar yang dia cari itu justru sedang terduduk di samping ranjang. Membetulkan bajunya yang terbuka setengah. "Selamat pagi, Yang Mulia.." ujar wanita itu dengan nada manja. Dia melepaskan selimut yang menutupi tubuh polosnya. "Tadi malam sungguh...istimewa." Wanita itu tersenyum nakal. "Hm." Callan membalasnya tanpa menoleh. Pria itu jelas tak peduli. Wanita itu seketika merasa tersinggung. Apakah ada yang salah tadi malam? "Yang Mulia tidak menyukainya?" "Aku menyukainya. Terima kasih." Callan membalasnya dengan kalimat lengkap, tapi kaku. Namun sebelum wanita itu berkata lagi, Callan menoleh. Rahangnya terlihat mengeras. "Kita sudah sepakat bukan, kalau ini hanya urusan satu malam? Maka pergilah. Jangan berharap apa-apa dariku. Aku sudah berterima kasih. Imbalanmu akan kukirimkan nanti." Perkataan itu terasa menohok. Dengan marah, wanita itu beranjak berdiri. Memakai seluruh pakaiannya lagi. Callan beranjak menuju meja kerjanya dengan kaku. Sedikit ia membatin. Andaikan Aisia disini, aku tidak harus berurusan dengan wanita-wanita seperti ini. Namun sebelum pergi, wanita pirang itu berusaha berkata untuk yang terakhir. "Maafkan aku, Yang Mulia. Aku kira, setelah tadi malam, mungkin kita..." Ditakdirkan bersama. Saling bertukar rasa. Lebih dari sekedar cinta satu malam dan seterusnya, dan sebagainya. Semua orang yang diajaknya ke kamar selalu mengatakan itu. Callan memutar matanya, muak. Bukankah sudah berkali-kali tegaskan, kalau itu hanya urusan ranjang semata? Hanya kepuasan batin semata. Sang panglima membuka mulutnya, mengatakan satu kalimat yang membungkam wanita itu selamanya. "Aku sudah bertunangan." Dengan siapa? "Myra Rosean, kalau kau mengenalnya," jawab Callan seolah dapat membaca pikiran. Mendengar itu, netra wanita pirang itu membulat. Myra Rosean? Hah? Maksudnya, Tuan Putri Myra 'kan? Harapan yang terbesit di benaknya langsung pupus. Kalau Myra tunangan raja baru ini, sama saja bersaing dengan langit. "Pergilah, aku banyak urusan." Wanita itu membungkuk dengan rasa kecewa di hatinya, mengenakan kembali pakaiannya yang tersisa. "Baik, Yang Mu-" "Yang Mulia Callan!" Seorang pelayan berkeringat, tergesa-gesa dengan langkahnya memasuki kamar. Membuat wanita tadi langsung terbirit-b***t keluar dari kamar sang Raja. "Putri Myra! Dia-menghilang dari kamarnya!" "Apa?!" Callan memalingkan mukanya dari meja, lantas membanting penanya ke lantai. Amarah kembali ke wajahnya. "Bagaimana bisa, hah? Keamanan sudah kuketatkan!" Pelayan itu jatuh berlutur, gemetar melihat amarah Callan. "Se-sepertinya ia kabur saat fajar belum tiba, Yang Mulia. Mengendap-endap melewati keamanan." Callan sudah tidak mendengar lagi. Yang ia tahu pasti, putri b*****h satu itu kabur. Berani-beraninya sang mawar melanggar perjanjian secepat itu? Dia menyambar jubah ungunya, lantas mengenakannya seraya bergegas pergi. Tak lagi menghiraukan Aisia yang kebingungan. Lihat saja, Tuan Putri. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── "Aaaaah!" Myra berseru kesal, anak panahnya kembali meleset. "Tupai sialan! Ups-" Langsung ia membekap mulutnya, takut ditegur karena barusan mengumpat. Namun, barulah ia kembali sadar kalau dirinya sendirian di tengah hutan Taiga, tak jauh dari istana. Tidak ada yang bisa menegurnya di sini. "Astaga. Anak-anak panah ini memang tidak bisa diandalkan'" keluh Myra. Sepanjang pagi ini, ia belum mendapatkan buruan satu pun. Ia mengangkat salah satu anak panah, menerawangnya dengan teliti. Kayunya usang, dan besi tancapannya tumpul. Membuat Myra menggerutu. "Pantas saja, bahan yang digunakan jelek sekali." Gadis itu menghela napas. Putus asa, ia memutuskan untuk pulang. Ia lantas mengumpulkan anak-anak panah yang berceceran. Dipeluknya tumpukan kayu bakar yang ditemukannya tadi, dan beranjak pergi. Matahari sudah naik. Namun saat dia melangkah pulang, dua orang remaja nampak sedang melangkah dari arah yang berlawanan. Di belakang mereka terdapat gerobak yang ditarik oleh seorang keledai muda. Salah satu dari mereka, anak lelaki tinggi berambut cokelat terkejut melihat Myra, lantas berbisik-bisik dengan anak perempuan di sampingnya. Mereka berdua langsung menjauh. Myra berusaha tidak menggubris. Seperti biasa. Tapi, hei...bukankah ini hutan milik keluarga kerajaan? Apa yang mereka lakukan di sini? Kecurigaan itu membuat Myra berbalik, ingin menanyakan urusan mereka. Namun, kedua remaja itu malah lebih jauh dari yang ia kira. Nampak mereka lari terbirit-b***t. Myra berniat mengejar, tapi dari arah belakang mendadak muncul suara berderap. Gadis itu menoleh kembali, dan sekejap, napasnya langsung terhenti. Kuda hitam gagah yang dilihatnya kemarin. Dan- "Myra!" Geram penunggang kuda itu mengagetkannya. Rambut sebahunya yang masih terikat berguncang-guncang. Dari nada suara itu terdengar jelas amarah. Kuda itu berhenti tepat di depan Myra yang terpana, dan Callan langsung turun. Ia mendekati Myra dengan wajah merah padam. "Kau benar-benar..." Pria itu melotot. "Baru satu hari perjanjian berlaku dan sudah kabur? Kau lebih dungu dari yang kuduga. Prajurit! Cepat rantai dia!" Dua prajurit yang mengikutinya turun, langsung membawa rantai. Melihat benda besi itu lagi, Myra membelalak panik, langsung mundur. "Ap-apa maksudmu dengan kabur? Aku tidak kabur!" "Mengendap-endap saat subuh, lalu pergi ke hutan belantara? Apa namanya kalau bukan kabur?" "Berburu!" Myra berseru kesal, sedikit jengkel dengan Callan yang salah paham. "Aku berburu, lihat!" Diancungkannya anak panah dan busur yang ia bawa. Tapi anak panah itu terlihat usang, sama sekali tidak mungkin Myra membawanya untuk berburu. Callan menatapnya berang, tidak percaya. "Kau kira aku bodoh? Sudahlah, cepat rantai dia!" "Hei hei!" Myra melompat mundur melihat prajurit yang terus maju dengan rantai. Sudah cukup dia berurusan dengan benda itu kemarin. "Untuk apa aku berbohong? Kalau pun aku benar-benar kabur, seharusnya saat melihatmu aku berlari! Aku sambil mengumpulkan kayu bakar juga, tahu!" ujarnya sambil menunjukkan sekumpulan kayu di genggamannya. Perkataan itu membuat sang raja menyipitkan mata. Ia mencoba mencerna argumen Myra sesaat, kemudian menghembuskan napas kasar. "Mawar sialan..." umpatnya kesal. "Membuang waktuku saja." Ia mengibaskan tangan, membalikkan badannya. "Kita kembali. Tidak akan kuladeni lagi gadis ini." Serempak, ketiga orang itu naik kembali ke atas kuda. Myra, sementara, masih kebingungan di bawah. Bagaimana cara dia pulang? Jalan kaki? "Apa yang kau tunggu?" Callan menghardiknya. "Naik!" Dengan buru-buru, Myra yang bertubuh kecil berusaha naik ke atas kuda Callan yang cukup tinggi. Astaga, dia hampir saja terjatuh lagi. Di belakang punggung Callan, ia duduk. Tangan kirinya memegang kayu bakar yang banyaknya tak seberapa serta anak panahnya. Sementara tangan kanannya berpegangan pada jubah ungu. Namun baru saja Myra bersiap, pria itu langsung memacu kudanya tanpa aba-aba. Sontak, gadis itu kaget. Ia langsung terguncang-guncang di belakang dengan pacuan Callan yang terlalu cepat. Susah payah Myra menahan ratusan umpatan keluar di dalam hatinya. Syukurlah, saat menghindari pepohonan dan keluar dari hutan Taiga, pria itu melambatkan lajunya. Membuat Myra bisa menarik napas sebentar. Tanpa sadar, ia meraba beludru jubah ungu yang Callan kenakan. Memperhatikan punggung Callan yang lebar di belakang. Memperhatikan rambut hitamnya yang terikat setengah. Degup demi degup, jantung Myra tidak bisa dihentikan debarannya. Ia mengangkat tangan kanannya. Cincin emas tersampir, melingkari jari manisnya. Sederhana, namun setidaknya itu tanda. Tanda bahwa ia tunangan orang ini, yang sedang membawanya berkuda—cinta masa kecilnya. Harum bunga Lavender tercium di sepoi-sepoi angin. Gadis itu lantas hanyut dalam pikirannya, hingga tidak sadar kalau mereka sudah kembali ke istana Warrington. Di depan pintu masuk belakang, beberapa pelayan sudah menunggu kedatangan mereka. Namun di antara mereka, berdiri seorang wanita paruh baya yang menatapnya tajam. Rambut hitamnya tergerai hingga paha, dan matanya lebih ungu daripada Callan. Siapa itu? Pikir Myra. Wanita itu mirip sekali dengan sang panglima. Mungkin bibinya? Atau jangan-jangan... "Turun," geram Callan mengagetkan Myra. Ternyata mereka sudah berhenti dari tadi Segeralah Myra turun dari kuda, tapi ia malah jatuh terjungkal. Baju tidur putih yang masih ia kenakan terhempas di tanah. Membuat Myra mengaduh tanpa suara. Sekilas, ia sempat melihat wanita itu mendelik. "Tolong awasi dia. Aku tidak mau berurusan dengannya lagi," ujar Callan dan wanita itu mengangguk. Sang panglima memacu kudanya pergi, asap dari derap kaki kuda membuat Myra terbatuk-batuk. Namun belum selesai ia terbatuk, wanita itu segera mendekatinya. Tubuhnya tinggi, wajahnya keras, dan gaun biru tua yang ia kenakan nampak elegan. Mata wanita itu masih menatapnya dengan berang. "Darimana saja kau? Mencoba lari?" ujar wanita itu dengan dagu yang terangkat. Myra segera menggeleng cepat. "Bu-bukan. Aku hanya mencari kayu bakar dan mencoba berburu-" "Tidak penting. Intinya kau sudah mencoba keluar dari istana. Lupa peringatan kemarin? Kau tidak boleh keluar." Wanita itu mendesis. "Sama sekali. Mantan putri sepertimu seharusnya tahu aturan." Mendengar itu, rasa sebal timbul di hati Myra. Ada apa sebenarnya dengan orang-orang ini? Dia hanya memanah sebentar di hutan Taiga. Ia tau persis hutan itu masih termasuk wilayah istana, apa salahnya? Myra juga tidak akan lari, ia tidak bodoh. Jika ia melarikan diri, maka seluruh Rosean yang sisanya tidak seberapa itu akan sangat menderita. Dan tidak mungkin ia membiarkan itu terjadi. Raut mukanya berubah masam. Tapi ia segera menunduk. Tidak boleh dia menunjukkan wajah itu. Sebagai seorang putri, ia sudah dilatih untuk bersikap anggun, netral, dan tidak melawan. Sudahlah, memang dia yang salah melanggar aturan. Cepat-cepat Myra menenangkan emosinya. "Berdiri. Kau," ujar wanita itu menunjuk salah satu pelayan. "Tolong bersihkan dirinya, dan bawa dia ke perpustakaan. Jaga anak ini selama dia belajar sejarah Lavendar." Wanita itu masih menatap Myra dengan marah, dan berpaling pergi. Sejarah keluarga Lavendar? Ah, betul. Klan calon suaminya nanti. Dan omong-omong, wanita itu siapa? Pelayan yang ditunjuk tadi adalah gadis berambut cokelat dan berkulit kuning langsat. Seumuran dengannya. Ia langsung menghampiri Myra, membantunya berdiri. "Terima kasih," gumam Myra pelan. Melihat perlakuan rakyat Avendra yang kurang mengenakkan akhir-akhir ini, dia harus sering berterima kasih jika tidak ingin makin dibenci. "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Mari?" "Oh, aku bukan tuan putri lagi," timpal gadis itu. "Panggil saja aku Myra, tanpa Yang Mulia." "Ah, baiklah." ujar pelayan itu. "Mari ikuti aku, nona Myra." Dengan pelan ia mendahului gadis itu. Setelah Myra meletakkan busurnya di kamar, mereka pergi menuju tempat permandian pelayan. "Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?" tanya Myra seraya mereka menyusuri lorong-lorong. "Edelin, nona Myra. Aku yang akan melayanimu untuk beberapa hari ini." Edelin berdehem. Memanggil Myra tanpa embel-embel 'Yang Mulia' terasa aneh. Apalagi untuknya yang adalah pelayan kelas rendah, jarang sekali berinteraksi dengan anggota keluarga kerajaan yang diagung-agungkan. Hal itu juga yang membuat Edelin tidak terlalu menyukai mereka. Kalau boleh jujur, Ia merasa terkena sial tadi saat ditunjuk oleh ratu Adela untuk melayani gadis ini. "Wah, benarkah? Aku kira tidak akan ada yang melayaniku setelah tadi malam," canda Myra membalas perkenalannya. Sang pelayan lantas tertawa demi kesopanan. Namun di dalam hati Edelin, Myra terkesan aneh. Ia terdengar seperti tidak bisa hidup tanpa pelayan. Astaga. Ternyata gosip pelayan yang lain benar. Edelin menggerutu di dalam hatinya. Lorong menuju tempat mandi pelayan terasa lebih dingin. Uap tipis mengepul dari bak batu yang sudah diisi air hangat. "Silakan," ujar Edelin sambil menunjuk. Tangannya mengambil kain dan sabun tanpa menunggu perintah lebih lanjut. Myra menanggalkan pakaian tidurnya dan masuk ke bak. Ia merebahkan punggungnya, menghela napas panjang seolah baru saja pulang ke rumah. Edelin menuangkan air perlahan. Gerakannya tetap terukur, tapi rahangnya sedikit mengeras. Buih sabun di tangannya digosokkan lebih cepat dari sebelumnya, lalu ia memperlambat lagi, menarik napas pendek lewat hidung. Myra memejamkan mata. "Hangat sekali," katanya ringan. Edelin tidak menjawab. Ia mengambil kain bersih, mengelap bahu Myra dengan tekanan seperlunya, lalu memindahkan pandangannya ke dinding seberang. "Edelin?" panggil Myra saat dikeringkan badannya. "Ya, nona Myra?" To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD