7 | Ulang Tahun

2125 Words
Ketuk demi ketuk digaungkan oleh satu orang, kemudian dua, lalu dilanjutkan oleh setengah dari pengunjung rumah minum itu. Kecapi dipetik dan gitar digenjreng. Tawa menggelegar, gelas-gelas ale dituangkan dan orang-orang bertepuk tangan; pria dan wanita muda mulai berdansa di tengah ruangan. Arthur yang sudah mabuk menggaet leher sahabatnya, Callan, dan berteriak keras-keras di telinganya. Marah, Callan mendorong sahabatnya itu, namun ia juga ikut tertawa dan mulai mengangkat tangannya di atas kepala. Rumah minum yang tersembunyi di balik hutan di distrik Brisewold itu memang selalu merayakan akhir pekan dengan meriah. Semakin nyaring musiknya, semakin menggila perayaannya. Gelas demi gelas ale Callan dan Arthur tenggak hingga mereka teler. Setelah minum selama kurang lebih dua jam, Callan memutuskan bahwa ia perlu sesuatu yang lebih hangat lagi untuk menutup malam itu. Dipandangnya sekeliling rumah minum yang padat, dan tanpa pikir panjang, pandangannya jatuh pada seorang wanita berambut cokelat yang menghembuskan asap rokok di tepi ruangan. Cukup seksi, pikir Callan dan langsung mendekati wanita itu. "Ganja, ya?" tanya Callan pada wanita itu. Gaun yang dikenakannya simpel, linen halus dengan minimal bordir dan berwarna kuning terang. Anting-anting emas yang ia kenakan terlihat bersinar di bawah sinar obor rumah minum. "Bukan, herbal," sanggah si cewek dan meniupkan asapnya pada wajah prajurit muda itu. "Berkhasiat dan membuat awet muda. Ingin coba?" ujarnya sambil merogoh saku roknya dan menyerahkan satu batang ke Callan. Callan menggeleng, hebatnya, di tengah ketelerannya, ia masih ingat bahwa ibunya akan berang luar biasa jika mencium wangi asap rokok di rumahnya. Ia menaruh tangannya di dinding tempat wanita itu bersandar, dan berbisik. "Aku langsung saja: kau begitu cantik." Callan tidak berbohong. Mata gadis itu lebar dan bibirnya penuh. Hidungnya mancung dan kulitnya putih s**u. "Dan tampak menyenangkan. Ingin bersenang-senang sedikit?" Remaja perempuan rasional manapun akan langsung menamparnya. Namun, gadis itu justru menggamit dagu Callan dan menatapnya tepat di mata. "Kalau aku menjawab iya, apa yang kau bisa tawarkan, hm?" Callan tersenyum tak percaya; gadis ini benar-benar tipenya. Ia berbisik lagi. "Kepuasan batin; beberapa gadis bilang aku ahlinya." Maka jadilah. Kedua insan itu menyelinap keluar dari rumah minum, lantas berbagi kecupan pertama di bawah bulan temaram. Sekali, dua kali. Sensasi yang mereka rasakan saat mulut mereka bersua membuat keduanya ingin lagi dan lagi. Dengan tergesa-gesa, Callan menarik tangan wanita itu ke penginapan setempat, melemparkan sekantung uang dan langsung menuju salah satu kamar. Keduanya membanting pintu, melepaskan seluruh pakaian, dan mulai b******u. Paginya, Callan tidak dibangunkan oleh sinar mentari, melainkan suara manusia yang tergesa. gesa. Callan mengerjapkan matanya, dan menemukan gadis yang bersetubuh dengannya malam itu hampir tuntas memakai baju. Callan mengangkat alisnya, keheranan. "Mau kemana, kau?" "Pergi dari sini, prajurit Callan." Wanita itu mengetatkan korsetnya. "Aku tidak pernah memberitahukan namaku," ujar Callan. "Tidak usah sok rendah hati. Namamu termasyhur, Lavender. Rumornya kau akan dipromosikan menjadi jenderal, bukan? Padahal umurmu baru belasan tahun. Oh ya, bayaranmu ada di meja. Terima kasih atas malam yang menyenangkan." Percakapan dan sensasi alkohol yang masih mengawang di kepalanya membuat Callan pening. Namun itu semua benar. Ia bangkit dan duduk, mengamati wanita yang sudah selesai memakai gaunnya itu dan hendak melangkah pergi. Callan heran luar biasa—biasanya ia yang akan melakukan hal itu duluan setelah cinta satu malam. Biasanya, dia yang akan menyodorkan uang dan pergi sebelum matahari terbit. Namun, cukup diakui, malam yang ia lewati bersama wanita ini cukup luar biasa sehingga ia tertidur pulas. Apakah karena ia lebih berpengalaman? Sejenak, memikirkan hal itu, membuat d**a Callan mulai terbakar. Belum pernah ia merasakan hal ini sebelumnya. Maka, sebelum wanita itu benar-benar lenyap, Callan pun berseru. "Siapa namamu, Nona?" "Hah?" wanita itu menoleh sebentar, "Oh. Aisia." ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── "Ceroboh, dungu , tidak tahu aturan," gerutu Adela. "Tuan Putri terhormat apanya? Sikapnya payah sekali. Bahkan pelayan pribadiku saja bisa bersikap lebih anggun daripada dia!" "Dengan lancangnya dia bilang kalau pedang warisan suci keluargaku sudah usang? Seharusnya dia berkaca. Dinasti keluarganya jauh lebih usang dan sudah dibuang." Arthur pun ikut mengomel. Callan tergelak mendengar celotehan ibu dan sahabatnya itu. "Tapi aku tidak heran. Klan b*****h itu memang penuh kepalsuan. Dan mengingat bahwa kau—" Adela menunjuk putranya, "—akan menikahi gadis itu sebentar lagi, membuat kepalaku sakit." Ia mengeluh lagi sembari meletakkan cangkir tehnya. "Aku belum sudi punya keturunan darinya." "Tenanglah, bu." Sang panglima juga menaruh cangkirnya. "Aku juga tidak sudi." Arthur, kawannya lantas berceletuk. "Rasanya lebih pantas kau menikahi Aisia. Kalian 'kan selalu bersama-sama." "Kami hanya teman," sanggah Callan. "Teman macam apa yang selalu menyelinap ke ranjang bersama?" Arthur mengedip. Sang panglima, tetap tenang, menyesap tehnya lagi. "Kami hanya teman yang saling membantu. Termasuk dalam urusan itu." Pria itu beralasan. "Lebih aman dengannya daripada selalu berkeliaran mencari mangsa seperti kau." Percakapan vulgar membuat kening Adela berkerut. Ia mulai tak nyaman. Mungkin sudah saatnya dia meninggalkan kedua sahabat masa kecil itu. "Terserahlah. Yang pasti, aku tidak menyukai gadis itu," ujarnya sambil berdiri. "Maksudku Myra, bukan Aisia. Dan mungkin tidak akan pernah. Aku pamit. Masih ada beberapa barang sisa keluarga kerajaan yang harus didata dan diurus." Callan tersenyum, dan mencium tangan Adela sebelum pergi. Wanita itu pun melenggang masuk ke istana. Melangkah melintasi aula takhta, yang di atasnya kini berkibar panji raksasa berwarna ungu. "Oh ya, ngomong-ngomong soal Aisia, dia akan tiba lusa," ungkap Arthur. "Dia datang khusus demi penobatanmu." Mendengar itu, Callan terdiam sedikit. Sudah cukup lama sejak mereka bertemu. Dan terakhir kali mereka bertemu, mereka bertengkar. "Tapi kau akan menikah. Dengan Myra pula. Yah, walaupun gadis itu agak dungu, tapi ia tetap cantik, bukan?" Arthur lantas bertanya. "Masihkah kau memerlukan Aisia?" Callan meletakkan cangkir teh. Berpikir sejenak. Masihkah ia membutuhkan Aisia? Myra memang cantik, tapi gadis itu pasti polos sekali. Tidak pernah muncul rumor kalau ia berkencan dengan siapa-siapa. Callan menatap cangkir tehnya. Ia tahu persis perbedaan antara keinginan dan kewajiban; Aisia adalah yang pertama, dan Myra adalah yang kedua. Namun, Aisia sudah berkali-kali menyatakan perasaan kepada Callan. Sedangkan Callan tidak ingin lebih. Urusan politik jauh lebih penting baginya daripada urusan percintaan. Itulah yang membuat wanita itu pergi dari Avendra beberapa bulan yang lalu, setelah Callan memutuskan berfokus pada ambisinya. "Melihatnya nanti," ujar Callan. Namun Arthur sudah menceletuk. "Tapi menurut katedral, kau harus menyentuh Myra setidaknya sekali agar pernikahan kalian sah." Perkataan itu membuat Callan tertegun sebentar. Benarkah? Arthur lanjut menjelaskan bahwa tanpa restu katedral, pernikahan mereka bisa dibatalkan secara hukum. Ia langsung memutar matanya malas. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Setelah kejadian memalukan di lapangan kemarin, Myra menangis tanpa suara di kamarnya. Itu yang selalu pamannya tekankan. Maka sejak hari ia diangkat sebagai Putri Mahkota, tangisannya sudah kehilangan suara. Istana Warrington sudah berubah. Sepenuhnya. Semua unsur yang berkaitan dengan mawar, merah, atau Rosean disingkirkan. Lukisan-lukisan diturunkan, bunga-bunga dibuang, dan patung-patung diganti dan dipoles. Bahkan karpet emas-merah khasnya sudah pergi. Diganti dengan paduan ungu, biru tua, dan biru muda. Semuanya. Satu-satunya tanda kalau istana ini masih bangunan yang sama dengan yang Myra dulu tempati adalah penampakan luarnya saja. Dua hari lagi Callan akan dinobatkan, itu kata pelayan muda yang cukup ramah kepada Myra. Pelayan itu baru masuk hari ini. Myra berterima kasih, dan langsung menghitung berapa hari yang dibutuhkan agar pelayan ini mulai membencinya. Karena sejak kejadian di lapangan itu, semua orang kini terang-terangan memusuhinya. Mereka tidak lagi hanya berbisik-bisik, kini mereka bergosip di lorong dengan suara lantang. Tidak seperti sebelumnya, Myra terus berjalan dan tidak menoleh. Dulu saat Godwin membantai klan-klan musuhnya, gunjingan juga berkumandang di seluruh Avendra. Myra biasa mendengar hinaan yang tidak mengenakkan, dia hanya harus tidak menghiraukannya terus. Aku harus terbiasa, batinnya berulang-ulang. Hari ini, biasanya istana akan menggelar pesta. Seharian, kemudian akan digelar pesta semalam suntuk untuk dirinya. Myra akan memakai gaun terindah dengan tiara warisan keluarganya. Kemudian dansa akan digelar, dan semua bangsawan akan merayakannya selama tujuh hari penuh—secara ia adalah pewaris takhta dan permata Avendra. Namun hari ini seperti hari biasa saja. Ia hanya memakai gaun hijau sederhana, mirip dengan gaun kepala pelayan tapi memiliki pita. Tadi Ia berniat menghirup udara segar di taman, dan prajurit yang menjaga memperbolehkannya tadi. Di atas bangku kayu di bawah pohon Ek yang sudah ada jauh sebelum istana Warrington berdiri, Myra duduk. Rambut merah bergelombangnya menari bersama angin. Ia merasa sedih, ingin bertemu keluarganya namun tidak bisa izin kepada Adela. Calon mertuanya itu tidak terlihat sama sekali bahkan setelah berusaha mencari sekeliling. Jadilah ia duduk sendirian di pagi ulang tahunnya ini. Karena satu-satunya keluarga yang bisa Ia hubungi, hanya ibunya. Di tengah semilir angin, ia memejamkan matanya. Menunggu sebuah bisikan yang datang setiap tahun. Selamat ulang tahun sayang, bisik si angin. Terima kasih bu, balas sang putri. Aku mencintaimu, ujar mereka berdua bersamaan. Selalu. Delapan belas tahun? Terasa lama, namun sekaligus terasa seperti sekejap saja bagi Myra. Ia teringat pesta sederhana yang dulu diadakan oleh ibu dan ayahnya, kemudian pesta dansa yang megah baginya setelah jadi pewaris tahta. Mengingat kenangan-kenangan ulang tahunnya yang manis, Myra tersenyum bahagia untuk sesaat. Angin berhembus pelan di pipinya, layaknya mengelus. Tak terasa bahwa ia sudah hidup enam tahun tanpa ibunya. Tidak jauh dari situ, Callan mengernyitkan dahinya menatap gadis itu. Ia tersenyum sendiri sambil terpejam. Mungkin ia sudah gila? pikirnya. Panglima itu tadinya ingin menghirup angin. Urusan kerajaan, perjanjian dan berkas yang harus ia tangani membuat kepalanya pusing. Namun adanya Myra malah membuat jalan-jalan paginya terhenti. Membuatnya kesal. Ia ingin berbalik, namun teringat sesuatu. "Meminta mengundur pernikahan hingga kau genap delapan belas? Kapan tepatnya?" "Du-dua minggu lagi. Saat pertengahan musim semi." Itu hari ini. Hari ini hari ulang tahun gadis itu. Callan berbalik, dan mendekat ke pohon ek. Gadis itu masih terpejam. Banyak yang ingin kuceritakan bu, ujar Myra lirih. "Hei," tegur Callan yang membuyarkan khayalannya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Myra terkejut, lantas membuka matanya. Sang angin yang berbisik lantas mereda. Suara serak panglima itu sudah lama tak di dengarnya. "Ah, aku sudah ijin pada prajurit," kilah Myra, "mereka bilang aku boleh berjalan-jalan sebentar." Callan teringat cerita ibunya beberapa hari yang lalu. Bagaimana tindakan gegabah gadis itu membuatnya dijaga oleh prajurit khusus. Pria itu mengangkat dagunya. "Oh," katanya, "baiklah. Baguslah kalau kau tidak mencuri pedang orang lain atau menyelinap ke hutan lagi. Istana sedang repot," sindirnya. Membuat gadis itu bermuka masam. "Aku sudah minta maaf, dan bukan salahku kalau kau salah sangka," balas Myra. "Kalian hanya menyuruhku membaca, membaca, dan membaca. Wajar kalau aku bosan." Callan mengangkat alisnya. "Yah, memang apa yang boleh dilakukan seorang gadis biasa di istana? Kau ingin kembali ke lantai dua? Menggelar acara minum teh di kamar mewahmu lagi sementara rakyat menderita? Hm?" Mendengar suara Callan yang mendingin, Myra menegang. Dia lelah dengan sikap orang-orang yang mengira dia kejam dan tidak peduli kepada sesama. "Aku bukan orang yang seperti itu," kilah Myra. Callan malah tertawa. "Benarkah? Semua yang kau lakukan tadi membuktikan yang sebaliknya." "Tidak." Myra mendesis. "Bisa kubuktikan." "Tidak mungkin. Karena itulah yang klan kalian selalu lakukan. Kalian buta." Callan mendesis balik. "Kudengar-dengan pelayanmu kemarin memohon agar kau berhenti, tapi kau bahkan tidak menoleh." Kemarahan naik di wajahnya. "Itulah jati dirimu, Myra. Tidak pernah peduli dengan nasib orang lain di sekitar kalian, hanya memikirkan diri sendiri. Itulah jati diri setiap Rosean." Hati Myra terasa disulut mendengar itu. Ia lantas menyentak naik, matanya berkaca-kaca dan marah. Barusan saja ia duduk dengan tenang, dan pria ini malah menghancurkan momennya! Memangnya kenapa? Ada apa? Dia hanya ingin duduk tenang, di pagi hari ulang tahunnya. Apa salahnya? Dia juga tidak pernah mengganggu Callan. Myra hanya ingin ketenangan! Tunggu. Tersadarlah Myra. Perkataan itu berputar terus dan terus di kepala Myra—dan tidak satupun bisa dibantah. Mukanya melunak, dan ia tertunduk. Bukankah tindakannya kemarin, seperti mencoba berburu dan mengambil pedang tanpa izin, juga adalah bukti kalau dia hanya memikirkan diri sendiri? Ingin ia membalas panglima itu dengan tajam, tapi di dalam dirinya, perkataan itu sudah terbukti benar. Terbukti langsung malah. Callan masih menatapnya dengan sinis. Ia menyadari gelombang kesadaran yang naik ke wajah Myra, membuat ia tersenyum angkuh Panglima itu pun mendekat, dan berdiri tepat di depan Myra. Ia mengangkat dagu gadis itu dengan jarinya, membuat Myra terkejut. Persis seperti yang ia lakukan di malam mereka berbicara. "Kau akhirnya sadar, bukan?" Myra berusaha menoleh, namun akhirnya hanya tertunduk. Wajahnya kaku. Callan terkekeh. "Kuanggap itu sebagai ya," ucapnya sambil menunduk. Menatap wajah Myra, membuatnya teringat akan kalimat Arthur. "Tapi menurut katedral, kau harus menyentuh Myra setidaknya sekali agar pernikahan kalian sah." Meski ragu, panglima itu mendekatkan wajahnya. Seperti pada malam mereka pertama kali bercakap, Myra mencoba menoleh ke arah lain, namun Callan menahannya. Ia terus mendekat, dan akhirnya, mengecup Myra. Tepat di bawah rimbun pohon Ek, yang bergerak perlahan oleh angin musim semi. Membuat mata cokelat gadis itu membulat. Callan mengecup Myra sebentar, kemudian melepaskannya lagi. Ia tidak menyesalinya. Dan ia berbisik. Tepat di telinga Myra. "Selamat ulang tahun, Tuan Putri." To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD