8 | Vive Lavendar

2381 Words
Suara terompet berkumandang di seluruh istana. Hari ini hari besar. Raja baru Avendra yang dipuja oleh semua orang, Yang Mulia Raja Callan, akan menikahi Myra Rosean, lantas dimahkotai secara resmi sebagai raja pertama dari dinasti Lavendar. Namun, pria yang akan diagungkan hari ini itu malah belum bersiap. Ia justru berada belasan kilometer jauhnya dari istana Warrington yang dihias. Di halaman belakang rumah lamanya, Ia duduk di depan makam ayah dan kakak kembarnya. Pandangannya tertuju di balok batu, tempat Godwin akan menaruh kepalanya nanti sore. Ia tersenyum, namun tidak lama. Air matanya menetes, menatap haru kedua makam itu. Aku berhasil, Yah. Aku berhasil. Hari ini, dendam ayah akan terbalaskan sepenuhya. Mari kita rayakan bersama. Sedang ingin bernostalgia, semua kilasan balik di malam itu kembali. Callan yang saat itu tujuh belas tahun merangkak, menangis dalam diam, sementara Duke Callahan meregang nyawa di dekapannya. Melihat jejak kuda-kuda yang tertinggal di halaman rumahnya malam itu, sosok Callan menggeram. Ia dipenuhi amarah. Sejak malam itu, remaja yang sebelumnya hanya berambisi menjadi panglima terhormat berubah. Ia menoreh tubuhnya dengan luka-luka; terukir di tubuhnya sumpah untuk menghabisi para Rosean. Ia bersikap tabah, berpura-pura setia pada Godwin yang bahkan tidak mengenalinya. Menyebarkan hasutan demi hasutan, bisikan demi bisikan, satu persatu dengan karisma, hingga para prajurit dan armada takluk padanya. Dan hari ini, Ia akan merayakannya. Dimulai dengan pernikahannya, dan penobatannya di atas tahta emas. Kemudian, sore hari dia akan memenggal Godwin. Tepat di sini, di depan makam ayah dan kakaknya. Dan malam nanti, Ia akan mengesahkan pernikahannya. Tinggal itu saja. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Seraya seluruh Warrington disiapkan untuk pesta, di balik jendela kaca, terlihat gadis yang mengintip ke lapangan istana. Rambut merahnya dikepang dan disanggul ke bawah. Kepalanya dihiasi mahkota bunga. Korset yang ia pakai tadi sedang dikencangkan talinya. Wajahnya yang belum dirias memancarkan jelita. Myra teringat kisah yang diceritakan ayahnya tadi pagi. Hari ini akhirnya Ia diizinkan bertemu Duke Keenan, ia langsung menangis di pelukan ayahnya. Mencurahkan semua emosi yang dia tahan selama berminggu-minggu. Dan ketika Myra menuntut penjelasan, ayahnya bercerita tentang masa lalu Callan sebanyak yang Ia bisa. Beberapa bulan setelah pamannya membantai klan Lavendar, terungkap kalau ayah Callan tidak terlibat dalam peristiwa Mawar Berdarah yang membuat Godwin dendam. Duke Callahan mati tidak bersalah. Keenan membatin. Begitu terus yang terjadi. Lavendar membantai Rosean di Mawar Berdarah, kemudian Rosean balik membantai Lavendar. Sekarang, Lavendar yang mendendam balik menjatuhkan Rosean. Tiada selesai, tiada habisnya. "Mungkin..." Keenan menggumam sambil memandang putrinya yang sedang dirias. "Mungkin apa, Yah?" "Mungkin pernikahanmu bisa jadi awal baru." Myra mengerutkan dahinya. "Awal baru apa?" "Awal baru bagi kedua klan. Baru pertama kali ini Rosean dan Lavendar bersatu dalam pernikahan. Mungkin pernikahanmu bisa jadi titik awal untuk kedua pihak, Myra." Myra terdiam. Secercah harapan muncul, tapi kemudian padam. Ia menggeleng pelan. Teorinya memang mudah. Tapi dalam praktik? Mana mungkin. Semua keluarga Callan yang dia temui memandangnya seperti benda asing. Ia menghela napas, tidak mau membayangkan bagaimana hidupnya nanti. Tapi ciuman Callan kemarin... "Nah, ini dia!" Duke Keenan berseru senang, membuat Myra menoleh ke belakang. Nenek Jenna—ibu Keenan—menunjukkan busana yang akan dipakai Myra menuju altar. Mata karamel gadis itu membulat. Gaun putih panjang dengan lengan bersayap. Sekujur gaun itu dihiasi motif emas. Tudung yang tersambung dengan jubah panjang di belakangnya juga senada. Myra menyentuh gaun itu, dan bahannya adalah satin sutra. Ada sehelai kain berwarna ungu di hiasannya. "Dari mana ayah mendapat ini?" tanya Myra dengan takjub. Seingat gadis itu, Avendra sudah memiskinkan keluarganya. Dari mana gaun indah ini berasal? Keenan tertawa. "Ini gaun lama ibumu. Nenekmu yang memperbaikinya selama seminggu. Bagus kan? Bahkan dia memberi unsur Lavendar sedikit." Myra terbelalak, lantas lompat memeluk Jenna dengan senang. "Terima kasih, Nek, cantik sekali. " Diusapnya kain tipis yang jadi sayap gaun itu. Tegang hatinya langsung berubah menjadi lebih baik. "Berterima kasih pada ayahmu," Jenna terkekeh, memeluk cucunya terharu. "Baju ini ternyata masih tersisa di kastil Myria." "Terima kasih, Yah," ujar Myra sambil menoleh pada ayahnya. Keenan tersenyum tipis. "Berterima kasih pada ibumu," ujar Keenan. Senyum di wajahnya yang lembut menghangat. "Iva ternyata sengaja menjaga gaun itu di Myria, mungkin ia menyimpannya khusus untukmu." Mendengar itu, mereka semua tersenyum bahagia. Myra tertawa, mulutnya sumringah setiap kali mengingat mendiang ibunya. Keenan tersenyum penuh haru mengingat mendiang istrinya. Sang putri lantas berbisik pada angin. Terima kasih, bu. Sama-sama, sayang. Berbahagialah. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Imam katedral berdiri di depan altar. Para pelayan wanita terlihat saling berbisik di pinggir katedral. Namun, tamu yang duduk di bangku hanya beberapa saja. Keluarga dekat kedua mempelai. Di sisi kanan, ada Pangeran Barnstein bersama Putri Kalia, beberapa anggota Rainald—marga Duke Keenan. Diantaranya adalah Jenna. Nenek Myra itu duduk di bangku terdepan. Sementara di sisi kiri, hampir semuanya berbusana ungu. Semuanya adalah petinggi dan anggota klan Lavendar. Di depan altar, Arthur membetulkan jubah emas sahabatnya. Dengan tunik yang berwarna putih-emas, ikat pinggang permata ungu, dan jubah berbulu, Callan semakin gagah. Pria itu memandang sekeliling. Sudah ia putuskan bahwa pernikahan ini akan dilangsungkan diam-diam saja. Hanya untuk formalitas, karena acara yang lebih penting sudah menunggu. Tentu saja Callan lebih peduli menjadi raja Avendra daripada menikah. "Sudah siap?" tanya Arthur sambil tersenyum. Callan memutar matanya lagi. "Kau tahu, aku selalu mengira kau akan menikahi Aisia, atau paling tidak, gadis-gadis tuan tanah kaya di sekitaran Avendra. Tapi kau malah menikahi yang utama," kekeh Arthur. "Permata Avendra." "Tidak juga," sergah Callan. Arthur tertawa jahil, dan kembali ke tempat duduknya. Tak lama, pintu katedral terbuka, cahaya pagi menyeruak dari luar. Di depan, nampak Myra yang digandeng oleh Duke Keenan. Tangannya memegang bunga peoni yang disisipi bunga Lavender. Rambutnya yang dikepang tergelung ke atas, dan rangkaian bunga mengelilingi kepalanya, dan tertutup oleh tudung. Gaun satin ibunya yang menawan memantulkan cahaya, sayapnya terseret dengan anggun di lantai katedral. Membuat Callan termangu sejenak. Riasan dan busana gadis itu sederhana, namun mampu membuatnya nampak elegan. Nampak Keenan tersenyum, sementara Adela terdiam. Ikut termangu melihat calon menantunya itu. Gadis ini cantik juga, walau geraknya penuh kepalsuan. Setelah itu, Myra pun naik ke atas altar, bersanding tepat di samping sang panglima. Callan menoleh sekali, kemudian kembali memasang muka tak peduli. "Selamat pagi," ujar Imam Katedral pada seluruh hadirin. "Hari ini, kita akan..." Lonceng katedral pun berdentang, tanda sebuah upacara suci akan dimulai. Mulai dari salam, pengucapan janji setia, hingga pertukaran cincin. Kali ini, cincin mereka berdua berwarna ungu. Hati Myra terasa hangat saat menyematkan cincin permata ungu itu pada jari Callan. Sedikit berharap bahwa pria itu tidak melepasnya lagi. Namun wajah pria itu terasa dingin. Kaku dan sinis, bahkan saat memandang wajahnya di depan altar. Myra mendesah, teringat perkataan ayahnya tadi. Persatuan? Persatuan bagaimana kalau Callan saja tidak suka memandangnya? Mungkinkah ia berharap? Mungkin. Mungkin saja. Aku harus berharap, batin Myra berkali-kali. Bagaimana pun, Ia harus kuat. Callan, di sampingnya, juga ikut membatin. Ini hanya pernikahan, batinnya. Tidak penting. Bukan berarti sikapnya pada klan Rosean, termasuk Myra, akan berubah. Gadis itu hanya akan jadi dekorasi saja. Ratu dan istrinya sebagai formalitas. Bahkan, Callan tidak berharap bahwa pernikahan ini akan berlangsung lama. Dia tidak peduli. Yang penting sekarang baginya adalah menjadi raja. Setelah prosesi, Callan dan Myra langsung digiring ke ruang takhta. Di sana, takhta emas kebanggaan Avendra sudah menunggu Callan. Dan satu tahta mungil di sampingnya, untuk Myra. Ketika dipersilahkan duduk di tahta itu, Myra tersadar. Seharusnya, hari ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu sejak lama. Seharusnya dia yang sekarang duduk di tahta itu, dipakaikan mahkota, jubah emas dan tongkat, lantas dinobatkan menjadi Penguasa Avendra dengan pandangan takjub dari semua orang. Namun sekarang, Myra merasa seperti hiasan saja. Hiasan pemanis yang kebetulan ada di samping Callan, yang harus terpaksa melihat semua pandangan orang yang tertuju pada panglima yang akan dinobatkan itu. Suara paduan suara mendayu-dayu, berkumandang hingga ke bubungan istana tertinggi. Dari sela-sela kaca, sinar matahari menyeruak menyinari aula. Seketika, suara terompet pecah. Satu bangunan pun menjadi sunyi. Hembusan napas bahkan tidak ada sama sekali. Perlahan, Uskup Agung Avendra berjalan keluar. Tangannya mengangkat tinggi-tinggi mahkota Avendra. Benda suci itu berlapis emas, beludru dan permata keseluruhannya. Callan duduk dengan tegap di atas tahta emas, memandang jauh ke depan. Raut wajahnya tenang. Sama sekali tidak menghiraukan sekelilingnya, apalagi Myra. Karena di bayangannya, terlihat ayah dan kakaknya duduk di kursi paling depan, tersenyum dengan bangga bersama ibunya. Mimpinya terwujud setelah sekian lama. Uskup maju, menghadap tepat Callan yang terduduk. Orang tua itu mengucap beberapa peribahasa kuno, dan kemudian berucap. "Dengan ini, ternobatlah engkau—Callan Lavendar, sebagai Penguasa sah, Raja kerajaan Avendra yang terhormat. Raja pertama dari dinasti Lavendar." Spontan seluruh hadirin bangkit, dan membungkuk dalam-dalam kepada sang raja baru. Suara paduan suara pecah, melambangkan daratan Avendra yang bersorak untuk raja baru mereka. Kemudian sang Uskup berjalan lagi, kali ini kepada Myra, dan berkata. "Dengan ini ternobatlah engkau, Myra Lavendar, Permaisuri dari Penguasa sah, Ratu pertama kerajaan Avendra dari dinasti— Rosean. Penguasa sah, Ratu pertama kerajaan Avendra dari dinasti Rosean, batin Myra yang berandai-andai. Namun tiara kecil itu tetap terasa berat saat diletakkan di atas kepalanya yang tersanggul. —Lavendar." Sang ratu baru langsung tegap. Mata karamelnya menatap ke aula, namun kali ini, tak ada yang membungkuk padanya. Juga tidak ada suara paduan suara. Hanya keheningan. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Satu tendangan melayang ke muka Godwin. Kemudian satu pukulan melayang lagi ke perutnya. "Membungkuk," ujar Callan dingin. "Berlutut dan minta maaf di depan ayahku sebelum kau mati." Godwin menggeram, dan terus memberontak dengan rantai yang mengunci kaki tangannya. "Tidak akan pernah!" Sang raja melotot, dan menarik kepala Godwin ke atas. Dengan pedangnya, Ia menunjuk ke dua arah. Yang pertama, balok batu yang cekung, tempat eksekusi kepala. Dan yang kedua, kuali yang membara. Aromanya seperti sup. "Lihat," ucap Callan sambil menunjuk. "Minta maaf pada ayahku dan Camdyn. Dengan begitu, kau bisa mati secepatnya, terpenggal oleh pedang tajam yang menyisakan sedikit rasa sakit. Atau ..." Callan menyeret Godwin di depan kolega-kolega terdekatnya, ke arah kuali yang mendidih. "... akan kuceburkan kau ke dalam sup ini sekarang, dan kuberikan sisamu pada anjing liar." Mendengar itu, Godwin melemas. Tubuhnya kembali dibanting di tanah. Callan mengayunkan pedangnya lagi. Dengan sengaja ia memilih "Pikirlah, pengkhianat. Kau masih bisa kubunuh secara terhormat. Namun, dengan kuali, jangan harap kau masih bisa tersisa dengan utuh di muka bumi ini." Membelalak, Godwin langsung merayap ke depan makam Duke Callahan dan Camden. Bersujud minta maaf. "Maafkan aku." "Ulang." Callan menginjak kepala Godwin agar semakin tunduk. "Maafkan aku! Kumohon, akhiri penderitaanku!" Akhirnya mantan raja itu pecah. Sudah berminggu-minggu ia disiksa di sel bawah tanah. Badannya hanya tinggal kulit dan tulang. Semua makanan yang diberikan padanya sudah basi. Dan berbagai macam orang sudah memukulinya hingga puas. Benar-benar, Godwin sungguh dibenci. Siapa suruh Ia menjadi tirani? "Baiklah," ledek Callan, "seret dia. Kita akhiri kisah raja keji ini." Leher Godwin pun tersampir di atas balok, dan Callan menuju ke arahnya. Sang raja mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan menatap langit sebentar. Namun, ia berubah pikiran. "Bawakan kuali." Mendengarnya, Godwin pun terbelalak dan panik. "Tidak, TIDAK!" Racaunya. "AMPUNI AKU! TOLONG AKU! TIDAK!" Seluruh jeritan, raungan itu bagaikan simfoni di telinga Callan. Begitu merdu sampai-sampai ia memejamkan mata. Tepat saat Godwin digulingkan bagai daging ke dalam kuali, ia pun berseru lantang. "Vive Lavendar!" Mempersembahkan pembalasan dendamnya ini bagi ayah dan kakaknya, dan semua anggota Lavendar yang telah pergi. "Vive Lavendar!" Setelah momen demi momen berlalu yang penuh jeritan yang menyakitkan telinga, Callan pun memutuskan untuk menuntaskan Godwin. Satu ayunan pedang, dan leher Godwin pun terputus. Muncratan darah mengenai lengan Callan. Dan akhirnya, kepala raja terakhir dinasti Rosean itu berguling. "Bagikan sisanya kepada anjing liar." Callan menjatuhkan pedangnya, dan kolega-koleganya bertepuk tangan. Meraup rambut Godwin dan mengangkat kepalanya ke udara. Sang raja menengadah ke langit sore yang keemasan, namun ia tidak tersenyum. Ia hanya menggigit bibirnya kuat-kuat. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Avendra penuh gegap gempita malam itu. Semua orang berpesta. Bangsawan dan rakyat jelata, semuanya diundang ke halaman istana Warrington yang begitu luas. Piring-piring berisi daging, lemak, keju, dan alkohol pun disebarkan ke semua meja. Ksatria dan pengemis duduk semeja bersama. Tiada pemandangan jijik yang terlempar---semuanya bersukaria menyambut raja muda yang akan membawa perubahan, gaungnya. Nun jauh di balik dinding kastil, Myra sedang membuka bajunya. Seperti yang diinstruksikan Adela---duh, betapa Myra tidak tahan dengan tatapan matanya yang sinis---ia mandi bunga, lantas bersolek, dan mengenakan gaun tipis yang terawang. Mengurai rambutnya yang sepinggang. Tabuh gendang dan musik dari kecapi yang berkumandang di luar seakan mengiringi ritual kecil yang harus ia lalui demi malam pertamanya itu. Beberapa jam lagi, para rombongan pengantin pria akan mengiring Callan masuk, dan mereka akan bersatu sebagai suami istri yang sah. Setidaknya, itu yang dipikirkan Myra dua jam lalu. Kini, ia hampir mati karena bosan menunggu. Angin bertiup melalui jendela, membuat tubuhnya yang hanya dibalut gaun tipis menggigil. Ia duduk di ranjang Callan, menunggu suami yang seharusnya menyentuhnya malam itu. Myra menunggu, dan terus menunggu. Namun, suaminya tidak hadir malam itu. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── [BRAK] Myra melonjak kaget, terbangun dari tidur---ia terlelap? Astaga! Di manakah Callan-oh. Callan berada tepat di hadapannya. Tak butuh hidung anjing untuk mencium bau alkohol yang menguar, dan pria itu sedang menatapinya lamat-lamat. Ia pasti baru selesai berpesta. Namun, Myra tidak melihat adanya rombongan keluarga Callan, maupun keluarganya. Di manakah mereka? Lupakan itu. Mengapa raja ini menatapinya? Kau harus menyentuh gadis itu, setidaknya sekali. Tunanganmu itu cantik, bukan? Kau harus pelan-pelan. Bilang kepada gadis itu untuk rileks. Perkataan demi perkataan Arthur memenuhi kepala Callan. Ia menghela napasnya. Ironisnya, sahabat mesumnya itu justru jauh lebih berguna di keadaan-keadaan seperti ini. Baiklah, ia bisa melakukan ini. Callan mendongak lagi, dan memandang gadis itu tak berkedip. Gadis itu kelihatan kebingungan, mengenakan gaun tipis yang hampir terawang. Ia balik menatap dengan pandangan matanya yang cokelat. Hidungnya mancung, kulitnya yang putih dengan wajah yang berbintik dan merona... Rambutnya yang- Bunyi desing pedang. Muncratan darah. Ayahnya yang batuk-batuk, lantas mengelap wajah anak bungsunya dengan warna- -merah. "Pergi," ujar Callan seketika. "Yang Mulia, aku-" "Pergi!" bentak Callan tiba-tiba hingga Myra terhenyak. "Tidak akan ada yang terjadi malam ini. Pergi!" Dengan mata yang membulat, Myra membereskan pakaiannya, bangun dari tempat tidur, dan melangkah keluar. Ia mencoba berpaling sekali, tapi Callan sudah membanting pintu di belakangnya. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD