Bab 1. Pria Dingin itu Suamiku
"Lepaskan aku!" pekik Viona sambil terus meronta.
Ivan semakin kuat mencengkeram lengang wanita itu dan menariknya masuk ke kamar hotel. Ia kemudian menghempaskan tubuh Viona ke atas tempat tidur.
"Aku mohon jangan lakukan!" pinta Viona ketika melihat pria itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakainya.
Namun, Ivan yang dalam pengaruh obat perangsang tidak memperdulikan permintaan Viona sama sekali, apalagi melihat pakaian wanita itu sangat seksi. Membuat hasratnya semakin berkobar-kobar dan tak bisa terbendung lagi. Setelah berhasil menanggalkan pakaian atasnya, Ivan segera mencumbu Viona dengan memburu sampai merenggut keperawanan gadis itu.
***
Suara isakan membuat Ivan yang sedang tidur terbangun. Sepasang mata elangnya perlahan terbuka dan tampak terkejut ketika melihat seorang wanita cantik yang sedang menangis di sampingnya.
"Apa yang telah terjadi?" tanya Ivan yang segera bangun.
Viona tidak menjawab dan terus menangis sambil menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut.
Setelah melihat keadaannya dan wanita itu, serta kondisi ranjang yang acak-acakan, Ivan akhirnya mengerti apa yang telah mereka lakukan.
"Tidak mungkin, pasti ada orang yang sengaja menjebak kita," desis Ivan sambil menatap Viona dengan saksama.
Wajar Ivan curiga karena Viona belakangan ini mengejar-ngejarnya. Tentu saja ia tidak menanggapi dan tiba-tiba sekarang mereka terlibat adegan panas yang sungguh tidak masuk akal.
"Jangan-jangan kamu yang merencanakan melakukan semua ini, jawab dengan jujur!" bentak Ivan dengan lantang sehingga membuat Viona terkejut.
"Aku memang suka sama kamu, tapi memangnya kamu siapa sampai harus dijebak dengan cara seperti ini? Asal kamu tahu di luar sana masih banyak pria yang lebih tampan dan kaya dari kamu!” sahut Viona, membuat Ivan jadi kehabisan kata-kata.
Ivan pun segera turun dari ranjang dan mengambil bajunya yang berserakan di lantai, lalu memakainya satu persatu.
"Sebutkan berapa yang kamu inginkan?!" seru Ivan sambil menggulung kemejanya sampai siku.
Sambil menyeka air mata, Viona menyahuti, "Aku memang gadis kampung yang miskin, tapi aku tidak akan menjual diri untuk mendapatkan uang."
"Jangan berharap aku akan menikahimu!" tukas Ivan dengan tegas.
"Terserah, tapi aku juga punya hak untuk melaporkan kasus pemerkosaan ini ke polisi!" timpal Viona dengan serius.
Ivan tampak terbelalak mendengar ancaman Viona. Karirnya sebagai pengusaha yang sedang naik daun bisa hancur kalau kejadian itu sampai diketahui publik.
"Oke, aku akan bertanggung jawab. Tapi kalau kamu terbukti telah menjebakku, bersiaplah mendekam di penjara!" ujar Ivan segera pergi untuk menyelidiki kejadian itu.
Setelah Ivan pergi, Viona tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil menaklukan pria dingin yang sangat dicintainya itu.
"Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta Ivan!" desis Viona yang seolah mendapat tantangan baru.
Sebenarnya tujuan Viona datang ke Jakarta adalah untuk berlibur. Tanpa sengaja ia berjumpa dengan Ivan yang dingin dan acuh tak acuh di salah satu klub hotel. Entah kenapa Viona menyukai sikap pria itu dan jadi jatuh cinta. Tentu saja bukan dari segi materi atau ketampanan semata. Namun, Ivan dengan terang-terangan menolak perhatian dan tidak mau membalas perasaan Viona sedikit pun sehingga wanita itu merasa tertantang dan bertekad harus memiliki Ivan apa pun caranya. Akan tetapi, Viona tetap merahasiakan jati dirinya. Ia ingin Ivan mencintainya apa adanya dan bukan karena memandang status.
Berdasarkan keterangan saksi mata dan rekaman CCTV, terbukti Ivan yang memaksa Viona masuk ke kamar hotel. Jadi, mau tidak mau ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Kita akan menikah, tapi jangan pernah berharap aku akan mencintaimu!" ujar Ivan setelah mendapatkan bukti soal kejadian semalam.
"Baiklah, tapi kamu tidak boleh melarang dan menolakku untuk melayani semua kebutuhanmu!” ujar Viona yang siap menjadi istri Ivan.
“Terserah!” Ivan segera meninggalkan Viona dengan membawa rasa kesal karena tidak menyangka bisa terjerat cinta satu malam yang membuatnya harus terikat dengan sebuah pernikahan.
Selepas kepergian Ivan, Viona pun langsung memberi tahu ibunya by phone, kalau ingin menikah.
"Mami tidak setuju kamu menikah dengan cara seperti itu. Dia harus tahu siapa kamu yang sebenarnya!" ujar Ibunda Viona setelah mendengar rencana putrinya mau menikah dengan seorang pengusaha yang baru dikenal.
"Pokoknya aku tidak mau Ivan tahu identitasku, kalau sampai Mami memberitahunya, aku tidak akan pulang ke rumah!" ancam Viona yang tetap kekeh pada keputusannya.
"Tapi Viona, laki-laki itu belum tentu mencintaimu. Mami tidak mau kamu kecewa suatu hari nanti!" ujar Mami Linda yang sangat memikirkan kebahagiaan Viona.
Namun, Viona terus mendesak, "Aku yakin Ivan akan mencintaiku dengan tulus suatu hari nanti, Mi."
"Ya sudah terserah, pokoknya apa pun yang terjadi nanti kamu harus siap menerimanya!" Mami Linda terpaksa menuruti keinginan Viona.
***
Pernikahan antara Viona dan Ivan pun berlangsung secara sederhana di KUA. Keduanya sepakat tidak ada pesta apa pun karena ingin menjaga privasi dan berjanji tidak mengusik urusan pribadi masing-masing.
"Ingat Viona, jika suatu hari nanti aku tahu yang sebenarnya. Aku pastikan pernikahan kita akan berakhir saat itu juga!" kecam Ivan karena pria itu sampai detik ini masih merasa jika dirinya telah dijebak.
"Kamu tidak akan menemukan apa pun, kecuali bukti kalau aku memang mencintaimu!" sahut Viona merasa yakin jika rasa cintanya bisa meluluhkan hati Ivan yang keras dan dingin.
***
Sudah hampir tiga tahun, Viona belum bisa membuat Ivan jatuh cinta padanya.Ternyata semua tidak semudah seperti yang dipikirkannya. Meskipun ia selalu berusaha menjadi istri yang sempurna dan melayani semua kebutuhan suaminya dengan sebaik mungkin, Ivan tetap bersikap dingin dan acuh padanya. Bahkan awal pernikahan mereka, Ivan sama sekali tidak mau menyentuhnya.
Tak ingin menyerah begitu saja, Viona kembali memiliki rencana untuk menaklukan suaminya di atas ranjang. Dan, malam ini setelah makan malam, ia sengaja dandan secantik mungkin dan menemui Ivan di ruang kerjanya.
"Masih sibuk, Mas?" tanya Viona sambil menghampiri Ivan.
"Jangan ganggu aku! Aku masih banyak pekerjaan, Viona!" ujar Ivan tanpa menoleh dan tetap fokus menatap layar pada laptopnya.
Viona mengerti kesibukan Ivan sebagai seorang pengusaha. Namun saat ini, ia sedang ingin berada di dalam pelukan suaminya. Sambil tersenyum, Viona pun menjawab, "Ya sudah, tapi minum dulu wedang jahe yang aku buatkan!"
Ivan tampak menghela napas panjang dan segera meneguk wedang jahe buatan istrinya. Melihat itu Viona tersenyum dan segera pergi.
Viona segera masuk ke kamar dan memakai lingerie berwarna merah hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi. Setelah menyemprotkan sedikit parfum, ia pun segera berbaring miring di atas kasur sambil melihat ponsel.
Tak lama kemudian, Ivan masuk kamar untuk mengambil sesuatu. "Kamu lihat ponsel aku?" tanya pria itu sambil mencari benda pipih miliknya yang tidak tahu berada di mana.
"Nggak, Mas, emang tadi kamu taruh mana?" jawab Viona sambil balik bertanya.
Sambil mengingat, Ivan menyahuti, "Tadi aku bawa ke ruang kerja, tapi kok nggak ada, ya?"
"Ya sudah, sini aku bantu cari deh!" ujar Viona yang mulai bantu mencari ponsel suaminya.
Entah kenapa Ivan merasa jiwa pejantannya tiba-tiba mulai b*******h saat melihat penampilan Viona. Terlebih wangi parfum istrinya, bagaikan candu yang menuntutnya untuk meluapkan hasratnya. Ia pun segera menarik Viona ke atas ranjang dan mencumbunya dengan penuh gairah.
Sebenarnya Ivan ingin secepatnya menyudahi pernikahan dengan Viona. Namun, setelah dipikir-pikir, ia membutuhkan seorang istri yang bisa melayani semua kebutuhannya, terutama dalam urusan ranjang. Terlebih lagi Viona tidak pernah menuntut apa pun. Hal itulah yang membuat Ivan merasa nyaman dan tak punya alasan untuk menceraikan istrinya.
***
Pagi pun menjelang, Ivan sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia kemudian memakai baju kerjanya yang sudah disiapkan oleh Viona.
"Mungkin hari ini aku akan pulang terlambat. Ada meeting dengan relasi bisnis sehabis pulang kerja. Jadi, jangan tunggu aku untuk makan malam!" ujar Ivan memberi tahu.
Viona yang baru saja selesai mandi pun tampak mengangguk seraya berkata, "Iya, Mas, tapi berikan aku obat anti rindu dulu!" Ia segera mendekati Ivan dan menatapnya dengan penuh cinta.
Terkadang Ivan merasa bosan dengan sikap Viona yang sangat genit. Namun, ia tidak bisa menolak dan membiarkan Viona mengecup bibirnya. Pria itu pun langsung membalas dan sejenak mereka saling memagut.
"Hati-hati ya, Mas!" pesan Viona yang segera mengantar suaminya sampai ke depan teras.
Ivan hanya mengangguk kecil tanpa membalas kesan manis yang ia berikan sebelum pergi bekerja.
"Kapan ya Mas Ivan bisa bersikap romantis? Masa aku terus yang mulai. Apa kamu enggak bisa melihat ketulusan cintaku, Mas?" lirih Viona yang ingin dimanja oleh suaminya. Entah kenapa hari ini ia merasa berat sekali melepaskan Ivan pergi bekerja. Rasanya ingin selalu bersama-sama sampai malam tiba.
Sebagai seorang suami, Ivan memang memenuhi semua kebutuhan Viona, baik secara materil maupun batin. Memberikan apa pun yang dimintanya, kecuali cinta. Ia pernah merasa lelah dan putus asa untuk mendapatkan kasih sayang Ivan. Namun, rasa cintanya membuat Viona tetap bertahan.
***
Tanpa terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Saat ini, Ivan baru saja selesai menemui relasi bisnisnya di salah satu restoran. Namun, saat ia sedang menuju parkiran mobil, tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang wanita.
"Maaf," ucap wanita itu sambil menatap Ivan.
Ivan tampak terkejut melihat sang wanita, begitu pun sebaliknya. Wanita yang kini sedang menatap Ivan, tampak mengenali pria itu.
"Ivan," panggilnya spontan.
Ivan menatap wanita di hadapannya dengan saksama. Ia kemudian mengerjapkan mata, memastikan jika yang dilihatnya bukanlah ilusi semata.
"Dela," panggil Ivan masih tak percaya kembali dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya. Wanita yang jadi alasan kenapa sampai saat ini, pria itu belum bisa mencintai Viona.
BERSAMBUNG