Bab 2. Berubah

1215 Words
Sudah seminggu ini Ivan pulang kerja selalu malam, tidak ada lagi waktu untuk Viona. Bahkan sikapnya berubah jadi lebih dingin dari biasanya. "Belakangan ini kamu selalu pulang malam. Sebenarnya Mas pergi ke mana?" tanya Viona yang sengaja belum tidur demi menunggu suaminya pulang. Mendapat pertanyaan seperti itu, Ivan tidak langsung menjawab. Ia kemudian melepas jas dan melemparnya ke atas sofa, lalu meletakkan tas kerja di atas meja dengan kesal. "Ada proyek baru, jadi aku harus lembur," jawab Ivan dingin. Viona kembali bertanya, "Memangnya di kantor tidak ada staf yang bantuin sampai Mas harus lembur setiap hari?" "Ada beberapa meeting penting yang harus aku hadiri dan tidak bisa diwakilkan," jawab Ivan kembali. "Memangnya meeting di mana dan berapa lama?" cecar Viona yang membuat Ivan tidak suka mendengarnya. Sambil menatap Viona dengan tajam Ivan kemudian berkata, "Kamu tidak perlu tahu yang pasti aku kerja dan masih pulang ke rumah. Aku capek dan tidak mau berdebat!" Pria itu segera masuk ke kamar mandi dan mengabaikan perasaan Viona. "Mas, kita belum selesai bicara!" Viona tampak menghela napas panjang melihat sikap suaminya. Memang bukan sekali dua kali Ivan memperlakukannya seperti itu. Akan tetapi, selama hampir tiga tahun pernikahan belum pernah sekalipun suaminya pulang selarut itu. Jadi wajar saja kalau ia curiga, apalagi perasaannya dari tadi gelisah menunggu kepulangan Ivan. Viona kemudian mengambil jas Ivan di atas sofa dan menciumnya. Memang ia sudah biasa melakukan hal itu karena sangat menyukai wangi tubuh suaminya. "Kok, wangi parfumnya beda?" tanya Viona dengan heran. Tentu saja ia hafal jenis-jenis minyak wangi koleksi suaminya. Namun, Viona tetap berpikir positif mungkin saja Ivan sedang mencoba parfum dengan jenis aroma yang baru. Tidak lama kemudian, Ivan keluar dari toilet dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan mata. "Mas, ganti parfum?" tanya Viona sambil merebahkan tubuh di samping Ivan. "Iya, bosen pakai yang lama," jawab Ivan tanpa membuka matanya. Viona kemudian memeluk Ivan dan berucap, "Maafkan aku ya Mas. Sudah berpikir yang macam-macam!" Tanpa menyahuti Ivan melepaskan tangan Viona dan membelakanginya. Viona tampak terkejut karena belum pernah Ivan menghempaskan tangannya seperti itu. Ia menduga mungkin suaminya masih marah karena sudah mencurigainya. *** Pagi pun menjelang, Viona sudah selesai melakukan aktivitasnya. Ia kemudian masuk ke kamar memanggil suaminya untuk sarapan. Namun, Viona melihat Ivan sudah rapi dengan pakaian semi casual. "Aku berangkat," ujar Ivan tanpa menatap Viona. Dengan spontan Viona bertanya, "Mau ke mana Mas, ini kan hari Sabtu?" "Ada meeting lagi, sekalian meninjau lokasi proyek!" jawab Ivan seperti enggan menjawab. "Aku mau ikut!" pinta Viona dengan spontan. "Jangan seperti anak kecil Vio, aku kan kerja!" sahut Ivan ketus dan menatap dengan tajam. Viona yang sudah tidak bisa bersabar lagi, langsung berujar, "Aku seperti ini karena Mas berubah. Apa yang sebenarnya Mas sembunyikan dari aku?" "Kamu yang berubah, kenapa jadi posesif dan curiga terus sekarang? Ingat Viona, kita sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing!" balas Ivan sengit. "Aku tidak berubah Mas, kamu yang beda belakangan ini. Apa aku punya salah?" tanya Viona dengan bibir yang bergetar. "Sekali lagi aku bilang sama kamu kalau tidak ada yang berubah. Ini masih pagi Vio, jangan cari masalah dengan alasan aku pulang malam atau meeting di hari libur!" tukas Ivan dengan lantang. "Tapi Mas–" Ivan langsung membentak, "Sudah cukup, diam!" Viona ingin menyahuti lagi, tetapi air mata menahannya. Baru kali ini Ivan membentaknya selama mereka menikah. Sebenarnya, ia juga tidak mau ribut seperti itu kalau saja sikap Ivan tidak berubah. "Aku minta maaf kalau punya salah. Tapi tolong jangan memperlakukan aku seperti ini!" ujar Viona sambil menitikkan air mata. Ivan tidak menyahuti lagi dan memilih mengalah dengan pergi. Akan tetapi, ia menutup pintu dan membantingnya cukup keras hingga membuat Viona melonjak kaget. Bulir-bulir air mata kian deras berjatuhan dari mata indah Viona dan tubuhnya langsung luruh ke lantai. Ia tidak mengerti apa salah dan kurangnya. Padahal ia sudah berusaha menjadi istri yang baik. Selalu mencoba untuk mengerti kesibukan dan sikap Ivan yang terkadang menganggapnya tidak pernah ada. "Kenapa sesakit ini mencintaimu, Mas?" tanya Viona sambil berderai air mata. *** Sementara itu di lain tempat, seorang wanita cantik tampak tersenyum ketika melihat sebuah mobil yang mendekat ke arahnya. Seorang pria tampan segera turun dari kendaraan itu dan membukakan pintu. "Terima kasih," ucap Dela yang dijawab dengan anggukan oleh pria itu. "Maaf, telah membuatmu menunggu lama," ucap pria itu yang ternyata adalah Ivan. Sambil tersenyum Dela menyahuti, "Nggak lama kok, aku yang seharusnya minta maaf perjalanan kamu ke proyek jadi jauh karena harus menjemputku dulu." "Tidak apa-apa, sudah lama kita tidak pergi bersama," sahut Ivan yang tidak merasa direpotkan sama sekali. "Oh ya, kamu sudah sarapan belum?" "Belum, kamu beli apa?" jawab Ivan sambil melihat kotak makan yang dibawa Dela. "Kebetulan sekali aku buatkan roti bakar kesukaan kamu. Ayo, aku suapin, ya!" sahut Dela sambil menyodorkan sepotong roti bakar ke mulut Ivan. Mereka kemudian sarapan bersama di dalam mobil. Ivan tidak menyangka akan menghabiskan waktu lagi bersama Della. Wanita yang menjadi cinta pertamanya ketika kuliah dahulu. Namun, hubungan mereka harus kandas karena perbedaan status sosial. Orang tua Dela yang kaya raya hingga tidak merestui karena Ivan berasal dari keluarga sederhana. Untuk melupakan Dela, Ivan mengganti semua yang mengingatkannya tentang wanita itu. Mulai dari parfum, makanan dan minuman kesukaan sampai lagu favorit. Namun, ada satu yang tidak pernah berubah yaitu rasa cintanya hingga posisi Dela di hatinya tidak tergantikan, meskipun Viona hadir mengisi kehidupan Ivan yang hampa. Kini cinta lama mereka seolah bersemi kembali. Senja tampak merona di ufuk barat, sepasang mata indah berkali-kali melihat ke arah jalan dan jam secara bergantian. Viona tampak resah menunggu suaminya yang belum pulang, padahal sebentar lagi azan magrib akan berkumandang. Malam pun menjelang, sampai Viona selesai salat isya, Ivan belum juga pulang. Sambil menunggu suaminya, ia memutuskan menonton televisi. "Apa aku telepon saja ya? Tapi nanti Mas Ivan marah lagi," lirihnya dengan hati yang mulai gundah. Terkadang Viona ingin sekali bertukar kabar dengan suaminya. Saling mengabari keadaan satu sama lain saat Ivan sedang di luar. Namun, Ivan tak pernah menanggapinya sama sekali. Semua pesannya hanya dibaca saja tanpa ada balasan sama sekali. Lama-lama ia merasa usahanya percuma dan hanya buang-buang waktu saja. Kelaman menunggu, tanpa sadar Viona terlelap di depan televisi. Tiba-Tiba ia terbangun ketika mendengar suara benda jatuh dari dalam kamarnya. Viona langsung beranjak untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Viona melihat sebuah foto terjatuh ke lantai dan segera mengambilnya. Ia menatap foto pernikahannya dengan Ivan yang pecah. "Pasti tertiup angin," ujar Viona sambil menoleh ke arah jendela yang terbuka. Namun, tiba-tiba perasaanya jadi tidak enak dan mencemaskan Ivan yang entah sedang berada di mana. “Ya Allah, semoga ini bukan pertanda buruk. Tolong lindungi suamiku di mana pun dia berada!" Viona kemudian menutup jendela, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia mencoba memejamkan mata, berharap mimpi menjemputnya agar waktu cepat berlalu. Waktu terus bergulir tidak terasa telah menunjukan pukul sepuluh malam ketika Ivan baru sampai di rumah. Ia menduga pasti Viona sudah tidur. Jadi, ia tidak perlu menjelaskan kenapa pulang sampai semalam ini. Ivan pun mulai membuka pintu dengan perlahan dan melangkah masuk nyaris tanpa suara. Namun, tiba-tiba lampu menyala, ternyata Viona belum tidur. "Kenapa Mas baru pulang dan habis pergi dari mana?" tanya Viona sambil menatap Ivan dengan curiga. Mendapat pertanyaan seperti itu, Ivan merasa seperti maling yang sedang kepergok. Ia pun jadi dilema untuk jujur atau menutupi yang sebenarnya. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD