Ivan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia bosan mendengar dan menjawab pertanyaan yang sama dari istrinya.
"Tidak perlu aku jawab!" sahut Ivan enggan membahasnya.
"Mas, aku juga tidak mau ribut. Aku cuma heran kenapa meeting begitu lama. Dari pagi sampai malam, tidak ada kabar sama sekali. Salah kalau aku cemas, khawatir, dan takut terjadi sesuatu sama kamu?" tanya Viona yang berharap Ivan mau mengerti perasaannya sedikit saja.
Ivan menyahuti dengan nada tidak suka, "Kalau tidak ada kabar berarti aku baik-baik saja. Aku bukan anak kecil yang harus lapor setiap mau pergi ke mana, sama siapa, dan pulang jam berapa. Jadi, kamu nggak perlu khawatir dan jangan berpikir yang macam-macam!"
"Ya sudah, aku percaya sama kamu, Mas. Tapi tolong jangan mengabaikan aku!"
Mendengar ucapan Viona, Ivan malah menanggapinya dengan ketus, "Terus kamu mau dielus-elus setiap hari atau aku gendong seperti bayi? Kamu kan tahu aku tipe pria tidak romantis!"
"Bukan seperti itu maksudku Mas, tapi–"
"Sudahlah! Ngomong sama kamu nggak ada habisnya. Aku capek lama-lama menghadapi sifat posesif kamu!" potong Ivan yang lagi-lagi tidak mau mengerti perasaan Viona sedikit pun dan memilih pergi. Ia tidak tahu kalau istrinya menahan lapar sedari tadi demi menunggu makan malam bersama.
Viona tampak menghela nafas panjang. Ia merasa bukan hanya sikap Ivan saja yang berubah jadi lebih dingin. Suaminya itu sekarang jadi cepat marah dan lebih sensitif. "Aku yakin sekali Mas Ivan bisa berubah seperti ini pasti ada alasannya,” batin Viona segera menyusul masuk kamar dan seperti biasa, wanita itu mengumpulkan baju kotor suaminya. "Kok, jaket Mas Ivan wanginya beda lagi, ini seperti parfum wanita?" tanya Viona merasa heran. Ia pun segera mencari suaminya untuk menanyakan hal itu, tetapi tidak ada di dalam kamar.
Saat mencari ke ruang kerja suaminya, Viona mendapati pintu ruang itu tertutup dan terkunci.
"Jadi, kamu tidak ingin diganggu, Mas. Baiklah aku tidak akan mengusikmu lagi," lirih Viona yang akan mengikuti kemauan Ivan.
Viona kemudian masuk ke kamar dan berusaha memejamkan matanya, tetapi selalu gagal. Otaknya terus mencari jawaban parfum wanita siapa yang tercium di jaket suaminya.
"Kalau cuma berdekatan tidak mungkin wanginya sampai tertinggal, kecuali wanita itu dipeluk atau memakai jaket Mas Ivan." Hati Viona terasa panas membayangkan kemungkinan yang terjadi. "Aku tidak boleh berprasangka buruk dulu tanpa bukti. Pasti Mas Ivan akan marah kalau aku menuduhnya berselingkuh," imbuhnya kemudian.
Sementara itu di dalam ruang kerja, Ivan tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kenapa kamu tidak mengerti juga, Viona? Lepaskanlah aku agar kamu tidak merasa tersakiti lebih dalam lagi!" desis Ivan yang sengaja bersikap dingin dan kasar kepada istrinya.
***
Hari demi hari berlalu, demi menghindari perdebatan dengan Ivan, Viona belum menanyakan perihal wangi parfum wanita di jaket Ivan pada malam itu dan memilih untuk lebih mengintropeksi diri. Mungkin benar kata Ivan, ia terlalu berlebihan dalam berprasangka. Viona juga tidak lagi menanyakan suaminya yang masih pulang malam. Bahkan terkadang tidak mau sarapan di rumah. Namun, Viona tetap memasak makanan untuk Ivan, meskipun tidak pernah dimakan.
Di saat suaminya sedang berada di rumah, Viona merasa seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Mereka bicara hanya seperlunya saja dan itu pun jarang sekali. Bahkan Ivan sekarang selalu mengunci ruang kerjanya. Begitu pun dengan ranjang yang biasanya sering panas setiap malam, kini perlahan menjadi dingin. Semakin lama sikap Ivan sangat menyiksa batin Viona. Entah sampai kapan wanita itu mampu bertahan dengan pernikahannya.
"Sepertinya aku perlu refreshing," lirih Viona yang merasa kesepian di rumah, meskipun sudah melakukan banyak aktivitas.
Ketika sedang memikirkan mau pergi ke mana, tiba-tiba ponsel Viona berdering. Tanpa melihat lagi siapa yang menghubunginya, ia segera menerima panggilan itu.
"Halo, Mas, ada apa?" tanya Viona dengan senangnya.
"Ini Mami, Vio," ujar ibunda Viona dari seberang sana.
Viona langsung tersadar, kalau bukan Ivan yang menghubunginya. "Maaf, apa kabar Mi?"
"Mami kangen sama kamu, sudah lama kita tidak ketemu. Sekarang Mami sedang ada di Jakarta. Kamu bisa kan temuin Mami?" ujar Mami Linda dengan penuh kerinduan.
Tanpa berpikir panjang lagi Viona langsung menyetujui. "Bisa kok Mi, kita mau ketemuan di mana?"
"Di Mal Taman Cempaka," jawab Mami Linda dari seberang sana.
"Oke, aku jalan ke sana sekarang ya, Mam," sahut Viona yang langsung bersiap-siap.
Dengan diantar sopir pribadinya, Viona pergi ke mal taman Cempaka. Salah satu pusat perbelanjaan kelas menengah ke atas di Jakarta. Saat sudah tiba di tempat tujuan, ia langsung masuk ke salah satu restoran yang ada di sana. Viona pun segera menghampiri seorang wanita paruh baya yang telah menunggunya.
"Vio, kangen sama Mami.” Viona langsung memeluk ibunya dengan erat.
"Mami sebenarnya ingin main ke rumahmu, sekalian bertemu dengan Ivan," jawab Mami Linda sambil duduk berhadapan dengan Viona.
Viona tampak menggeleng seraya berkata, "Jangan, belum saatnya Mami datang ke rumah dan mengenal suamiku."
"Sampai kapan kamu akan menjalani pernikahan seperti ini, Vio?" tanya Mami Linda sambil menatap putrinya dengan lekat.
"Aku baik-baik saja dan bahagia dengan kehidupan rumah tanggaku.” Viona tersenyum meski ada ribuan luka yang coba ditutupinya.
Mami Linda pun tampak menghela nafas panjang dan berkata, "Kalau kamu bahagia pasti Ivan sudah datang ke rumah untuk ketemu sama Mami."
"Mas Ivan sibuk bekerja, Mi. Demi mencukupi semua kebutuhanku agar tidak kekurangan apa pun dan dia memperlakukanku dengan baik selama ini," sahut Viona menutupi yang sebenarnya terjadi.
Mami Linda memberikan tanggapan yang menohok, "Alasan klasik, katakan saja siapa kamu sebenarnya. Jika tidak mencintaimu, setidaknya Ivan menghargaimu sebagai istri!"
Viona terdiam karena apa yang ibunya katakan benar adanya. Mungkin Ivan akan lebih menghormatinya sebagai seorang istri, meskipun tidak mencintainya. Namun, ia tidak mau seperti itu karena yakin pengorbanan cinta yang tulus tidak akan pernah sia-sia.
"Mami jangan khawatir, aku tidak apa-apa!" Viona terus menyakinkan ibunya kalau tidak ada masalah dalam pernikahannya.
Mami Linda tidak menyahuti lagi, tetapi di dalam hati, wanita paruh baya itu tahu kalau Viona tidak sepenuhnya jujur. Ada kesedihan yang ditutupi lewat senyum manis putrinya itu. Mereka kemudian makan siang bersama sambil melepas rindu.
"Terima kasih Mami sudah datang menemuiku," ucap Viona.
"Sama-sama, Mami akan selalu menunggu kepulanganmu bersama Ivan. Oh ya, Regan sedang ada di Jakarta juga untuk mengembangkan bisnisnya di sini. Kalau kamu ada waktu senggang temui dia, setidaknya telepon!" pesan Mami Linda yang harus segera pulang ke Singapura.
Viona tampak mengangguk dan menyahuti, "Iya, Mi, hati-hati, ya!" Ia memeluk ibunya dengan erat sebelum berpisah.
Setelah mobil Mami Linda meluncur pergi, Viona memutuskan untuk berkeliling mal karena sudah lama tidak belanja kebutuhan pribadinya. Ia juga ingin membeli bingkai foto pernikahan yang kemarin jatuh dan pecah.
Setelah melewati beberapa outlet, Viona akhirnya masuk ke salah satu toko jam. Ia kemudian melihat koleksi jam tangan pria. Kebetulan beberapa minggu lagi anniversary pernikahannya yang ketiga.
"Sepertinya hadiah ini cocok, supaya Mas Ivan selalu mengingat aku setiap saat," ujar Viona yang segera membeli sebuah jam keluaran terbaru.
Setelah puas berbelanja Viona memutuskan untuk pulang. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Ivan berada di sebuah restoran dan yang lebih mengejutkan lagi, suaminya ternyata tidak sendiri. Ada seorang wanita cantik bersamanya. Keduanya tampak akrab sehingga membuat Viona cemburu dengan kedekatan mereka.
"Mas Ivan .., siapa wanita itu?" tanya Viona dengan hati yang terasa sakit. Air matanya kini mulai menetes membasahi pipi, tetapi Viona masih coba berpikir positif. Berharap jika kecurigaannya salah dan wanita itu hanyalah rekan bisnis Ivan. Namun, saat langkahnya kian mendekat, wangi parfum itu mulai menyapa indera penciumannya. Wangi yang sama seperti yang ada di jaket milik Ivan.
Viona tampak mengepalkan tangannya dengan erat. Perasaan marah, sedih, dan kecewa sudah membaur jadi satu hingga membuat dadanya seketika terasa sesak. "Kali ini kamu tidak akan bisa mengelak lagi, Mas!”
BERSAMBUNG