Bab 4. Logika dan Emosi

1148 Words
Viona ingin sekali melabrak suaminya dan wanita itu. Akan tetapi, akal sehatnya langsung meredam amarah untuk tetap menjaga nama baik Ivan. Ia tidak boleh mengambil tindakan karena bisa mengakibatkan hubungannya dengan Ivan jadi semakin memburuk. "Aku tidak boleh berburuk sangka, belum tentu Mas Ivan ada main dengan wanita itu. Bisa jadi dia salah satu relasi bisnisnya," lirih Viona yang berpikir positif dan memilih memperhatikan dari jauh saja. Ketika Viona sedang mengamati, tiba-tiba melihat wanita itu menaruh tangan di paha suaminya. Lalu menatap Ivan dengan intens. "Wanita itu berani sekali pegang-pagang suamiku dan kenapa Mas Ivan tidak menepis tangannya, tapi justru tersenyum?" tanya Viona langsung curiga karena tahu betul sifat Ivan yang dingin terhadap lawan jenis. Lama-lama mereka semakin mesra seperti sepasang kekasih. Sehingga memicu percikan api cemburu yang perlahan membuat hati Viona jadi kian panas. Istri mana yang tidak cemburu melihat suami sendiri tersenyum ramah dan hangat sama wanita lain, sedangkan di rumah bersikap dingin dan acuh tak acuh. "Apa yang mereka lakukan sudah di luar batas dan ini tidak boleh dibiarkan!" desis Viona yang sudah terbakar api cemburu. Namun, Viona mengurungkan niatnya ketika melihat ada orang lain di dalam restauran. Ia tidak boleh bertindak gegabah dalam mengambil keputusan yang bisa berakibat fatal. Kalau sampai nekat melabrak dan ada yang memviralkan di media sosial, maka identitas Viona bisa terbongkar. Apalagi Regan sedang berada di kota ini. Viona hafal betul bagaimana perangai pria itu. Pasti akan membawanya pulang ke Singapura saat ini juga dan memberikan perhitungan yang setimpal buat Ivan. Viona tidak mau hal itu sampai terjadi karena semua pengorbanan dan perjuangannya untuk mendapatkan cinta Ivan selama ini akan sia-sia. "Semoga Mas Ivan nanti mau memberitahu dengan jujur siapa wanita itu sebenarnya!" lirih Viona yang berencana menanyakan siapa wanita itu secara baik-baik sama suaminya nanti di rumah. Viona akhirnya memutuskan untuk pulang. Di sepanjang perjalanan hati dan logikanya terus berperang hebat. Bahkan ketika sampai di rumah perasaannya masih berkecamuk, sehingga membuatnya gundah gulana. Viona langsung melempar belanjaannya ke atas tempat tidur dengan asal. Ia kemudian mengambil segelas air putih dan meneguknya dengan perlahan sambil menenangkan diri. "Aku harus ngomong apa ya, agar Mas Ivan tidak marah ketika aku tanya nanti?" tanya Viona memikirkan kata-kata yang cocok dan pas. Sampai malam tiba, Viona masih resah menunggu kepulangan Ivan. Ia sudah menyusun sedemikian rupa kata-kata yang akan dipertanyakan. Agar suaminya tidak tersinggung dan marah lagi. Namun, sampai pukul sembilan malam Ivan belum juga pulang. "Kamu ke mana sih Mas?" tanya Viona yang menunggu kepulangan Ivan dengan harap-harap cemas. Sementara itu di tempat lain, Ivan baru saja mengantar Dela pulang. Setelah seharian mereka menghabiskan waktu bersama. "Terima kasih ya Mas, sudah mau menemaniku shoping dan makan. Ayo kita masuk dan istirahat!" ucap Dela dengan senangnya karena bisa bersama Ivan seharian penuh. Mendengar itu Ivan segera menyahuti, "Mulai saat ini aku akan selalu ada untukmu. Tapi sekarang sudah malam aku langsung pulang saja ya. Nanti Viona jadi semakin curiga aku pulang malam terus dan tahu akan hubungan kita." Ia menolak ajakan Dela untuk mampir. Dela menyahuti dengan ketus, "Biar saja dia tahu, agar cepat melepaskan kamu!" "Sabar, lama-lama Viona pasti akan menyerah karena tidak tahan dengan sikapku. Tapi malam ini aku sedang tidak ingin ribut sama dia," ujar Ivan menjelaskan. "Ya sudah, hati-hati!" pesan Dela yang segera mengecup pipi Ivan. Ia kemudian turun dari mobil dan memandangi kepergian kekasihnya itu. "Aku harus bisa memiliki Ivan secepatnya!" tekadnya sambil tersenyum simpul. Menurut Dela cara yang Ivan gunakan terlalu lama dan mengulur-ngulur waktu karena apa pun bisa saja terjadi. Jadi ia harus melakukan sesuatu untuk menyingkirkan Viona dari kehidupan Ivan selamanya. Ketika sampai rumah Ivan melihat Viona belum tidur dan sedang membaca majalah di ruang tengah. Ia pura-pura tidak melihat, tetapi Viona menyapanya. "Mas, baru pulang. Sudah makan belum?" tanya Viona yang segera menyambut Ivan pulang kerja seperti biasanya. "Sudah," jawab Ivan dan segera menjelaskan. "Aku masih banyak pekerjaan jadi akan pulang malam terus." Viona kemudian memberikan pertanyaan menjebak, "Jadi seharian ini Mas di kantor?" "Iya, sampai nggak sempet makan di luar," jawab Ivan tanpa menatap Viona. Viona tersenyum getir karena tahu Ivan sedang berbohong. Padahal ia tadi siang melihat suaminya di luar bersama seorang wanita di restauran. Seandainya saja Ivan bilang makan siang dengan relasi bisnis. Mungkin pikiran Viona akan tenang dan melupakan kejadian tadi siang. Kebohongan yang tanda sadar telah Ivan lakukan. Membuat Viona menduga suaminya mempunyai wanita idaman lain semakin kuat. Apalagi selama ini ia tidak pernah tahu, kalau Ivan punya saudara perempuan. "Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan siapa wanita itu," batin Viona yang melihat Ivan sangat lelah. "Aku capek dan mau tidur!" ujar Ivan yang juga ingin tenang malam ini. Ia segera masuk ke kamar untuk beristirahat. Viona mencoba untuk mengerti karena orang yang sedang capek, pasti sensitif dan gampang emosi. Lebih baik ia menunggu sampai besok pagi. Ketika sedang memeriksa pakaian kotor suaminya, tiba-tiba Viona menemukan sebuah kertas putih yang sudah lecek di salah satu kantong celana. Setelah diteliti dengan seksama, ternyata kertas itu adalah strui pembayaran di salah salah satu counter di mal tadi. "Mas Ivan beli pakaian wanita cukup banyak, buat siapa ya?" tanya Viona dengan heran karena suaminya tidak membawa satu pun paper bag belanjaan ketika pulang tadi. Setelah menyelesaikan tugasnya, Viona menyusul Ivan yang sudah tidur terlebih dahulu. Akan tetapi, ia tidak bisa memejamkan mata karena masih penasaran. Viona segera turun dari ranjang dan mengambil kunci mobil Ivan. Lalu pergi ke garasi. Mungkin saja belanjaan itu tertinggal di dalam mobil. Namun, di dalam mobil tidak ada barang belanjaan apa pun. Ketika hendak menutup pintu, tiba-tiba Viona melihat sebuah syal tergeletak di karet foot step di bawah bangku sebelah kemudi. Ia segera mengambil syal itu dan menciumnya. "Wangi parfum yang sama seperti di jaket Mas Ivan waktu itu," lirih Viona yang jadi berpikir macam-macam. Dengan bukti foto, struk dan syal yang didapatkannya, ia akan mencari tahu siapa wanita itu sebenarnya melalui kejujuran Ivan. Pagi pun menjelang, hari ini Ivan bersikap biasa saja. Ia segera menghampiri istrinya yang sudah menunggu untuk sarapan. Ivan meraih segelas teh hangat dan menyesapnya dengan perlahan. Sementara itu Viona masih menahan diri untuk bertanya serius dengan Ivan. Setelah suaminya sarapan, barulah wanita itu memulai pembicaraan. "Mas, mau meeting lagi?" tanya Viona membuka percakapan. Ivan menjawab singkat, "Nggak." "Mas, boleh aku tanya sesuatu? Tapi jangan marah ya karena aku tidak mau kita ribut lagi!" tanya Viona yang sangat hati-hati sekali dalam bertanya. "Katakan saja!" seru Ivan dengan acuh tak acuh. "Tolong jelaskan baik-baik siapa wanita ini!" tanya Viona sambil menunjukan sebuah foto di ponselnya. Mata Ivan tampak terbelalak ketika melihat foto dirinya dan Dela. Raut wajahnya langsung menegang karena tidak menyangka Viona bisa mendapatkan foto itu. "Kamu dapat foto ini dari siapa?" tanya Ivan dengan geram. "Kemarin aku belanja di Mal Taman Cempaka dan tidak sengaja melihat-- Ivan langsung menggebrak meja, sehingga membuat Viona melonjak kaget dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang. Suasana yang tadinya tenang, seketika berubah jadi menegangkan. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD