Bab 5. Kemarahan Ivan

1010 Words
Bukannya memberikan penjelasan siapa wanita itu sebenarnya, Ivan justru marah mendapatkan pertanyaan dari Viona. "Lancang kamu ya, diam-diam mengikuti aku!" tukas Ivan dengan emosi karena ketahuan jalan berdua sama Dela. "Aku ke sana mau shoping, tapi nggak sengaja melihat Mas di restauran itu," ujar Viona memberikan penjelasan. Namun, Ivan tidak percaya penjelasan Viona. Ia bahkan menghempaskan gelas dan piring di atas meja makan. Hingga berjatuhan ke lantai dan hancur berantakan. "Tolong jangan marah-marah Mas, kita bisa bicara baik-baik!" pinta Viona yang yang berusaha meredam emosi suaminya. "Aku marah karena alasan kamu tidak masuk akal. Sekarang jawab dengan jujur kenapa kamu belanja di sana, di dekat sini juga banyak mal?" tanya Ivan dengan penuh kemarahan. Viona tidak mungkin memberitahu kalau ke mal itu untuk menemui ibunya. "Aku lagi kepengin saja belanja ke sana. Tapi nggak tahu kamu juga ada di mal itu," jawabnya secara logis. "Bohong, aku sudah bilang berkali-kali jangan campuri urusan pribadiku!" ujar Ivan dengan geram. Viona belum pernah melihat Ivan semarah ini. Jujur ia sangat terkejut akan sikap suaminya yang semakin kasar. Sambil memberanikan diri Viona kembali menyahuti, "Aku cuma tanya siapa wanita itu saja, kenapa Mas semarah ini?" "Siapa pun wanita itu bukan urusanmu. Kau sudah membuat kesabaranku habis Viona!" tukas Ivan dengan lantang. "Tapi aku istrimu Mas, tolong hargai perasaanku sedikit saja!" pinta Viona dengan emosi yang mulai terpancing. Ia kemudian mengeluarkan struk dan sebuah syal. Lalu meletakkannya di atas meja seraya berkata dengan tegas, "Kalau Mas bisa jelaskan dengan jujur punya siapa syal dan belanjaan di dalam struk ini, aku tidak akan bertanya lagi. Terserah Mas mau melakukan apa pun, aku siap menerimanya!" Ivan tampak tercengang dan semakin terpojok ketika melihat kedua benda itu. Ia tidak menduga Viona menemukan bukti tentang Dela. Sungguh Ivan merasa ceroboh sekali, sampai istrinya menemukan petunjuk. "Hal seperti ini saja dipertanyakan. Makanya kamu itu bergaul, punya teman. Jadi kamu nggak curiga, cemburu, negatif thinking terus!" ujar Ivan melempar kesalahan kepada Viona. "Ya sudah kasih tahu saja siapa wanita itu. Jadi aku tidak berburuk sangka sama kamu terus!" desak Viona agar Ivan mau jujur. "Kenapa kemarin tidak tanya sendiri, biar jelas sekalian?!" jawab Ivan yang segera mengambil struk dan syal itu. Lalu bergegas meninggalkan Viona. Seperti maling yang sudah tertangkap basah, tetapi melarikan diri. Viona mengejar Ivan seraya berkata, "Kita belum selesai bicara Mas, jangan lari dari masalah. Aku cuma ingin tahu siapa wanita itu saja!" Ia kemudian meraih tangan suaminya. "Kamu yang selalu buat masalah, jadi selesaikan sendiri!" sahut Ivan sambil menepis tangan Viona dengan kasar. "Aku seperti ini karena kamu berubah Mas!" timpal Viona yang membuat keributan itu tidak berkesudahan. Ivan membalas dengan sengit, "Dari dulu aku tidak pernah berubah. Sikapku jadi seperti ini karena muak dengan perlakuanmu!" "Terus kamu maunya aku harus bagaimana?" tanya Viona yang tidak mengerti akan kesalahannya Ternyata minta kejujuran Ivan tidak mudah. Semua pertanyaan yang diajukan seolah menjadi kesalahan Viona sendiri. "Pikir sendiri!" jawab Ivan dengan ketus sambil masuk ke kamar dan mengunci pintu. "Buka pintu nya Mas, ayo kita luruskan kesalahpahaman ini!" pinta Viona sambil mengetuk pintu. Namun, Ivan tidak mendengarkan permintaan istrinya. Ia menjambak rambut dengan kasar karena tidak menyangka Viona memergokinya sedang bersama Dela. Belum lagi kedua bukti yang ditemukan, membuat semua rencananya jadi berantakan. Ivan adalah seorang yang perfeksionis dan sangat menjaga nama baiknya. Jadi ia tidak akan mengakui kesalahan apa telah dilakukannya. Selama menurutnya benar dan tidak merugikan orang lain, tanpa terkecuali Viona sendiri. Ivan memang egois karena memikirkan perasaannya sendiri. Bahkan ia enggan menceraikan istrinya karena tidak punya alasan yang kuat. Viona terlalu sempurna sebagai seorang istri dan tidak pernah berbuat kesalahan atau membangkang sekalipun selama mereka menikah. Jadi Ivan ingin Viona menyerah dan menggugatnya. Dengan begitu nama baiknya tetap terjaga di mata orang-orang. "Aku harus menyusun rencana lagi. Agar tujuanku berjalan dengan lancar dan tidak bermasalah," ujar Ivan yang segera mengambil koper dan memasukan pakaiannya. Setelah memastikan barang pribadinya tidak ada yang tertinggal, Ivan segera ke luar dari kamar. Viona yang sedang menunggu di depan pintu, tampak terkejut ketika melihat Ivan sudah berganti pakaian lebih rapi dan membawa sebuah koper besar. "Mas, mau ke mana. Katanya nggak ada meeting hari ini?" tanya Viona dengan heran. "Bukan urusanmu!" sahut Ivan sambil berlalu. "Mas, jangan pergi, kita bicarakan dulu semuanya secara baik-baik!" pinta Viona, tetapi Ivan mengacuhkannya. Ivan kemudian mendorong tubuh Viona, hingga tersungkur ke atas sofa, "Aku sudah capek kerja di kantor dan di rumah kamu cari gara-gara terus. Jadi aku mau pergi mencari ketenangan!" "Kamu egois, Mas!" ucap Viona yang sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. "Bukankah dari awal kita menikah, kamu sudah tahu sifat aku seperti apa. Jadi kalau kamu tidak terima atas sikap dengan perbuatanku ya sudahi saja!" seru Ivan yang tidak mau mengerti sedikitpun perasaan Viona. "Tolong jangan berkata seperti itu. Apa pun yang terjadi aku tidak mau berpisah. Aku sangat mencintaimu Mas!" pinta Viona dengan air mata yang berjatuhan. "Tapi aku sudah tidak nyaman dengan sikapmu yang over protektif. Membuatku semakin tidak betah di rumah!" ujar Ivan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Viona segera mengejar dan terus berupaya menahan Ivan, "Aku mohon tetap di rumah Mas. Aku janji tidak akan tanya lagi siapa wanita itu!" "Sudah cukup, jangan halangi aku pergi. Diam di rumah, awas saja kalau sampai ada orang lain tahu kita ribut dan lihat kamu menangis!" seru Ivan yang segera berlalu dan membanting pintu rumah dengan keras. Seolah menunjukan serius dengan ancamannya. Viona hanya bisa menangis sambil memandangi mobil Ivan yang meluncur pergi dari balik jendela. Sungguh ia tidak menyangka, kalau pertanyaannya membuat mereka ribut besar seperti ini. Seandainya saja Ivan mau berterus terang. Maka Viona tidak akan memperpanjang masalah ini lagi. Namun, entah mengapa Ivan tidak mau mengatakan siapa wanita itu sebenarnya. "Salah kalau kamu menganggap aku lemah dan cengeng Mas," lirih Viona sambil menyeka air matanya. Ia segera menemui supir pribadinya dan berseru, "Pak Adi, segera jalankan rencana kita!" "Baik Bu," sahut Pak Adi yang sudah diberitahu tugasnya apa saja oleh Viona kemarin, kalau Ivan ke luar rumah. "Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini Mas. Cukup sudah aku bersabar selama ini!" desis Viona sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD