Ivan tidak mau ambil pusing siapa pria yang menjemput Viona. Sambil memegang sertifikat rumah ini, ia masuk ke kamar untuk menaruhnya di tempat yang aman. Ivan melihat kondisi kamar sudah dirapikan oleh asisten. Hanya saja terlihat sedikit berbeda karena sudah tidak ada foto-fotonya bersama Viona lagi.
Ivan kemudian membuka lemari pakaian dan tampak terkejut ketika melihat kotak berisi perhiasan, kartu ATM beserta buku rekeningnya dan segepok uang tunai berwarna merah. Padahal ia sengaja memberikan semua itu sebagai bentuk terima kasih karena Viona sudah melayaninya dengan baik sebagai seorang istri.
"Kenapa Viona tidak membawanya. Bagaimana nanti dia membiayai hidupnya kelak?" tanya Ivan dengan heran karena tidak menyangka Viona menolak semua kompensasi yang diberikannya. Ia kemudian bergumam, "Mungkin Viona masih marah, nanti kalau sudah tidak punya uang pasti akan diterima juga."
Akhirnya Ivan memutuskan untuk menyimpan semua yang menjadi hak Viona di brangkas pribadi miliknya agar aman. Nanti kalau Viona datang dan menanyakan tinggal beritahu saja sandinya.
Namun, tiba-tiba Ivan jadi kepikiran lagi. Ia masih penasaran siapa pemilik mobil yang menjemput mantan istrinya itu. Sehingga membuatnya jadi bertanya-tanya sendiri.
"Siapa orang itu sebenarnya? Apa mungkin diam-diam Viona sudah mempunyai kekasih gelap yang lebih perhatian dan mencintainya?" duga Ivan yang mulai berpikir macam-macam.
Memang selama menikah, Ivan tidak pernah mau tahu asal usul Viona. Ia percaya begitu saja ketika Viona bilang dari desa dan sedang merantau ke Ibukota. Entah mengapa latar belakang mantan istrinya itu kini mengusik rasa keingintahuan Ivan.
"Kenapa aku nggak kepikiran siapa Viona sebenarnya selama ini, kalau benar dari desa tidak mungkin dia menolak semua pemberianku atau jangan-jangan kekasihnya itu kaya raya jadi dia tidak membutuhkan harta dariku?" pikir Ivan akan dua kemungkinan yang sangat logis.
Ivan kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, aku ada tugas untukmu. Tolong selidiki latar belakang Viona. Aku mau tahu semua yang berkaitan dengannya!"
"Apakah ada petunjuk?" tanya orang yang dihubungi Ivan.
Ivan kemudian berpikir sesaat sambil menatap ke pintu gerbang. "Sepertinya CCTV depan rumahku bisa membantumu!" ujarnya kemudian.
"Oke, kirim sekarang juga!" seru seseorang dari seberang sana.
Ivan segera memutar rekaman CCTV depan rumahnya dan mengirim ke orang itu.
"Kerjakan dengan cepat!" pinta Ivan yang sudah tidak sabar mengetahui siapa Viona sebenarnya.
Setelah selesai Ivan segera pulang ke rumah Dela untuk memenuhi janjinya menikahi wanita itu dan memulai hidup baru.
***
Di dalam mobil orang yang menjemputnya, air mata Viona masih berjatuhan tanpa bisa ditahan. Bagaikan tetesan air hujan yang terus turun. Melihat Viona masih menangis, pria itu segera menepikan kendaraannya.
Ragan kemudian menarik dagu Viona hingga menatapnya. Ia menghapus air mata wanita itu dan berseru, "Tenanglah ada aku, semua akan baik-baik saja!"
Viona memeluk Regan dan meluapkan semua kesedihannya. Setelah beberapa saat kemudian, ia merasa sedikit lega dan berhenti menangis.
"Aku mau pulang!" pinta Viona sambil melepas pelukannya.
"Tenangkan dulu dirimu dan ceritakan siapa yang telah membuatmu seperti ini!"seru Regan dengan geram. "Apa Ivan menyakitimu?" tanya pria itu ingin tahu.
Viona tidak langsung menjawab dan membatin, "Regan pasti marah sekali, kalau aku mengatakan yang sebenarnya."
"Aku akan memberikan pe--"
"Aku menggugat Ivan," potong Viona memutar balikkan kenyataan.
Regan tampak terkejut mendengarnya dan menegaskan, "Apa kamu serius?"
"Iya," jawab Viona singkat.
"Terus kenapa kamu menangis?" tanya Regan yang tahu betul Viona sangat mencintai Ivan, kalau sampai menggugat berarti ada kesalahan fatal yang telah dilakukan pria itu.
Viona memberikan jawaban menggantung, "Bukan urusanmu, cepat lanjutan perjalanan kita lagi!" serunya kemudian.
"Jangan terus mengelak Vio. Masalahmu dengan Ivan otomatis urusanku juga. Jangan lupa aku yang membantumu untuk memilikinya dulu!" sahut Regan yang secara tidak langsung mendesak Viona untuk jujur. Ia adalah orang yang membantu Viona untuk mencari tahu tentang Ivan dahulu.
Viona menghela napas panjang, sebenarnya ingin sekali berbagi derita cinta ini. Akan tetapi, ia tidak mau ada masalah dikemudian hari. Viona tahu betul sifat Regan yang keras dan tidak mau kompromi kalau sudah marah.
"Aku akan ceritakan semuanya, tapi tidak saat ini. Sekarang aku lelah dan ingin tidur!" ujar Viona yang sedang tidak ingin membahas masalahnya. Jiwa raganya terasa lelah menghadapi takdir cintanya yang pahit.
Regan mencoba mengerti keadaan Viona. Ia segera mengemudikan mobil itu menuju ke apartemennya. Di satu sisi ia sedih dan marah melihat keadaan Viona seperti ini. Namun, di benaknya Regan merasa senang mendengar wanita itu sudah berpisah dengan Ivan. Harapan yang pernah pupus kita tumbuh kembali.
"Kenapa kita ke sini, aku mau pulang sekarang juga?" tanya Viona ketika sampai di salah satu apartemen elit di Jakarta.
"Sudah malam, lagipula kamu perlu istirahat sebelum bertemu Mami!" jawab Regan menjelaskan kenapa mengajak Viona ke apartemennya.
Viona berpikir apa yang dikatakan Regan ada benarnya juga. Ia perlu menenangkan diri karena ibunya bisa membaca situasi dari raut wajah seseorang. Pasti Mami Linda tidak akan percaya seperti Regan, kalau Viona yang menggugat suaminya.
Ibu mana yang tidak marah melihat anaknya disakiti, meskipun menikah dengan Ivan adalah keputusan Viona sendiri. Pasti Mami Linda akan marah besar melihatnya dalam keadaan seperti ini.
"Baiklah, sebelum pulang aku akan tinggal di apartemenmu dulu. Tapi jangan beritahu Mami tentang perceraianku dengan Ivan. Nanti aku yang akan mengatakannya secara langsung!" pinta Viona yang perlu menyusun rencana agar ibunya tidak marah.
Regan tampak mengangguk dan berkata, "Oke."
Mereka segera turun dari mobil, Regan menyuruh asisten pribadinya untuk membawakan koper Viona.
Ketika sedang mengikuti Regan menuju ke kamar apartemennya, tiba-tiba pandangan Viona berputar.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Regan yang melihat Viona memejamkan matanya.
"Kepalaku pusing," jawab Viona sambil mencari pegangan.
Melihat itu Regan langsung merangkul Viona. Namun, tiba-tiba wanita itu tidak sadarkan diri.
"Kamu kenapa? Bangun Vio!" seru Regan dengan panik dan segera membawa Viona ke rumah sakit yang berada di sekitar apartemen.
Viona langsung mendapat pertolongan dari petugas medis. Sepertinya perceraian dengan Ivan membuat Viona terpukul berat. Pasti ia kaget dan syok tiba-tiba diceraikan pada malam anniversary. Belum lagi mengetahui alasan Ivan yang seharusnya bisa dibicarakan secara baik-baik.
Sementara itu Regan menunggu dengan cemas.
"Jika terjadi sesuatu terhadap Viona, kamu orang pertama yang harus bertanggungjawab Van. Aku akan membuatmu menyesal, kalau terbukti mengkhianatinya!" desis Regan dengan penuh kemarahan. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Viona, baik secara fisik maupun batin.
BERSAMBUNG